LOGINDemi menyelamatkan adiknya yang diculik, seorang jurnalis investigasi, Sofia Elizabeth menyamar jadi pelayan di pesta pernikahan tertutup keluarga kriminal paling ditakuti, Damian Bellini. Rencananya berantakan saat sang calon pengantin wanita kabur, dan sofia, di bawah todongan pistol, dipaksa menggantikan posisi pengantin tersebut di pelaminan. Sofia harus menjalankan peran sebagai istri mafia sambil mencari keberadaan sang adik yang ternyata bukan klan Damian yang menculiknya!
View More“Jika satu langkah saja salah, maka kau akan berakhir jadi pupuk di bawah salju itu, Sofia,” bisik Sofia pada dirinya sendiri.
Sofia Elizabeth, 28 tahun, mengeratkan seragam pelayannya yang terasa sangat tipis. Kain itu sama sekali tidak mampu menghalau hawa dingin yang merayap masuk ke pori-porinya.
Atas saran dari salah satu rekan kerjanya, Sofia diminta untuk menyamar sebagai pelayan di pesta tersebut jika ingin menyelamatkan adiknya, Leo. Pria itu hilang tiga hari lalu setelah mengirim foto transaksi koper hitam dengan simbol singa bersayap. Simbol maut milik keluarga Bellini.
Sofia adalah jurnalis investigasi selama lima tahun lamanya. Baginya, kebenaran adalah segalanya, terutama sejak tiga tahun yang lalu ketika polisi Toronto mengabaikan kematian orang tuanya.
Ia tahu dunia ini kejam, tapi berdiri di markas keluarga Bellini, penguasa nadi hitam Kanada dari Quebec hingga Ontario membuat insting bertahannya menjeritkan alarm bahaya.
“Turun! Cepat! Jangan melamun atau kau tidak akan kubayar!” bentak kepala catering hingga membuat Sofia tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan baki perak yang dibawanya.
Sofia bergerak dengan langkah kaku sambil membawa sampanye kristal masuk ke dalam aula utama.
Malam ini adalah pesta pernikahan Damian Bellini, sang pewaris tunggal berusia 35 tahun yang dijuluki “The Ice King”. Pernikahan yang akan menyatukan dua dinasti terbesar.
Sambil berpura-pura menawarkan minuman, mata Sofia yang sewarna madu terus bergerak liar, mencari tanda keberadaan adiknya.
Setiap kali ia berpapasan dengan pria-pria berjas mahal yang menyembunyikan senjata di balik pinggang mereka, jantungnya berdegup kencang hingga dadanya terasa sakit. Ia merasa seperti domba yang menyelinap ke sarang serigala.
Saat musik klasik mulai mengalun, Sofia melihat celah. Dengan kaki yang terasa lemas, ia menyelinap ke koridor belakang menuju area privat.
Ia harus menemukan ruang kerja Damian, tapi langkahnya terhenti di balik tirai beludru merah yang berat saat mendengar isak tangis dari balik pintu.
Sofia mengintip dengan napas tertahan. Di sana, sang calon pengantin wanita sedang memeluk pria lain yang bukan Damian.
“Aku tidak bisa melakukannya, Antonio! Damian akan membunuhku jika dia tahu aku mengandung anakmu,” isak wanita itu dengan suara penuh horor.
“Kita pergi sekarang. Helikopter sudah menunggu. Damian tidak akan menemukan kita, aku jani,” balas pria itu terburu-buru.
Sofia langsung membeku melihat pemandangan horror di hadapannya itu. Ini skandal yang mematikan. Namun, sebelum ia sempat mencerna keadaan, pasangan itu lari melalui pintu rahasia, meninggalkan gaun pengantin putih yang teronggok lecek di atas sofa.
‘Sial, aku harus pergi. Jika mereka tahu aku melihat ini, aku mati,’ batin Sofia panik.
Baru saja ia hendak berbalik untuk lari, sebuah tangan dingin dan besar mencengkeram lehernya dari belakang.
“Akh!” Sofia tersentak lalu punggungnya menabrak dada bidang yang keras seperti dinding beton. Bau sandalwood dan aroma tembakau mahal langsung mengepungnya dan membuatnya merasa sesak.
“Menarik,” sebuah suara bariton yang rendah dan bergetar tepat di telinganya. “Seorang tikus kecil baru saja melihat ratunya melarikan diri.”
Sofia mencoba meronta, menyikut perut pria itu dengan sisa keberaniannya, namun pria itu bahkan tidak bergeming.
Dengan satu sentakan kasar, pria itu membalikkan tubuh Sofia dan menekannya ke dinding kayu hingga kepalanya sedikit terbentur.
Mata Sofia membelalak, napasnya memburu pendek-pendek. Di depannya berdiri Damian Bellini. Pria itu jauh lebih mengerikan daripada di foto.
Rahangnya tegas, dan matanya yang berwarna abu-abu baja menatap Sofia dengan tatapan predator yang sedang menguliti mangsanya.
“Siapa kau?” tanya Damian sembari mencengkeram dagu Sofia dengan sangat keras hingga Sofia meringis kesakitan.
“A-aku ... aku hanya pelayan, Tuan. Tolong lepaskan aku,” rintih Sofia dengan suara yang bergetar hebat.
Damian terkekeh dingin, tawa yang sama sekali tidak mencapai matanya. Ia kemudian merogoh saku seragam Sofia dan menarik keluar sebuah kamera kecil yang tersembunyi di sana, yang menarik perhatiannya sejak menangkap basah wanita itu.
“Pelayan tidak membawa kamera mata-mata high-end, gadis manis. Dan pelayan tidak memiliki mata yang penuh dendam saat menatapku,” desis Damian, lalu mencondongkan tubuhnya dan mengurung Sofia di antara kedua lengannya yang kekar.
Hingga jarak mereka kini begitu tipis, bahkan Sofia bisa merasakan panas tubuh Damian yang kontras dengan suhu ruangan yang membeku.
“Pengantin wanitaku baru saja pergi membawa rahasia yang bisa menghancurkan aliansiku,” ucap Damian tenang, namun setiap katanya terasa seperti pisau.
“Dan kau, sepertinya terjebak di sini dengan kamera berisi bukti yang bisa meregang nyawaku di depan para klan.”
Klik.
Damian mencabut pistol Glock dan menekan moncongnya yang dingin tepat di ulu hati Sofia. Tubuh Sofia gemetar hebat bahkan merasakan kakinya seolah berubah menjadi jeli.
“Siapa namamu? Dan apa alasanmu datang kemari dengan penyamaran murah ini, hm?” tanya Damian dengan suara berat yang menuntut.
Sofia menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering dan tersumbat. Ia ingin berbohong, tapi tekanan pistol di dadanya membuat seluruh keberaniannya menguap.
“Katakan sekarang, atau timah panas ini akan menghujam jantungmu,” bisik Damian tepat di depan bibirnya.
“Sofia!” teriak Sofia dengan wajah ketakutannya. “Sofia Elizabeth! Aku ... aku mencari adikku, Leo. Dia hilang dan kawananmu membawanya!”
Damian menaikkan alisnya, tampak sedikit terkejut namun tetap terlihat kejam. “Leo? Dibawa oleh kawananku?”
Dengan tangan yang masih gemetar, Sofia merogoh saku roknya dan mengeluarkan ponselnya. Ia memperlihatkan foto buram saat Leo dipaksa masuk ke dalam mobil oleh pria bersimbol singa bersayap.
“Tolong beritahu aku di mana adikku, Damian Bellini. Jangan sakiti dia,” lirih Sofia memohon.
Damian menyunggingkan senyum menyeramkan yang membuat bulu kuduk Sofia berdiri. Ia akhirnya menurunkan pistolnya dan memasukkannya kembali ke saku celana belakang.
“Jika adikmu memang sangat berharga di hidupmu, maka kau harus membayarnya dengan apa yang kau lihat barusan, Sofia.”
Sofia mengerutkan kening mendenganrya. “Apa maksudmu? Aku akan memberikan kameranya, tolong lepaskan Leo,” pintanya lirih.
Damian mencengkeram pinggang Sofia dan menarik tubuh wanita itu hingga menempel pada tubuhnya. “Kamera itu tidak cukup. Pengantinku melarikan diri, dan aku butuh pengganti untuk menyelamatkan aliansi malam ini.”
Mata Sofia membelalak lebar. “Apa?”
Damian menghela napas kasar. “Ayahku tidak akan memberikan takhta ini jika aku gagal menikah hari ini. Dan kau, harus menggantikan bajingan gila itu, kau harus menikah denganku. Sekarang!”
Kapal pesiar mewah itu akhirnya melambat, mesinnya menderu halus dalam posisi stasioner di tengah laut lepas. Jarak mereka masih cukup jauh dari pulau karang berbenteng beton itu. Kabut tipis menyelimuti perbatasan laut, menyembunyikan ancaman mematikan yang tidak kasat mata bagi orang awam.Sofia melirik ke arah monitor navigasi di ruang kemudi, lalu menoleh pada Damian. “Kenapa kita berhenti di sini? Pulau itu bahkan masih terlihat sekecil kepalan tangan dari sini.”“Jangan bodoh, Sofia. Pulau itu dilindungi oleh perimeter pertahanan yang ketat,” sahut Damian tanpa mengalihkan pandangannya dari lensa teropong militer.“Ada sinyal pelacak otomatis di bawah air dan menara pantai. Jika ada kapal tak dikenal melewati batas koordinat ini, sistem pertahanan mereka akan langsung meluncurkan torpedo untuk menghancurkan kita hingga berkeping-keping.”Damian menyesuaikan fokus lensa makro pada teropongnya, menyisir setiap sudut dermaga dan celah benteng di seberang sana, mencoba mencari petun
“Tentu saja,” ucap Damian tanpa ragu, jemarinya yang kasar bergerak lembut mengusap bibir merah Sofia yang masih basah dan sedikit bengkak. Ia menatap lekat sepasang mata sayu istrinya.“Keturunan itu adalah hal yang mutlak dan sangat perlu dalam struktur klan mafia, Sofia. Kekuasaan ini harus diturunkan secara turun-temurun tanpa ada jeda. Dari tanganku ke tangan anakku kelak, begitu pun nanti untuk cucuku, bahkan hingga cicitku setelah kita berdua tiada dari dunia ini.”Sofia memalingkan wajahnya sedikit, menatap langit kelabu di atas lautan bebas. “Kalian benar-benar terobsesi dengan masa depan yang bahkan belum tentu bisa kalian lihat sendiri.”“Ini bukan sekadar obsesi, ini adalah warisan darah,” sahut Damian, suaranya memberat saat ia mulai menjelaskan sejarah yang selama ini dipikulnya.“Kau tidak tahu bagaimana perjuangan berdarah dari para leluhurku demi menjadikan klan Bellini salah satu faksi yang paling disegani dan ditakuti di dunia bawah ini.“Banyak nyawa yang sudah dik
Angin laut berembus kencang, menerbangkan ujung-ujung gaun Sofia yang tengah berdiri termenung di dek kapal. Tatapannya kosong, terpaku pada riak ombak yang saling berkejaran seolah menggambarkan keruwetan di dalam kepalanya. Rasa cemas akan keselamatan Leo dan misteri kematian orang tuanya terus berputar tanpa henti, merenggut ketenangannya.Sepasang lengan kokoh mendadak melingkar di pinggangnya dari belakang. Damian menghampiri tanpa suara, menumpukan dagu serta tangannya di pundak Sofia yang tegang. Kecupan-kecupan hangat mulai mendarat di bahu polos yang terbuka itu, perlahan naik ke leher sensitifnya, mencoba mengurai ketegangan sang istri.“Jangan melamun, Sofia. Kau bisa kehilangan akal sehatmu sebelum kita tiba di sana,” bisik Damian parau, terus menciumi tengkuk Sofia hingga membuat wanita itu tak kuasa menahan desah pelan yang lolos dari sela bibirnya.“Damian, hentikan... aku sedang tidak ingin—”“Kau butuh pengalihan,” potong Damian tegas, lalu membalikkan tubuh Sofia den
Matahari pagi baru saja merangkak naik, memantulkan kilauan keemasan di atas permukaan laut yang tenang saat roda-roda jip hitam Damian berhenti tepat di dermaga pribadi.Di sana, kapal pesiar mewah yang membawa mereka kemarin sudah bersiap dengan mesin yang menderu halus. Sofia melangkah turun dengan perasaan yang jauh lebih berat dari sebelumnya.Setelah percakapan rahasia di ruang bawah tanah yang tidak sengaja didengarnya semalam, setiap embusan angin pantai kini terasa seperti ancaman.Namun, begitu mereka menaiki dek dan kapal mulai bergerak membelah ombak, Sofia menyadari arah kemudi yang diambil oleh kapten tidak menuju ke jalur kepulangan mereka ke kota asal. Kapal itu justru melaju semakin jauh ke perairan dalam yang asing.Sofia melangkah mendekati Damian yang berdiri tegap di ujung dek utama, angin laut menerbangkan beberapa helai rambut hitam pria itu. “Damian, kita tidak sedang jalan pulang, kan? Kali ini kita akan pergi ke mana lagi? Tempat persembunyianmu yang lain?”D
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews