LOGINSejak terjadinya wabah virus Dextron, para petinggi negara meluncurkan Program Kehamilan Massal dengan memaksa para wanita penyintas untuk dihamili beberapa lelaki sekaligus dan tinggal dalam Sanctuary Dome, satu-satunya wilayah steril. Rose, seorang penyintas di Wilayah Luar, harus hidup sembunyi-sembunyi karena siapapun yang menemukan wanita dan membawanya ke Sanctuary akan diberikan uang ratusan juta. Namun, dia justru bertemu empat pemuda Wilayah Luar yang awalnya saling berebut untuk menjualnya. Perjalanan panjang mereka menumbuhkan perasaan lain dalam diri keempat pemuda Tanpa sadar, mereka melupakan niat awal mereka dan mulai terikat dengan Rose. Mendapat perlindungan dari empat pria merupakan suatu keberuntungan bagi Rose. Namun, apakah nyawa Rose benar-benar dijamin akan selamat di tengah kejaran kelompok-kelompok bengis? Atau dia akan tetap berakhir sebagai mesin pencetak keturunan di Sanctuary Dome?
View More“Lepaskan! Lepaskan aku, dasar lelaki menjijikkan!”
Rose meronta-ronta di balik jaring-jaring yang menutupi seluruh tubuhnya. Entah terbuat dari apa, jaring itu menempel pada kulitnya sehingga dia tidak bisa bergerak bebas. Raungan Rose terdengar makin keras, membuat seorang lelaki yang mendekatinya itu mendecak kesal. “Diam!” bentak Cade. Dia melepaskan jaring-jaring itu dari tubuh Rose, kemudian mengikatnya dengan tali tambang yang kasar. Ikatan talinya sangat kencang dan rapat, menjerat tangan Rose ke tubuhnya dengan sempurna. Meski begitu, Rose masih menggeliat untuk melepaskan diri. Melihat Rose yang tetap berusaha lepas walau mustahil, Cade merasa muak. Dia berjongkok di hadapan Rose, lantas mencengkram wajah Rose dengan tangannya yang besar. Tatapannya pada Rose sangat tajam, selagi bibirnya mendesiskan sebuah kalimat ancaman. “Jangan berpikir untuk kabur dariku, Kucing Kecil. Karena mulai dari sekarang, kamu adalah barang daganganku.” Beberapa menit yang lalu… “Astaga, matahari siang ini terik sekali.” Rose menyipitkan mata saat menengadahkan kepala ke arah langit. Cuaca hari ini sangat panas. Angin yang berembus kencang pun tidak sejuk, justru membawa serpihan pasir dan debu. Dari balik reruntuhan bangunan, Rose keluar setelah celingukan memastikan tiada siapa pun di sekitarnya. ‘Srak!’ Kaki Rose yang melangkah di tanah kering menginjak sesuatu. Dia menunduk, melihat di bawah kakinya ada sebuah kertas brosur yang dipenuhi noda tanah. Tidak ada gambar, hanya ada tulisan besar beserta deretan angka. [Sanctuary Dome Akan Membeli Wanita yang Kalian Bawa! Setiap Wanita Akan Dihargai 500 juta Goldyn!] Rose mendecak, “Mereka masih mengumumkan sayembara itu sampai sekarang? Memangnya, masih ada perempuan yang tersisa?” Sudah tiga tahun berlalu sejak wabah virus Dextron menyebar dengan cepat ke seluruh negeri. Peradaban lumpuh, petinggi dunia menyelamatkan diri mereka sendiri ke pulau di tengah laut yang mereka sebut Pandora. Populasi manusia nyaris punah, terutama wanita. Virus Dextron lebih rentan merenggut nyawa wanita, menyebabkan populasi wanita tersisa 20 persen. Itu yang Rose dengar tiga tahun lalu. Dan sejak saat itu, petinggi dunia di Pandora melancarkan pembangunan Sanctuary Dome dengan dalih memulihkan peradaban manusia. Apakah mereka ikut serta dalam pembangunan itu? Tidak. Rose pikir petinggi dunia ada di Sanctuary Dome, tapi nyatanya tidak. Dari awal virus datang, mereka hanya duduk manis di Pandora. Tanpa perlu khawatir terinfeksi. Mereka tidak hidup langsung di tanah yang tak layak huni ini, tapi berkuasa penuh atas seluruh manusia di sini. Mereka tidak pernah memperhatikan kondisi para warga di Wilayah Luar, tak peduli korban terinfeksi bertambah, tapi memaksa semuanya mengikuti kebijakan mereka. Salah satunya adalah ‘Program Kehamilan Massal’. Program untuk mengembalikan jumlah populasi manusia secepatnya, dengan memanfaatkan rahim para wanita yang tersisa. Program yang memaksa wanita hamil dengan minimal tiga pria. Rose menginjak-injak brosur itu dengan penuh kebencian, selagi mulutnya memaki tanpa henti, “Sialan! Mereka masih memperlakukan wanita layaknya mesin pencetak anak, hah? Dasar sampah!” Brosur itu lalu ditendangnya kuat-kuat hingga terbang bersama angin. Dia berjalan keluar reruntuhan dengan membawa sebuah botol minum kosong. “Laki-laki itu memang menjijikan!” sungut Rose, “gara-gara program konyol buatan mereka itu, aku jadi tidak bisa keluar dengan bebas! Cari makan saja harus menyamar!” Rose mendekati sumber air yang telah dipasangi keran dua tahun lalu. Orang-orang sekitarlah yang menggali sumber air, laku memasangnya dengan keran yang disertai alat penyaring dan penetralisir air sehingga bisa langsung diminum. Mereka mendapatkan alat itu dari bawah reruntuhan. Selama dua tahun, mengalirnya air bersih siap minum dari keran itu menjadi penyelamat banyak orang. Namun, tidak banyak orang yang bertahan hidup. Para wanita termasuk ibu Rose dibawa oleh Hunters, pasukan utusan Sanctuary Dome yang bertugas mencari penduduk wanita yang tersisa. Sementara para pria banyak yang mati kelaparan. Hingga kini hanya tersisa Rose seorang. Rose sebenarnya cukup beruntung karena orang-orang yang mengenalnya sudah tiada. Jika iya, dia sudah dibawa oleh mereka ke Sanctuary Dome untuk dijual. Tapi yang merepotkan, dia jadi harus berjalan kaki beberapa kilo menuju pasar untuk mendapatkan bahan makanan tiap minggu. Belum lagi harus menyamar menjadi laki-laki agar tidak terendus oleh para pencari wanita. Dirinya sepenuhnya aman hanya ketika berada di tempat tinggalnya. Itulah mengapa, Rose lebih memilih mendekam di bawah reruntuhan itu selama satu tahun terakhir. Berpindah tempat sama saja dengan menyerahkan diri untuk ditangkap. Rose meminum sebotol air bersih dalam lima tegukan cepat, seperti orang dehidrasi. Dia mengusap mulutnya yang basah, lantas mengisi botolnya kembali untuk persediaan air minum di rumah. Air yang keluar dari keran siang ini cukup deras, hingga percikannya mengenai celana longgar Rose yang berdebu. Dia tidak pernah lagi berpakaian layaknya wanita demi keselamatan nyawanya. Akan lebih mudah baginya untuk menyamar jika pakaian sehari-hari sudah seperti lelaki. Asalkan dia menyembunyikan wajah dan rambutnya, tidak akan ada yang tahu kalau dia wanita. “Saatnya kembali ....” Suara Rose seketika tercekat. Kakinya yang hendak melangkah mendadak kaku, saat matanya menangkap sesosok manusia yang tidak dia sadari telah berada di sekitarnya. Hanya berjarak beberapa langkah saja, seorang pria bertubuh tegap nan kekar tengah berjalan ke arahnya. ‘Gawat!’ batin Rose yang mulai berkeringat dingin, ‘aku harus kabur sebelum dia melihat—’ Terlambat. Belum sempat kaki Rose bergerak, pria itu sudah lebih dulu beradu pandang dengannya. Yang artinya, dia melihat penampilan Rose apa adanya. Penampilan Rose sebagai seorang wanita. Tanpa penyamaran. Rose berharap pria itu bukan pengincar wanita. Namun, jika melihat betapa nestapanya kehidupan manusia di Wilayah Luar, tidak mungkin ada seorang pun yang akan melewatkan kesempatan mendapat 500 juta Goldyn. Termasuk pria yang mempercepat langkahnya menuju Rose. ‘Sial! Kenapa aku tidak menyadari keberadaannya?!’ tukas Rose dalam hari sembari berlari menghindar. Tak pernah Rose tepergok seperti ini. Dia selalu waspada dan mencermati keadaan sekitar sebelum keluar tempat tinggal tanpa penyamaran. Selain itu, dia juga peka terhadap hawa keberadaan seseorang. Itulah alasan Rose bisa terus bersembunyi. Namun, entah mengapa, kali ini Rose sama sekali tidak merasakan hawa keberadaan pria itu. Tiba-tiba, dia melihat pria itu sudah beberapa langkah saja darinya. “Hei! Kamu wanita, kan?!” Pria itu berseru. Rose yang lari masuk ke bawah reruntuhan tidak menjawab. Dia sibuk mencari tempat persembunyian. Sampai akhirnya memutuskan diam meringkuk di dalam lemari yang terletak di pojok reruntuhan. Dengan mengandalkan pendengarannya, Rose memperhatikan langkah si pria. Dari mengelilingi reruntuhan, mendekati persembunyian Rose, sampai perlahan menjauh. Lalu menghilang. ‘Apa dia sudah pergi?’ batin Rose.Jika Rose dibawa oleh para Hunters setelah ini, dia mungkin bisa bertemu dengan ibunya kembali. Rencananya tak sepenuhnya gagal. Dia bisa melihat dan melepas rindu dengan sang ibu, tapi tak akan memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya.Padahal niatnya melakukan perjalanan bersama Cade adalah untuk menyelamatkan ibunya. Bukan hanya sekadar melihatnya. Rose ingin membebaskan ibunya dari program yang mengekang hak wanita itu, membiarkannya menghirup udara bebas di Wilayah Luar. Kemudian dia akan merancang rencana yang lebih besar soal mengubah sistem di Sanctuary Dome.Akan tetapi, semua rencana yang sudah terlukis di pikirannya selama beberapa hari terakhir harus berakhir sekarang. Semua rencana itu pada akhirnya hanya bisa terjadi di angan-angannya. Rose mungkin akan dianggap beruntung karena tidak berakhir di tangan Riders, tapi tetap saja rencananya gagal.Dia tidak masuk ke Sanctuary Dome sebagai penyusup, melainkan kandidat Program Kehamilan Massal. Mau tak mau, dia harus men
Rose memelotot pada Shin setelah mendengar asumsinya. Apa yang dia bilang barusan? Riders memancing Hunters?“Maksudmu ... mereka bekerja sama untuk menangkapku?” tanya Rose, suaranya bergetar.Shin mengangkat bahu. “Kemungkinan, iya. Entah apa yang mereka sepakati, mungkin Thomas akan melepasmu untuk mereka, lalu lebih memilih menangkap aku dan Cade. Intinya, kedatangan dua kubu yang nyaris bersamaan bukanlah suatu kebetulan.”“Kamu dengar apa yang Hunters tadi katakan saat melihat identitasmu? Dia berkata seolah-olah sudah tahu bahwa ada wanita di dalam mobil ini, dan jubahmu yang terbuka itu menjadi bukti. Artinya, mereka memang sudah mengincar dan mencari kita. Mungkin karena Thomas yang memberikan informasi itu pada mereka,” imbuh Shin.Mulut Rose terbuka membentuk lingkaran, terperangah akan fakta yang harus dia hadapi. Riders dan Hunters bekerja sama ... demi menangkapnya? Padahal, mereka musuh lama yang mustahil untuk berjalan berdampingan.Bahkan saat Alan waktu itu memb
Berkat Shin, Rose bisa merasa lebih tenang. Dia sampai tidak menyadari tatapan maut Cade yang melotot ketika menyadari Shin menggenggam tangan Rose. Namun, mau secemburu apa pun Cade, dia tak punya hak untuk marah dan melarang. Justru dia akan dijadikan bahan ejekan jika semuanya tahu dia cemburu hanya karena Rose bersentuhan dengan lelaki lain.Selagi Rose dan dua kawannya bersitegang dengan Riders dan Hunters, Alan mengerutkan kening mendengar obrolan Cade dan Shin. Dia yang sedari tadi mengarahkan Leon akhirnya bertanya seperti orang bodoh.“Siapa itu Thomas?” tanyanya pada Leon.Tentu saja Leon sedang sibuk mengendalikan setir, tapi dia tidak tega melihat muka Alan yang sangat bingung. “Dia salah satu petinggi Riders. Orang yang mengincar Cade dari lama, dan sekarang mungkin mengincar Shin juga karena sudah menembaknya waktu membantu kami kabur.”Alis Alan naik sebelah. “Kabur? Maksudnya, kalian pernah ditangkap oleh mereka? Oleh Riders?”Setelah menghela napas panjang, Leon
Dengan adanya Rose di belakang bersama Shin, serangan mereka bisa lebih efektif. Meskipun tembakan Rose tidak selalu tepat—kebanyakan melenceng—beberapa pelurunya ada yang mengenai kaca mobil Hunters di belakangnya. Kaca mobil Hunters sudah dipenuhi lubang, tapi mereka masih tetap melaju sembari melancarkan serangan balasan.Di sisi lain, Cade juga fokus menembak mobil Riders yang semakin mendekat. Leon sibuk mengendalikan laju mobil, mengikuti perintah Alan yang memperhatikan arah tembakan Riders.Kelompok ganas macam itu tidak boleh diremehkan. Mereka tidak seperti Hunters yang hanya menggunakan senapan biasa. Mereka punya bazoka, bom, bahkan mungkin rudal. Sekali terkena senjata besar itu, riwayat mereka bisa tamat.Cade menyipitkan mata, berusaha melihat lebih jelas siapa yang ada di dalam mobil Jeep itu. Jika dia mengenal anggotanya, dia bisa menebak siapa ketua mereka. Dengan mengetahui ketua mereka Thomas, River, atau Roland, Cade setidaknya bisa menebak tindakan mereka sela
“Aku menyuruhmu membuangnya, tapi kenapa kamu malah memungutnya?!” Rode berteriak marah ketika melihat Cad kembali dengan menyeret Leon dan membantunya naik ke mobil. Cade tidak menjawab, lanjut menaiki mobil dan melajukannya kembali. “Hei! Jangan abaikan aku!” bentak Rose tepat di samping tel
Sedikit miris bagi Rose mendapati dirinya justru membayangkan Cade di saat-saat seperti ini. Dia pun mengumpat dalam hati, menyalahkan perasaannya yang sejenak menjadi lembek karena dihadapkan oleh situasi yang mengerikan.‘Sialan, kenapa aku malah memikirkan dia! Dia juga sama saja mau menjualku.
“Rupanya dia wanita, ya. Hebat kamu, Leon! Dengan begini, kita bisa dapat 500 juga Goldyn!” Ketua Perampok berjenggot tebal yang bernama Milan, merangkul dan mengusap-usap rambut pirang LeonBeberapa jam lalu. Rose tidak bisa berkutik ketika Leon mengangkutnya ke mobil jeep pada perampok. Kakinya
Saat melihat mobil-mobil jeep itu ditunggangi oleh para perampok, Rose meyakini satu hal. Bahwa nasib dirinya akan selalu sial sejak dia pergi dari tempat tinggalnya. Baru saja berhasil kabur dari Cade, dia harus bertemu dengan kelompok perampok. Bagaikan keluar lubang buaya masuk kandang harimau.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews