Mag-log in| khusus dewasa | Di balik gemerlap dunia para miliarder, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Landon Parker, pewaris tahta Group Parker, menikahi Elsa, seorang gadis desa yang lugu, hanya demi memenuhi wasiat kakeknya. Tanpa cinta, Landon memperlakukan Elsa dengan kejam, hingga Elsa kehilangan segalanya. Di tengah keputusasaan, Elsa bertemu dengan Alex Parker, ayah mertuanya. Alex, pria dingin dan berkuasa, merasa bertanggung jawab atas penderitaan Elsa dan bertekad untuk melindunginya. Namun, semakin dekat Alex dengan Elsa, semakin besar pula godaan yang menghantuinya. Mampukah Alex menahan diri dari pesona Elsa, ataukah ia akan menyerah pada hasrat terlarang yang membara di dalam hatinya?
view moreRosemary Hotel pukul dua pagi.
"Tidak, Elsa ... kau akan membenciku esok pagi." Alex menggelengkan kepala seraya memalingkan mata dari tatapan wanita muda yang sedang duduk di tepi ranjang. Tidak mungkin! Mana mungkin dia mau menuruti keinginan Elsa meski dirinya ingin. Elsa mengunci tatapan Alex. Manik-manik hijau itu berangsur menggelap, menuntut sesuatu terlarang padanya. "Dad, tolong ... aku mohon." "Tidak, Elsa." Sekali lagi Alex menggeleng. Meski ia kesusahan mengendalikan debaran jantungnya yang terus memacu dahsyat, bersama derasnya dorongan hasrat yang memanas membakar jiwanya. Alex berusaha mati-matian menolak perasaan yang memang tak wajar itu. Saat ini Elsa sedang dalam frustasi yang berat. Mana mungkin ia mengambil keuntungan darinya. Bagaimanapun wanita muda berparas cantik di depannya kini, dia adalah Elsa Swan, menantunya. Melihatnya yang terus berpaling muka, mata Elsa berkaca-kaca. "Apakah aku memang wanita yang menjijikan, persis yang Landon katakan? Bahkan aku tak pantas untuk mendapatkan bahu seorang pria," lirih Elsa. Mendengar gadis itu terisak-isak, Alex melirik. Ia menarik nafas dalam-dalam, lantas mendaratkan bokongnya duduk di samping Elsa. Tangannya mengusap jejak air mata di kedua pipi gadis itu. "Tidak, Elsa. Jangan berkata begitu. Kau gadis yang sangat sempurna. Bodoh sekali jika Landon menelantarkan mu. Namun aku tidak mungkin." Alex menggantung ucapannya. Ia merasa sudah menemukan batasan dari perkataan itu. Tangannya segera dijauhkan dari Elsa. Tak pantas betul jika ia meneruskan kalimatnya. Saat Elsa menatapnya, Alex segera berpaling muka. "Namun apa? Bahkan kau pun tak sudi padaku?" lirih Elsa. Hatinya amat hancur. Alex segera menggeleng. "Tidak, bukan begitu." "Kalau bukan begitu, kenapa kau tak mau melihatku?" Alex menunduk. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Elsa meski dia ingin. "Dad ..." Sentuhan hangat di bahu membuat Alex tertegun dari emosi yang sedang bergelora mendera jiwanya. Perlahan ia mengangkat sepasang matanya menatap ke manik-manik hijau Elsa. "Aku mohon," bisik Elsa. Diraihnya jemari Alex, lalu ia menggosok pipinya di sana. Mata basah itu menuntut satu hal yang sangat Elsa butuhkan saat ini. Hati Alex amat gusar. Namun ia tak bisa memungkirinya, jika hatinya sudah terpaut amat jauh akan kecantikan Elsa dan kepolosan gadis itu. Kewarasannya tak bisa bertahan lagi, ketika dengan penuh sukarela Elsa menariknya mendekat seiring tubuhnya yang direbahkan ke kasur. Alex mati-matian berusaha melawan perasaan itu, juga pertarungan emosional di hatinya. Namun saat jemari mungil Elsa mengusap-usap pipi hingga ke rahangnya yang dipenuhi bulu-bulu tipis yang menghitam, semuanya menjadi semakin kacau. Melihat Alex yang diam saja, Elsa tersenyum manis. Tanpa ragu ia melingkarkan kedua tangannya ke tengkuk leher Alex. Ia menggesekkan pipinya ke rahangnya, lalu menatapnya lagi. Nafas Alex kian memburu, terasa hangat menerpa wajah Elsa yang semakin mendekat. Aroma shampo buah dari rambutnya amat memabukkan, bercampur dengan kehangatan kulit. Ketika bibir mereka saling bertemu, bukan hanya hasrat yang meledak, tapi juga suara remasan kain linen dan gesekan kulit yang memanas. Di antara desahan, kegelapan malam di luar jendela seolah menutupi rahasia mereka, sementara jam di dinding terus berdetak, mengingatkan betapa terlarangnya sentuhan itu. ................................................ Tiga bulan sebelumnya di Hotel California pukul sembilan malam. "Pesta yang meriah, CEO! Anda pasti menghabiskan banyak uang untuk menjamu kami." Landon tersenyum miring mendengar seorang tamu bicara begitu. Baginya uang bukan masalah. Group Parker sedang di atas awan saat ini. Tak masalah mengeluarkan banyak uang untuk mengisi perut mereka. "Ngomong-ngomong, saya dengar Anda sudah menikah di luar negeri. Namun, kami tidak melihat Nyonya Muda Parker di sekitar sini." Senyum di wajah Landon memudar saat mendengar seseorang menyinggung tentang istrinya. Sial! Wanita buruk rupa itu? Mana mungkin dia membawa noda ke pesta perusahaan? "Ehem! Istriku? Dia sedang tidak berada di San Alexandria saat ini. Jadi, tidak bisa dibawa ke pesta," jawab Landon dengan tenang. Orang-orang cuma manggut-manggut mendengarnya. "Hm, boleh kami tahu, apa pendidikan terakhir Nyonya Muda Parker? Kenapa nggak pernah muncul di berita gosip?" "Iya. Bahkan kami belum melihat wanita yang sangat beruntung itu!" Melihat para tamu mulai banyak bertanya tentang istrinya, Landon agak risih. Namun ini pesta perusahaan, dia tak boleh kelihatan tidak kompeten. "Hm, istriku baru saja menyelesaikan studi bisnis di Jerman. Dan, saat ini dia sedang mengejar gelar doktor di Swedia! Kurasa dia memang gila sekolah, haha!" Landon masih berusaha tenang sebaik mungkin. Nama baiknya sebagai CEO perusahaan besar bisa tercemar jika istrinya muncul saat ini di pesta. Oleh karena itu dia tidak beritahu Elsa tentang pesta ini. Mendengar omong kosong Landon, para tamu tersenyum kagum. Mereka bisa bayangkan betapa sempurnanya wanita yang menjadi istri CEO Group Parker itu. Orang tua Landon yaitu Tuan Alex Parker terkenal sebagai pengusaha yang sudah malang melintang di dunia bisnis. Bahkan aset kekayaan mereka sulit dihitung. Mustahil jika mereka memilih gadis rendahan untuk putranya. "Wah, saya jadi penasaran nih sama istri Anda. Maaf! Pasti selain cerdas dan ambisius, Nyonya Muda Parker juga seorang wanita karir yang sangat cantik!" Seorang wanita berguman disertai senyuman kagum kepada Landon. "Itu pasti dong! Mana mungkin istri CEO Group Parker biasa-biasa saja!" "Itu benar!" Landon cuma tersenyum getir melihat antusias para tamu yang merasa penasaran dengan tampang istrinya. Setelah mengajak mereka bersulang, ia melirik ke arah pintu. Jangan sampai wanita busuk itu muncul! "Permisi!" "Hei, awas!" Prang! Di tengah dentingan gelas kristal dan gemerlap gaun sutra, mendadak semua mata tertuju pada seorang wanita yang tersungkur di lantai. Entah siapa wanita itu, dia datang dengan tergesa-gesa dan menabrak seorang pelayan. Gaun merah yang kusam dan ketinggalan model kini basah oleh tumpahan anggur, meninggalkan