Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya

Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya

By:  Artemis Z.Y.Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
4 ratings. 4 reviews
100Chapters
3.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sebuah kisah yang menyentuh dan sarat emosi tentang Mia, seorang perempuan yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, pernikahan yang dibangun atas dasar kesepakatan bisnis, bukan perasaan. Setelah menikah dengan Keenan Bramantyo, seorang pengusaha sukses yang dingin dan acuh tak acuh, Mia hidup bagaikan bayangan tembus pandang yang tidak pernah diakui, sementara cinta sejati Keenan dicurahkan pada perempuan lain, yaitu adik tiri Mia sendiri, Tasya. Ketika Mia secara tak terduga mengetahui bahwa dirinya hamil anak kembar, kabar itu mengguncang dunianya, terlebih karena kontrak pernikahannya secara tegas melarang kehamilan. Saat Mia berjuang menerima kenyataan bahwa dia mengandung anak-anak Keenan, dia bukan hanya harus menghadapi beratnya hubungan yang dingin dan serba kontraktual, tetapi juga perihnya pengkhianatan ketika Keenan terus menjalin hubungan dengan Tasya. Pergulatan batin Mia semakin dalam ketika dia harus menghadapi perasaannya sebagai perempuan yang tak pernah dianggap oleh pria yang dia cintai, sambil menyimpan rahasia besar tentang kehamilannya.

View More

Chapter 1

Bab 1 Kamu Hamil

Sudut Pandang Mia:

"Selamat," kata Dokter Rey dengan senyum lembut. "Kamu hamil."

Aku berkedip cepat, berusaha fokus. Senyumnya tidak berubah saat dia mengarahkan pandanganku ke layar, lalu menunjuk dua titik kecil yang berdenyut seirama.

"Kembar," tambahnya. "Kamu mengandung anak kembar."

Kembar? Aku bahkan belum bisa mencerna kenyataan bahwa aku hamil. Selama ini aku sangat berhati-hati, begitu waspada. Pil yang Keenan bersikeras harus aku minum setiap hari seharusnya mencegah hal seperti ini. Kami punya kontrak, dan di dalamnya tertulis jelas bahwa kehamilan tidak diperbolehkan. Memang begitulah kesepakatannya.

"Tapi aku ... aku sudah minum pil," kataku pelan, suaraku hampir tak terdengar. Tanganku gemetar, dan aku menahannya di tepi ranjang periksa, berusaha menenangkan diri.

Dokter Rey melirikku dengan sedikit kerutan di dahi. "Kalau kamu minum pilnya secara teratur .... Kamu yakin nggak pernah terlewat?"

Aku ragu. Ingatanku samar. Ada saat-saat ketika aku lengah. "Aku ...." Suaraku bergetar, dan aku menggeleng. "Aku nggak yakin."

Ekspresi Dokter Rey menjadi lebih serius. "Kehamilan memang masih bisa terjadi meskipun sudah pakai kontrasepsi, tapi ...." Ucapannya terhenti, sorot matanya penuh kekhawatiran. "Apa kamu nggak menginginkan bayinya?"

"Nggak," gumamku. "Aku nggak pernah menyangka bisa hamil."

Dia membantuku membersihkan gel dingin dari perutku. "Yang terpenting sekarang adalah kesehatanmu dan kedua bayi ini. Tapi aku harus mengingatkan," katanya dengan wajah serius. "Kondisi rahimmu perlu perhatian ekstra. Kamu butuh asupan gizi yang cukup, istirahat teratur, dan pemeriksaan rutin."

Aku mengangguk kaku, tanganku bergerak ke perutku yang masih rata. Dua nyawa. Dua makhluk kecil yang tumbuh di dalam diriku. Anak Keenan. Anak kami.

Aku berterima kasih pada Dokter Rey lalu meninggalkan rumah sakit. Aku masuk ke mobil, tanganku mencengkeram setir sambil berusaha mengatur napas. Perjalanan pulang terasa seperti kabur.

Pikiranku terus kembali pada kata-kata di kontrak. Pasal 6. Wajib minum pil kontrasepsi secara rutin. Tidak boleh ada kehamilan. Syarat pernikahan kami jelas dan dingin, sama seperti hubungan kami selama ini. Aku tidak seharusnya hamil karena seluruh hidupku dibangun di atas sandiwaraku sebagai istrinya, sementara dunia dan Keenan sendiri hanya melihatku sebagai sekretaris.

Aku memarkir mobil di halaman rumah, mematikan mesin, tetapi tetap duduk di dalam. Pernikahan seharusnya tentang cinta, kepercayaan, dan membangun hidup bersama. Namun ketika suamimu menganggapnya sekadar urusan bisnis, semua impian itu tidak lebih dari sekadar angan-angan. Keenan sudah menjelaskannya sejak awal dengan sangat jelas.

"Ini cuma kesepakatan," katanya waktu itu, sambil mendorong kontrak ke hadapanku di atas meja kayunya.

"Aku harap kamu nggak punya pikiran lain." Namun, aku memang punya pikiran lain. Aku punya cinta, cinta yang kusimpan rapat-rapat selama bertahun-tahun. Jadi, aku menandatangani kontrak itu. Aku berpegang pada harapan bahwa mungkin suatu hari nanti, waktu bisa membuatnya memandangku berbeda.

Tiga tahun kemudian, harapan itu terasa semakin tipis, setipis embun pagi. Bisa dibilang, hubungan kami hanya ada di balik pintu kamar, kaku dan tanpa perasaan. Di siang hari, aku hanyalah pegawai biasa di Grup KT, dan pernikahan kami adalah rahasia yang hanya diketahui Linda, asisten pribadinya.

Sesampainya di rumah, aku bergerak tanpa sadar, tanganku masih gemetar saat menyiapkan makanan sederhana. Mungkin hanya perasaanku saja, tetapi aku merasa lebih lapar dari biasanya. Aku membiarkan diriku makan lebih banyak, sadar bahwa aku perlu menjaga kondisi tubuhku.

Setelah makan, aku segera mandi. Aku berdiri di depan cermin, menatap bayanganku sendiri. Tubuhku belum berubah, setidaknya belum terlihat. Perutku masih rata, belum ada tanda-tanda kehidupan yang tumbuh di dalamnya. Namun kenyataannya tetap ada, dan membayangkan dua makhluk kecil hidup di dalam diriku membuat jantungku berdebar.

Apakah mereka akan mirip denganku? Apakah mereka akan mewarisi mata hijauku? Atau justru tatapan gelap dan tajam milik ayah mereka?

Aku tidak bisa berhenti memikirkan mereka. Apa arti kehamilan ini bagi masa depan kami? Apakah mereka akan membawa harapan? Atau justru kekecewaan yang lebih besar?

Setelah selesai berganti pakaian, aku duduk di sofa, menunggu Keenan pulang. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku duduk di sana. Pikiranku terus bergumul, membayangkan berbagai kemungkinan tentang bagaimana aku akan menyampaikan kabar ini kepadanya.

Malam terasa berjalan tanpa ujung. Tanganku berkali-kali kembali memegang perutku, mencoba menjalin ikatan dengan dua nyawa kecil di dalamnya. Namun, Keenan pulang larut hari ini. Menit demi menit berlalu, memanjang menjadi jam, sampai akhirnya aku tertidur tanpa sadar.

Aku terbangun oleh sentuhan yang sudah sangat kukenal, dan detak jantungku langsung melonjak.

Saat aku membuka mata, aku sudah berada di ranjang, dan Keenan sudah melepaskan pakaianku. "Keenan, kamu sudah pulang," ucapku dengan gugup, dan perut bagian bawahku terasa bergolak.

"Hari ini kamu nggak masuk kerja ya?" gumamnya di leherku, napasnya hangat. Bibirnya menyentuh kulitku sekilas, gerakan cepat yang posesif, lalu dia menggigit dengan pelan. Aku tersentak, tubuhku menegang. "Seharian kamu nggak ke kantor," lanjutnya.

"Aku nggak enak badan, jadi aku dan Linda ambil cuti hari ini."

Lidah Keenan menyusup ke mulutku. Aku tahu apa yang akan dia lakukan, tetapi aku tidak mau melakukannya hari ini. Aku memalingkan wajah.

"Keenan," panggilku sambil menatap wajah tampannya. Tulang pipinya seolah-olah dipahat oleh seniman dan garis rahangnya begitu tegas. Matanya berwarna abu-abu yang menawan, dan saat ini dipenuhi oleh nafsu.

"Buka kakimu," katanya. Bagian tubuhnya yang keras sudah menekan bagian intimku.

"Nggak, Keenan. Jangan hari ini." Dia berhenti.

Dia menarik diri, mata abu-abunya menggelap. "Kenapa?"

"Perutku nggak enak," jawabku. Kata-kata yang setengah benar itu terasa pahit di lidahku.

Kehangatan di wajahnya langsung membeku. Dia berdiri, memakai jubah mandi sambil berjalan ke kamar mandi. "Pastikan kamu periksa ke Joni," katanya tanpa menoleh. Joni adalah dokter pribadi kami. Aku tidak sebodoh itu untuk mendatanginya demi tes kehamilan.

Aku menggigit bibirku. "Keenan, ada sesuatu yang ingin aku bilang," ujarku, tetapi suaraku tenggelam oleh bunyi air yang mengalir.

Aku duduk perlahan, memutuskan menunggu sampai dia selesai mandi. Saat itulah ponselnya menyala di meja samping ranjang. Notifikasi pesan menarik perhatianku. Tanpa sadar, aku melihatnya.

Nama itu membuat darahku serasa membeku. Tasya.

[ Aku kangen kamu, sayang. Hari Kamis nanti kita ketemu yuk. ]

Nama itu tidak asing bagiku. Semua orang yang bekerja di Grup KT pasti mengenalnya.

Keenan Bramantyo membangun perusahaan paling legendaris dalam sepuluh tahun. Pria yang tampak dingin dan rasional itu menamai perusahaannya dengan perpaduan dari namanya sendiri dan nama perempuan yang paling dia cintai.

Inisial mereka menjadi Grup KT. Pengingat abadi tentang perempuan yang benar-benar dia cintai, terpampang di setiap gedung, setiap dokumen, setiap slip gaji.

Aku mungkin lebih mengenal Tasya daripada kebanyakan orang karena dia adalah adik tiriku.

Kemudian, ponselnya kembali berdering. Itu panggilan masuk dari Tasya.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Eko kurniawan Asfarianto
Eko kurniawan Asfarianto
lanjut dong kak
2026-03-20 22:21:14
0
0
Niniq Aja
Niniq Aja
bakal bersambyng ga thor?
2026-02-28 23:06:28
0
0
sabrina nayra
sabrina nayra
lanjutkan thor
2026-02-17 01:05:41
0
0
sabrina nayra
sabrina nayra
payah ngak ada lanjutannya
2026-02-25 22:39:20
0
0
100 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status