LOGINMataku mengerjap, aku tiba-tiba terbangun, namun bukan dirumah, melainkan masih di dalam mobil Reza. Aku melihat kesamping, Reza juga tertidur di kursi kemudi, sangat pulas sekali. "Bang..." Suaraku serak, mengagetkannya, dia terbangun dan menggeliat kecil." Udah bangun?" "Kenapa tadi enggak bangunin aku?" Reza menguap dan menutup mulutnya dengan tinju tangan. "Kamu nyenyak banget tadi tidurnya, jadi abang ketiduran juga." "Sekarang udah jam berapa? ya ampun, nenek pasti cemas." Aku langsung mengecek ponsel, ada tiga panggilan tak terjawab dari nenek. Aku turun lebih dulu, diikuti Reza yang kemudian berjalan dibelakangku, kami masuk bersama ke rumah dan segera disambut dengan suara tangisan, teriakan dan lemparan kepala Barbie yang sudah terlepas dari badannya, luar biasa sekali. Kepala Barbie menabrak dada Reza dan terjatuh di lantai, itu Barbie yang baru dibelikan Reza kemarin padahal. "Oke, jadi apa yang terjadi seharian ini?" Tanyaku sambil meletakkan tas diatas kursi
Aku didudukkan di kursi ruangan dengan Mbak Dita, Rendra dan Tari mengelilingiku, seperti ingin disidang. Mbak Dita bahkan sudah bersedekap dada, si Rendra memicingkan mata dan Tari, dia mengetuk-ngetuk penanya ke telapak tangan. "Dari awal gue udah curiga, pas kita di resto, Lo manggil pak Reza, bang." Kata mbak Dita. Tari mengangguk,"Iya, sejak kapan lo jalan sama pak Reza mbak, sampai manggil dia bang." "Enggak..." Aku menggeleng. "Kalau memang lo jalan sama pak Reza, jujur aja mbak, enggak papa kok, cuma gue jadi enggak enakan ke pak Reza, mana kemarin gue banyak ngomongin mantan suami Lo lagi di depan dia, pasti pak Reza cemburu." Aku menghela nafas panjang, "Oke, waktu di resto gue reflek jadi salah sebut, dan yang tadi itu pas di pantry murni ketidaksengajaan." Aku melirik Tari." Lo kan lihat gue ke pantry sendiri,terus mana gue tau kalau pak Reza datang, dan gue kaget akhirnya air panas itu terciprat ke tangan gue sendiri, jadi dia inisiatif bantu gue." Rendra meng
Reza baru saja ingin keluar dari sekat pembatas area smoking room saat didengarnya suara beberapa orang mengobrol dari samping, dan dia terhenti saat salah satu dari mereka menyebut nama Donna. "Yah, beda level lah kalau sama Silvi. Dia mah mainannya sudah sekelas kepala cabang." Suara seorang pria terdengar dari luar area smoking room. Pria kedua tertawa menyambut ucapan itu,"Emangnya Donna level nya sebelah mana?" Reza mengangkat wajah, tubuhnya yang tadi merunduk, langsung berdiri dengan sendirinya. "Donna? yang dibagian call center?" Pria lain bertanya. Reza bisa mendengar obrolan itu tanpa terlihat dari posisinya sekarang. "Iya, Donna mana lagi, cuma dia Donna yang single, walaupun sudah punya anak dua." "Enggak kalah sih sama cewek single lain, body nya masih mulus." Mereka tertawa-tawa. "Tes tes dikit, kali aja mau diajak keluar." "Kasih aja seharga dua box susu anaknya, kali aja mau." Stigma negatif memang menjadi resiko yang harus diterima Donna untuk statu
Reza menghembuskan sisa asap rokok terakhirnya di smoking room sambil bersandar di pagar pembatas gedung. Yah, sejak bercerai empat tahun lalu, rokok menjadi pelariannya, sebelumnya Reza bahkan anti sekali dengan asap rokok, sekarang bahkan Reza sulit sekali lepas dari benda ini. Namun tentu saja ini hanya dilakukannya ketika ada jeda istirahat di kantor. Ponselnya bergetar dari kantong celana, telpon dari Bagas. "Ya, Gas?" Diseberang terdengar suara Bagas, "Apa kabar, bang?" "Baik, kamu?" "Baik, Alhamdulillah. Minggu depan kami pulang ke Indonesia, Grace mau ulang tahun di sana." Grace itu anaknya Bagas, usianya masih dua tahun, setelah menikah waktu itu, mereka memutuskan tinggal di Zurich. "Oh, Bagus, nanti aku jemput di bandara." "Iya, by the way masih sendiri?" Tiba-tiba saja Bagas bertanya seperti itu. "Maksudnya?" Bagas terkekeh,"Masih single? udah empat tahun Lo? enggak niat cari istri lagi?" Dia hanya berdehem menanggapi Bagas. "Move on lah, ini ada s
Reza berjalan kearah mobilnya, masih ada waktu tiga puluh menit sebelum conference call dimulai, mudah-mudahan tidak macet dia bisa sampai kantor tepat waktu. Baru saja dia membuka pintu mobil, ponselnya berdering. Silvi Dia mengangkat telpon Silvi, asistennya. "Ya Vi? udah di kantor?" "Belum pak, tadi saya panggil panggil bapak, tapi kayaknya bapak enggak dengar, saya juga di Rumah Sakit sekarang, saya bisa lihat bapak dari sini." Reza menoleh mengangkat wajah, benar itu Silvi , gadis itu mulai berlari kecil menuju Reza. Telponnya dia matikan saat jarak mereka sudah dekat,"Saya boleh nebeng ke kantor pak?" Reza melirik jam , tinggal dua puluh lima menit lagi, tidak ada waktu, "Ya udah ayo." Ucapnya. "Bahan -bahan udah kamu siapkan semua?" Tanyanya ke Silvi tanpa menoleh. "Siap, sudah pak." "Sampai langsung siapkan ruangan." Perintahnya. "Baik pak." Silvi mengangguk." Ngomong -ngomong bapak kenapa ke Rumah Sakit?" Ada jeda sebentar sebelum Reza menjawab,"Anak saya c
Sekarang mereka sedang menunggu vitamin untuk Allena yang sudah diresepkan oleh dokter tadi, Reza duduk bertopang lutut, dia mengawasi Allena dengan wajah lelah. Sore ini rambut pendeknya agak berantakan, kancing kemeja atasnya terbuka, simpul dasi dilonggarkannya, lengan kemejanya sudah digulung sampai siku. Pekerjaan Reza berat sekali akhir-akhir ini, makanya aku katakan padanya tidak usah mengantar kami, namun mana mau Reza melewatkannya? Tatapanku bertemu dengan Reza, membuatku sedikit terkejut lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan ke arah Alle yang sedang mengusap-usap dinding dengan kedua tangannya, gerakannya seperti orang berenang gaya kupu-kupu. "Gimana Rendra, Tari dan mbak Dita?" Aku tau yang dimaksud pertanyaan Reza, kejadian siang tadi saat di resto. Posisi dudukku menyerong agar bisa berhadapan langsung dengan Reza yang masih bertopang dagu." Tadi aku buru-buru pergi, jadi mereka enggak sempat tanya-tanya." Jawabku, "Tapi... enggak tau kalau besok, habis aku kay







