LOGIN"You shouldn't have kissed me," I whispered, heart racing. "But why did it feel like home?" Stanley had spent his whole life running from fate—rejecting mates, hiding his scars, and burying the wolf inside him. Until Joshua, a Alpha pretending to be a human with soft eyes and a voice like calm after a storm, crashed into his world. There was no bond. No mark. No reason. Yet, one kiss under the pulsing lights of the club shattered everything he thought he knew about destiny. Suddenly, the lines between wolf and man, strength and softness, began to blur. Now, hunted by his own kind and torn between instinct and emotion, Stanley must choose: reject what his heart wants… or rewrite what the moon once decided. A story of forbidden love, soul-deep longing, and the kiss that changed everything.
View MoreLangit di atas Kekaisaran Shu tampak mendung, seolah-olah awan sendiri tahu bahwa kedamaian yang sedang dirayakan di aula utama adalah sebuah kebohongan besar. Di sudut paling terpencil dari istana yang megah itu, berdiri sebuah bangunan tua yang nyaris runtuh yang dikenal sebagai Paviliun Teratai Layu. Di sanalah seorang wanita bernama Shu Mei menghabiskan seluruh hidupnya. Jauh dari pesta pora, jauh dari kasih sayang, dan jauh dari pandangan dunia.
Shu Mei berdiri mematung di tengah ruangan yang remang-remang. Rambutnya yang hitam legam mengalir lurus hingga ke pinggang, berkilau seperti sutra terbaik meskipun ia hanya menggunakan minyak kelapa sederhana untuk merawatnya. Wajahnya yang berbentuk hati memiliki kecantikan yang murni, mata yang jernih seperti air telaga dan bibir ranum yang jarang tersenyum. Namun, kecantikan itu kini terkubur di bawah lapisan kain sutra merah yang berat dan sulaman emas yang rumit. Ia menatap pantulan dirinya di cermin perunggu yang mulai berkarat. Di sana, seorang pengantin tampak berdiri dengan gagah, namun Mei merasa seperti seekor domba yang sedang dihias sebelum disembelih di atas altar. "Indah sekali," sebuah suara berat dan dingin memecah keheningan. Mei tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Ia melihat pantulan ayahnya, Kaisar Shu, berdiri di ambang pintu. Pria itu tidak pernah menginjakkan kaki di paviliun ini selama sepuluh tahun, sejak pemakaman ibunda Mei, seorang selir rendah yang mati dalam kesepian. "Gaun itu seharusnya milik kakakmu, Lian," ucap Kaisar sembari melangkah masuk, suaranya tidak mengandung penyesalan sedikit pun. "Tapi sekarang, kau harus memastikan dunia percaya bahwa kau adalah dia." Mei mengepalkan tangannya di balik lengan baju yang lebar. "Mengapa harus aku, Yang Mulia? Mengapa bukan salah satu putri sah anda yang lain? Lian melarikan diri karena dia takut pada Jenderal Long Yuan. Dia takut mati. Lalu, apakah hidupku begitu tidak berharga hingga anda melemparkanku ke sarang harimau tanpa kedip?" Kaisar mendengus, matanya menatap Mei dengan tatapan menghina. "Hidupmu adalah milik Kekaisaran ini sejak kau dilahirkan. Kau adalah putriku hanya dalam nama. Selama ini kau hanya memakan nasi istana tanpa memberikan kontribusi apa pun. Inilah saatnya kau membalas budi." "Membalas budi?" Mei tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Anda tidak pernah menganggapku sebagai putri. Anda membiarkanku kelaparan di paviliun ini, membiarkan para pelayan menindasku, dan sekarang saat Kekaisaran Jin menuntut janji, anda mengingat bahwa anda memiliki seorang cadangan. Ini bukan pengabdian, Yang Mulia. Ini adalah pengkhianatan terhadap darah anda sendiri." Wajah Kaisar Shu memerah karena marah. Ia melangkah maju dan mencengkeram rahang Mei dengan kasar, memaksanya menatap mata tua yang penuh ambisi itu. "Dengarkan aku baik-baik, Mei," desisnya. "Long Yuan bukan pria yang bisa kau ajak bicara. Dia adalah iblis yang berjalan di muka bumi. Jika dia tahu bahwa Shu telah menipunya, dia tidak hanya akan memenggal kepalamu, tapi dia akan meratakan seluruh istana ini. Dan jika kau berani membuka mulutmu atau mencoba melarikan diri seperti Lian..." Kaisar memberi isyarat ke arah pintu. Dua prajurit masuk sambil menyeret seorang wanita tua yang terisak. Pelayan Lin, satu-satunya orang yang merawat Mei sejak kecil. Sebuah pedang dingin ditempelkan ke leher wanita tua itu. "Lin..." Mei berbisik, matanya mulai berkaca-kaca. "Satu kata yang salah keluar dari mulutmu, atau satu gerakan yang mencurigakan di hadapan Long Yuan, maka kepala pelayan tua ini akan jatuh ke tanah sebelum kau sempat bernapas," ancam Kaisar. "Pilihlah. Menjadi Permaisuri Jin yang terhormat, atau menjadi alasan mengapa pengasuhmu mati bersimbah darah." Mei merasakan dadanya sesak, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah habis. Ia menatap Pelayan Lin yang menggelengkan kepala, memohon agar Mei tidak memikirkannya. Namun, bagi Mei, Lin adalah satu-satunya alasan ia masih bertahan hidup di istana yang dingin ini. Dengan perlahan, Mei melepaskan diri dari cengkeraman ayahnya. Ia berdiri tegak, membiarkan martabat yang selama ini ia simpan di balik kemiskinan terpancar keluar. "Baiklah," kata Mei dengan nada datar, suaranya kini terdengar seperti es yang membeku. "Aku akan pergi. Aku akan menjadi persembahan bagi Jenderal haus darah itu. Tapi ingatlah ini, Yang Mulia... mulai saat ini, aku bukan lagi putri dari Kekaisaran Shu. Jika suatu saat aku kembali, itu bukan sebagai anakmu, melainkan sebagai badai yang akan menghancurkan segalanya." Kaisar hanya tertawa meremehkan, menganggap ucapan Mei hanyalah gertakan seorang gadis lemah. "Pakai cadarmu. Kereta sudah menunggu. Jangan biarkan ada setetes air mata pun yang merusak riasan wajahmu. Di mata dunia, kau adalah Shu Lian, mutiara dari Shu." Setelah Kaisar pergi, Mei kembali menatap cermin. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengambil cadar kain sutra merah transparan yang dihiasi butiran permata kecil. Ia memakainya, menutupi wajah cantiknya yang kini pucat pasi. Di balik cadar itu, ia bukan lagi Shu Mei yang tidak terlihat. Ia adalah seorang pengantin pengganti yang memikul beban kematian. Ia tahu, di perbatasan sana, Long Yuan menunggunya dengan pedang terhunus. Dan ia juga tahu, ia harus belajar untuk mencintai kegelapan jika ia ingin bertahan hidup di antara para serigala. Mei melangkah keluar paviliun untuk terakhir kalinya. Gaun merahnya menyapu lantai kayu yang berdebu, seolah-olah menyeret semua kenangan pahit masa kecilnya menuju masa depan yang penuh darah. Ia tersenyum pahit, "Tumbal..." gumamnya pelan. "Aku hanya wanita yang di tumbalkan bagi Kekaisaran Shu." **semoga kalian suka dgn cerita baruku ya.. jangan sungkan untuk meninggalkan komentar, karena author selalu menunggu komen-komen dari kalian huhu. jangan lupa tinggalkan riview nya juga ya** selamat membaca~~Stanley POV They wanted me to be who I never wanted to be. They wanted me to rule a pack and hide under the shadows of being straight. My sexuality is my pride, and that's who I am, and no one could change it, not even my father or my mother. I shall rule this pack as a gay alpha and stand for what belongs to me Being gay isn't a limitation to success, and I must prove that to them. "Oh God, I wish this would end finally," I screamed out the words as if someone was standing right there with me. I hated the fact that no one was accepting me for my sexuality. I hated the fact that things were going upside down from what I'd always planned when I was little. I stood up, paced the room back and forth, letting my thoughts collide with everything that is happening. Now, I wanted a free space. I wanted a space where I would enjoy a breath. I wanted a space where I could see other Queer people being happy and being who they are, not what someone else wanted them to be. I walke
Stanley POVMy father’s eyes locked on me, calm yet sharp—like daggers hidden in the silence. His expression faltered, going pale for a fleeting second. Something flickered in his gaze, something he didn’t want me to see. Fear? Shame? Regret? I couldn’t tell.It was as if the weight of his words clawed at his throat before he forced them out.“Son…” He paused, drawing in a sharp breath, the kind that stung with restraint. “At least make me proud. At least don’t let the pack mock me.”His voice wasn’t stern this time. It wasn’t the voice of the Alpha everyone feared. It was soft. Pleading. Almost broken. I had never heard my father sound like that before.And for a moment, just one brief moment, pity burned in my chest.But then it turned bitter.This was the same man who rejected me. The same father who spat on my truth, who tried to strangle it out of me. He couldn’t bear the thought that his son desired men, not women. That I longed for the strength of another man at my side, not th
Joshua POV“He must be a wolf also,” Ivatar said again, sipping her tea slowly, eyes never leaving mine.I paced the floor of her small living room, my fists clenched. My wolf was restless. The bond had stirred something deep, something raw.Ivatar raised a brow. “You’re growling. That’s not like you.”I stopped pacing and looked at her. “Because it’s not me anymore, Iv. He saw me. Felt me. He’s not just another man in the crowd.”She leaned back, the cup clinking softly as she placed it down. “You mean Stanley?”I nodded stiffly.“The same Stanley you met at the bar?”I swallowed hard. “Don’t start.”Ivatar stood now, arms folded. “No, Joshua. I will start. You hid your feelings for him. You lived like a shadow when he was closer to you. Now you’re telling me he’s gone, and he felt it too?”“I saw it in his eyes,” I snapped. “The same confusion. The same damn pain. It was there—just for a second—but it was real. Don’t you dare tell me it wasn’t!”Ivatar stepped closer, her voice gent
Stanley's POVI walked down the hill, trying to stay hidden—from my pack, from the outside world, and maybe even from myself.My wolf growled inside me. Loud. Angry. The pain was deep, sharp, like claws dragging across my soul.I clenched my jaw to stop the sound from coming out, but it was too much.I almost roared.Beside me, Frank’s eyes locked on mine. Worry clouded his face.“What’s happening to you?” he asked, voice soft but full of concern.I bent over, gripping my stomach as the pain twisted through me again. It was unlike anything I’d ever felt before. A burning in my chest. My bones trembled.“I—I don’t know,” I whispered through clenched teeth.This had never happened to me. Not like this. It was new. Scary.The pain hit my spine like lightning, and this time, I couldn’t hold back.I screamed.Then, I heard him.Killian—my wolf.His voice echoed from within me.“Mate bond can’t be shattered or broken. Distance is a barrier. And lack of communication… it only makes it worse.












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews