Madu Adalah Maut

Madu Adalah Maut

last updateLast Updated : 2026-10-06
By:  Shinee DandelionUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
14Chapters
33views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Masih untung kamu nggak aku ceraikan! Delapan tahun aku nunggu loh, tapi begitu hamil lagi, kamu malah hamil anak perempuan lagi! Gak guna! Lihat Keisya, belum setahun dia aku nikahi, dia langsung hamil anak laki-laki. Gak kayak kamu!" Hidup Nabila berubah ketika suaminya mengatakan sudah menikah lagi dengan alasan ingin memiliki anak laki-laki. Awalnya Nabila berusaha menerima. Ia menahan cemburu, menelan luka, dan memaksa dirinya tersenyum demi keutuhan keluarga. Tetapi setiap hari, ia harus menyaksikan suaminya semakin jatuh cinta pada wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, pria yang dulu berjanji mencintainya kini tak segan membanding-bandingkan dirinya dengan sang madu. Ketika pengorbanan tak lagi dihargai dan cinta berubah menjadi sumber penderitaan, Nabila dihadapkan pada pilihan tersulit dalam hidupnya, tetap bertahan demi sang putri atau pergi demi menyelamatkan dirinya sendiri agar tetap waras. Namun siapa sangka, saat ia memilih menyerah dan melangkah pergi, takdir justru mempertemukannya dengan seseorang yang mengajarkannya arti cinta yang sesungguhnya. Terkadang, madu bukanlah pemanis dalam kehidupan. Melainkan awal dari kehancuran.

View More

Chapter 1

Bab 1. Solusi

"Kenapa masak segala? Kan ada Bibi, biar saja Bibi yang masak, Sayang. Kamu kan lagi hamil," ucap Arga saat melihat sang istri yang berjalan seraya membawa sepiring ayam bumbu kecap dari arah dapur ke meja makan.

"Gak pa-pa, Mas, mumpung kamu ada di rumah. Biasanya kan jam segini kamu masih di restoran. Atau, kamu di luar kota," jawab Nabila.

"Makasih, Sayang," jawab Arga, ia lalu duduk di kursi dan siap menyantap ayam bumbu kecap yang Nabila masak.

"Ayah?" panggil gadis berusia 8 tahun, dia berlari ke arah kursi dimana Arga terduduk.

Arga sontak menoleh, kemudian tersenyum. "Iya, Sayang?"

"Lihat, tadi Kakak menggambar, terus dapat nilai sembilan. Nilai Kakak paling tinggi loh, Yah."

"Wahh ... Iya?" sahut Arga dengan raut wajah yang terlihat antusias.

Dengan berbangga diri, Aisyah mengangguk.

"Ini baru anak Ayah. Kalau begitu, nanti Ayah kasih hadiah, Aisyah mau apa?"

Wajah Aisyah sontak semakin antusias. "Jalan-jalan ke Dufan. Aisyah mau ke Dufan. Soalnya, kemarin Keisya kasih lihat foto dia yang lagi main di Dufan sama Mami Papinya. Aisyah juga mau ke sana, Yah."

Raut wajah Arga seketika berubah drastis, Nabila yang melihat obrolan mereka sedikit mengernyitkan dahi saat melihat raut wajah Arga yang aneh.

"Mmmhh ... boleh, nanti kita ke Dufan ya."

"Yeeeeee ... Aisyah sayang Ayah! I love you, ayah."

"Love you more, Sayang."

"Ya sudah, kita makan dulu ya sekarang," sahut Nabila, ia dengan telaten menyiapkan makan malam untuk suaminya. Saat baru saja menaruh piring itu di hadapan sang suami, ponsel suaminya yang berada di samping piring tiba-tiba saja bergetar. Nabila sontak melihat ke arah ponsel.

Matanya ingin melihat nama yang tertera di layar. Namun, belum sempat ia melihat dengan jelas siapa yang menelfon, Arga sudah lebih dulu mengambil ponsel itu dengan cepat kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan pergi untuk menerima panggilan itu.

"Tumben banget dia Nerima telfonnya pergi kayak begitu. Kalau di sinetron-sinetron, biasanya selingkuh ini!" gumam Nabila.

Karena biasanya, suaminya bukan tipe yang menerima panggilan dengan menjauh. Bahkan terkadang ia mengabaikan panggilan jika sedang berada di meja makan.

"Ih! Naudzubillahi min dzalik, amit-amit! Enggak, suamiku gak mungkin kayak begitu." Nabila menggelengkan kepalanya, membuang pikiran-pikiran buruk itu.

Lalu tak berselang lama, Arga kembali menghampiri Nabila.

"Sayang? Aku harus ke Bandung sekarang juga, ada sedikit masalah di restoran cabang kita di sana. Aku mau cek."

"Masalah apa, Mas?" tanya Nabila, raut wajahnya mulai terlihat serius.

"Hm? Mmmhh ... nanti saja aku jelaskan ya, ini urgent soalnya, aku harus pergi sekarang."

"Gak mau makan dulu? Atau, aku bekelin ya, biar nanti kamu makan di jalan," tawar Nabila.

"Gak usah, Sayang, aku buru-buru. Nanti aku makan di luar saja," jawab Arga.

Nabila mengangguk walau ada sedikit rasa kecewa karena masakan yang ia masak tidak disentuh sama sekali. Ia lalu mengarahkan telapak tangannya berniat hendak mengecup punggung tangan sang suami, namun suaminya itu sudah lebih dulu berbalik dan pergi begitu saja. Bahkan tanpa mengucapkan salam sekalipun.

***

Esoknya.

Tuuutttt

Nabila menghubungi suaminya berkali-kali, tapi yang terdengar adalah nada dering tersambung yang tidak kunjung diangkat. Di panggilan kedua, akhirnya panggilannya diangkat juga.

"Halo, Mas? Kamu sibuk ya?"

"Iya, Sayang. Aku lagi sibuk banget. Kenapa?" tanya Arga yang berada di ujung telepon sana.

"Aku lupa ngasih tau kamu, hari Minggu nanti Aisyah ada pentas seni tari. Kamu jangan lupa dateng ya."

"Hari Minggu ini? Aduh, kayaknya aku gak bisa, kerjaan aku lagi banyak banget dan gak bisa aku tinggal sama sekali. Kamu aja ya, Sayang, yang datang ke acaranya Aisyah."

"Gak bisa sama sekali? Tolong diusahain lah, Mas. Ini pentas pertamanya Aisyah loh. Kamu tahu sendiri kalau dari dulu dia pengen banget ikut seni tari dan mau tampil dilihat orang banyak, terus ada kitanya di sana. Kalau cuma aku doang, nanti Aisyah-nya sedih. Kasihan dia kalau ayahnya gak ada. Masih ada tiga hari lagi ke hari Minggu, masa kamu gak bisa beresin secepatnya kerjaan kamu di sana biar hari Minggu bisa dateng."

"Gak bisa Nabila, kerjaanku banyak," jawab Arga. Nada suaranya terdengar penuh tekanan.

Tapi, Nabila tidak terlalu sadar dengan nada suara Arga saat berbicara. "Ayolah, Mas. Please. Usahakan ya? Cuma pas Aisyah tampil deh, nanti aku tanya sama gurunya Aisyah, Aisyah tampil di jam berapa biar kamu bisa datang di jam pas Aisyah tampil aja." Nabila memaksa.

"Ck! Gak bisa, kerjaan aku banyak banget."

"Ya tapi kasihan—"

"Kamu ini tuli atau bagaimana?" potong Arga hingga Nabila menghentikan ucapannya. "Aku bilang gak bisa ya gak bisa! Kerjaan aku banyak dan sedang ada masalah juga! Kenapa kamu gak paham-paham sama ucapanku! Otakmu itu dipakai atau tidak sih?! Gak paham sama bahasa manusia atau bagaimana? Orang lagi sibuk cari duit, kamu malah berisik! Kamu taunya hanya duit bulananmu yang lancar saja!"

Pip!

Panggilan berakhir sampai di sana, Arga menutup sambungan itu secara sepihak. Ponsel di tangan Nabila terlepas dan jatuh ke lantai, pandangannya menatap lurus.

Ini kali pertama ia mendengar suaminya yang berbicara dengan ketus dan kasar. Nabila lalu duduk di tepi ranjang, ia memejamkan mata hingga setetes air mata membasahi pipinya.

Ia juga membuang napas, berusaha menenangkan hatinya. "Sabar, dia lagi sibuk dan barusan aku terlalu bersikeras padahal dia pasti sedang pusing dengan pekerjaan," gumam Nabila berusaha menenangkan dirinya. "Aku harus mengerti, toh dia kerja juga untuk aku dan Aisyah.”

***

Beberapa hari kemudian.

"Assalamualaikum," salam Arga begitu masuk ke kamar.

Nabila yang sedang duduk di atas ranjang dengan mata melihat ke layar televisi itu sontak menoleh ke arah pintu. Melihat suaminya yang baru saja pulang.

"Waalaikumsalam," jawab Nabila, "Kamu sehat? Sudah makan atau belum? Mau aku siapkan makan?" tanya Nabila dengan nada yang pelan lembut padahal beberapa hari yang lalu, suaminya berbicara dengan nada yang keras dan penuh amarah.

"Tidak perlu, aku sudah makan di jalan tadi," jawab Arga. "Aku mau mandi dulu, gerah."

Nabila tak lagi menjawab, ia melihat punggung suaminya yang akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi.

Setelah 15 menit berlalu, Arga kembali, dia naik ke atas ranjang bersiap untuk tidur.

"Mas? Aku minta maaf ya," ucap Nabila membuka pembicaraan.

Arga yang berniat ingin memejamkan mata itu sontak mengurungkan niatnya.

"Maaf karena tidak bisa mengerti akan posisi kamu kemarin, maaf karena tidak menjadi istri yang pengertian."

Arga diam sejenak, selama beberapa detik dia melihat lurus seolah memikirkan sesuatu. Kemudian, ia menoleh, menatap Nabila yang duduk di sampingnya.

"Aku mau bicara serius dengan kamu."

"Hm? Bicara apa?" tanya Nabila dengan dahi yang mengernyit.

"Sebenarnya ... aku sudah mulai capek sama kamu."

Deg!

Dunia Nabila seolah runtuh detik itu juga. Dadanya tiba-tiba saja terasa sesak dan nyeri, tenggorokannya tercekat hingga rasanya ia sulit sekali untuk menelan ludahnya sendiri. Udara seolah sulit sekali untuk ia hirup. Mulutnya terkunci rapat, tidak tahu harus mengatakan apa.

Apa maksud ucapan suaminya itu?

Kenapa dia mengatakan seperti itu?

Arga kembali melanjutkan kata, "Jujur saja, selama ini aku jarang ada di rumah, jarang pulang, itu karena aku ... mulai tidak betah ada di rumah. Aku merasa tidak pulang ke rumah, aku merasa tidak nyaman ada di rumah."

"Ke–kenapa ... kenapa kamu ngomong kayak begini tiba-tiba?" tanya Nabila dengan nada suara yang gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca ingin menangis, namun sebisa mungkin dia tahan. Lalu, sesuatu langsung terlintas di pikirannya, ia menatap suaminya dengan serius. "Apa karena ... hasil USG?"

Arga diam sejenak, kemudian akhirnya menghela napas begitu panjang.

"Salah satu alasannya memang karena itu," jawab Arga. "Kamu tahu sendiri kalau sejak dulu, aku pengen banget punya anak laki-laki, tapi kamu gak bisa kasih itu ke aku. Aku sudah sangat berharap anak kedua kita laki-laki, tapi lagi-lagi kamu malah hamil anak perempuan. Jujur saja, aku kecewa!"

Nabila diam, tidak tahu harus mengatakan apa.

Bukankah perihal jenis kelamin bayi itu bukan kuasanya?

“Terus? Aku harus bagaimana? Itu kan diluar kendaliku, Mas.”

Arga lalu meraih telapak tangan Nabila, menggenggamnya dengan lembut. "Aku sudah punya solusi."

Dahi Nabila mengernyit. "Solusi?"

"Iya, solusi. Aku harap kamu bisa terima solusi dari aku ini kalau memang benar kamu sayang dan cinta sama aku."

"Maksud kamu apa? Jelas aku sayang sama kamu, kita hidup sama-sama udah lama banget loh, Mas. Ya masa aku gak sayang sama kamu. Apalagi kita susah senang sama-sama," ucap Nabila, "Bilang sama aku, solusi apa? Aku akan terima asal kamu bisa ngerasa nyaman lagi saat pulang dan keluarga kecil kita balik kayak dulu."

"Oke kalau begitu. Solusinya adalah ... aku yang menikah lagi."

Bersambung

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
14 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status