All's Fair in love and hate

All's Fair in love and hate

last updateLast Updated : 2023-05-31
By:  Stella NjorogeCompleted
Language: English
goodnovel16goodnovel
9.3
0 ratings. 0 reviews
77Chapters
4.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Lydia and Cornelius have never seen eye to eye but what happens when a case of fake dating brings them together?

View More

Chapter 1

Chapter I

Pesan-pesan bernada mengejek dari selingkuhan suamiku mulai berdatangan dua bulan lalu.

Foto-foto mereka yang saling berbelit di ranjang, detail-detail vulgar tentang obsesinya pada tubuh perempuan itu … kebenaran brutal tentang perselingkuhan mereka terpampang tanpa sisa.

Aku tidak memergokinya. Diam-diam aku mengatur identitas baru dan menetapkan tenggat untuk diriku sendiri, yaitu tujuh hari.

Di sebuah gudang terbengkalai di sisi barat Kota Segara, sebuah bohlam tunggal yang berkedip memancarkan cahaya kuning pucat yang lemah.

Aku mendorong setumpuk uang tunai tebal ke seberang meja, ke arah pria bertopi datar itu.

"Aku butuh identitas baru." Suaraku bergema di ruang yang luas dan kosong. "Buat namanya Eva."

Pria itu mengambil uangnya, mengipasi lembaran-lembaran itu dengan ibu jari yang sudah terlatih. Desir uang terdengar sangat jelas di tengah keheningan.

"Paspor, SIM, lengkap?"

"Lengkap." Aku mengangguk, jari-jariku mencengkeram tas kulit di pangkuanku. "Dan rekening bank dengan riwayat kredit."

"Harganya dua kali lipat." Dia mendongak, gigi emasnya berkilat samar di bawah cahaya redup.

Aku tak ragu sedikit pun. Keluarkan lagi satu gepok uang.

Pria itu menyelipkan uang tunai ke dalam jaketnya, lalu condong ke depan, menurunkan suaranya.

"Satu minggu. Tapi perlu aku peringatkan, Nona. Begitu kamu menggunakan identitas baru ini, masa lalu harus mati dan terkubur. Keluarga Dharmawangsa punya mata dan telinga di seluruh negeri ini. Tinggalkan satu jejak saja, mereka pasti akan menemukanmu."

Aku berdiri, suara hak sepatuku berketuk tajam di lantai beton. "Aku mengerti."

Tekadku sekeras baja.

Dua puluh menit kemudian, aku terbaring di atas sebuah meja di studio tato pribadi.

Sengatan tajam dari mesin penghapus laser menjadi kontras dengan nyeri tumpul di dadaku saat lambang elang milik Keluarga Dharmawangsa perlahan menghilang dari tulang selangkaku. Rasa sakitnya teramat menyiksa, seperti besi panas yang berulang kali membakar kulitku.

Namun, aku mengatupkan rahang dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Aku hanya merasakan lima tahun kenangan cintaku pada Reynald terbakar habis, sama seperti tinta itu.

Pukul sebelas malam ketika aku kembali ke rumah besar kami di Taman Arkanta, vila bergaya Victoria senilai 120 miliar, hadiah pernikahan Reynald untukku, kini terasa tak lebih dari sebuah sangkar emas.

Aku menyalakan televisi. Tayangan ulang wawancara "Pria Terbaik" dari Segara Tribune Global sedang diputar.

Suamiku, Reynald Dharmawangsa, tampil di layar televisi. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, tak sehelai pun keluar dari tempatnya. Mata cokelat tuanya dipenuhi aura wibawa yang seakan melekat sejak lahir, menatap langsung ke kamera.

Sang reporter bertanya apa arti kesetiaan baginya. Reynald perlahan membuka kancing teratas kemejanya, memperlihatkan lambang keluarga di dadanya, seekor elang dengan sayap mengembang, cakar mencengkeram sekuntum mawar dan sebilah belati.

"Kesetiaan itu seperti ini," katanya, suaranya rendah dan magnetis, seraya menunjuk tinta di atas jantungnya. "Dan ini."

Kamera melakukan zoom, dan aku melihatnya dengan jelas. Tato biola yang rapuh tepat di bawah lambang itu yang dia buat lima tahun lalu untukku.

"Istriku, Alyssa, adalah seorang musisi berbakat," ujar Reynald. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya sambil mengangkat tangan yang mengenakan cincin kawin platinum. "Dia mengorbankan mimpinya untuk menjadi pemain biola kelas dunia demi aku. Pengorbanan itu terpatri di hatiku. Takkan pernah bisa dihapus."

Aku meraih ke atas dan menyentuh perban kasa di tulang selangkaku, kulit di sana masih terasa nyeri.

Takkan pernah dihapus?

Ingatan tentang foto itu menghantamku keras.

Dua bulan lalu. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

Ponselku bergetar, dan sebuah foto muncul.

Duniaku sontak runtuh.

Di dalam foto itu, seorang bartender berambut cokelat terang bernama Jenny terkulai telanjang di dalam pelukan Reynald.

Tubuhnya menjadi kanvas penuh cupang yang masih baru dan bekas-bekas mentah dari gairah mereka. Jelas mereka baru saja selesai bercinta.

Jarinya yang panjang dan ramping menunjuk dengan bangga ke dada Reynald, di mana, di samping biolaku, sebuah desain baru yang kasar telah dicoret dengan spidol.

Namanya, "Jenny," tertulis dengan tulisan sambung yang berantakan.

Itu hanyalah spidol, sesuatu yang bisa dicuci dan dihapus, tetapi kenyataan bahwa Reynald membiarkannya melakukan itu adalah sebuah pengkhianatan yang jauh lebih tajam daripada bilah pisau mana pun.

Belasan foto lainnya menyusul.

Foto mereka di rumah liburan kami. Di restoran favorit kami. Bahkan di hari ulang tahunku saat aku mengira dia sedang mengurus urusan keluarga, ternyata dia sedang menekan wanita lain ke dinding ruang kerjanya.

"Reynald bilang, satu-satunya hal yang membuatnya masih merasa seperti lelaki adalah saat berada di dalam diriku. Kamu bahkan sudah tidak bisa membuatnya terangsang lagi, 'kan, Alyssa? Mungkin sudah waktunya kamu menyingkir."

Suara kunci yang diputar di lubang kunci menarikku kembali ke kenyataan.

Reynald sudah pulang.

Langkah kakinya menggema di lantai marmer, makin mendekat. Aku mencium bau itu di tubuhnya, parfum murahan. Bukan Tom Ford yang pernah kubelikan untuknya, melainkan aroma manis menyengat, terlalu berbunga hingga membuat mual. Bau perempuan lain bercampur dengan asap rokok dan vodka.

Kemeja putihnya sedikit kusut, dasinya longgar. Ada bekas gigitan yang tak mungkin salah di lehernya.

"Alyssa? Kamu belum tidur?" Dia melangkah ke arahku, siap memelukku seperti yang selalu dia lakukan.

Gelombang rasa muak menyergapku. Aku mengangkat tangan, menghentikannya.

Reynald tampak bingung. Lalu pandangannya jatuh ke tulang selangkaku, ke perban kasa putih yang menutupi tempat lambang Keluarga Dharmawangsa dulu berada.

"Alyssa." Suaranya merendah, berubah rendah dan berbahaya. "Apa yang terjadi dengan tatomu?"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
77 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status