Se connecterSetelah lima bulan menjaga kehidupan kecil yang begitu ia cintai, dunia Vivian hancur ketika bayinya meninggal. Luka itu bahkan belum sempat sembuh, sementara tubuhnya masih terus menghasilkan air susu untuk anak yang sudah tidak ada lagi. Namun kesedihan Vivian tidak berarti apa-apa bagi suaminya. Perusahaan sang suami berada di ambang kebangkrutan. Demi mendapatkan suntikan dana dari sahabatnya yang kaya, ia membuat keputusan yang menghancurkan harga diri Vivian: menawarkan istrinya menjadi ibu susu bagi bayi sahabatnya yang alergi susu formula. Bagi suaminya, itu hanyalah sebuah kesepakatan bisnis. Namun bagi Vivian, setiap tetes air susu yang ia berikan kepada bayi itu seperti membuka kembali luka karena kehilangan anaknya sendiri. Di tengah penderitaan dan penghinaan itu, Vivian perlahan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia duga—sebuah ikatan yang mengubah takdirnya, sekaligus membuka rahasia besar yang selama ini tersembunyi di balik pernikahannya.
Voir plusKepala Arsen terasa seperti ingin meledak. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah tegang. Rambutnya masih sedikit basah karena air yang tadi ia guyurkan ke wajahnya berkali-kali. Hampir tiga puluh menit ia mengurung diri di sana. Mencoba menenangkan pikirannya. Mencoba mengusir rasa frustasi yang sejak tadi menyesakkan dadanya. Namun tetap saja tidak berhasil. Bukannya mereda, perasaan itu justru semakin membuatnya gelisah. Arsen mengusap wajahnya kasar. Dadanya naik turun menahan emosi yang sulit ia kendalikan. Untuk menenangkan kepalanya yang terasa hampir pecah, Arsen memutuskan pergi melihat putrinya. Ia berjalan menuju kamar Cila. Biasanya setiap malam ia datang ke sana untuk menenangkan diri. Mendengar napas kecil putrinya, atau bahkan tangisannya yang sering membuat rumah ini terasa hidup. Namun malam ini berbeda. Aneh. Tidak ada tangisan. Rumah justru terasa lebih tenang dari biasanya. Arsen mengerutkan kening, rasa penasaran muncul d
Karla keluar dari kamar mandi dengan tubuh masih terbalut handuk putih tebal. Rambutnya yang basah menjuntai di bahunya, beberapa tetes air masih menetes di kulitnya. Arsen yang sejak tadi berdiri di dekat jendela menoleh. Tatapannya tertuju pada istrinya. Sudah hampir tiga bulan berlalu sejak kelahiran Cila. Dan selama itu pula Arsen tidak pernah benar-benar mendapatkan kembali kedekatan sebagai seorang suami. Ia sudah beberapa kali mencoba mendekati Karla. Bahkan dengan sabar meminta Karla untuk meluangkan waktu baginya. Namun setiap kali pula Karla selalu menolak. Selalu ada alasan. Lelah. Tak ingin tubuhnya berubah. Atau sekadar mengatakan ia sedang tidak ingin diganggu. Arsen menarik napas pelan, mencoba menahan rasa kesal yang mulai muncul di dalam dadanya. Sementara Karla tampak sama sekali tidak memikirkan hal itu. Ia berjalan santai menuju meja rias, lalu mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk. Seolah tidak menyadari tatapan Arsen yang masih t
Pintu depan terbuka. Seorang wanita melangkah masuk dengan langkah percaya diri. Namun langkahnya langsung terhenti begitu matanya menangkap sosok seorang wanita asing yang berdiri di ruang tamu. Alisnya langsung berkerut. Pandangan tajam itu bergerak dari kepala hingga kaki Vivian, seolah sedang menilai siapa sebenarnya wanita yang berada di rumahnya. Tidak jauh dari sana, Arsen masih berdiri dengan tenang. Wanita itu menoleh padanya dengan ekspresi penuh tanya. “Arsen…,” katanya pelan, namun nada suaranya jelas menunjukkan ketidaknyamanan. Matanya kembali melirik ke arah Vivian. “Dia siapa?” “Namanya Vivian,” kata Arsen akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi terasa menekan. “Dia istri Rayan, sahabatku. Dia di sini… untuk menjadi ibu susu bagi putri kita.” Karla terdiam sesaat. Namun hanya sekejap. Detik berikutnya, senyum langsung terbit di wajahnya. Matanya bahkan terlihat berbinar, seolah baru saja mendengar kabar yang sangat ia tunggu. Sementara
Arsen masih menatap putrinya yang tertidur di pelukan Vivian. Wajah kecil itu terlihat begitu damai, seolah tidak pernah menangis berjam-jam sebelumnya. Rasa lega jelas terlihat di mata pria itu. Namun ketenangan di ruangan itu kembali pecah ketika Rayan berbicara lagi. “Kalau begitu, ada satu hal lagi.” Arsen mengalihkan pandangannya. “Apa?” Rayan melirik sekilas ke arah Vivian sebelum kembali menatap sahabatnya. “Bayi tidak mungkin hanya menyusu sekali sehari.” Vivian langsung menegang. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.Tapi apakah mungkin Rayan sendiri yang mengatakan hal itu? “Iya, itu benar. Jadi?” tanya Arsen. Rayan menjawab dengan santai, seolah ini bukan hal besar. “Vivian akan tinggal di sini sementara.” Kalimat itu membuat Vivian langsung mendongak. “Apa?” Suara itu keluar sebelum ia sempat menahannya. Rayan menatapnya dingin. “Ini untuk bayi itu.” Vivian menggenggam selimut bayi dengan tangan gemetar. “Kamu tidak p






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.