Mag-log inHanya karena tak kemana-mana sejak kami menikah seminggu lalu, suamiku dikira tidak punya pekerjaan dan numpang hidup denganku. Padahal sebenarnya dia adalah seorang bos perusahaan ternama di kotaku.
view morePOV Dina"Din, itu ... itu Ning sama Fahri kan?" ucap Ibu dengan suara bergetar dan wajah pias.Aku menghembuskan napas panjang mendengar perkataan Ibu, lalu menggelengkan kepala penuh keyakinan."Mana mungkin lah, Bu. Wajah mereka saja mungkin yang mirip. Tapi yang pasti bukan mereka. Nggak mungkin lah Mbak Ning dan Mas Fahri penampilannya seperti itu, punya pengawal pribadi banyak pula. Memangnya mereka siapa? Bos perusahaan? Ibu ini ada ada aja," jawabku sambil tertawa lebar.Mendengar jawabanku, Ibu menggeleng-gelengkan kepala, tapi setelah itu hanya diam saja sembari mengamati sampai sosok laki laki dan perempuan yang kelihatannya sangat mirip dengan Mbak Ning dan Mas Fahri tetapi dengan penampilan yang berbeda tiga ratus enam puluh derajat tersebut menghilang di balik bangunan toko yang lainnya.Selepas kepergian dua sosok tersebut, aku dan Ibu pun kembali melanjutkan langkah yang tertunda memasuki toko tas branded yang ada di hadapan kami. Sesuai dugaanku tadi, ternyata benar
POV Ning"Mana sih, Bu?" Aku mencoba mengikuti arah pandangan Ibu. Barusan aku memang melihat dua sosok laki laki dan perempuan yang barusan keluar dari butik, tapi aku tak sempat melihat wajah mereka sehingga aku tak tahu apakah itu beneran Mbak Ning dan Mas Fahri seperti dugaan Ibu atau tidak. Lagipula rasanya tak mungkin kalau itu beneran mereka, sebab aku yang bekerja di perusahaan besar dan punya calon suami seorang manager perusahaan saja tak pernah sanggup beli pakaian di butik ini, apalagi dua gembel seperti Mbak Ning dan suaminya."Itu lho, Din, yang barusan keluar dari butik ini, wajah mereka mirip Ning dan Fahri. Apa mungkin itu beneran mereka ya?" ucap Ibu lagi terlihat bimbang.Seketika tawaku meledak mendengar perkataan beliau."Bu, ini tuh butik mahal, Bu. Harga bajunya aja di atas lima juta rupiah semua. Lima juta itu udah paling murah. Terus Ibu bilang Mbak Ning sama Mas Fahri baru keluar dari butik ini sambil bawa kantong belanjaan banyak? Yang benar saja, Bu? Buat
POV Ning“Kok ditabung, Sayang? Kamu tenang aja, tabungan kita sudah lebih dari cukup kok. Nanti Mas perlihatkan semuanya, ya. Mas juga akan buatkan kamu kartu debit atas nama kamu sendiri, biar kamu bisa pakai kapan saja tanpa perlu menunggu Mas lagi. Oke?" ucapnya lembut.Aku seketika terdiam. Apa? Kartu debit? Apalagi ini? Haruskah aku menerima semua kemewahan ini?Mas Fahri tersenyum lalu menggenggam tanganku erat.“Sekarang ayo kita pergi. Kamu istri CEO. Sudah waktunya kamu tampil percaya diri dan sesuai dengan tempatmu.”Aku menelan ludah. Istri CEO?Setelah berpamitan pada tiga ART kami, mobil Mas Fahri pun melaju meninggalkan rumah bak istana menuju sebuah mall besar di pusat kota. Mall dengan gedung tinggi menjulang dan dinding kaca berkilau yang memantulkan cahaya siang. Begitu mobil berhenti di area VIP, seorang petugas langsung membukakan pintu.Melihat itu, tanganku refleks mencengkeram lengan Mas Fahri kuat-kuat.“Mas… kenapa ke sini? Di sini pasti harganya mahal-maha
POV Dina"Gimana, Din? Yudha bersedia memberimu mahar satu miliar?" tanya Ibu begitu aku pulang kerja.Tersenyum, aku menganggukkan kepala."Tentu mau dong, Bu. Mas Yudha itu cinta ma'ti sama aku, Bu. Semua keinginanku pasti dia kabulkan. Jangankan mahar satu miliar, rumah mewah pun pasti akan dia belikan, Bu.""Walaupun dia manager dan yang suka dia banyak, tapi Mas Yudha cuma mencintaiku, Bu. Hidupku pasti akan bahagia kalau jadi istrinya nanti," jawabku sambil menerawang jauh, membayangkan hidupku yang pasti akan bahagia jika menjadi istri Mas Yudha yang seorang manager perusahaan. Bukan tak mungkin, dengan kemampuan dan kinerja yang dia miliki, bisa saja tak lama lagi perusahaan akan mengangkatnya menjadi direktur pemasaran. Kalau itu beneran terjadi, tentu kebahagiaanku akan berlipat lipat lagi besarnya. Aku akan jadi satu-satunya putri kesayangan Ibu dan Bapak karena telah membuat bangga kedua orang tua dan membahagiakan mereka.Ibu tersenyum sumringah mendengar jawabanku."Nah
Ucapan Mas Fahri membuat suasana berubah sedikit tegang.“Tentu saja langgeng, Mas. Perusahaan sebesar itu nggak mungkin sembarang ganti orang. Apalagi saya baru diangkat. Direksi pasti sudah mempertimbangkan matang-matang. Lagian Mas cuma bantu-bantu di rumah calon istri saya ini. Tahu apa soal pe
Aku dan Mas Fahri kembali ke ruang tamu membawa es batu dan tambahan minuman.Belum juga duduk, suara Yudha kembali terdengar, kali ini dengan nada yang lebih santai dari sebelumnya.“Zaman sekarang memang susah cari kerja ya, Mas, makanya bersyukur bisa kerja di sini walaupun cuma bantu-bantu,” ka
Malam akhirnya tiba. Rumah yang sejak sore dipenuhi aroma masakan kini berubah ramai dan terang. Lampu-lampu dinyalakan semua, bahkan lampu teras yang biasanya redup pun diganti dengan yang lebih terang. Karpet digelar. Sofa disusun rapi. Meja tamu dipenuhi aneka hidangan yang tadi kumasak tanpa he
Kapak kembali diayunkan beberapa kali sampai tumpukan kayu cukup banyak. Setelah cukup banyak, Ibu tersenyum puas.“Sudah, cukup! Simpan yang rapi. Jangan berantakan, nanti kelihatan kayak rumah orang nggak terurus!” omelnya.Mas Fahri meletakkan kapak dengan tenang, lalu merapikan kayu-kayu yang s


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu