MasukDua belas tahun dibuang. Dua tahun dipenjara… untuk kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Liora kembali—bukan sebagai anak yang dirindukan, melainkan sebagai pengganti. Pengganti kakak yang mereka cintai. Pengganti kesalahan yang bukan miliknya. Pengganti… dalam sebuah pernikahan yang bahkan tidak pernah ia pilih. Ketika kebebasan akhirnya datang, Liora tidak pulang dengan harapan. Ia pulang dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya—ketenangan yang dingin, dan keberanian untuk tidak lagi peduli. Namun takdir mempermainkannya. Pria yang akan menjadi tunangannya—Xavier Dominic—bukan sekadar pengusaha terkaya di kota. Ia adalah nama yang dibisikkan dengan ketakutan. Kejam. Dominan. Tak tersentuh. Dan tanpa ia sadari… Liora sudah pernah bertemu dengannya. Di sebuah sore yang sunyi— dengan darah di jalanan, dan suara tembakan yang masih menggema. Seharusnya itu hanya kebetulan. Namun tatapan pria itu… tidak pernah melupakan. Kini, dalam ikatan yang dipaksakan, dua orang yang sama-sama berbahaya dipertemukan. Satu kehilangan segalanya. Satu terbiasa mengendalikan segalanya. Dan di antara mereka— tidak ada yang benar-benar menjadi korban. Hanya ada permainan. Kekuasaan. Luka. Dan perasaan yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa dihentikan.
Lihat lebih banyak"Sayang, ayo kita pulang."
Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora. Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya. Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud. Namun, ia hanya terdiam. Tatapannya perlahan beralih ke wanita tua yang berdiri di depan pintu. Selama dua belas tahun, Bibi Nina-lah yang merawatnya. Dua belas tahun yang lalu, saat Liora masih berusia lima tahun, ia tidak sengaja melakukan kesalahan terhadap kakaknya. Seluruh anggota keluarga marah dan berniat mengirimnya ke panti asuhan. Namun, Bibi Nina menjadi satu-satunya orang yang membelanya. Wanita yang telah merawat Liora sejak bayi itu memohon agar ia tidak dibuang. Ia bersedia membawa Liora ke desanya dan mendidiknya sendiri. Dan benar saja, Bibi Nina berhasil. Liora tumbuh menjadi siswa berprestasi. Ia telah lulus ujian sekolah dengan nilai tertinggi di negara itu, dan kini hanya tinggal menunggu pengumuman masuk universitas melalui jalur prestasi. Wajah wanita tua itu kini tampak sangat sedih. Isak tangisnya terdengar jelas, tak tertahan. Liora menatap ibunya, Nyonya Lely. "Aku tidak mau pulang. Aku mau tetap di sini bersama Bibi Nina." "Sayang, Bibi Nina juga ikut. Nanti beliau akan dijemput oleh sopir keluarga. Jadi kamu tidak perlu cemas. Semua barangmu juga akan dibawa," ujar Lely lembut, seraya mengusap rambut hitam Liora. Liora tersenyum dan mengangguk. Ia mempercayai sepenuhnya kata-kata wanita yang telah melahirkannya. Saat berpamitan, Bibi Nina tampak tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk Liora erat, seolah tak ingin melepaskannya. Liora tersenyum sambil mengusap air mata di wajah keriput itu. "Akhirnya kita bisa hidup enak, Bi. Nanti setelah kuliah, aku akan cari kerja paruh waktu. Di kota banyak pekerjaan, tidak seperti di desa. Aku ingin membiayai hidup Bibi." Tangis Bibi Nina semakin pecah. "Bibi tidak mau..." "Bibi sudah tua, tidak boleh bekerja terlalu keras lagi. Aku pulang dulu, ya. Nanti sopir Mami akan menjemput Bibi." Itulah kenangan terakhir Liora bersama Bibi Nina. Setelah hari itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan wanita yang telah merawatnya dengan penuh kasih. Padahal, mereka pernah berjanji akan membuat hidup Bibi Nina bahagia—memberinya kehidupan yang layak, tempat tinggal yang nyaman, dan hari tua yang tenang. Dua tahun berlalu . Liora berada di dalam tahanan. Tempat yang seharusnya mampu menghancurkan seseorang. Namun Liora… masih tetap bertahan di sana. Duduk di sudut sel sempit, bersandar pada dinding dingin yang kasar, dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya. Tangannya bergerak pelan. Menulis. Buku-buku dan peralatan tulis ini dikirim oleh bibi Nina. Wanita itu tahu bahwa Liora sangat suka menulis dan membaca. Coretan demi coretan memenuhi halaman itu—rumus, skema, angka, dan simbol yang tampak rumit. Tidak semua orang akan mengerti apa yang ia tulis. Liora berhenti. Menatap hasilnya beberapa detik. Lalu menutup buku itu perlahan. Langkah kaki terdengar dari lorong. Berat. Teratur. Namun Liora tidak menoleh. Seolah suara itu tidak ada hubungan dengan dirinya. Sampai akhirnya, pintu besi di depannya terbuka dengan bunyi gesekan yang nyaring. “Kau bebas.” Suara sipir terdengar datar. Tanpa emosi. Liora diam memandang wanita bertubuh tegap tersebut. Namun tubuhnya tidak bergerak. “Keluargamu sudah menunggu di luar.” Keluarga? Keluarga yang mana? Liora bahkan sampai lupa, jika masih memiliki keluarga. “Aku masih punya lima tahun lagi untuk tetap di sini,” ucapnya datar. “Hukumanku tujuh tahun.” Sipir itu mendengus pelan. Ketika melihat Liora yang tidak menunjukkan reaksi apa pun. Bukankah kebebasan, menjadi impian semua narapidana? “Kau berperilaku baik selama di dalam tahanan. Keluarga korban juga mencabut tuntutan.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan— “Dan keluargamu… mengurus sisanya.” Tidak ada perubahan ekspresi di wajah Liora. Liora tersenyum samar. Jika mereka bisa membebaskannya dengan uang, mengapa tidak melakukannya sejak dua tahun lalu? Mengapa membiarkannya menderita di tempat ini? Jika bukan karena ancaman itu, ia tidak akan pernah berakhir di balik jeruji besi. Tak banyak barang yang ia bawa. Hanya beberapa buku-buku hasil karyanya selama berada di dalam tahanan. Ia lalu mengganti pakaiannya dengan baju baru yang dikirim Bibi Nina dari desa. Dalam suratnya, Bibi Nina menulis bahwa ia sengaja mengirimkan pakaian itu, meskipun tidak tahu kapan Liora bisa memakainya. Ia juga menyelipkan makanan sederhana yang dulu sering Liora santap di desa… serta sejumlah uang yang tak seberapa. Liora menahan napas saat mengenakan pakaian itu. Baju murah, namun pas di tubuhnya yang kini jauh lebih kurus. Dadanya berdenyut nyeri. Setelah selesai, ia melangkah keluar dari sel. Langkahnya tenang. Terlalu tenang… untuk seseorang yang baru saja mendapatkan kebebasan. Lorong panjang itu sunyi. Hanya gema langkah kakinya yang terdengar. Pintu utama terbuka. Cahaya dari luar menyilaukan. Liora menyipitkan mata. Dan di sana— seseorang telah menunggu. Seorang pria bersandar santai di dekat mobil hitam mengilap. Dion. Kakak kandungnya. Ia tak banyak berubah. Masih rapi, tenang… dan terasa begitu jauh. Tatapannya jatuh pada Liora. Dion menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Bagaimana hari-harimu, apa sudah puas bermain-main?" "Apa menurut mu, didalam itu arena bermain?" Liora berkata sambil memandang Dion. Dion tidak menyangka Liora akan menjawab seperti ini. "Jika di dalam, tempat bermain, lalu kenapa kalian tidak membiarkan Cintya untuk masuk kedalam? Bahkan kalian sangat takut jika adik kesayangan mu yang lemah itu bisa mati di dalam sini." Wajah Dion merah padam mendengar ucapan Liora. "Kau!!" Liora kemudian tersenyum. “Lebih tenang di sana,” jawabnya pelan. “Tidak ada orang munafik, tidak ada orang tua berhati iblis dan saudara menjijikkan seperti kau.” Wajah Dion benar-benar menegang dan memerah. Namun ia tidak membalas. Ia hanya berkata satu kalimat, namun adiknya itu menjawab dengan sangat panjang. “Masuk,” katanya singkat, membuka pintu mobil. Liora tidak langsung bergerak. Tatapannya masih tertuju pada pria itu. “Kenapa sekarang?” tanyanya. Sederhana. Tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka terasa lebih berat. Dion menghela napas pendek. “Papi dan Mami menunggumu.” Liora tertawa pelan. Suara itu rendah. Nyaris tidak terdengar. “Lucu.” Ia melangkah mendekat. “Dua tahun,” ucapnya. “Tidak ada kabar. Tidak ada kunjungan.” Ia berhenti tepat di depan Dion. Menatapnya lurus. “Aku pikir, keluarga ku sudah mati semua. Namun sekarang… tiba-tiba kalian muncul kembali dan menungguku?” Dion tidak langsung menjawab. Pria itu terlihat sedang berusaha untuk bersabar. Melihat diamnya… sudah cukup. Liora mengangguk pelan. Seolah mengerti. “Atau…” lanjutnya, suaranya tetap tenang, “kalian butuh sesuatu dariku lagi?”"Dua titik pos utama sudah steril, Bos. Jalur menuju aula utama bersih," jawab sang pengawal seraya menundukkan kepala hormat.Xavier hanya menyunggingkan senyum miring yang teramat tipis—sebuah senyuman dingin yang memancarkan ancaman mutlak. "Bagus. Mari kita sambut tuan rumah malam ini."CLLACK.Xavier melangkah masuk ke dalam koridor kastil yang temaram, didampingi oleh John dan belasan pasukan elit Dominic Group yang bergerak dalam formasi taktis V-Shape.Namun, pergerakan mereka mendadak terhenti saat pintu samping terbuka kasar. Empat orang penjaga berbadan tegap keluar sambil membawa senapan otomatis!"Siapa kalian—"SZZZT! BUGH!Belum sempat penjaga depan menyelesaikan kalimatnya, Xavier bergerak melompati jarak dalam sekejap! Tangan tegapnya menyambar rahang pria itu, memutarnya keras ke samping hingga terdengar bunyi KRAK! yang mengerikan, !Penjaga kedua mencoba menembak, namun John meluncur di lantai beton dan menyabetkan pisau komandonya tepat ke arah pergelangan tangan
Setelah puas menatap wajah calon istrinya, Xavier memutuskan panggilan video.Seketika, senyum hangat nan lembut yang tadi menghiasi wajah tampan Xavier menguap tanpa sisa. Raut wajahnya kembali membeku, menyisakan binar mata bagaikan iblis pencabut nyawa yang siap memangsa.Xavier meletakkan ponselnya di atas meja kaca, lalu berdiri dengan elegan merapikan lengan kemeja hitamnya yang tergulung hingga siku. Pria itu berjalan menuju jendela kaca penthouse mewah tempatnya menginap di pusat kota Paris. Di luar, Menara Eiffel berpendar megah ditelan keheningan malam.Namun, Xavier berada di Paris bukan sekadar untuk menandatangani kontrak bisnis bernilai puluhan triliun rupiah. Ada alasan lain yang jauh lebih berdarah.TOK! TOK!Pintu ruangan terketuk pelan. John melangkah masuk seraya membungkuk hormat."Tuan Xavier... Orang yang Anda cari sudah berhasil kami temukan tempat persembunyiannya," lapor John dengan suara rendah. "Hanya saja, tempat persembunyiannya dijaga dengan sangat ketat
Ting!Layar ponsel Liora yang tergeletak di atas pangkuannya mendadak menyala. Nama sang tunangan tertera di sana, dan tanpa mengulur waktu, Liora langsung menggeser tombol hijau."Halo Sayang, kamu lagi apa?"Suara berat nan maskulin yang sangat familier itu seketika memenuhi indra pendengaran Liora. Wajah tampan Xavier Dominic langsung mendominasi layar ponselnya. Sorot mata tajam pria itu tampak sedikit redup, menandakan betapa lelahnya pria itu. Padahal baru satu hari mereka tidak bertatap muka secara langsung, namun rasa rindu yang melilit dada Liora terasa begitu menggebu dan luar biasa.Liora menyunggingkan senyum manisnya, memandangi raut wajah calon suaminya. "Lagi di kamar.""Ngapain?" tanya Xavier dengan sebelah alis terangkat."Ya teleponan dengan calon suami lah," sahut Liora ringan.Xavier terkekeh pelan, tawa renyah yang teramat langka itu meluncur begitu saja dari bibirnya. "Iya juga ya... kenapa aku malah bertanya konyol begitu?"Pria itu menggelengkan kepala
Jeritan dan raungan histeris Cynthia menggelegar menembus seluruh sudut mansion, membuat langkah-langkah kaki tergesa berhamburan menuju taman belakang.Dion yang baru saja menginjakkan kaki di rumah setelah pulang dari kantor berlari paling depan, disusul Leon, Martin, Lely, hingga beberapa pelayan yang ikut cemas.Melihat kedatangan rombongan itu, akting Cynthia seketika berada di puncak kegilaannya. Ia berguling di atas rumput sembari memegangi perut dan wajahnya yang dipenuhi bekas cakar berdarah. Air matanya bercucuran deras, meraung-raung seolah sedang meregang nyawa."Papi! Mami! Kak Dion! Tolong aku!" raung Cynthia dengan suara melengking memilu. "Liora... Liora mau membunuhku! Dia menampar wajahku berulang kali, mencakar mukaku, dan... dan dia menendang perutku sampai rasanya mau pecah! Perutku sakit sekali, Pi! Tolong..."Lely yang melihat putrinya tergeletak bersimbah darah dan acak-acakan langsung berlutut, memeluk Cynthia dengan napas memburu. "Cynthia! Ya Tuhan, anakku!
Suasana gazebo seketika hening. Angin sore seolah berhenti berembus.Martin membeku di tempatnya, matanya berkedip tidak percaya. "...Apa?""Liora," ulang Xavier, suaranya terdengar bariton dan tegas. "Apakah dia suka minum kopi hitam?"Martin terdiam. Beberapa detik, tidak ada satu patah kata pun
Lely masih berdiri dengan napas memburu, menyaksikan satu per satu perabot mewah berlapis emas dan beludru dimasukkan ke dalam kamar tamu utama. Tangannya mengepal begitu erat hingga kuku-kuku panjangnya yang dihiasi manik-manik mahal memutih. Saking marahnya, tubuh wanita paruh baya itu sampai be
Lely tercengang di ambang pintu ketika sebuah truk boks besar berlogo furniture mewah impor perlahan merayap masuk dan berhenti tepat di depan pekarangan rumah. Beberapa pria berbadan tegap turun dan mulai membuka pintu belakang truk, bersiap menurunkan muatan.Dengan langkah angkuh dan dagu tera
"Tapi, aku sudah punya rencana matang untuk uang-uang itu," cetus Liora tiba-tiba, memecah lamunannya."Apa rencana pertamamu?""Aku mau beli rumah."Xavier melirik sekilas dan kemudian fokus pada jalanan. "Rumah? Liora, kurasa itu tindakan yang tidak perlu.""Kenapa tidak perlu?" Liora merengut."












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak