LOGINUngkapan dalam satu rumah tidak boleh ada lebih dari satu kepala keluarga sepertinya benar adanya. Seperti halnya yang dialami oleh Lova Eswari, wanita berusia dua puluh delapan tahun itu harus menelan kepahitan saat harus tinggal bersama mertua dan kedua iparnya. Tak ada kebebasan dalam mengurus rumah tangganya bersama Handaru Kesara. Lova menginginkan pisah rumah, namun Handaru tak dapat mewujudkannya atas nama bakti pada orang tua. Akankah Lova memilih menyerah dan pergi atau bertahan di rumah bak neraka itu meski hatinya dikorbankan berkali-kali?
View More"Apa katamu? Dua juta masih kurang buat sebulan?"
Suara Jayanti, ibu mertua Lova Eswari terdengar menggelegar memenuhi ruangan tengah. Lova menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata tajam dari wanita yang telah melahirkan suaminya itu. "Dua juta itu udah lebih dari cukup kalau kamu pintar mengaturnya, Lova. Zaman Ibu dulu, uang segitu bahkan bisa bersisa," lanjut Jayanti. "Tapi sekarang harga kebutuhan pokok udah naik semua, Bu. Bulan lalu waktu aku pakai uang segini, belum ada tiga minggu, bahan makanan udah habis. Aku bahkan gak punya sisa uang buat beli pembalut." Lova menelan ludah, menegakkan kepala lalu melanjutkan ucapannya, "Gaji Mas Ndaru kan puluhan juta, Bu. Kenapa jatah bulanan cuma disisakan segini? Ke mana sisa gaji yang lainnya?" Jayanti menghempaskan buku catatan keuangannya ke atas meja. Matanya melotot tajam menatap Lova, penuh murka. "Kurang ajar kamu ya, Lova! Berani-beraninya kamu mempertanyakan ke mana uang anakku pergi! Kamu meragukan Ibu yang pegang keuangan Ndaru?!" Heru yang sedari tadi hanya mendengar tak tahan untuk ikut berbicara. "Lova! Kamu itu baru setahun jadi istri Ndaru, jangan sok berkuasa dan mau menguasai semua gajinya!" "Pak, aku cuma minta transparansi—" "Transparansi apa?!" potong Jayanti. "Kamu harusnya senang karena tinggal terima bersih! Gak perlu pusing soal biaya lain-lain. Kamu pikir Ndaru kerja keras itu cuma buat kamu foya-foya? Kamu tahu berapa cicilan rumah ini tiap bulannya?! Berapa biaya les dan persiapan masuk kuliah Hani dan Hana?! Belum lagi biaya berobat Bapak!" Mata Lova mulai memanas, menahan lelehan air mata yang mendesak ingin keluar. "Tapi Bu, aku ini istrinya. Masa untuk kebutuhan dapur dan hidupku sendiri aja harus mengemis-ngemis kayak gini? Setiap aku mau beli apa-apa pakai uang itu, Ibu selalu sindir aku boros dan..." "Karena nyatanya kamu ini emang boros, Lova!" potong Jayanti lagi. "Harusnya kamu itu bersyukur! Tinggal di rumah ini gak usah bayar kontrakan, makan tinggal makan! Kalau kamu masih merasa kurang, ya kamu yang prihatin! Kurangi jajan-jajan gak penting! Jangan malah nuntut uang Ndaru terus!" "Betul kata ibumu, Lova," sahut Heru. "Yang prihatin!" Jayanti meraih kembali buku catatannya yang dilempar tadi. "Pokoknya tugasmu cuma kelola uang dua juta itu sampai akhir bulan. Titik!" Jayanti berbalik dan melangkah pergi, sementara Heru kini meraih remote dan menyalakan TV, mengacuhkan Lova. Lova terpaku di tempatnya berdiri. Tangannya masih meremas amplop berisi uang. Dadanya bergemuruh oleh rasa malu, marah, dan keputusasaan. Di rumah ini, Lova tak punya hak untuk protes sebagai seorang istri. Setiap bulannya, ia akan diberi bulanan sebesar dua juta rupiah yang mana uang itu harus cukup untuk belanja kebutuhan dapur, bayar listrik, dan lain-lain. Berbekal uang bulanan itu, Lova harus segera pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur. Tak ada waktu untuk bersedih hati karena waktu terus berputar dan ia masih harus memasak makan malam untuk keluarga suaminya nanti. Selesai berbelanja, Lova meletakkan bahan-bahan dapur tadi ke atas counter, lalu memeriksa semua nota pembelian. Sialnya, firasat Lova benar. Semua kebutuhan tadi hanya menyisakan dua ratus ribu di dompetnya, sama seperti bulan-bulan sebelumnya. Lova pun terduduk di kursi. Ia merogoh saku gamisnya dan mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah retak di sudut atas. Sebuah notifikasi kalender masih tertera di layarnya: Anniversary Pernikahan ke-1. Lova menatap tulisan itu dengan pandangan hampa. Satu tahun sudah ia menikah dengan lelaki pilihannya. Lelaki yang ia kira dapat membawanya pada kehidupan yang lebih baik, namun nyatanya bertolak belakang seratus delapan puluh derajat. Kemudian ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya. Tabungan pribadinya habis tak bersisa karena seringnya untuk menambal kekurangan uang belanja bulanan yang dikontrol oleh mertuanya. Dan kini, ia tak tahu lagi bagaimana menghadapi akhir bulan nanti. Lova tersenyum pahit dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Jangankan untuk merayakan anniversary, untuk membeli kebutuhan pribadinya pun uang ini tak akan pernah cukup. Selesai memasak untuk makan malam, Lova bergegas masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran air shower, ia membiarkan rasa lelah meluruh sejenak. Saat keluar dari kamar mandi, pintu kamar terbuka. Handaru melangkah masuk dengan kemeja kantor yang sudah kusut. Mata Lova berbinar. Melihat suaminya pulang seketika menerbitkan kembali secercah harapan di hati Lova. Tanpa sadar, ia tersenyum, teringat akan anniversary pernikahan mereka. Mungkinkah Handaru sengaja pulang sedikit lebih awal untuk memberinya kejutan kecil? "Mas udah pulang..." Lova melangkah mendekat untuk menyambut dan mengambil tas kerja suaminya. "Tadi siang... kamu bertengkar sama Bapak dan Ibu lagi?" Senyum Lova memudar seketika. Tangan yang hendak meraih tas kerja Ndaru membeku di udara. Harapan manis yang baru saja membumbung langsung hancur dalam satu detik. "Mas... tahu dari mana?”Malam harinya di meja makan, si kembar Hana dan Hani yang baru saja duduk di kursi langsung mendengkus begitu melihat lauk pauk yang disajikan Lova."Lho kok lauknya cuma segini sih?!" protes Hana saat menarik piring berisi ayam goreng mendekat ke arahnya. "Mbak Lova! Ini ayamnya kok cuma ada enam?! Biasanya kan masak delapan!"Hani ikut menimpali dengan jengkel, "Iya! Aku sama Hana kan biasa makan masing-masing dua! Kalau cuma enam gini, Ntar Ibu gak kebagian dong?! Kenapa pelit banget sih goreng lauk?!"Handaru yang baru saja duduk di samping Lova mengernyitkan kening. "Hana, Hani, bersyukur dong. Ada rezeki dimakan aja, jangan teriak-teriak kayak gitu.""Bukannya nggak bersyukur, Mas!" cerocos Hani, matanya melirik tajam pada Lova yang sedang mengambilkan nasi untuk Handaru. "Tiap hari kita ini capek sekolah sama les, butuh asupan gizi banyak! Biasanya Mbak Lova masakinnya melimpah, kok makin ke sini makin kayak orang susah?!"Jayanti yang baru keluar da
"Nika! Arunika! Tunggu dulu, Nak!" Jayanti terus memanggil dengan panik, mencoba mengejar Arunika hingga ke ambang pintu, namun sepeda motor Arunika sudah terdengar dinyalakan dan menderu pergi meninggalkan halaman.Setelahnya Jayanti berbalik, menatap Lova dengan sorot mata membunuh. "Lova!" jeritnya dengan suara melengking. "Kamu... kamu benar-benar menantu kurang ajar! Gak berpendidikan! Berani-beraninya kamu mempermalukan tamu?! Kamu usir Arunika secara halus, iya, Kan?!"Handaru yang berada di antara keduanya langsung mengusap wajahnya yang lelah, mencoba menengahi. "Bu... tolong pelankan suaranya, kasihan Bapak di dalam lagi istirahat.""Gak usah bawa-bawa Bapakmu, Ndaru!" bentak Jayanti, matanya yang melotot tak beralih dari muka Lova. "Lihat istrimu ini! Makin hari makin tuman! Ibu diamkan makin melunjak! Kamu dengar sendiri kan gimana dia menyindir Arunika tadi?! Dia nuduh Ibu yang enggak-enggak, seolah-olah Ibu ini wanita jahat yang mau merusak r
Sesampainya di depan gerbang, langkah Lova terhenti saat matanya tak sengaja tertuju pada sepeda motor asing berwarna abu-abu yang terparkir di samping mobil Handaru. Kening Lova berkerut, mendadak ia merasakan firasat yang tak enak.Lova mendorong pintu depan yang ternyata tidak terkunci. Begitu masuk ke ruang tamu, pemandangan di hadapannya seketika membuat dadanya berdenyut.Di sofa, Handaru duduk di sana. Pria itu baru saja kembali dari luar kota, masih mengenakan kemeja kerjanya. Namun, bukan itu yang mengejutkan Lova.Tepat di samping meja, berdiri Arunika yang sedang merapikan tas medisnya."Nah, gitu dong, Nika." Suara Jayanti bergema. "Kalau ada apa-apa sama kaki Bapak, Tante emang cuma bisa percaya sama kamu. Perawatanmu itu telaten banget."Handaru tersenyum tipis. "Makasih banyak ya, Nika. Udah mau repot-repot datang dua hari berturut-turut buat meriksa Bapak. Maaf jadi mengganggu waktumu.""Sama sekali nggak mengganggu kok, Mas Ndaru," sahut Arunika. "Sudah kewajiba
Lova meremas jemarinya di bawah meja kafe. Di hadapannya, secangkir kopi yang sudah mendingin dibiarkan begitu saja. Setelah ia memergoki kebohongan sang mertua semalam, Lova memutuskan untuk segera menemui Liana, kakak kandungnya.Liana adalah satu-satunya keluarga yang menjadi harapan tempat ia menyandarkan beban tanpa harus membuat sang Ibu tahu.Lova baru saja selesai menumpahkan seluruh kepahitannya. Tentang jatah bulanan yang dipangkas oleh Jayanti, kehadiran Arunika, hingga Handaru yang selalu bersembunyi di balik ketiak ibunya.Namun, Liana justru menyeruput minumannya dengan tenang, lalu menatap Lova dengan datar."Jadi hanya perkara ini kamu ngajak Mbak ke sini, Va?"Pertanyaan itu membuat kening Lova seketika mengernyit. "Mbak, masalahku ini gak sepele loh. Aku diintimidasi tiap hari. Hakku dicuri, harga diriku diinjak-injak, dan Mas Ndaru cuma diam membiarkan!"Liana menghela napas panjang, melipat kedua tangannya di atas meja sembari memajukan tubuhnya."Dengar ya,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.