noda keunguan yang kontras dengan lantai marmer yang mengkilap. Kacamata tebalnya miring dan hampir lepas. Dari kerumunan bisik-bisik menusuk mulai terdengar. "Astaga, siapa dia? Penampilannya norak banget!" "Dia pasti gembel!" Semua orang melempar tatapan penuh kebencian ke arah wanita itu. Sambil membenarkan letak kacamatanya, ia berangsur bangkit. Matanya melirik ke sekitar. Oh, Tuhan! Dia sedang jadi pusat perhatian saat ini? Dengan pipi merah menahan malu, kepalanya segera menunduk Siapa sebenarnya wanita lusuh itu? Di tengah pertanyaan yang bersarang di benak para tamu, seorang pria segera berlari menuju pada orang nomor satu di pesta. "CEO, istri Anda ada di sini." Apa?! Mendengar bisikan sang asisten, Landon sangat terkejut. Mata elangnya segera berkelana ke semua sudut ruangan. Ia berhenti pada sosok wanita lusuh yang sedang jadi bahan tontonan para tamu. Sepertinya wanita busuk itu sudah bosan hidup! Dengan tangan yang mengepal kuat, Landon berjalan gagah menerobos kerumunan para tamu. Kemunculannya menyita semua perhatian orang. "Bau, ya? Seperti bau hujan bercampur debu." "Iya, bau banget!" Wanita itu masih menjadi pusat perhatian para tamu. Hidung Landon berkedut saat melihatnya. Wanita itu adalah sebuah noda, sebuah aib yang tak pantas berada di antara mereka. Tidak seharusnya Elsa berada di sini. "La--Landon?" Wanita itu tergugup saat melihat pria jangkung dalam balutan tuxedo mewah mendekat padanya. Suaranya nyaris tak terdengar, tapi ia tak diberi kesempatan lagi untuk bicara. "Security, singkirkan wanita lusuh ini dari pesta ku!" perintah Landon. Wanita itu sangat terkejut. Kepalanya menggeleng. Namun Landon segera buang muka, tak peduli. Elsa merengek-rengek saat para petugas hotel menyeret dia pergi. Tak lama kemudian Landon pun menghilang. Meski hal itu cukup menyita perhatian, namun pesta kembali dilanjutkan setelah asisten Landon bicara. Sementara CEO belum kelihatan di wilayah pesta. Brak! "Ah, aduh!" Gadis itu jatuh duduk di depan pintu lift saat Landon melemparnya dengan kasar. Ia memeriksa sikunya yang kena benturan. "Pergi dari sini dan jangan kembali lagi! Dasar wanita pembawa sial!" Setelah bicara kasar begitu, Landon bergegas pergi dengan bahu yang naik turun karena emosi. Dua orang petugas hotel segera membantu Elsa berdiri. Gadis itu menggeleng dengan wajah sedih saat para petugas bertanya padanya. Hingga pintu lift terbuka, ia segera masuk. Elsa berjalan melewati seorang pria yang berdiri di dalam lift. Gadis itu memilih sudut ruangan sempit itu untuk merajuk. Suara isak tangis dari arah belakang mengalihkan perhatian Alex--satu-satunya pria yang bersama Elsa di dalam lift. Ia melirik ke arah belakang acuh tak acuh. Dilihatnya seorang gadis yang sedang bersimpuh di sana. Elsa sedang meratapi nasibnya. Kedatangannya ke pesta bukan untuk membuat Landon mendapat malu, tapi karena ada hal penting yang harus Elsa beritahu kepada suaminya itu. Sialnya Landon sangat marah melihatnya muncul di pesta, hati Elsa sangat sedih atas perlakuan kasar Landon. Alex tadinya tidak begitu peduli, tapi Elsa menangis amat menyedihkan. Ia pun mulai merasa tidak nyaman dengan suara gadis itu. Maka Alex pun memutar tubuhnya menghadap ke arah Elsa. Mata basah Elsa terangkat ke wajah seorang pria yang sedang berdiri di depannya kini. Alex menatapnya seraya menyodorkan sehelai sapu tangan padanya. "Terima kasih, Tuan ...," lirih Elsa. Dengan sungkan-sungkan ia menerima sapu tangan itu. Sambil berdiri gagah Alex memasukkan kedua lengannya ke masing-masing saku celana. Dia berkata dengan acuh tak acuh. "Berhentilah menangis, karena itu tidak ada gunanya." Elsa tertegun di tempat. Matanya menatap ke manik-manik biru Alex. Pria ini kelihatan lebih muda dari usianya. Stelan jas yang ia kenakan tampak rapi dan mewah. Dari postur tubuhnya yang atletis, Elsa yakin jika Alex seorang vegetarian dan suka berolahraga. Diusianya yang mungkin sudah nyaris 55 tahun, ia terlihat tampan, dengan model rambut kekinian yang tertata rapi. Kumis dan janggut tipisnya juga terawat. Wangi segar parfum mahal yang tercium darinya berhasil memudarkan bau anggur di gaun Elsa. "Apa yang sedang kau lihat?" Suara bass itu mengejutkan Elsa. Ia buru-buru menggeleng. "Maafkan saya, Tuan! Terima kasih untuk sapu tangannya!" Dia berkata dengan cepat dan terbata. Alex cuma membalas dengan tatapan yang dingin. Tak lama pintu lift pun terbuka. Dua orang pria berpakaian formal segera menyambutnya. "Selamat datang, Tuan Parker!" Alex cuma mengangguk. Ia melirik ke arah Elsa. Gadis itu tampak sudah lebih baik. Elsa cuma membungkuk menanggapi. Alex pun segera pergi. Siapa orang baik itu? Sambil berdiri di depan pintu lift, Elsa memandangi kepergian Alex. Andai saja Landon pun baik seperti orang itu, pasti pernikahannya tidak menyedihkan begini. Dia sangat mencintai Landon, tapi dia sadar diri. Landon amat tampan, cerdas dan seorang CEO perusahaan besar. Sementara dirinya? Dia sangat jelek dan tidak punya gelar apapun! Haruskah dia bercerai dengan Landon?ROMA, ITALIA – DUA PULUH TAHUN KEMUDIANRoma adalah kota yang tak pernah benar-benar tidur. Di balik kemegahan arsitektur kunonya, detak jantung kota ini digerakkan oleh dua elemen yang saling melengkapi: bisnis legal yang dikuasai oleh Alex Parker dan dunia bawah yang berada dalam genggaman besi Camila Palmer. Pasangan ini telah menjadi legenda hidup; Alex sang penguasa ekonomi Eropa, dan Camila sang Lady Mafia yang memastikan tak ada satu pun bayang-bayang yang bergerak tanpa izinnya.Hari ini, 20 November 2046, Roma bersiap untuk sebuah perayaan besar. Dave Alen Parker, putra mahkota Group Miracle, genap berusia 23 tahun. Dave adalah sebuah misteri yang hidup. Sejak usia lima tahun, demi melindunginya dari daftar panjang musuh keluarga, Alex dan Camila mengirimnya ke asrama rahasia di Pulau Sisilia. Publik hanya mengenal namanya, namun tak pernah melihat wajahnya. Ia adalah "Hantu" dari klan Parker—pewaris berdarah biru yang dididik dalam kerasnya disiplin militer dan kecerdasan
Matahari merayap menuju puncaknya, namun hawa dingin tetap menyelimuti San Alexandria. Daun-daun maple kemerahan gugur satu per satu, menari ditiup angin sebelum mendarat di atas tanah merah yang masih basah. Di sana, di dalam peti mati mahoni yang mewah, Elsa Wilson terbaring dengan kedamaian abadi. Ia mengenakan gaun hitam sutra yang elegan, jemarinya yang pucat ditautkan di atas perut, menggenggam buket mawar putih yang kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Matanya terpejam rapat, sebuah tidur panjang yang tak akan terusik oleh intrik dunia lagi. Alex Parker berdiri mematung. Saat peti itu perlahan turun ke liang lahat, kekuatannya runtuh. Sang penguasa yang biasanya tegak itu jatuh lemas di tepi lubang, menyadari bahwa ini adalah kali terakhir ia bisa menatap wajah wanita yang telah memberikan segalanya untuknya. Di sampingnya, Marquez Wilson mencengkeram gundukan tanah dengan tangan kosong, isak tangisnya pecah meratapi kepergian adik satu-satunya. Jesica berdiri di
Cahaya keemasan musim gugur menyusup melalui celah gorden sutra di Villa Parker yang terisolasi. Pagi itu terasa seperti sepotong surga yang dicuri dari tumpukan tragedi. Elsa Wilson terbangun perlahan, matanya tertuju pada sosok pria yang kini menjadi pusat semestanya: Alex Parker. Dalam remang cahaya subuh, Alex masih terlelap, wajahnya yang biasanya keras dan penuh otoritas kini tampak tenang, hampir rapuh. Mereka berbaring polos di bawah selimut putih tebal yang sama, berbagi kehangatan yang meluruhkan semua ingatan tentang peluru dan air mata. Saat Elsa hendak bangkit, sebuah tangan yang kuat namun lembut mencekal lengannya. Elsa tersentak kecil, hanya untuk menemukan manik mata Alex yang sudah terbuka, menatapnya dengan binar kerinduan. "Selamat pagi, Istriku," bisik Alex dengan suara serak khas bangun tidur. Elsa tersenyum, kembali merebahkan kepalanya di bantal. "Selamat pagi, Walikota." Alex menarik Elsa mendekat, lalu dengan gerakan penuh kekaguman, ia menempelkan
San Alexandria terbangun dengan sinar matahari yang membelai permukaan kota, seolah tak pernah terjadi pertumpahan darah di atas aspalnya. Berita penembakan sang Walikota, Alex Parker, telah menguap begitu saja; sebuah kasus yang ditutup rapat di bawah kekuasaan mutlak, menyisakan misteri yang hanya diketahui oleh mereka yang hidup di balik bayang-bayang. Di depan gerbang Bungalow Wilson yang megah, Marquez Wilson berdiri dengan bahu yang tampak kaku. Ia menatap bangunan yang pernah menjadi simbol kejayaan keluarganya. Kini, rumah itu terasa seperti makam besar bagi kenangan. Di telinganya, seolah masih bergema tawa manja Elsa saat bercerita tentang debut baletnya, dan suara berat David yang tertawa puas sambil merangkul bahunya. Semua itu kini hanyalah abu yang tertiup angin. Marquez mengusap sebutir air mata yang mengalir di pipinya—sebuah kelemahan langka bagi sang pewaris Wilson. Jesica mendekat, meremas bahunya dengan lembut untuk memberikan kekuatan yang ia sendiri pun h
Langit di ufuk barat Salvador tampak seolah-olah baru saja disayat, menyisakan warna merah jingga yang pekat dan mengancam. Di tepi jalan berdebu yang sunyi, sebuah truk tua pengangkut pakan ternak mengerem perlahan, menimbulkan kepulan debu yang menyelimuti dua sosok pria yang melompat turun dari
ATAP GEDUNG DISTRIK SAN FARO – 01:30 AM Langit San Faro yang kelam seolah terbelah oleh raungan sirene dan deru mesin mobil-mobil hitam yang meluncur membelah kegelapan. Pasukan elit Organisasi Parker telah tiba. Puluhan pria berseragam taktis lengkap dengan senapan serbu segera berhamburan kelu
RERUNTUHAN LAPAS WANITA – 12:00 PMDebu putih dari semen yang hancur beterbangan tertiup angin siang yang kering. Noah Sky Donovan melangkah hati-hati di atas balok-balok kayu yang menghitam. Dengan sarung tangan lateks, ia memunguti serpihan benda kecil—potongan kabel yang janggal, sisa botol pec
VERONICA OF THEATER – 21:00 PMLampu sorot panggung masih menyisakan pendar keemasan saat Elsa Wilson melakukan gerakan membungkuk terakhirnya. Tepuk tangan membahana, mengisi setiap sudut ruang teater yang megah. Di kursi VVIP, Alex Parker tersentak dari lamunannya. Elsa.Ah, sial!Selama beberap












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu