LOGINHanya karena tak kemana-mana sejak kami menikah seminggu lalu, suamiku dikira tidak punya pekerjaan dan numpang hidup denganku. Padahal sebenarnya dia adalah seorang bos perusahaan ternama di kotaku.
View More"Suamimu nggak kerja, Ning? Sudah seminggu lho kalian menikah, kalian juga nggak pergi bulan madu, tapi kok suamimu nggak kerja-kerja juga?" tanya Bapak saat aku baru saja keluar kamar.
Belum sempat aku menjawab, Ibu sudah menyela dengan nada ketus. "Mau kerja apa, Pak? Wong pengangguran! Apa juga Ibu bilang, laki-laki mo kon do kok dinikahi! Kayak nggak ada yang lain saja!" Dina, adikku yang duduk di samping Ibu, tertawa kecil mendengar perkataan ibu itu. "Wajarlah, Bu. Mbak Ning juga kan nggak cantik. Nggak pernah dandan. Ada yang mau nikahin dia juga udah syukur, Bu. Setidaknya nggak sampai aku langkahi. Soalnya Mas Yudha rencananya bulan depan mau melamar aku, Bu," sambar Dina enteng. Aku menghela napas gundah mendengar perkataan mereka itu. Baru satu minggu aku menikah dengan Mas Fahri, tapi tuduhan kalau suamiku pengangguran sudah mulai terdengar, membuatku tak enak hati. Padahal saat lamaran kemarin, Mas Fahri memberikan mahar sebesar seratus juta rupiah. Tapi sekarang mereka seolah lupa kalau aku diberi mahar suamiku sebanyak itu. "Bu, Mas Fahri itu bukan pengangguran. Kalau dia nganggur, nggak mungkin bisa ngasih aku mahar seratus juta, Bu," jawabku tak rela Mas Fahri direndahkan. Tapi Ibu justru mencibir sinis. "Seratus juta zaman sekarang untuk ngelamar anak gadis orang itu dikit, Ning! Biaya hidup kamu selama dua puluh enam tahun tinggal di rumah ini udah berapa? Lebih dari seratus juta! Jadi nggak usah bangga dilamar dengan duit segitu! Lagian palingan itu juga duit berpuluh-puluh tahun si Fahri nabung, atau nggak, dapat warisan orang tuanya. Bukan duit dia sendiri! Jadi nggak usah bangga! Dasar kamu aja nggak laku, makanya main tabrak aja! Laki-laki pengangguran, kok dijadikan suami!" "Tuh lihat adikmu, calon suaminya manager perusahaan! Duitnya banyak! Baru boleh dibanggain, nggak kayak suami kamu yang pengangguran! Nggak punya kerjaan!" ujar Ibu lagi semakin menjadi-jadi, membandingkan aku dengan adikku. Mendengar perkataan Ibu, aku kembali menghela napas gundah, kesal karena suamiku, imamku sekarang ini dihina, tapi untuk melawan orang tua, aku takut durhaka. Jadilah aku terpaksa mengalah. "Ya Alhamdulillah, Bu, kalau Dina dapat manager perusahaan. Mas Fahri memang bukan siapa-siapa, tapi insyaallah dia suami yang bertanggung jawab, Bu." "Oh ya, Bu. Kapan pernikahan aku sama Mas Fahri akan dirayakan? Ibu bilang kemarin, uang mahar yang Mas Fahri berikan ke aku, mau buat biaya pesta pernikahan, tapi udah seminggu kok Ibu belum ada persiapan apa-apa ya. Apa pernikahanku jadi dirayakan atau enggak, Bu?" tanyaku lagi. Uang mahar dari Mas Fahri memang diminta Ibu katanya untuk biaya pesta pernikahan kami, tapi sudah satu minggu berlalu sejak akad nikah dilangsungkan, Ibu dan Bapak belum ada tanda-tanda akan mengadakan pesta pernikahan kami. Wajar rasanya kalau aku mempertanyakannya. "Halah! Uang segitu masih ditanya! Mana cukup biaya pesta zaman sekarang seratus juta! Udah! Kamu nggak usah pesta! Duit itu buat belanja saja! Sekarang apa-apa mahal, enak sekali kamu mau tinggal di rumah ini tapi nggak nyumbang duit belanja!" "Kamu sudah menikah, sudah bukan tanggung jawab orang tua lagi! Jadi sudah harus nyari makan sendiri! Suamimu pengangguran, lebih baik uang itu untuk belanja daripada untuk biaya pesta!" ujar Ibu lagi sambil berlalu ke belakang, meninggalkan meja makan dan aku yang hanya bisa menghela napas gundah mendengar perkataan Ibu itu.POV Dina"Din, itu ... itu Ning sama Fahri kan?" ucap Ibu dengan suara bergetar dan wajah pias.Aku menghembuskan napas panjang mendengar perkataan Ibu, lalu menggelengkan kepala penuh keyakinan."Mana mungkin lah, Bu. Wajah mereka saja mungkin yang mirip. Tapi yang pasti bukan mereka. Nggak mungkin lah Mbak Ning dan Mas Fahri penampilannya seperti itu, punya pengawal pribadi banyak pula. Memangnya mereka siapa? Bos perusahaan? Ibu ini ada ada aja," jawabku sambil tertawa lebar.Mendengar jawabanku, Ibu menggeleng-gelengkan kepala, tapi setelah itu hanya diam saja sembari mengamati sampai sosok laki laki dan perempuan yang kelihatannya sangat mirip dengan Mbak Ning dan Mas Fahri tetapi dengan penampilan yang berbeda tiga ratus enam puluh derajat tersebut menghilang di balik bangunan toko yang lainnya.Selepas kepergian dua sosok tersebut, aku dan Ibu pun kembali melanjutkan langkah yang tertunda memasuki toko tas branded yang ada di hadapan kami. Sesuai dugaanku tadi, ternyata benar
POV Ning"Mana sih, Bu?" Aku mencoba mengikuti arah pandangan Ibu. Barusan aku memang melihat dua sosok laki laki dan perempuan yang barusan keluar dari butik, tapi aku tak sempat melihat wajah mereka sehingga aku tak tahu apakah itu beneran Mbak Ning dan Mas Fahri seperti dugaan Ibu atau tidak. Lagipula rasanya tak mungkin kalau itu beneran mereka, sebab aku yang bekerja di perusahaan besar dan punya calon suami seorang manager perusahaan saja tak pernah sanggup beli pakaian di butik ini, apalagi dua gembel seperti Mbak Ning dan suaminya."Itu lho, Din, yang barusan keluar dari butik ini, wajah mereka mirip Ning dan Fahri. Apa mungkin itu beneran mereka ya?" ucap Ibu lagi terlihat bimbang.Seketika tawaku meledak mendengar perkataan beliau."Bu, ini tuh butik mahal, Bu. Harga bajunya aja di atas lima juta rupiah semua. Lima juta itu udah paling murah. Terus Ibu bilang Mbak Ning sama Mas Fahri baru keluar dari butik ini sambil bawa kantong belanjaan banyak? Yang benar saja, Bu? Buat
POV Ning“Kok ditabung, Sayang? Kamu tenang aja, tabungan kita sudah lebih dari cukup kok. Nanti Mas perlihatkan semuanya, ya. Mas juga akan buatkan kamu kartu debit atas nama kamu sendiri, biar kamu bisa pakai kapan saja tanpa perlu menunggu Mas lagi. Oke?" ucapnya lembut.Aku seketika terdiam. Apa? Kartu debit? Apalagi ini? Haruskah aku menerima semua kemewahan ini?Mas Fahri tersenyum lalu menggenggam tanganku erat.“Sekarang ayo kita pergi. Kamu istri CEO. Sudah waktunya kamu tampil percaya diri dan sesuai dengan tempatmu.”Aku menelan ludah. Istri CEO?Setelah berpamitan pada tiga ART kami, mobil Mas Fahri pun melaju meninggalkan rumah bak istana menuju sebuah mall besar di pusat kota. Mall dengan gedung tinggi menjulang dan dinding kaca berkilau yang memantulkan cahaya siang. Begitu mobil berhenti di area VIP, seorang petugas langsung membukakan pintu.Melihat itu, tanganku refleks mencengkeram lengan Mas Fahri kuat-kuat.“Mas… kenapa ke sini? Di sini pasti harganya mahal-maha
POV Dina"Gimana, Din? Yudha bersedia memberimu mahar satu miliar?" tanya Ibu begitu aku pulang kerja.Tersenyum, aku menganggukkan kepala."Tentu mau dong, Bu. Mas Yudha itu cinta ma'ti sama aku, Bu. Semua keinginanku pasti dia kabulkan. Jangankan mahar satu miliar, rumah mewah pun pasti akan dia belikan, Bu.""Walaupun dia manager dan yang suka dia banyak, tapi Mas Yudha cuma mencintaiku, Bu. Hidupku pasti akan bahagia kalau jadi istrinya nanti," jawabku sambil menerawang jauh, membayangkan hidupku yang pasti akan bahagia jika menjadi istri Mas Yudha yang seorang manager perusahaan. Bukan tak mungkin, dengan kemampuan dan kinerja yang dia miliki, bisa saja tak lama lagi perusahaan akan mengangkatnya menjadi direktur pemasaran. Kalau itu beneran terjadi, tentu kebahagiaanku akan berlipat lipat lagi besarnya. Aku akan jadi satu-satunya putri kesayangan Ibu dan Bapak karena telah membuat bangga kedua orang tua dan membahagiakan mereka.Ibu tersenyum sumringah mendengar jawabanku."Nah












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews