MasukZio, duda anak satu terus dituntut anaknya untuk menikah lagi. Bukan tanpa alasan, Ayya-anaknya, begitu menginginkan sosok seorang ibu dalam hidupnya karena sedari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Akhirnya dalam perjalanan panjang mereka bertemu dengan Inggit, perempuan berhati baik dan sayang kepada Ayya. Namun disisi lain, ternyata Zio masih dibayang-bayangi mantan istrinya. Apakah Inggit bisa menerima itu dan melanjutkan hidup menjadi mama Ayya? happy reading:) by hellosii
Lihat lebih banyakSemua yang terjadi kemarin ternyata hanya halusinasi Inggit yang begitu menginginkan anaknya sadar dari keadaan koma. Ia baru ingat, semalam sebelum dirinya tak sadarkan diri dokter mengatakan kalau Ayya telah tiada. Setelah mengingat semuanya, Inggit terisak pelan dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isakan yang awalnya pelan langsung terdengar naik oktaf ketika Zio merengkuhnya dengan lembut memberikan ketenangan.“Mas ...” panggil Inggit disela-sela isakannya. “Ayya masih ada, mas ...”Zio hanya terdiam tak bisa melakukan apapun untuk menenangkan perempuan dalam pelukannya itu. Zio begitu mewajarkan kesedihan Inggit karena rasa sayang wanita itu lebih besar kepada Ayya dibanding dirinya. “Mas ... Ayya kemarin bilang supaya kita tetap ada saat dia bangun. Tapi kenapa dia gak bangun lagi?”Isakan dan ucapan Inggit berhasil membuat Zio ikut mengeluarkan air matanya. Sesak yang begitu nyata, sakit yang amat terasa, sekaligus datang mempora-porandakan hatinya. Seakan dada
Suasana sangat hening ketika pemeriksaan oleh dokter dilakukan. Inggit yang terus memejamkan matanya seraya berdo’a dan Zio mengatur napasnya untuk tidak terlihat panik. Tadi Ayya sempat membuka matanya kembali dan Inggit memanggil dokter dengan cekatan.Alhasil sekarang Ayya sedang diperiksa lagi keadaannya oleh dokter. Mata Ayya kini masih membuka, dan Inggit harap mata itu akan terus membuka tidak menutup lagi. “Syukurlah. Keadaannya sudah lumayan membaik, coba ibu bapak untuk ajak dia berinteraksi agar tubuhnya semakin merespon rangsangan,” jelas dokter itu langsung diangguki oleh Inggit dan juga Zio.Setelahnya, para tenaga medis itu keluar meninggalkan mereka bertiga di ruangan. Inggit tersenyum haru seraya menghampiri Inggit dan mengecup pelan dahi anak itu penuh sayang. “Makasih udah mau membuka matamu, nak. Makasih ...” gumam Inggit dengan menitikan satu air matanya.“Mama ...”“Iya sayang?”“Mama jangan nangis” Ayya berucap begitu lemas. Tangannya terangkat ingin mengusap
“Mama ...”Inggit sontak menoleh ketika suara lemas Ayya terdengar di telinganya. Senyuman merekah Inggit langsung terlihat begitu saja ketika melihat Ayya menatap lemas padanya. Anak itu spertinya ingin berkata sesuatu tapi begitu sulit.“Sayang .... kamu sudah bangun?” Mata Inggit nampak berkaca-kaca.Ayya tak lagi bersuara. Mulutnya terbungkam dengan tangan lunglai dan berhenti bergerak. Mata indah yang tadi terbuka kini perlahan menutup kembali. Menutup rapat hinga membuat Inggit sangat panik.“Ayya ... sayang!”Dengan langkah panik, Inggit berlari keluar memanggil dokter untuk mengecek keadaan anaknya. Dokter yang sedang jaga langsung menghampiri dan memeriksa keadaan Ayya. Selama pemeriksaan, Inggit terus memejamkan matanya berdoa untuk kesembuhan Ayya. “Bagaimana, dok?” tanya Inggit begitu panik.“Begini bu, tadi keadaan anak ibu hanya membaik sesaat. Sekarang keadaannya kembali seperti sebelumnya,” jelas dokter itu.Inggit memejamkan matanya menahan rasa sangat sesak di dad
Dua hari berlalu setelah Ayya masuk ke rumah sakit. Hari ini kondisinya lumayan membaik hingga bisa dipindahkan dari ruang ICU ke ruang rawat inap. Rasa lega Inggit semakin meluas ketika dokter memberikan informasi bahwa Ayya sudah mulai membaik.Namun rasa cemasnyanya masih saja tak berkurang. Melihat Ayya terbaring lemah di atas brankar membuat Inggit seketika merasa kesal dengan dirinya sendiri. Ia belum bisa menjadi ibu yang baik untuk Ayya hingga tak mampu menjaga kesehatan anaknya itu.“Sayang, masih mau istirahat ya? Cepet sembuh, nak.” Inggit berucap dengan bibir bergetar hebat. Tubuhnya ikut melemas melihat keadaan Ayya yang jauh dari kata baik-baik saja itu.Ia merindukan keceriaan Ayya, merindukan usil Ayya, merindukan pujian Ayya, ia merindukan semuanya tentang Ayya. Rasanya jika bisa, Inggit ingin menggantikan posisi anaknya ini berbaring di atas ranjang rumah sakit. Biarkan dia yang merasakan rasa sakitnya, jangan Ayya.Seketika, satu butir air matanya mengalir di sepanj
“Lo yakin gak bakal pulang sekarang, Zi? Anak lo nyariin nanti.”Arga melihat Zio malah tiduran di sofa setelah mereka pulang dari ruang rapat. Padahal ini sudah lumayan sore, tapi Zio sepertinya memilih beristirahat terlebih dahulu sebelum pulang. “Ayya udah gue titipin sama Inggit, jadi aman,” j
“Hallo, anak cantik!”Ayya menoleh cepat kala telinganya mendengar sapaan dari orang yang sedari kemarin ingin ia temui. Senyumnya langsung mengembang sampai matanya menyipit terseret pipi gembulnya.“Tante!” serunya menghampiri Inggit.“Seneng ketemu tante lagi, kah?” Inggit berjongkok untuk menya
Tepatnya 2 hari selanjutnya dari kejadian bertemu Inggit, Ayya sering murung dan tak seceria biasanya. Bahkan yang biasanya bawel minta calon mama kepada Zio, akhir-akhir ini Ayya seperti sudah lupa dengan keinginannya itu.Zio sedikit lega akhirnya Ayya tidak lagi menanyakan calon mamanya, tapi di
“Ga, lu punya kenalan cewek, gak?” Zio berbicara dengan seseorang di telepon. “Tumben lu nyari cewek, biasanya cerita Vanya mulu haha ...”“Gue serius!”“Kenapa lu?” “Tadi gue salah ngomong ke Ayya kalau gue udah punya calon mama buat dia. Alhasil sekarang gue disuruh ngenalin ceweknya ke dia,” j
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan