Se connecterDua belas tahun dibuang. Dua tahun dipenjara… untuk kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Liora kembali—bukan sebagai anak yang dirindukan, melainkan sebagai pengganti. Pengganti kakak yang mereka cintai. Pengganti kesalahan yang bukan miliknya. Pengganti… dalam sebuah pernikahan yang bahkan tidak pernah ia pilih. Ketika kebebasan akhirnya datang, Liora tidak pulang dengan harapan. Ia pulang dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya—ketenangan yang dingin, dan keberanian untuk tidak lagi peduli. Namun takdir mempermainkannya. Pria yang akan menjadi tunangannya—Xavier Dominic—bukan sekadar pengusaha terkaya di kota. Ia adalah nama yang dibisikkan dengan ketakutan. Kejam. Dominan. Tak tersentuh. Dan tanpa ia sadari… Liora sudah pernah bertemu dengannya. Di sebuah sore yang sunyi— dengan darah di jalanan, dan suara tembakan yang masih menggema. Seharusnya itu hanya kebetulan. Namun tatapan pria itu… tidak pernah melupakan. Kini, dalam ikatan yang dipaksakan, dua orang yang sama-sama berbahaya dipertemukan. Satu kehilangan segalanya. Satu terbiasa mengendalikan segalanya. Dan di antara mereka— tidak ada yang benar-benar menjadi korban. Hanya ada permainan. Kekuasaan. Luka. Dan perasaan yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa dihentikan.
Voir plusBeberapa detik berlalu.Namun, bagi orang-orang yang menunggu di ruang tamu, waktu terasa berjalan begitu lambat.Xavier menahan napas."John, bagaimana hasilnya?"John tidak langsung menjawab. Ia memeriksa kembali nama dan nomor peserta yang tertera di layar untuk memastikan tidak ada kesalahan.Kemudian, wajahnya berubah cerah."Bos, Nyonya Liora diterima!"Ruangan itu mendadak riuh."Apa?" Xavier menatap John tidak percaya. "Kamu serius?""Benar, Bos! Nama Nyonya Liora tercantum di daftar peserta yang dinyatakan lulus seleksi!"Untuk sesaat, Xavier hanya berdiri mematung.Kemudian, ia berbalik dan menatap istrinya dengan wajah yang sulit digambarkan. Raut tegang yang sejak tadi menghiasi wajahnya menghilang, digantikan oleh senyum lebar yang bahkan tidak mampu ia sembunyikan."Sayang!"Xavier segera menghampiri Liora dan berlutut di hadapannya, menggenggam kedua tangannya."Kamu diterima!"Liora menatap suaminya dengan mata membelalak."Aku... benar-benar diterima?""Ya! Kamu diter
Hari ini menjadi hari yang paling dinantikan oleh keluarga Dominic.Pengumuman penerimaan mahasiswa baru akhirnya tiba. Sejak pagi, suasana di mansion Dominic terasa berbeda. Hampir seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tamu, menunggu hasil seleksi yang akan menentukan langkah Liora selanjutnya.David Dominic duduk di sofa bersama istrinya, Marta. Di samping mereka ada Bibi Nina, yang sejak tadi tidak berhenti berdoa dalam hati. Leon dan Deon juga datang untuk memberikan dukungan kepada adik perempuan mereka.Sementara itu, John duduk di depan komputer, sibuk memeriksa situs resmi universitas.Xavier mondar-mandir di belakangnya."Sudah keluar belum?" tanyanya untuk kesekian kali.John mendongak, lalu menggeleng. "Belum, Bos."Xavier mengembuskan napas panjang. Ia kembali berjalan beberapa langkah sebelum berbalik dan menatap monitor komputer dengan wajah tegang.Liora yang duduk di sofa hanya bisa menahan senyum melihat tingkah suaminya."Sayang, kenapa kamu yang lebih gugup da
“Cynthia...” Leli meraih tangan putrinya. “Mami minta maaf.”Cynthia segera menarik tangannya.“Jangan!”Leli tersentak.“Aku tidak mau mendengar kata maaf Mami!”Air mata mengalir deras di wajah Cynthia.“Selama ini, setiap kali aku membuat masalah, Mami selalu bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mami selalu bilang bahwa Mami akan melindungiku. Mami bahkan berani berbohong kepada Papi Martin demi membelaku!”Ia terisak, lalu memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan.“Sekarang siapa yang akan melindungiku? Siapa yang akan mengeluarkanku dari sini? Verdy? Pria yang bahkan tidak mau mengakui bahwa aku anaknya?”Leli menunduk.Ia tidak memiliki jawaban.Cynthia perlahan merosot ke lantai. Kedua lututnya tertekuk, sementara tangannya menutupi wajah. Untuk pertama kalinya, ia menangis tanpa bisa mengendalikan dirinya.Bukan tangisan penuh amarah seperti ketika keinginannya ditolak.Bukan pula tangisan untuk memancing belas kasihan orang lain.Kali ini, ia benar-benar merasa keh
Selama ini, Cynthia selalu membayangkan bahwa suatu hari nanti ia bisa bertemu Verdy sebagai seorang ayah. Ia ingin pria itu mengakuinya, menyayanginya, dan memperlakukannya seperti anak kandung yang selama ini tidak pernah benar-benar memiliki tempat di hati Martin.Ia bahkan sempat membayangkan bahwa jika suatu saat hubungannya dengan Martin benar-benar berakhir, masih ada Verdy yang bisa menjadi sandaran hidupnya.Namun, semua bayangan itu hancur dalam sekejap.“Jadi...” Suara Cynthia terdengar begitu kecil. “Selama ini, Papi tidak pernah benar-benar menginginkanku?”Leli tidak menjawab.“Mami, jawab aku!”“Cynthia, Mami tidak tahu lagi harus berkata apa!”Cynthia tertawa pendek. Namun, tawa itu terdengar begitu getir hingga nyaris menyerupai tangisan.“Hebat sekali. Ternyata aku punya ayah kandung yang bahkan tidak mau mengakuiku.”Ia mengusap wajahnya kasar. Air mata mulai mengalir di pipinya.“Lalu untuk apa Mami selama ini mempertahankan hubungan dengannya? Untuk apa Mami membe
Seketika itu juga, hawa di dalam mobil mendadak turun drastis menjadi sedingin es.Xavier melirik spion tengah dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. "Jika kau tertawa sekali lagi, bonus tahunanmu akan aku potong habis!"Satu kalimat ancaman itu meluncur dengan nada sangat datar, namun efeknya
Malam itu, rumah keluarga Martin berubah total.Lampu-lampu kristal menyala terang, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan. Karpet merah terbentang dari gerbang hingga pintu utama. Mobil-mobil mewah berdatangan tanpa henti, menurunkan tamu-tamu dengan pakaian elegan dan senyum penuh kepentingan
Udara sore itu terasa berat ketika Liora melangkah keluar dari kafe.Ia tidak langsung pulang.Sejak keluar dari bank, ia tampak waspada membawa tasnya. Tas ini berisi buku-buku, uang dan batu bata. Jelas terasa cukup berat.Langkahnya tenang menyusuri trotoar di depan kafe. Tangannya menggenggam e
“Kalau begitu… aku ikut mobil polisi saja,” kata Liora sambil tersenyum ringan. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”Pria bendahara itu sempat terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nona. Lebih aman memang begitu.”Beberapa petugas langsung membantu memindahkan koper-koper berisi uang itu ke da
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentairesPlus