LOGINSaat tengah menikmati makanan di pesta pernikahan, diam-diam Dirga memperhatikan Barta yang berdiri dengan gagah di atas pelaminan.
"Kenapa? Kamu iri sama Barta karena dia bisa menggelar pesta pernikahan mewah dan meriah seperti ini?" celetuk Dewanto. Dirga mengalihkan pandangan pada makanan di atas meja sambil menggeleng pelan. "Bilang aja kalau kamu iri. Lagian kamu sih, bukannya sabar nunggu Febby resmi cerai dari Andi, ini malah ngerebut Istri orang. Rasain sendiri sekarang, kamu nggak bisa memamerkan Istrimu yang cantik itu. Kalau kamu nekat, siap-siap nanggung malu." Dirga hanya diam mendengar sindiran keras ayahnya, yang memang benar ... ia pun sudah menerima konsekuensinya yang tega merebut Istri orang. "Ngomong apa sih kamu, Pa. Lagi suasana bahagia begini kok pake bahas masa lalu. Mending juga kamu ngumpul sama keluarga Febby sana." Ratna membMengetahui Prams hilang tanpa jejak, Elina mulai panik. Sudah hampir satu jam ia berkeliling mansion, mencari calon suaminya ke seluruh ruangan, tetapi belum menemukan titik terang sama sekali.Ketegangan semakin menjadi saat Elina mendengar kabar kalau Dokter yang datang tadi adalah Dokter Gadungan.Elina terdiam. Wajahnya pucat pasi, syok berat. Ia mengatupkan bibir rapat dengan tatapan mata kosong."Ternyata Dokter tadi bersekongkol dengan Polisi. Dia salah satu orang kiriman musuh yang ditugaskan untuk membawa Intan," jelas Wylan yang baru saja menerima laporan lanjutan dari anak buah Prams di Bandara. "Salah satu dari kita tewas mengenaskan di jalan raya. Mereka benar-benar licik. Mereka berhasil menerbangkan pesawat dan pergi setelah membuat kekacauan."Elina masih diam mematung. Kulit wajahnya semakin pucat. Perlahan bulir bening mengalir dari kedua pelupuk mata yang memerah. "Intan berhasil dibawa pergi karena kita semua lengah.
"Pesawat pribadi yang kalian tunggu sudah mendarat. Kalian bisa pulang ke negara kalian sore ini." Intan dan Adrian menghela napas panjang. Bibirnya mengucapkan rasa syukur berkali-kali. Setelah mendengar informasi pesawat pribadi yang ditunggu sudah mendarat, Adrian menggenggam jemari Intan dan mengajaknya ke landasan udara. "Kita ke sana sekarang." "Iya Pak." Keduanya melangkah cepat menuju pintu keluar. "Ehm! Pak, pelan-pelan." Intan menghentikan langkah kaki sambil memegang perut. Perjalanan yang cukup melelahkan itu membuat perutnya keram. Adrian berhenti, menatap Intan yang kesakitan. "Maaf aku .... " Ia memukul kepala sendiri. Menyadari kebodohannya karena lupa kalau Intan tengah berbadan dua. "Perut saya keram Pak," keluh Intan. "Maaf, aku ... aku terlalu bersemangat."
"Jangan tembak! Saya hanya membela diri!" Seorang pria ke luar dari mobil sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Salah satu Polisi menarik lengannya, membawa menjauh dari mobil dan memeriksa tubuh pria itu dari ujung kepala sampai kaki. "Aman," ucap Polisi pada rekannya yang berdiri di belakang. Polisi lain mengangguk pelan, lalu memeriksa pria tewas yang berada di jok depan. Salah satunya mengamankan senjata api yang tergeletak di jok belakang. Sementara dari kejauhan, Intan tersenyum lega saat melihat yang tertembak bukan Adrian. "Pak Adrian!" Dengan langkah kaki cepat ia berlari menghampiri sang Detektif sambil memegang perutnya. Adrian tersenyum manis, melebarkan kedua tangan, menyambut pelukan gadis cantik itu. "Anda selamat?" Intan memeluk Adrian erat, menangis di dalam dekapan hangat. "Anda b
Beberapa detik berlalu, dan suasana di mobil semakin mencekam. Supir yang tak lain anak buah Prams mulai menyadari sandiwara Intan dan Adrian. Meski gadis itu terus berteriak kesakitan, sang Supir tak berniat melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sakit. Mobil yang dikendarai itu berhenti di pinggir jalan, jauh dari keramaian di depan. Mata sang Supir melotot ke arah Adrian dan Intan. Satu tangannya merogoh dasbor, mengeluarkan senjata api kecil. Adrian tak bisa berkutik. Ia hanya bisa memainkan sandiwaranya sebagai Dokter meski sejak tadi semua itu sudah diketahui. "Tolong lanjutkan perjalanan. Pasien saya sedang kesakitan. Apa kau tidak takut Tuan Prams murka?" Napas Adrian terengah-engah. "Dia mau melahirkan. Cepat jalan!" Supir tersebut tersenyum dingin. "Kau pikir aku percaya? Kau dan wanita ini bersekongkol. Kalian berdua akan mati di tangan Tuan!" Adrian membuang napas pan
"Tolong antar kami ke Rumah Sakit terdekat." Adrian memasang sabuk pengaman di pinggang, kemudian memeluk tubuh Intan yang duduk di sampingnya. "Baik Dokter."Mobil sport berwarna merah menyala itu melaju kencang membelah jalanan sempit Kota Hong Kong yang dipenuhi gedung pencakar langit dan lampu neon yang berkelap-kelip.Mesin mobil meraung bagaikan singa yang dilepas, suara ban menggesek aspal menambah ketegangan suasana malam itu.Di balik kemudi, sang Supir duduk tegap dengan fokus penuh. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan, tangan terampil menggenggam setir seolah sedang mengendalikan kuda liar.Gerakannya lincah, setiap tikungan dilibas dengan presisi sempurna, tanpa sedikit pun kehilangan kendali.Jalanan yang padat dengan kendaraan lain seakan tersingkir, memberi ruang bagi mobil itu untuk melaju seperti pembalap profesional di arena balap.Hembusan angin pada sore itu menerpa wajah, menyibakkan rambut ya
Tut! Tut! Tut! Suara alarm terdengar memecah keheningan di kabin pesawat. Seketika itu suasana di dalam ruang kemudi menjadi panik. "Sepuluh menit lagi kita akan menabrak awan hitam," ucap Ko-Pilot dengan mata membulat sempurna."Pastikan masker Oksigen berfungsi dengan baik!""Tidak ada yang bisa kita lakukan, kita akan menabrak awan," gumam Ko-Pilot sambil menatap tombol-tombol pengendali di depannya.Bruk!Pesawat jet pribadi itu berguncang hebat, seolah-olah terhantam gelombang besar di udara.Dirga yang duduk di kursi penumpang utama, merasakan jantungnya berdetak tak beraturan.Tubuh pesawat terombang-ambing tanpa kendali, membuat orang di dalamnya saling berpegangan erat pada sandaran kursi. Wajah Pilot dan Ko-Pilot berubah pucat, keringat dingin mengalir deras di pelipis mereka. "Tekanan oksigen turun drastis!" teriak Pilot dengan suara gemetar, matanya sibuk memantau panel instrumen yang ber







