تسجيل الدخول"Kau bahkan bisa menggenggam seisi dunia, tapi kau tidak akan pernah bisa menggapaiku lagi, Dominic Kingston!" Selama lima tahun menikah, Dayana Latselina mengira ia adalah satu-satunya wanita yang paling dicintai oleh suaminya, Dominic Kingston, sang bos mafia yang sangat berkuasa. Dominic memang sangat mencintainya, namun di balik punggungnya, perhatian pria itu justru terbagi sepenuhnya untuk sang Kakak ipar. Setiap hadiah mewah yang dibawa Dominic pulang untuk Dayana hanyalah penebus rasa bersalah yang terselubung. Tak tahan terus hidup dalam kepalsuan, Dayana memilih pergi lewat sebuah tragedi yang membuat Dominic percaya ia telah tiada. Saat Dominic hancur dilebur penyesalan, Dayana telah memulai hidupnya yang baru di suatu tempat yang jauh. Membesarkan sepasang anak kembar yang mewarisi darah sang mafia tanpa pernah Dominic ketahui.
عرض المزيد[Dayana, malam ini aku dan Dominic bermalam bersama di hotel. Lihatlah, suamimu sepertinya sangat kelelahan setelah memanjakan kami.]
Wajah Dayana tampak datar membaca pesan serta gambar yang dikirim padanya semalam. Ia tidak marah atau pun menangis melihat potret suaminya sedang memeluk hangat seorang anak kecil, dan wanita cantik tidur di sebelahnya dengan pakaian seksi. Mereka tampak seperti keluarga kecil yang harmonis. Namun, itu tak berarti apapun lagi bagi Dayana. Hatinya telah lama membeku. Ini bukan pertama kalinya ia dibohongi oleh suaminya—Dominic Kingston—seorang bos mafia, sekaligus pewaris utama keluarga mafia terbesar di Barlonov. Dayana menatap pesan itu sekali lagi dan tersenyum sinis. "Jadi ini ... yang kau maksud dengan perjalanan bisnis ke luar kota, Dominic?" Selama lima tahun, pernikahan Dayana dan Dominic sangat bahagia. Tak sehari pun Dominic luput memanjakan Dayana, membelikan barang-barang mahal, perhiasan, mobil sport, dan banyak lagi hadiah yang harganya triliunan. Dayana Latselina percaya bahwa ia adalah satu-satunya di hati Dominic Kingston. Tetapi semuanya runtuh saat Amara Rosalie—istri dari mendiang kakak Dominic yang satu tahun lalu meninggal karena tragedi kecelakaan—datang bersama putri kecilnya dan tinggal satu rumah bersama mereka. Kehadiran ipar dan keponakan suaminya itu mengubah hidup Dayana dalam sekejap mata. Dominic tidak pernah punya waktu lagi untuknya. Suaminya itu mencurahkan seluruh waktunya untuk memanjakan Amara dan Ruby, bahkan sampai berbohong berkali-kali padanya. Sudah sejak lama Dayana ingin pergi meninggalkan Dominic. Namun, ia selalu luluh dengan janji-janji manis sang suami. Di sisi lain, menjaga Amara dan Ruby adalah amanat terakhir yang ditinggalkan oleh mendiang Kakak Dominic. Dayana pikir ia bisa memahami itu. Namun semakin hari kedekatan mereka semakin tak bisa diterima oleh akal sehatnya. Amara tak hanya menginginkan perhatian Dominic, ia menginginkan segalanya, bahkan posisi Dayana sebagai istri sang Don. Ceklek. Lamunan Dayana buyar saat pintu kamar terbuka. Aroma maskulin khas Dominic memenuhi indra penciumannya. Namun, Dayana tidak beranjak ataupun menoleh. Ia masih berdiri di depan jendela dengan pandangan menerawang. Tidak ada sambutan dan pelukan hangat seperti yang dulu ia berikan tiap kali suaminya pulang. Tiba-tiba sepasang lengan kekar mendekapnya dari belakang. Dayana merasakan bibir hangat Dominic menyentuh kulit pipi dan lehernya dengan mesra. "Kupikir kau belum bangun, Sayang," bisiknya. "Sudah ... bahkan aku terjaga sepanjang malam," kata wanita itu. Dominic mengela napas. "Sudah berapa kali kukatakan, jangan begadang, tidak baik untuk kesehatanmu," ujarnya. Di depan semua orang, Dominic adalah pria berdarah dingin yang selalu menggenggam pistol dan membunuh musuhnya tanpa kata ampun. Akan tetapi di hadapan Dayana, dia adalah pria yang selalu memperlakukannya seperti ratu. Walaupun kini Dayana sudah tidak lagi tersanjung dengan semua itu. "Kemarilah, Sayang. Aku membawakan hadiah untukmu," ujar Dominic menarik pinggang Dayana dan diajaknya mendekati ranjang. Dayana melihat beberapa paper bag di sana. Dominic mengambil sesuatu dari dalam tas kertas itu, lalu menunjukkan kotak beludru berwarna ungu dan membukanya di hadapan Dayana. "Aku membelikan set perhiasan yang langka untukmu," ujarnya sambil tersenyum hangat. Kilatan bangga terpancar dari sepasang manik mata Dominic ketika menatapnya, sebelum ia mengecup pipi Dayana dengan mesra. Namun, Dayana hanya bergeming. Perhiasan yang pasti berharga fantastis itu tidak sedikit pun menarik perhatiannya. "Semoga kau menyukainya," bisiknya Dominic, sebelum akhirnya mengurai pelukannya. "Sekarang, aku akan bersiap. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan pagi ini." Pria itu melepaskan kemeja putih yang ia pakai dan melenggang masuk ke dalam kamar mandi. Dayana menatap set perhiasan permata ruby di tangannya, lalu ke arah lemari kaca di dekat meja rias. Tumpukan kotak perhiasan tidak bisa dihitung banyaknya. Jenis berlian apa saja ada di sana. Setelah berbohong, Dominic selalu memberinya hadiah bernilai fantastis. Mulai dari perhiasan, tas mahal, busana buatan desainer terkenal, mobil, bahkan pulau pribadi. Dan masih banyak lagi. Namun, bagi Dayana, sekali ditipu tetaplah tertipu. "Berapapun harga perhiasan-perhiasan ini, tidak akan ada artinya lagi di mataku, Dominic," bisik Dayana, lalu meletakkan kotak perhiasan itu di atas ranjang. Dulu ia senang mendapatkan hadiah, sebab ia mengira itu adalah bahasa cinta sang suami. Tetapi setelah tahu hadiah itu adalah penutup kebohongan, Dayana tak lagi sudi menerimanya. Ia tidak pernah memakai barang-barang itu. Namun, Dominic bahkan tidak menyadarinya, dan terus memberinya hadiah-hadiah yang berujung teronggok seperti sampah. Saat Dayana meraih kemeja putih Dominic yang diletakkan di tepi ranjang, perhatiannya tersita pada noda lipstik yang melekat pada kerah kemeja itu. Aroma parfum wanita yang menguar dari kemeja itu membuat hati Dayana jeri. Semua ini memperkuat bukti dari kebersamaan Dominic dan Amara semalam. “Mungkinkah mereka sudah tidur bersama?” bisik Dayana lirih. Ia mencengkeram kemeja itu hingga buku-buku jemarinya memutih. Kepala Dayana terasa pening, jantungnya berpacu cepat mengalirkan amarah yang tertahan. Ia menjatuhkan kemeja itu dan bergegas keluar dari dalam kamar. Langkahnya cepat menuju ke ruangan kerja. Ia menemukan Sekretaris Ann di dalam sana, yang menatap Dayana dengan tatapan terkejut. Sekretaris Ann adalah satu-satunya orang yang setia, satu-satunya orang yang Dayana percaya setelah keluarganya tiada. Ann jugalah yang selama ini banyak membantu Dayana, menjadi mata-mata dan tangan kanannya karena Dayana tidak pernah bisa melakukan apapun sendiri. Dominic dan anak buahnya sangat protektif padanya. "Nyonya, apa yang terjadi?" tanya Sekretaris Ann bangkit dari duduknya. Dayana langsung mengunci pintu ruangan itu dan berjalan mendekatinya dengan wajah mengeras. "Lakukan rencana itu sekarang juga, Sekretaris Ann,” ujar Dayana “Siapkan semua yang kubutuhkan, secepatnya!” Sekretaris Ann melebarkan matanya. “Apakah Anda benar-benar sudah yakin, Nyonya?” Tak bisa dipungkiri bahwa Ann tahu betapa lelahnya Dayana diperlakukan sebagai istri pajangan, sebuah boneka cantik yang tidak bisa bersuara dan hanya bisa menerima setiap kebohongan dari suaminya. Iris abu-abu Dayana menatapnya penuh tekad yang kuat. "Ya. Tidak ada gunanya menunggu suamiku berubah. Kesabaranku telah habis, aku akan menunjukkan padanya … arti kehilangan yang sesungguhnya!"Dominic memanggil dokter pribadinya untuk memeriksa Dayana. Wanita itu pingsan beberapa menit yang lalu usai Archer dan orang-orangnya meninggalkan mansion milik Dominic. Hati Dominic cemas tak terkira melihat Dayana pusing kesakitan. Kini, ia bersama Dokter Radgar berada di ruangan pribadi milik Dominic. "Bagaimana keadaan istriku, Radgar?" tanya Dominic menatap pria dengan kemeja biru langit itu. "Sakit kepala hebat memang kerap dirasakan oleh sebagian penderita yang mengalami hilang ingatan, Tuan Dominic. Kejadian masa lalu yang terasa familiar akan memicu trauma yang ada pada dirinya," ujar pria itu, sembari berdiri menjelaskan pada Dominic. "Bahkan dorongan-dorongan ini bisa terus mengungkit ingatan Nyonya dan berkemungkinan ingatan Nyonya Dayana bisa kembali lima puluh persen lebih." Fakta yang Redgar katakan membuat Dominic frustrasi. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Dominic masih tidak bisa menerima fakta bila ingatan Dayana akan kembali. "Apa yang harus k
Dengan langkah tegas, Dominic menghampiri Archer. Tangannya bergerak cepat menyahut kerah mantel abu-abu yang Archer pakai. Dominic menjadi gelap mata saat ia melihat Dayana terguncang. Wanita itu terduduk dipeluk oleh Theo dan Leo yang merengek menangis ketakutan. Dominic memiting kerah mantel Archer dengan rahangnya yang mengeras. "Apa yang kau lakukan?" desis Dominic, sebelum pria itu berteriak. "Apa yang kau lakukan pada anak dan istriku, Pa?!" Archer masih dengan wajah dinginnya menatap Dominic. "Di mana Ruby?" tanyanya. "Bukankah Ruby sudah dibawa oleh Amara? Kau sendiri yang membawanya!" seru Dominic dengan nada tinggi. "Jangan berlagak bodoh, Dominic. Ruby masih memiliki ibu kandung, satu-satunya orang tua yang dia miliki.... kau dan dia, tidak berhak memiliki Ruby!" seru Archer menunjuk Dayana dengan moncong pistolnya. Dayana melebarkan sepasang matanya dan wanita itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis, Dayana tidak tahu dari mana sum
Di kediaman Archer Kingston. "Tolong, Ma, Pa ... aku yakin Ruby diculik oleh Dominic dan Dayana. Aku sangat khawatir pada anakku. Aku sudah mencarinya ke mana-mana selama dua hari ini...." Dengan suara tangis dramatis, Amara bersimpuh tak berdaya di depan Archer dan Sista. Dua hari kepergian Ruby yang entah ke mana, Archer dan Ruby tidak diberitahu oleh secara rinci oleh Amara. Namun, wajah Archer terlihat geram. Pria tua itu menyergah napasnya kasar. “Apa-apaan, Dominic ... apa maunya?" desisnya. "Sepertinya, Dayana menghasutnya, Pa," sahut Amara dengan ekspresi pilu. "Aku masih ingat saat kapan hari kita menjemput Ruby, Dayana seperti tidak ingin Ruby kembali padaku. Aku tidak mengerti mengapa dia punya niatan untuk mengambil Ruby dariku." "Wanita sialan itu sekarang sudah berani mengacaukan segalanya, Pa!" sahut Sista dengan wajah memerah padam. "Kemarin dia mempermalukan aku! Dan sekarang dia sudah berani melewati batas kesabaranku!" Amara mendekati Sista dan memeluk lengan
Esok paginya. Dayana merasakan tubuhnya sangat lelah dan lemas. Wanita itu bergerak perlahan melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuh Dominic, pelukan pria itu bertambah erat. Sepasang mata indahnya terbuka sayu-sayu merasakan lembutnya usapan tangan Dominic di punggungnya yang masih polos tanpa pakaian. "Aku sangat lelah," lirih Dayana merengek manja. "Tulangku rasanya seperti patah. Kau benar-benar gila!" Dengan kepalan tangan lemas, Dayana memukul dada Dominic. Pria itu tersenyum mengecup singkat bibir Dayana yang manyun. "Hari ini istirahatlah, Sayang. Anak-anak juga bersama para pengasuh ... aku juga tidak akan ke mana-mana," jawab Dominic, sebelum pria itu memasang ekspresi jahil. "Atau ... kita bisa melakukannya sekali lagi, satu kali saja...." Dayana langsung cemberut menampar pelan pipi Dominic. "Tidak mau! Kalau saja semalam aku tidak menangis kau tidak akan melepaskan aku, mengaku saja!" serunya. Dominic tertawa pelan, mendekap erat tubuh Dayana
Pagi itu, di ruang makan mansion keluarga Kingston, Dayana menatap sarapan di hadapannya tanpa minat. Tidak hanya makanan itu yang membuatnya tak selera, tapi juga sosok wanita dengan balutan gaun seksi berwarna hitam dan putri kecilnya yang juga bergabung di sana. "Ma, Papa ke mana? Kenapa belum
[Dayana, malam ini aku dan Dominic bermalam bersama di hotel. Lihatlah, suamimu sepertinya sangat kelelahan setelah memanjakan kami.]Wajah Dayana tampak datar membaca pesan serta gambar yang dikirim padanya semalam. Ia tidak marah atau pun menangis melihat potret suaminya sedang memeluk hangat se
Setelah kembali dari rumah sakit, Dayana meminta pada Morine untuk kembali ke kantor melanjutkan pekerjaannya. Morine sempat melarang, tetapi Dayana tetap bersikeras. Pekerjaannya sebagai asisten pribadi Moriene—selaku pimpinan hotel bintang lima, tidak terlalu berat. Di dalam ruangan kerja, Daya
Tanah pemakaman masih basah dan penuh dengan taburan bunga. Dominic duduk di samping batu nisan yang bertuliskan nama Dayana Latselina, istrinya. Ia mengusap batu nisan itu dengan lembut. Sudah satu jam lebih Dominic berada di sana sejak istrinya dikebumikan. Di sampingnya berdiri Amara, yang mem


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعاتأكثر