LOGINSetelah lima bulan menjaga kehidupan kecil yang begitu ia cintai, dunia Vivian hancur ketika bayinya meninggal. Luka itu bahkan belum sempat sembuh, sementara tubuhnya masih terus menghasilkan air susu untuk anak yang sudah tidak ada lagi. Namun kesedihan Vivian tidak berarti apa-apa bagi suaminya. Perusahaan Rayan, berada di ambang kebangkrutan. Demi mendapatkan suntikan dana dari sahabatnya yang kaya, ia membuat keputusan yang menghancurkan harga diri Vivian: menawarkan istrinya menjadi ibu susu bagi bayi sahabatnya yang alergi susu formula. Bagi suaminya, itu hanyalah sebuah kesepakatan bisnis. Namun bagi Vivian, setiap tetes air susu yang ia berikan kepada bayi itu seperti membuka kembali luka karena kehilangan anaknya sendiri. Di tengah penderitaan dan penghinaan itu, Vivian perlahan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia duga—sebuah ikatan yang mengubah takdirnya, sekaligus membuka rahasia besar yang selama ini tersembunyi di balik pernikahannya. "Mari kita saling memuaskan!" Arsen. "Mau aku temani sampai mana? Perceraian atau sampai kau bosan!" balas Vivian menantang dengan kakinya yang masih memakai heels berada di atas dada Arsen. Dimatanya terpancar kilatan dendam yang membara.
View MoreBeberapa hari kemudian, Vivian akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Begitu tiba di rumah, suasana langsung berubah total. Rumah yang sebelumnya sudah ramai oleh tingkah Cila kini menjadi jauh lebih hidup. "Oeee... oeee..." Tangisan salah satu bayi terdengar dari lantai atas. Belum sempat suara itu reda, bayi satunya ikut menangis. "Oeee... oeee..." "Astaga," gumam Arsen sambil mengusap wajahnya. Baru saja ia berhasil menenangkan anak pertama, kini anak kedua ikut menangis. Dari ruang keluarga terdengar tawa Melati yang sedang menggendong salah satu cucunya. Sedangkan Ferdy sibuk mondar-mandir membawa botol susu seperti seorang ajudan pribadi. Rumah itu benar-benar dipenuhi suara bayi. Namun di tengah semua keramaian itu, ada satu orang yang mulai menunjukkan perubahan. Cila. Gadis kecil itu kini terlihat lebih lengket daripada biasanya kepada Vivian. Setiap kali Vivian menggendong salah satu bayi, Cila akan segera datang dan memeluk kaki atau le
"Ibu," seru Cila yang digendong babysitter nya. Vivian pun menoleh lalu tersenyum, bocah berusia tiga tahun itu terlihat semakin lucu dan menggemaskan. Vivian langsung mengangkat tangannya, "Anak Ibu," Katanya. Lalu Babysitter langsung memberikan pada Vivian. Vivian langsung memeluknya erat, "Aku nggak mau tambah anak lagi, Mas. Aku sudah cukup punya tiga anak, aku nggak mau Cila kurang kasih sayang karena kita terlalu punya banyak anak," Ucap Vivian. Arsen yang sedang berdiri di samping ranjang langsung menoleh ke arah Vivian. Di pelukan Vivian, Cila tampak manja. Kedua tangan kecilnya melingkar di leher sang ibu, seolah takut kehilangan perhatian setelah kehadiran dua adik barunya. Vivian mengecup pipi putrinya berkali-kali. "Aku nggak mau tambah anak lagi, Mas. Aku sudah cukup punya tiga anak. Aku nggak mau Cila kurang kasih sayang karena kita terlalu punya banyak anak," ucap Vivian dengan tulus. Ya, ada rasa takut yang terlintas di hatinya. Ia takut tidak bisa mencint
Beberapa bulan kemudian. "Oeee... oeee..." Suara tangisan bayi memenuhi ruang bersalin rumah sakit, memecah ketegangan yang sejak tadi menyelimuti suasana. Vivian akhirnya melahirkan bayi kembar. Keduanya laki-laki, sehat, dan sangat menggemaskan. Tangisan mereka terdengar nyaring seolah mengumumkan kedatangan mereka ke dunia. Rasa bahagia yang dirasakan Arsen sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Dadanya terasa penuh oleh haru, syukur, dan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Selama hidupnya, ia sudah melewati banyak hal—kehilangan, penyesalan, dan berbagai ujian yang nyaris merenggut kebahagiaannya. Namun di detik ini, saat mendengar tangisan kedua putranya, semua rasa lelah itu seolah terbayar lunas. Arsen berdiri di samping ranjang Vivian dengan mata yang memerah. Tangannya menggenggam erat tangan sang istri. "Vivian..." suaranya bergetar. Vivian yang masih lemah menoleh sambil tersenyum kecil. "Kita punya dua anak laki-laki, Mas," bisiknya. A
Ponsel Nindy yang berada di tangan Sandy berdering. Sandy melirik layar ponsel itu dan tersenyum tipis saat melihat nama yang tertera. Nino. Tanpa ragu, ia langsung menerima panggilan tersebut. "Nindy! Sekarang aku bangkrut! Apa kamu sengaja menghancurkan aku? Apa kamu meminta Arsen untuk menghancurkan aku?!" bentak Nino begitu panggilan tersambung. "Aku yang menghancurkanmu." Sandy menyandarkan tubuhnya dengan santai. Di seberang sana, Nino terdiam sesaat. "Kau?!" geramnya ketika mengenali suara Sandy. "Sandy! Beraninya kau lancang!" Sandy terkekeh pelan. "Lancang?" ulangnya. "Aku cuma memastikan seseorang menerima akibat dari perbuatannya." "Jangan gila! Mana mungkin kau bisa menikahi majikanmu? Kau pasti mengincar hartanya!" Senyum di wajah Sandy perlahan menghilang. "Aku tidak seperti dirimu, Nino." Suara Sandy terdengar tenang, namun justru itulah yang membuatnya terasa lebih mengintimidasi. "Kau mendekati Nindy karena apa yang dimilikinya. Sedangkan
"Sayang, kan aku bilang aku tunggu di kamar." Arsen ingat sebelumnya Karla berbisik padanya, yang katanya ingin memuaskannya malam ini, tapi Arsen sudah tidak tertarik pada tawaran Karla karena sudah terlalu sering di tolak atau bahkan Karla tidak menyelesaikan permainan hingga selesai dan itu bu
Arsen terbangun di ruang kerjanya saat hari sudah pagi, tubuhnya acak-acakan, semalaman ia berada di ruang kerjanya ditemani minuman. Kini seluruh tubuhnya terasa letih, ia pun berdiri lalu berjalan ke arah jendela sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Namun, tatapannya jatuh ke luar. Ma
Kepala Arsen terasa seperti ingin meledak. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah tegang. Rambutnya masih sedikit basah karena air yang tadi ia guyurkan ke wajahnya berkali-kali. Hampir tiga puluh menit ia mengurung diri di sana. Mencoba menenangkan pikirannya. Mencoba mengusir r
Karla keluar dari kamar mandi dengan tubuh masih terbalut handuk putih tebal. Rambutnya yang basah menjuntai di bahunya, beberapa tetes air masih menetes di kulitnya. Arsen yang sejak tadi berdiri di dekat jendela menoleh. Tatapannya tertuju pada istrinya. Sudah hampir tiga bulan berlalu seja












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews