LOGIN(Pending) "Kalau dalam kurun waktu satu tahun dia masih belum juga datang, Suci bersumpah bakal nerima siapa saja yang datang melamar." *** Kecewa karena penantiannya berujung kesakitan, Suci terpaksa memenuhi nazar yang pernah dia ucapkan untuk menerima siapa pun yang datang melamar. Dengan penuh kepasrahan, akhirnya dia menerima pinangan dari Fariz Darmawan, lelaki macam preman yang tak pernah Suci bayangkan menjadi seorang pasangan. Tanpa diduga, ternyata Fariz adalah kakak ipar dari lelaki yang Suci tunggu selama lima tahun penantian, tapi ternyata dia lebih dulu menikahi putri saudagar. Bagaimana cara Suci menjalani pernikahan ketika dia harus dihadapkan dengan masa lalu dan masa depan?
View More"Kalau dalam kurun waktu satu tahun dia masih belum juga datang, Suci janji bakal nerima siapa pun yang datang melamar."
Tak pernah kubayangkan sebelumnya. Nazar yang terucap setahun silam malah berubah menjadi bumerang yang menghadang, kala satu-satunya lelaki yang menjanjikan surga di ujung penantian, justru tak kunjung datang. Harapan yang berkian tahun kugantungkan pada akhirnya berakhir kekecewaan.Di sisi pembaringan, dari balik jendela kenangan. Wajah teduhnya masih lekat dalam ingatan, suara beratnya masih terngiang memintaku menunggu untuk sebuah kepastian. Kepastian yang berubah menjadi ketidakpastian, ketidakpastian yang berakhir menjadi perpisahan paling menyakitkan.Hari telah berganti pekan, pekan berganti bulan, sampai tak terasa lima tahun penantian umurku sudah menginjak dua puluh delapan. Entah sudah berapa banyak lelaki yang datang, entah sudah berapa kali berbagai macam bentuk pinangan kuurungkan. Sampai hari itu akhirnya tiba, hari di mana ikatan yang berkian tahun membelenggu, mampu untuk dilepaskan."Nduk, Keluarga H. Jamal udah datang!"Suara Ibu menarikku dari lamunan. Ia melangkah perlahan menghampiri, lalu duduk tepat di sampingku. "Ibu yakin keputusan ini pasti berat bagimu, tapi inilah jalan yang telah kamu pilih. Cobalah untuk melupakannya." Kalimat itu terdengar pasti, tapi sulit untuk diikuti. Melupakan jelas tak semudah memulainya. Bagaimana pun situasinya sekarang, lelaki itu pernah meninggalkan kesan yang amat mendalam dan cukup sulit untuk dienyahkan."Siapa aja yang datang?" Pertanyaan itu terlontar. Kutatap Ibu dengan ekspresi datar. Berharap raut wajah itu mampu menutup kenyataan bahwa sejak pinangan ini kuterima, sudah membuktikan bahwa aku adalah seorang wanita yang menyedihkan."Calon suamimu, Bapak, Ibu, dan adiknya.""Berarti dia juga datang?!"" .... "Tak ada jawaban, kuanggap diamnya Ibu sebagai bentuk pernyataan. Bahwa hari ini, aku harus siap dihadapkan dengan masa lalu dan masa depan.***Dengan enggan, kuseret langkah keluar dari kamar, meneguhkan diri agar hati dan pikiranku sejalan untuk bertemu dengan lelaki yang akan menjadi sosok calon imam. Calon Imam yang tak pernah kuharapkan, calon imam yang kebetulan datang saat perasaanku benar-benar berantakan.Anak sulung H. Jamal, lelaki berusia tiga puluh dua tahun dengan kepribdian yang sama sekali tak bisa kudeskripsikan. Kabarnya dia pernah kabur saat akan dimasukan ke pesantren, ikut balapan motor liar, bahkan masuk penjara karena memukuli orang dalam keadaan tak sadar atau dipengaruhi minuman. Entah apa yang ada di pikiranku saat memilih dia di antara dua kandidat lainnya. Mungkin karena sifatnya berbanding terbalik dengan lelaki nyaris sempurna yang berhasil menorehkan luka. Atau mungkin karena dia kakak dari istri lelaki yang amat kucinta.Kudongakkan dagu, ketika Ibu menuntunku duduk di hadapan para tamu. Menguatkan mental ketika memerhatikan pasangan suami istri yang terlihat sangat bahagia dengan putra kecil mereka, dan calon anak kedua yang ada di kandungan wanita itu. Lima tahun lalu lelaki itu milikku, tapi sekarang ia milik wanita lain. Wanita yang tak pernah tahu bahwa posisi yang dia tempati seharusnya milikku.Dirasa perih mulai menjalar kala memerhatikan keduanya, kualihkan pandangan pada lelaki yang duduk tepat di hadapan. Berbeda nyaris 90° dari sang ipar. Calon suamiku berperawakan lebih tinggi dan lebih besar, bahkan terkesan agak sangar. Rambutnya panjang terikat dengan potongan mohak di samping kiri-kanan. Rahangnya dipenuhi rambut-rambut halus yang kuyakin bila disentuh akan terasa kasar. Meskipun pakaiannya sopan, tapi penampilannya sudah cukup menggambarkan bahwa ia lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan.Lihatlah bagaimana cara dia memerhatikan sekeliling, sesekali bahkan mengipasi tubuh dengan kerah kemeja yang entah sejak kapan sudah terbuka dua kancing teratasnya."Masih lama nggak, sih, Ma? Panas banget di sini. Mana nggak ada AC-nya lagi." Lelaki itu bergumam pada wanita paruh baya berpakaian syar'i di sebelahnya. Yang bodohnya masih bisa kudengar. Bahkan mungkin Ibu dan Bapak juga."Fariz!" Hj. Nurul melotot lalu mencubit perut putranya."Maaf, ya, Nak Fariz. Saya alergi AC, makanya larang Bapak buat pasang," cetus Ibu menjelaskan dengan keramahtamahan khas orang Desa kebanyakan."Nggak apa-apa, Bu. Justru saya yang minta maaf kalau-kalau ucapan Fariz yang terkesan nggak sopan." Hj. Nurul terlihat begitu sungkan, bisa kulihat wanita paruh baya itu mendorong tengkuk dan pundak putranya agar merunduk. Minta maaf."I-iya, Bu. Saya yang salah. Maaf," ucapnya kemudian."Kalau begitu bisa langsung kita mulai saja, ya!" Bapak mulai angkat bicara. Suaranya yang sangat berwibawa selalu berhasil menjadi pusat perhatian siapa saja. "Saya kenalkan kembali. Mungkin Nak Fariz belum sempat melihatnya saat lamaran pertama diajukan. Putri semata wayang kami. Suci Puspitasari.""Cakep," gumam lelaki itu sesaat setelah kami berpandangan."Riz!" tegur ibunya lagi sembari menyikut lengan Mas Fariz."Sebenarnya kami tak menyangka Nak Suci akan menerima pinangan ini setelah mengetahui riwayat hidup Fariz. MasyaAllah, saat Pak Aziz menghubungi kami sangat terkejut sekaligus senang. Kalau bukan sekarang saya tak yakin kapan anak ini akan menikah, dia bahkan sudah dilangkahi adiknya. Farah, dan ini menantu saya Ali."Senyumku memudar, tanpa perlu menjelaskan kami sudah sangat mengenal siapa Ali Abdullah. Dia yang pernah datang meminta izin pada Bapak untuk menikahiku lima tahun silam, dia yang menjadi alasanku menolak semua lamaran yang datang hingga di-cap sebagai wanita paling jual mahal, dia pula yang telah mencoreng arang di wajah ini saat memilih mengkhianati kepercayaan yang sudah bertahun-tahun kusematkan, setelah kabar tersebar bahwa dia telah menikahi seorang gadis kota. Anak bungsu seorang saudagar, pemilik perkebunan kelapa sawit. H. Jamal.Lima tahun waktu kuhabiskan dalam penantian, sementara dia menikmati kehidupan pernikahan yang membahagiakan bersama istri cantik dan anak yang lucu. Di mana letak keadilan itu, Tuhan ....Kuremas kuat gamis yang dikenakan ketika perih yang mati-matian kuredam kembali muncul ke permukaan. Mataku memanas, rahangku mengeras. Semua kecamuk perasaan yang datang bersamaan ini hanya bisa kutahan dalam dada. Aku harus tetap kuat meski dalam keadaan paling hancur sekalipun."Jadi, kapan pihak laki-laki siap untuk melangsungkan pernikahan?" Bapak mengajukan pertanyaan untuk mempercepat proses lamaran. Meskipun tegas dan terkadang dingin, beliau yang paling paham tentang perasaanku. Sepanjang prosesi, tangan besarnya bahkan tak henti menggenggam jemari ini.H. Jamal menoleh pada istri dan anaknya. Meminta pendapat mereka."Kalau itu sepertinya kami kembalikan lagi ke pihak perempuan. Siapnya ka--""Kalau begitu secepatnya!" tukasku yang membuat semua orang lantas terdiam. Kecuali Mas Fariz yang tiba-tiba nyeletuk santai."Ebuset ... rupanya dia udah nggak tahan.""Fariz!"...Bersambung.Langit Jakarta masih berwarna pucat ketika rumah keluarga Salsa sudah dipenuhi orang. Suara langkah kaki, sapaan, dan arahan dari panitia keluarga bercampur menjadi satu. Aroma bunga melati dan mawar putih memenuhi ruangan, menguar lembut dari rangkaian dekorasi yang tersusun rapi di setiap sudut. Acara akad diselenggarakan di rumah dengan tamu terbatas, sementara puncak acara resepsi akan diadakan di hotel berbintang nanti. Semua tampak sempurna. Tapi tidak dengan hati seseorang yang berdiri di depan cermin. Salsa menatap pantulan dirinya. Gaun pengantin syar’i berwarna putih membalut tubuhnya dengan anggun. Renda-renda halus menjuntai dari lengan hingga ke ujung rok. Kerudung panjangnya terpasang rapi, dihiasi mahkota kecil yang sederhana namun elegan. Wajahnya dipoles tipis, cukup untuk mempertegas kecantikannya tanpa menghilangkan kesan lembut yang selama ini melekat. Dia tampak seperti pengantin yang sempurna. Tapi matanya ... tidak bisa berbohong. Ada gelisah yang bersemb
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir sebelum hidupnya berubah.Di dalam kamar hotel yang cukup luas, lampu kuning redup menyinari satu set jas pengantin yang sudah tergelar rapi di atas kasur. Warna hitamnya terlihat elegan, lengkap dengan kemeja putih dan dasi yang sudah disiapkan dengan presisi. Sepatu mengilap tersusun di bawahnya, menunggu untuk dipakai. Semua tampak sempurna. Tapi lelaki yang berdiri di hadapannya justru tidak bergerak sedikit pun. Furqon berdiri dengan kedua tangan di saku celana. Pandangannya tertuju pada jas itu, tapi matanya seperti tidak benar-benar melihat. Kosong. "Saya sudah siapkan semuanya, Mas," ucap seorang pria di belakangnya dengan nada hati-hati. "Kalau mau dicoba dulu .…" Furqon tidak menjawab. Dia hanya menghela napas pelan. Lalu menggeleng. "Nanti aja, Ren." Jawabannya singkat. Asistennya itu terdiam sejenak, tidak berani memaksa. Dia tahu, hari ini bukan hari yang mudah bagi lelaki di depannya. Di luar sana, orang-orang mungki
Siang itu terasa panjang. Terlalu panjang untuk ditanggung oleh seseorang yang sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini adalah pilihan yang benar. Rumah keluarga Salsa dipenuhi kesibukan. Di ruang tengah, beberapa wanita sibuk menghitung souvenir satu per satu. Plastik transparan berisi gantungan kunci, kotak kecil berlapis pita, dan kartu ucapan tersebar di meja besar. Di sudut lain, ada yang sedang mencatat daftar kebutuhan, mencocokkan jumlah dengan pesanan. Suara mereka saling bertumpuk, sesekali diselingi tawa ringan yang terdengar wajar. Tapi bagi Salsa, semua itu terasa jauh. Dia duduk di kursi dekat jendela, tubuhnya sedikit menyandar, tangan bertumpu di pangkuan. Pandangannya kosong, menatap ke arah orang-orang yang bergerak tanpa benar-benar melihat. Pikirannya tidak di sana. Sejak kembali ke Jakarta, sejak kata "percepat" itu keluar dari mulutnya sendiri, sejak semua orang mulai bergerak lebih cepat dari biasanya, ada sesuatu di dalam dirinya yang jus
Pintu rumah terbuka cukup keras. Langkah Salsa terdengar cepat memasuki ruang tengah. Wajahnya tegang, napasnya sedikit tersengal seolah dia baru saja menahan sesuatu yang berat sepanjang perjalanan. Bobby yang sedang duduk santai langsung menoleh. "Percepat pernikahannya!" Kalimat itu meluncur tanpa basa-basi dari mulut gadis itu. Bobby mengangkat alis. Sedikit terkejut, tapi lebih penasaran. "Wah, wah, wah. Ada apa nih tiba-tiba?" Salsa berdiri di hadapannya. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. "Nggak usah banyak tanya, Pa. Percepatan aja. Furqon juga pasti bersedia." Nada suaranya tegas. Hampir seperti perintah. Bobby menghela napas. Dia bersandar di sofa, menatap putrinya lebih dalam. "Bukan masalah itunya, anak muda, tapi .…" Salsa memotong cepat. "Selama dua puluh lima tahun ini Salsa nggak pernah minta apa-apa ...." Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia tahan. "Please." Satu kata itu terdengar lirih. Tapi cukup membuat suasana berubah. Bobby terdiam. Dia me
Pintu kamar tertutup cukup keras.Faqih tidak benar-benar membantingnya, tapi cukup untuk membuat suara itu memantul di dalam ruangan yang sepi. Dia melangkah masuk tanpa menyalakan lampu, hanya mengandalkan cahaya temaram dari luar yang masuk lewat celah jendela.Tas selempangnya dilempar begitu s
Sore itu halaman masjid dipenuhi aroma tanah basah. Hujan yang turun sejak siang baru saja reda, menyisakan genangan kecil di beberapa sudut. Langit masih mendung, berwarna abu-abu pucat, seolah menahan sisa air yang belum sempat jatuh.Faqih dan Furqon berdiri berdampingan di dekat tempat wudu, ma
Sejak sore, Faqih sudah berdiri di depan cermin. Kemeja hitam polos diganti dengan cokelat muda yang dipatukan dengan angle pants berwarna cream. Jam tangan dipoles ulang. Rambut dirapikan untuk ketiga kalinya.Ia bahkan membuka kembali koper kecilnya dan mengeluarkan parfum yang jarang ia pakai, a
Pagi pertama Faqih kembali ke Lumajang terasa aneh. Udara masih sama. Jalanan menuju pesantren masih dilewati pedagang sayur dan anak-anak berseragam putih. Bahkan gerbang pesantren pun tidak banyak berubah.Namun, Faqih yang melangkah masuk bukan lagi remaja yang dulu berdiri petantang-petenteng d












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore