Compartir

Bab 107

Autor: Ipak Munthe
last update Fecha de publicación: 2026-05-31 05:27:14

Arsen pun tersenyum saat masakannya akhirnya berhasil, ia meletakkan pada meja.

Vivian langsung saja meliriknya, entah bagaimana aromanya terasa sangat menggoda dilidahnya. Ia mulai berpikir sebenarnya Arsen pintar memasak.

Lalu Arsen pun duduk disampingnya dengan persaan bangga, "Sayang, ini masakan pertamaku," kata Arsen.

"Wah, berarti aku jadi alat uji coba mencicipi masakanmu," kata Vivian.

"Karena nggak ada manusia yang berani minta aku masak," jawab Arsen, "kecuali kau..." kata Ar
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Gwen Azahra
lnjt Kaka thor..
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   TAMAT

    Beberapa hari kemudian, Vivian akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Begitu tiba di rumah, suasana langsung berubah total. Rumah yang sebelumnya sudah ramai oleh tingkah Cila kini menjadi jauh lebih hidup. "Oeee... oeee..." Tangisan salah satu bayi terdengar dari lantai atas. Belum sempat suara itu reda, bayi satunya ikut menangis. "Oeee... oeee..." "Astaga," gumam Arsen sambil mengusap wajahnya. Baru saja ia berhasil menenangkan anak pertama, kini anak kedua ikut menangis. Dari ruang keluarga terdengar tawa Melati yang sedang menggendong salah satu cucunya. Sedangkan Ferdy sibuk mondar-mandir membawa botol susu seperti seorang ajudan pribadi. Rumah itu benar-benar dipenuhi suara bayi. Namun di tengah semua keramaian itu, ada satu orang yang mulai menunjukkan perubahan. Cila. Gadis kecil itu kini terlihat lebih lengket daripada biasanya kepada Vivian. Setiap kali Vivian menggendong salah satu bayi, Cila akan segera datang dan memeluk kaki atau le

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 172

    "Ibu," seru Cila yang digendong babysitter nya. Vivian pun menoleh lalu tersenyum, bocah berusia tiga tahun itu terlihat semakin lucu dan menggemaskan. Vivian langsung mengangkat tangannya, "Anak Ibu," Katanya. Lalu Babysitter langsung memberikan pada Vivian. Vivian langsung memeluknya erat, "Aku nggak mau tambah anak lagi, Mas. Aku sudah cukup punya tiga anak, aku nggak mau Cila kurang kasih sayang karena kita terlalu punya banyak anak," Ucap Vivian. Arsen yang sedang berdiri di samping ranjang langsung menoleh ke arah Vivian. Di pelukan Vivian, Cila tampak manja. Kedua tangan kecilnya melingkar di leher sang ibu, seolah takut kehilangan perhatian setelah kehadiran dua adik barunya. Vivian mengecup pipi putrinya berkali-kali. "Aku nggak mau tambah anak lagi, Mas. Aku sudah cukup punya tiga anak. Aku nggak mau Cila kurang kasih sayang karena kita terlalu punya banyak anak," ucap Vivian dengan tulus. Ya, ada rasa takut yang terlintas di hatinya. Ia takut tidak bisa mencint

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 171

    Beberapa bulan kemudian. "Oeee... oeee..." Suara tangisan bayi memenuhi ruang bersalin rumah sakit, memecah ketegangan yang sejak tadi menyelimuti suasana. Vivian akhirnya melahirkan bayi kembar. Keduanya laki-laki, sehat, dan sangat menggemaskan. Tangisan mereka terdengar nyaring seolah mengumumkan kedatangan mereka ke dunia. Rasa bahagia yang dirasakan Arsen sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Dadanya terasa penuh oleh haru, syukur, dan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Selama hidupnya, ia sudah melewati banyak hal—kehilangan, penyesalan, dan berbagai ujian yang nyaris merenggut kebahagiaannya. Namun di detik ini, saat mendengar tangisan kedua putranya, semua rasa lelah itu seolah terbayar lunas. Arsen berdiri di samping ranjang Vivian dengan mata yang memerah. Tangannya menggenggam erat tangan sang istri. "Vivian..." suaranya bergetar. Vivian yang masih lemah menoleh sambil tersenyum kecil. "Kita punya dua anak laki-laki, Mas," bisiknya. A

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 170

    Ponsel Nindy yang berada di tangan Sandy berdering. Sandy melirik layar ponsel itu dan tersenyum tipis saat melihat nama yang tertera. Nino. Tanpa ragu, ia langsung menerima panggilan tersebut. "Nindy! Sekarang aku bangkrut! Apa kamu sengaja menghancurkan aku? Apa kamu meminta Arsen untuk menghancurkan aku?!" bentak Nino begitu panggilan tersambung. "Aku yang menghancurkanmu." Sandy menyandarkan tubuhnya dengan santai. Di seberang sana, Nino terdiam sesaat. "Kau?!" geramnya ketika mengenali suara Sandy. "Sandy! Beraninya kau lancang!" Sandy terkekeh pelan. "Lancang?" ulangnya. "Aku cuma memastikan seseorang menerima akibat dari perbuatannya." "Jangan gila! Mana mungkin kau bisa menikahi majikanmu? Kau pasti mengincar hartanya!" Senyum di wajah Sandy perlahan menghilang. "Aku tidak seperti dirimu, Nino." Suara Sandy terdengar tenang, namun justru itulah yang membuatnya terasa lebih mengintimidasi. "Kau mendekati Nindy karena apa yang dimilikinya. Sedangkan

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 169

    Dreettt. Ponsel Vivian bergetar, membuatnya langsung menunduk dan melihat layar. Ia segera mengangkat panggilan itu. "Halo," jawab Vivian. "Vivian, aku Karla... aku ingin bicara. Temui aku di Restoran Bintang sekarang ya. Aku tunggu di sana, terima kasih," suara Karla terdengar dari seberang. "Eh—Karla?" Vivian sedikit terkejut. Namun panggilan itu sudah terputus. Vivian pun terpaku menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Alisnya mengernyit, bingung. Kenapa Karla tiba-tiba mengajaknya bertemu? Ia menggigit bibir, ragu. Biasanya Karla selalu berbicara tajam padanya, tapi ini berbeda. Nada suaranya tadi juga terasa berbeda—lebih tenang, tapi justru membuat Vivian merasa tidak nyaman. Vivian menoleh ke arah koridor tempat Nindy dan Sandy pergi tadi. "Harusnya aku gimana, ya..." gumamnya pelan. Ia kembali menatap ponselnya, masih ragu antara pergi atau mengabaikannya. Tapi ada sesuatu di hatinya yang berkata bahwa ini bukan pertemuan biasa. *** Vivian tib

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 168

    Nindy pun segera menuju kantor Arsen. Ia bahkan langsung melangkah masuk tanpa menunggu izin. Begitu pintu terbuka, ia melihat Arsen tengah duduk di kursi kebesarannya. Pria itu langsung menghentikan pekerjaannya saat menyadari kehadiran Nindy, lalu mengalihkan seluruh perhatiannya pada sang adik. "Ada apa?" tanya Arsen. "Sebenarnya Sandy itu seperti apa?" tanya Nindy langsung. Arsen mengernyitkan kening, sedikit bingung dengan pertanyaan tiba-tiba itu. "Seperti apa?" ulang Arsen. "Arsen, dia itu orang seperti apa? Kenapa dia berubah?" tanya Nindy akhirnya. Arsen tersenyum miring mendengar pertanyaan kakaknya itu. "Kamu yang mau menikah dengannya, kenapa malah bertanya padaku?" tanya Arsen balik. "Tapi..." Nindy terdiam. Ucapan Arsen memang benar. Seharusnya dia yang lebih mengenal Sandy, bukan malah mencari jawaban dari orang lain. "Dia berubah, atau sebenarnya kamu yang tidak pernah benar-benar mengenalnya?" kata Arsen setengah mengejek. Nindy langsung terdia

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 5

    Karla keluar dari kamar mandi dengan tubuh masih terbalut handuk putih tebal. Rambutnya yang basah menjuntai di bahunya, beberapa tetes air masih menetes di kulitnya. Arsen yang sejak tadi berdiri di dekat jendela menoleh. Tatapannya tertuju pada istrinya. Sudah hampir tiga bulan berlalu seja

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 4

    Pintu depan terbuka. Seorang wanita melangkah masuk dengan langkah percaya diri. Namun langkahnya langsung terhenti begitu matanya menangkap sosok seorang wanita asing yang berdiri di ruang tamu. Alisnya langsung berkerut. Pandangan tajam itu bergerak dari kepala hingga kaki Vivian, seolah

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 3

    Arsen masih menatap putrinya yang tertidur di pelukan Vivian. Wajah kecil itu terlihat begitu damai, seolah tidak pernah menangis berjam-jam sebelumnya. Rasa lega jelas terlihat di mata pria itu. Namun ketenangan di ruangan itu kembali pecah ketika Rayan berbicara lagi. “Kalau begitu, ada

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 2

    Perjalanan itu terasa terlalu panjang. Vivian duduk di kursi penumpang mobil dengan tubuh kaku. Tangannya saling menggenggam di pangkuannya, sementara pandangannya kosong menatap jalan di depan. Sejak mereka meninggalkan rumah, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Di sampingny

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status