INICIAR SESIÓNArabella tak menyangka, keputusannya untuk bekerja menjadi maid akan menjadi mimpi buruk untuknya saat Davin terus menerus menggodanya. "Kau milikku, Arabella. Semuanya milikku, kau harus patuh atau kau kehilangan semuanya." Ardavin Suseno. "Ya, aku akan patuh padamu, Tuan. Asal kau jamin kehidupanku dan ibuku." "Tentu, selama jatahku berjalan lancar, dengan senang hati aku akan membiayai hidupmu juga ibumu."
Ver másArabella meraba bibirnya, masih terasa basah bekas ciuman Davin beberapa saat yang lalu. Sekarang, dia kembali ke dapur dengan perasaan kesal tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sedikit perasaan suka yang entah dia menyukai apa. Ciuman Davin, mungkin. “Ara, kenapa bengong terus?”“A-aahh, gapapa kok.” Arabella tersenyum kikuk. Ketahuan sudah, untungnya itu Arina bukan orang lain. “Awas lho, jangan kebiasaan bengong, takutnya kesurupan.”“Isshh, jangan nakutin. Lagian, dirumah besar dan mewah seperti ini, mana ada hantunya sih..” Arabella terkekeh pelan, sambil mencuci piring dan peralatan yang dipakainya beberapa saat lalu. “Gimana? Tuan muda mau makan?”“Iya, mau. Udah minum obat juga, kelihatannya sudah sedikit membaik.” jawab Ara sambil tersenyum kecil. Baguslah jika Davin sembuh dengan cepat, artinya dia tidak harus berduaan dengan pria itu dengan modus mengantarkan sarapan, makan siang atau makan malam. Jujur saja, Davin itu tidak bisa ditebak. Dia bisa dengan m
Sintia berjalan menuruni anak tangga dengan perlahan, tangannya memegangi bagian belakangnya, rasanya lumayan sakit, tapi ada sedikit rasa malu juga. Tanpa sengaja, saat berjalan ke arah dapur, Sintia malah bertemu dengan Arabella yang baru saja kembali setelah mengantar bolu ketan dari pos satpam. Keningnya mengernyit saat melihat Sintia berjalan sedikit tertatih sambil memegangi pinggangnya. Ara menghela nafasnya, ingin sekali rasanya tak peduli tapi naluri kemanusiaannya berkata lain. “Kenapa?” Ara mendekat, lalu membantu Sintia berjalan. “Jatoh.”“Oh.” singkat dan selesai begitu saja, obrolannya terhenti tapi Sintia tidak menolak pertolongan Ara. Keduanya kembali ke dapur. “Lah, kenapa nih orang?” itu suara Arina. Dia heran melihat Sintia meringis dan Ara yang membantunya.“Jatoh, katanya.”“Hadeeuh, padahal gak usah ditolong, Ra. Biarin aja.” celetuk Arina yang membuat Ara terkekeh pelan. “Gapapa, nambah pahala.” “Ckk..” Sintia berdecak sebal, lalu melepas paksa tangan Ar
Saat siang hari, maid senior memerintahkan Ara untuk kembali mengantar makan siang untuk Davin. Tapi, gadis itu tengah kerepotan melakukan pekerjaan lain dan juga seperti biasanya, ada Sintia yang akan dengan senang hati menawarkan diri untuk mengantarkan makan siang ke kamar Davin. “Maaf, saya gak bisa. Ini gak bisa ditinggal, Bu. Maid lain saja kalau begitu..” ucap Ara dengan sopan. Dia tengah membuat adonan bolu ketan yang tengah viral dan maid lain juga sedang sibuk dengan tugas masing-masing. “Saya aja, Bu.” Sintia mengajukan diri dengan senyuman manisnya. “Yaudah. Bawain ke kamar Tuan muda yaa, ingat jangan bikin huru-hara.”“Huru-hara apa sih, Bu? Giliran aku aja pake peringatan segala, Ara tuh yang gatel gak dikasih peringatan tadi.” ucap Sintia sewot, membuat Ara mengernyitkan keningnya. Masih saja Sintia menuduhnya gatal, padahal tidak sama sekali. “Ngaca!” bukan Ara, tapi Arina. Enek juga lama-lama melihat tingkah Sintia, mulutnya itu benar-benar minta di sambelin. “I
“Ara..” pria itu membulatkan matanya, namun suaranya terdengar begitu lirih. Dia benar-benar merasa pusing, sekujur tubuhnya terasa lemas bukan main. “Maaf saya lancang memasuki kamar anda, Tuan muda. Saya diminta senior untuk mengantar sarapan dan obat.” “Ya, tidak apa-apa.” balasnya pelan. Ara tetap berada di posisi awal, dia tidak berani mendekat. Dia takut. Tentu saja, dia tidak akan pernah lupa saat pertama kali dirinya mengganggu Davin saat pria itu tengah beristirahat.“Kalau begitu, saya permisi.” Ara bersiap pergi, tapi suara lirih Davin membuat gadis itu menghentikan langkahnya. “Bisa bantu aku makan? Kepalaku sakit, pusing juga.” pintanya dengan nada sendu, bahkan matanya sedikit berkaca-kaca, membuat Ara tak tega. Pada akhirnya, dia luluh. Kaki jenjangnya membawa dirinya mendekat ke arah ranjang tempat pria itu tergolek lemah. Ara memilih duduk di sisi kasur, membantu Davin untuk duduk bersandar dengan bantal sebagai penopangnya. Wajahnya terlihat pucat, berkeringat da
Ara sudah terlihat aktif di dapur semenjak kejadian kemarin, mengerjakan pekerjaannya seperti biasa, tanpa terganggu dengan tatapan sinis dari Sintia yang selalu mengintimidasinya. Sejak tadi, gadis itu terus berdekatan dengannya.Mungkin, ingin memastikan Ara tidak dekat-dekat dengan Davin.Namun,
"Ada di belakang, Tuan muda. Dia sedang—""Panggil dia kemari.""Tapi, Tuan mu—" perkataan Sintia terpotong saat Davin menatapnya tajam. Akhirnya, tak ada pilihan lain, Sintia pun pergi memanggil Ara. "Ara!""Iya, kenapa?""Ke dapur sana.""Ngapain? Kerjaanku udah selesai.""Ditanyain Tuan muda."
Davin tersenyum jahat, dia menunduk lalu mencium lehernya, menyesapnya kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan. Tidak hanya satu, tapi ada beberapa yang dibuat Davin malam itu. Ara meraung, dia menangis, menendang-nendangkan kakinya agar bisa lepas. Itu perlawanan terakhirnya, sebelum Davin meluc
"Yang bohong akan terlihat takut, tapi sebaliknya, yang jujur akan terlihat tenang, Mom." "Ya, Mommy juga berpikir begitu. Ya sudahlah, Mommy cek cctv dulu.""T-tapi, Nyonya.." Sintia gelagapan, berusaha menghalangi langkah Lucy untuk mengecek cctv. Tapi Ara, masih menundukkan kepalanya. "Kalau g












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.