Share

68. PENEKANAN

Author: NONA_DELANIE
last update publish date: 2026-03-08 12:15:21

“Baik. Beri kami waktu beberapa hari. Sebelum tenggat waktu yang kau berikan, kami akan mengambil keputusan,” ucap Denzel dengan suara yang masih bergetar.

Ia sadar betul bahwa gertakan Emma hanya akan mempercepat kehancuran mereka, dan ia butuh ruang untuk berpikir jernih tanpa tekanan langsung dari Hexa.

Hexa mengangguk perlahan, wajahnya kembali datar tanpa ekspresi. “Saya pegang janji Anda. Jika sampai batas waktu itu tidak ada jawaban yang memuaskan, Anda harus bersiap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Mantap, Sayang   107. AMARAH DAN LUKA

    “Jadi, ini yang kamu sembunyikan dariku?”Hazel langsung merangsek masuk. Begitu ia melewati ambang pintu, langkahnya mendadak membeku. Napasnya tercekat melihat pemandangan di depannya ketika Hexa sedang setengah terbaring di ranjang rumah sakit, bertelanjang dada dengan lilitan perban tebal yang menutupi area perutnya.Wajah suaminya yang biasanya terlihat perkasa, kini nampak pucat di bawah benderang lampu ruang perawatan. Hazel merasakan dunianya seolah runtuh melihat kondisi pria yang baru saja ia cintai, ternyata jauh dari kata ‘baik-baik saja’.Keheningan yang mencekam seketika menyelimuti ruang VVIP itu. Kejutan besar terpahat jelas di wajah semua orang. Baik Enrico, Elon, dan Gracia seolah membatu di posisi masing-masing, menatap Hazel yang berdiri gemetar di ambang pintu dengan napas memburu.Pandangan Elon beralih tajam ke arah Hexa, sebuah isyarat tanpa suara yang menuntut putranya untuk segera membereskan situasi yang pecah di luar rencana ini.Hexa mengembuskan napas

  • Ah! Mantap, Sayang   106. MENCARI TAHU

    Derap langkah Hazel yang mondar mandir di ruang tamu, menyelimuti ketegangan di kediaman river malam itu. Hazel tak mau berhenti. Gracia, sang mertua, memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Ma, kenapa Hexa belum pulang? Apa ... terjadi sesuatu dengannya? Perasaanku benar-benar tidak enak,” bisik Hazel parau, kedua tangannya saling meremas dengan gelisah.Gracia memaksakan senyum, mencoba tetap tenang meski hatinya sendiri bergejolak. “Semoga Hexa baik-baik saja. Dia pria yang tangguh, kau tahu itu. Jangan terlalu khawatir.”Kalimat itu sudah diucapkan Gracia berulang kali sejak senja tadi, namun nyatanya tak pernah benar-benar mampu menenangkan badai di hati Hazel. Kecemasan itu terus menghimpit dadanya hingga larut malam, sampai akhirnya Gracia harus mengantarnya kembali ke kamar di lantai atas agar ia mau beristirahat.Namun, tidur adalah hal mustahil bagi Hazel. Hingga fajar menyingsing dan pagi menyapa, sosok Hexa tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Harap

  • Ah! Mantap, Sayang   105. TITIK TERANG

    Hexa terbangun tidak lama setelah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang hening dan steril. Aroma antiseptik yang tajam menyambut kesadarannya yang perlahan pulih. Dengan gerakan pelan dan rintihan tertahan, ia menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal, mencoba mencari posisi nyaman sebelum menatap lurus ke arah Elon, sang ayah, yang duduk di sisi ranjang.“Papa tidak memberitahu Hazel tentang keadaanku, ‘kan?” tanya Hexa, suaranya masih serak dan lemah.Elon menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara lega dan ketegasan. “Tentu saja tidak. Dia tidak akan tahu apa pun. Papa sudah memastikan semua laporan di rumah tetap tenang.”Hexa mengangguk pelan, merasa sedikit lega. Ia melirik ke bawah, merasakan lilitan perban yang tebal di balik pakaian rumah sakitnya. Anehnya, ia belum merasakan perih yang menghujam, mungkin karena pengaruh obat bius pasca operasi yang masih bekerja kuat di dalam aliran darahnya.Tak lama kemudian, Elon berdiri. “Istirahatlah.

  • Ah! Mantap, Sayang   104. MENYUSUN ULANG STRATEGI

    Elon tiba di atap rumah sakit dengan helikopter pribadinya setelah mengudara selama 17 menit. Tanpa membuang waktu, ia segera diarahkan ke ruang pengambilan darah. Sebagai pemilik golongan darah yang sama langkanya dengan putranya, Elon memberikan satu kantong darahnya dengan cepat, lalu bergegas menuju lorong ruang operasi dengan langkah lebar yang sarat kewibawaan.Enrico segera berdiri menyambut kedatangan pria kuat itu. “Tuan River, selamat datang,” sapanya dengan nada rendah penuh hormat.Elon hanya menyambut sapaan itu dengan kedipan singkat, wajahnya kaku menahan emosi. Tanpa basa-basi, ia langsung menghujamkan pertanyaan, “Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Hexa bisa mengalami kecelakaan sehebat itu?”“Ceritanya panjang, Tuan,” jawab Enrico. Ia kemudian menuturkan semuanya dengan gamblang, mulai dari awal pengejaran di Rute 56 hingga ledakan yang hampir merenggut nyawa Hexa. Di akhir kalimat, Enrico menyatakan dugaannya bersam

  • Ah! Mantap, Sayang   103. BADAI KECEMASAN

    “Kau ... tolong aku. Perutku ...,” bisik Hexa parau, suaranya nyaris hilang ditelan malam.Enrico segera berlutut dan meraba bagian perut Hexa yang ditekan kuat oleh tangan pria itu. Begitu jemarinya menyentuh kain kemeja yang sudah basah kuyup oleh cairan hangat, Enrico tertegun. Ia menyalakan senter ponselnya dan seketika itu juga napasnya tertahan.“Shit!” umpat Enrico tertahan.Cahaya senter ponselnya menyingkap pemandangan mengerikan. Serpihan logam tipis yang mungkin bagian dari rangka mobil yang hancur akibat ledakan, menembus kemeja Hexa dan tertanam dalam di perutnya. Darah merembes cepat, mewarnai kain putih itu menjadi merah pekat. Enrico tahu betul, menarik benda itu sekarang sama saja dengan membuka keran kematian bagi sahabatnya.Tanpa membuang waktu, Enrico membopong tubuh lemas Hexa dengan sangat hati-hati ke kursi belakang mobilnya. Ia meminta anak buahnya menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu kendaraan menembus kegelapan malam yang kian mencekam.Sekitar 23 menit

  • Ah! Mantap, Sayang   102. TOLONG AKU

    “Vosco, granat!”Begitu instruksi keluar dari mulut Enrico, sebuah granat taktis berpindah ke tangannya dengan cepat. Tanpa ragu, Enrico mencabut pin pengaman, menahan tuas sejenak untuk menghitung detik, lalu melemparkannya dengan presisi tinggi ke arah Jeep hitam yang menjadi tameng terakhir musuh.BOOM!Ledakan hebat mengguncang Rute 56. Kobaran api membumbung tinggi, melalap kerangka baja Jeep tersebut hingga terpental beberapa meter.Serpihan logam panas beterbangan di udara, menciptakan kembang api maut di tengah kegelapan malam.Enrico segera merunduk, melindungi wajahnya dari hawa panas yang menyengat. Begitu debu dan asap mulai menipis, ia memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk maju mendekat.“Periksa sisanya! Pastikan tidak ada yang bernapas!” perintahnya dingin.Anak buahnya segera mengecek dengan teliti. “Tuan, kemarilah!”Saat Enrico melangkah mendekati puing-puing yang masih membara, matanya menyipit tajam. Di aspal yang menghitam, ia tidak menemukan jasad yang ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status