Compartilhar

Alasan

Autor: Dwrite
last update Data de publicação: 2026-04-07 09:32:49

Pintu kamar tertutup cukup keras.

Faqih tidak benar-benar membantingnya, tapi cukup untuk membuat suara itu memantul di dalam ruangan yang sepi. Dia melangkah masuk tanpa menyalakan lampu, hanya mengandalkan cahaya temaram dari luar yang masuk lewat celah jendela.

Tas selempangnya dilempar begitu saja ke sudut ruangan. Bunyi jatuhnya terdengar kasar. Tanpa melepas jaket, tanpa membuka sepatu, Faqih langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.

Plafon kamar menjadi satu-satunya yang dia lihat. Putih
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Menyerah?

    Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah yang sedikit lembap. Lampu kuning di teras rumah menyala temaram, menciptakan bayangan samar di lantai. Fariz duduk santai di kursi kayu, satu tangannya memegang gelas teh hangat. Uapnya masih mengepul tipis. Suci duduk di sampingnya, membawa sepiring gorengan yang baru saja diangkat dari dapur. "Cape juga ngadepin anak yang telat puber, ya, Bu," celetuk Fariz sambil meniup tehnya pelan. "Udah seminggu, irit banget ngomongnya. Mana keluar cuma buat beol, salat sama mandi. Suram banget keliatannya." Suci tersenyum tipis. Dia menggigit gorengan, lalu mengunyah perlahan sebelum menjawab. "Nggak apa-apa, Pak. Lama-lama juga berlalu. Setiap orang butuh waktu," ucapnya lembut. "Mudah-mudahan aja patah hatinya nggak berlarut-larut." Fariz menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Menurutmu Faqih beneran nggak punya kesempatan?" Suci mengernyit. "Maksudnya?" "Ya itu. Bukannya sebelum janur melengku

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Risiko

    Ketukan pintu terdengar pelan, tapi cukup untuk memaksa Salsa membuka mata. Cahaya matahari sore menembus tirai tipis, jatuh tepat di wajahnya. Hangat, tapi tidak nyaman. Dia terbangun dalam keadaan masih mengenakan mukena. Tubuhnya bersandar di lantai, beralaskan sajadah yang sedikit kusut. Entah sejak kapan dia tertidur di situ. Yang jelas, air mata yang sempat mengalir semalam masih meninggalkan jejak di pipinya. Tok. Tok. Ketukan itu terdengar lagi. Salsa menghela napas pelan, lalu bangkit. Kepalanya terasa berat. Matanya sembab. Tapi dia tetap berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, dia langsung membeku. "Mama?" Di hadapannya berdiri Sherly. Dengan penampilan rapi, wajah yang tenang, tapi sorot mata yang penuh perhatian. Salsa sedikit tertegun, lalu menyingkir memberi jalan. "Masuk, Ma." Sherly melangkah masuk. Pandangannya menyapu ruangan kecil itu. Rapi, tapi terasa dingin. Dia berhenti sejenak, lalu menoleh pada putrinya. Salsa berdiri kaku. Senyumn

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Alasan

    Pintu kamar tertutup cukup keras.Faqih tidak benar-benar membantingnya, tapi cukup untuk membuat suara itu memantul di dalam ruangan yang sepi. Dia melangkah masuk tanpa menyalakan lampu, hanya mengandalkan cahaya temaram dari luar yang masuk lewat celah jendela.Tas selempangnya dilempar begitu saja ke sudut ruangan. Bunyi jatuhnya terdengar kasar. Tanpa melepas jaket, tanpa membuka sepatu, Faqih langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.Plafon kamar menjadi satu-satunya yang dia lihat. Putih, datar, dan kosong. Sama seperti kepalanya yang sekarang terasa penuh tapi tidak bisa dipahami. Napasnya berat. Dadanya naik turun tidak beraturan.Semua kejadian tadi berputar ulang tanpa jeda. Percakapan di masjid. Tawa yang terasa biasa. Kalimat sederhana yang tiba-tiba berubah jadi sesuatu yang menusuk. Lalu wajah Furqon. Lalu … Salsa.Nama itu seperti sengaja muncul di setiap sudut pikirannya."Dia sohib gue."Kalimat itu terngiang lagi. Ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri dengan begi

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Teman lama, luka baru

    Sore itu halaman masjid dipenuhi aroma tanah basah. Hujan yang turun sejak siang baru saja reda, menyisakan genangan kecil di beberapa sudut. Langit masih mendung, berwarna abu-abu pucat, seolah menahan sisa air yang belum sempat jatuh.Faqih dan Furqon berdiri berdampingan di dekat tempat wudu, masing-masing memegang sapu lidi. Suara gesekan sapu dengan lantai yang masih lembap terdengar ritmis, berpadu dengan suara burung yang kembali keluar setelah hujan berhenti. "Udah berapa lama lo temenan sama Salsa, Qih?" Pertanyaan itu keluar begitu saja, ringan, seperti obrolan mereka biasanya. Faqih yang sedang menyapu berhenti. Dia menoleh pelan, matanya menyipit menatap Furqon. "Yakin lu nanya itu?" Dia menyeringai tipis. "Kok gue mencium bau-bau naksir dan minta dicomblangin." Furqon tertawa kecil. Bahunya naik turun. "Tumben lo peka." "Keliatan banget soalnya," sahut Faqih santai. Dia melempar sapu ke sudut tembok, lalu menepuk kedua tangannya. "Udah lah. Sini, duduk!" Merek

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Terlambat?

    Sejak sore, Faqih sudah berdiri di depan cermin. Kemeja hitam polos diganti dengan cokelat muda yang dipatukan dengan angle pants berwarna cream. Jam tangan dipoles ulang. Rambut dirapikan untuk ketiga kalinya.Ia bahkan membuka kembali koper kecilnya dan mengeluarkan parfum yang jarang ia pakai, aroma maskulin lembut yang dulu sempat dipuji salah satu teman kampusnya.Beberapa semprotan. Lalu satu lagi. Sampai semerbak aromanya memenuhi kamar.Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Fariz berdiri di sana, bersandar santai sambil memerhatikan putra semata wayangnya dari ujung kepala sampai kaki.“Lu mau dateng ke acara keluarga atau ngapel, sih? Rapi bener kayak mau kondangan,” tanyanya.Faqih menoleh, lalu cekikikan. “Ah, biasanya aja ini mah, Pak."Fariz mendekat, mengendus udara dramatis. “Busyet ... Wangi amat lagi. Ini acara keluarga, Tong. Bukan interview calon mertua.”Faqih memutar mata. “Kayak yang nggak pernah muda aja. Pasti bapak juga kalau ke kondangan pakai poma

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Jarak

    Pagi pertama Faqih kembali ke Lumajang terasa aneh. Udara masih sama. Jalanan menuju pesantren masih dilewati pedagang sayur dan anak-anak berseragam putih. Bahkan gerbang pesantren pun tidak banyak berubah.Namun, Faqih yang melangkah masuk bukan lagi remaja yang dulu berdiri petantang-petenteng di barisan wisuda.Ia datang sebagai alumni. Sebagai lelaki 26 tahun yang sudah melihat dunia yang lebih luas. Tentu saja ia lebih dewasa dan berwibawa.Beberapa santri perempuan yang kebetulan melintas melirik dua kali. Ada yang berbisik. Ada yang tersenyum malu-malu.Faqih pura-pura tidak sadar.Ia berjalan menuju kantor administrasi, berniat menemui salah satu ustaz lama. Hatinya sebenarnya tidak sepenuhnya tenang. Ada sesuatu yang membuatnya ingin datang hari itu—bukan sekadar silaturahmi.Saat melewati koridor dekat ruang kelas baru, ia mendengar suara yang membuat langkahnya berhenti.Suara itu tidak berubah. Tenang. Tegas. Dengan intonasi khas yang dulu sering memotong ucapannya.“Kala

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Sebuah Rencana

    Suci dan Fariz saling melempar pandang. Sesekali mereka memerhatikan Ainun yang tampak canggung. Perempuan 22 tahun itu memilin-milin ujung kerudungnya yang lebar setelah menyaksikan kejadian melorotnya sarung yang Faqih kenakan, hingga berakhir dengan mengurung dirinya dia kamar."Ekhem, uhuk, hatch

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Melorot

    Sepulangnya check up. Suci langsung mempersiapkan makan siang untuk keluarga kecilnya. Sementara kedua orang tuanya langsung pamit pulang setelah berbincang-bincang sebentar tentang kondisi kesehatan Pak Ahmad. Di sela menyiapkan makan, Suci langsung menceritakan tentang keresahannya setelah mendapa

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Nasehat Keluarga

    "Loh, ada Ibu!" Suci keheranan heran saat melihat ibunya tengah duduk di samping Faqih. Tanpa basa-basi perempuan dengan kerudung instan dan gamis biru itu langsung menyambar tangan Bu Sulis. "Kapan ibu dateng?" tanyanya kemudian."Belum lama, Nduk!" Senyum dari wajah teduh itu masih sama hangatnya.

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Salah Paham

    Pagi hari di Pesantren Al-Huda. Terlihat Salsa dan Aisha celingukan di depan ruangan pengurus asrama putri."Kok, nggak ada, ya, Sha?" tanya Salsa sembari mengintip dari balik kaca. "Belum dateng kali," terka Aisha yang mengikuti Salsa di belakangnya. "Tapi, ini udah jam setengah sembilan." Salsa mel

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status