로그인"Apaixonado pela Babá das Minhas Sobrinhas" Rafael Hawthorne é um homem marcado pela dor. Após a morte trágica do irmão há seis anos, o empresário bem-sucedido ergueu muralhas ao redor de seu coração, vivendo apenas por dois propósitos: o trabalho e cuidar das gêmeas Melissa e Beatriz , suas sobrinhas de 6 anos, a única herança afetiva que lhe restou. Friamente calculista, ele acredita que sentimentos são um risco — até o dia em que uma desconhecida de olhos azuis como o mar o hipnotiza, fazendo seu mundo parar por um instante. O destino, porém, prega uma surpresa. Ao entrevistar candidatas para a vaga de babá das gêmeas, Rafael se depara com Flávia Carter: a mesma mulher que o deixou sem ar semanas antes. Jovem, loira e com uma doçura que contrasta com sua determinação, ela conquista não apenas as pequenas gêmeas, mas começa a desafiar cada uma das regras que Rafael impôs a si mesmo. Enquanto Flávia traz luz e risos à casa sombria do empresário, Rafael se vê dividido entre o medo de reviver a dor do passado e um desejo avassalador que não consegue controlar. Aos poucos, gestos sutis — um toque casual, um sorriso que dura segundos a mais, a cumplicidade das gêmeas — fazem sua armadura rachar. Mas Flávia guarda seus próprios segredos: ela não está disposta a ser mais uma "distração temporária" para um homem que insiste em viver nas sombras. Rafael precisará escolher entre a segurança de seu isolamento ou entregar-se a um amor proibido, enquanto Flávia questiona até onde conseguirá fugir desse sentimento. Será que o amor de Melissa e Beatriz pela nova babá — e a conexão que Rafael jurou evitar — serão suficientes para curar cicatrizes antigas? Ou o medo de perder tudo de novo condenará Rafael a uma vida de solidão?
더 보기Lampu kristal di aula Grand Gold Hotel itu bersinar terang, namun suasana di ruang rias pengantin terasa sedingin es. Zavian Nathaniel berdiri dengan tangan di saku celana kain mahalnya. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras menatap sepasang suami istri di depannya.
"Dua jam lagi acara dimulai, dan putri kalian menghilang?" suara Zavian rendah, namun penuh penekanan yang mengancam.
"Kami benar-benar minta maaf, Tuan Zavian. Kami sudah mencoba menghubungi Selena, tapi ponselnya mati," ucap Nino, ayah Selena dengan suara gemetar.
Zavian terkekeh sinis. "Maaf tidak akan membayar kerugian saya. Gedung ini, katering, dekorasi, hingga tamu-tamu kolega bisnis saya yang akan datang, nilainya miliaran rupiah. Nama keluarga Nathaniel tidak boleh jadi bahan tertawaan karena pengantin wanitanya kabur!"
Nura, ibu Selena, meremas sapu tangannya hingga kuku jarinya memutih. Ia menatap ke arah pintu, lalu beralih ke suaminya. Ketakutan akan utang dan tuntutan hukum membuat otaknya berputar cepat.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang gadis dengan kaos lusuh dan celana jeans masuk membawa beberapa kotak suvenir. Ia adalah Naya, keponakan Nura yang selama ini membantu persiapan pernikahan.
"Bibi, ini suvenir tambahannya sudah datang," ujar Naya polos.
Vinie menatap Naya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sebuah ide gila muncul di kepalanya. Ia langsung menghampiri Naya dan mencengkeram lengannya kuat-kuat.
"Naya, kamu harus bantu Bibi," bisik Vinie tajam.
"Bantu apa, Bi? Ini suvenirnya sudah Naya taruh di ..."
"Gantikan Selena. Pakai gaunnya sekarang!"
Mata Alice terbelalak. Ia tertawa canggung, mengira itu hanya lelucon stres. "Bibi bercanda, ya? Aku bukan Selena. Aku bahkan belum lulus pendaftaran ulang kuliah, Bi."
"Tidak ada waktu untuk kuliah!" potong Nura ketus. Ia menoleh pada Zavian. "Tuan Zavian. Ini Alice, eponakan saya. Dia masih muda, cantik, dan dia akan menggantikan Selena hari ini. Pernikahan tetap berjalan."
Zavian menyipitkan mata, menilai penampilan Naya. "Siapa saja, asal ada wanita di samping putraku di pelaminan nanti. Tapi ingat, jika ada masalah lagi, saya tidak akan segan menghancurkan kalian semua." Zavian keluar dari ruangan, membanting pintu dengan keras.
Naya mundur beberapa langkah, jantungnya berdegup kencang. "Tidak, Bi! Aku tidak mau! Aku sudah dapat beasiswa di Universitas Harvard. Minggu depan aku harus mulai orientasi. Aku Tidak kenal siapa itu Evander!"
"Naya, dengar!" Nura memegang kedua bahu Naya dengan kasar. "Selena kabur entah ke mana. Kalau kamu tidak mau melakukan ini, keluarga kita akan menanggung semuanya. Kami harus membayar miliaran ke keluarga Nathaniel. Dari mana kami punya uang sebanyak itu? Kamu mau lihat Bibi dan Paman masuk penjara?"
"Tapi ini hidupku, Bi! Kenapa aku yang harus tanggung jawab atas kesalahan Kak Selena?" air mata Alice mulai menggenang.
"Karena kamu berutang budi pada kami!" bentak Nura. "Siapa yang membiayai sekolahmu setelah orang tuamu meninggal? Kami! Sekarang saatnya kamu membalas semuanya. Pakai gaunnya, atau kamu keluar dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun dan jangan harap bisa kuliah!"
Naya terdiam. Dunia seolah runtuh di bawah kakinya. Cita-citanya untuk menjadi arsitek, beasiswa yang ia perjuangkan dengan belajar sampai pagi, semuanya terasa menguap begitu saja.
Dua orang penata rias masuk secara paksa dan langsung mendudukkan Naya di kursi. Mereka mulai memoleskan makeup ke wajahnya yang pucat. Sementara, Naya terus berada di sana untuk memastikan bahwa Alice tidak kabur.
Naya hanya bisa menatap pantulan dirinya di cermin dengan pandangan kosong. 'Tidak! Ini mimpi buruk. Tiba-tiba saja hari ini aku menikah dengan seorang yang aku tidak kenal sama sekali,' batinnya.
Nura mendekati keponakannya, dia melihat Naya dari cermin, lalu sedikit membungkuk. "Alice ingat. Kamu harus menampilkan wajah bahagia di pelaminan nanti, jangan murung seperti ini."
Setelah mengatakan kalimat itu, Nura pergi dari ruangan tersebut. Dan Naya hanya bisa mendengkus kecil meratapi nasibnya.
*****
Satu jam kemudian, Naya sudah terbalut gaun pengantin berwarna putih yang sangat indah. Namun, bagi Naya, gaun itu terasa seperti baju tahanan. Cadar tipis menutupi sebagian wajahnya.
Pintu kamar terbuka. Seorang pria dengan setelan tuksedo hitam masuk. Dia tinggi, bahunya lebar, dan wajahnya sangat tampan namun datar tanpa ekspresi. Itulah Evander Nathaniel.
Evan menatap Naya melalui cermin. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Alice. Aroma parfum maskulin yang kuat menusuk indra penciuman Naya
"Jadi, kau penggantinya?" suara Evan terdengar dingin, tanpa ada nada kasih sayang sedikit pun.
Naya memberanikan diri menatap mata pria itu melalui cermin. "Aku dipaksa. Aku tidak menginginkan ini."
Evan tersenyum miring, sebuah senyum meremehkan. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Naya yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.
"Sama. Aku juga tidak peduli siapa yang berdiri di sana. Tapi jangan harap kehidupan pernikahan ini akan menjadi dongeng indah untukmu."
Naya meremas tangannya yang gemetar di balik gaun indahnya. "Aku hanya ingin melanjutkan pendidikanku. Setelah ini selesai, aku akan pergi."
Evan berdiri tegak kembali, memperbaiki letak dasinya dengan santai. Ia menatap pintu keluar, seolah-olah pernikahan ini hanyalah sebuah rapat bisnis yang membosankan.
"Pergi?" Evan menatap Naya agi, kali ini dengan tatapan yang lebih tajam dan mengintimidasi.
Ia membungkuk, mengapit kedua pipi Naya hingga bibir Alice mengerucut. Tatapannya tajam tertuju pada mata Naya. "Dengar, gadis kecil. Begitu kau mengucap janji di depan pendeta, kau bukan lagi milik dirimu sendiri. Kau adalah aset keluarga Nathaniel."
Naya menggeleng pelan. "Aku bukan barang. Aku punya janji dengan kampus. Aku akan tetap kuliah meski aku menikah denganmu."
Evan mengalihkan tangannya dari pipi Naya dengan kasar, hingga sang empunya tersentak. Ia berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak dan menoleh ke arah Alice dengan tatapan yang sangat dingin.
"Kamu pikir aku akan membiarkan istriku keluyuran di kampus seperti orang biasa?"
Naya berdiri dari kursinya, suaranya bergetar namun tegas. "Itu syaratku. Aku akan menggantikan Selena, asal kau tidak melarangku kuliah!"
Evan terdiam sejenak, lalu ia melangkah kembali mendekati Naya hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Ia menarik cadar Naya sedikit ke atas, menatap langsung ke dalam mata gadis itu yang penuh ketakutan sekaligus keberanian.
"Kamu ingin tawar-menawar denganku di hari pernikahan kita?" tanya Evan dengan nada rendah yang berbahaya.
"Iya," jawab Naya nekat.
Evan meraih dagu Naya, memaksanya untuk terus menatapnya. Senyum tipis yang sulit diartikan muncul di bibirnya.
"Baik. Kau boleh kuliah, tapi ada satu syarat dariku yang tidak bisa kau tolak."
Naya menelan salivanya. "Apa syaratnya?"
Evan mendekatkan wajahnya ke wajah Naya hingga napas mereka bersentuhan. "Mulai malam ini, jangan pernah bermimpi untuk bisa keluar dari kamar pengantin kita sebelum aku mengizinkannya."
(Narrado por Rafael) O silêncio finalmente retornou ao quarto quando o último visitante partiu. O bebê – nosso bebê – dormia profundamente nos meu colo, seus lábios minúsculos sugando levemente no sonho. Flávia, exausta mas radiante, esticou o braço para ajustar o cobertorzinho azul do berçário quando algo chamou sua atenção. — Olha só — murmurou, puxando minha mão. Inclinei-me sobre o berço. Escrito em letras tortas com adesivos coloridos, claramente obra de Bia, lia-se: "DRAGÕES TAMBÉM PODEM SER PAIS" Um rugido de riso abafado escapou-me antes que eu pudesse conter. — Parece que definitivamente fui promovido de monstro a dragão — comentei, cuidadosamente depositando nosso filho no berço. Ele resmungou, afundando no colchão macio como um pequeno rei em seu trono. Flávia soltou uma risada cansada, afundando nos travesseiros também. Seus olhos pesados fechavam-se contra sua vontade, mas seu sorriso permanecia. — Devemos impor limites a esses bagunceiros? — perguntei, deit
(Narrado por Rafael) Dois meses depois, Flávia já havia completado 8 meses de gravidez O berço já estava montado no quarto ao lado do das gêmeas, pintado de azul-celeste por Bia: "Porque os bebês gostam de cores felizes!*" e decorado com adesivos de planetas por Mel "Estimulação visual pré-natal é essencial, eu vi no YouTube" Mariana, agora parte da casa, provara ser tão resistente quanto esperado – sobrevivendo a uma "festa do pijama" das gêmeas que incluíra tinta glitter e um experimento de vulcão de bicarbonato no meio da sala. E Flávia? Minha esposa desfilava pela casa com seu vestido de grávida favorito – aquele que eu odiava, todo florido e largo, porque escondia suas curvas –, rindo das piadas sem graça de Johnny e deixando que as gêmeas pintassem suas unhas dos pés ou pelo menos tentassem, já que nem ela mesmo alcançava mais seus pés. Naquela noite, quando a ajudava a subir as escadas. Seus pés inchados, minha paciência infinita, ela parou no meio do caminho,
(Narrado por Rafael) A festa ainda estava no auge – Solange dançando descalça na fonte, o “coronel”James ensinando passos de country para Heitor, as gêmeas roubando doces da mesa como bandidinhas loiras – quando eu agarrei Flávia pelo pulso e puxei-a para fora do salão. — Rafa, o que você está… Calei-a com um beijo na escada de mármore, minhas mãos deslizando pelo vestido de noiva que eu mal conseguia esperar para arrancar. — Jatinho, agora! — ordenei contra seus lábios, sentindo seu sorriso. Ela sabia. Sabia que eu estava doido para tê-la só para mim, longe de olhares, de responsabilidades, daquelas pestinhas loiras que, mesmo amando mais que a minha vida, eram especialistas em cortar meus momentos a sós com ela. Dois dias depois, em Maurício… A areia branca sob nossos pés ainda guardava o calor do sol quando caminhávamos à beira-mar, ela com seu vestido leve esvoaçando, eu de bermuda e camisa aberta – e puta que pariu, como aquela mulher fazia um traje simples pa
(Narrado por Flávia) O escritório de Rafael cheirava a couro e uísque caro, mas o ar agora estava carregado de um perfume barato e desesperado. Lorena Sinclair girava em frente à estante, suas unhas vermelhas arranhando os braços do sofá como garras de um animal encurralado. Quando me viu, seus lábios se esticaram em algo que tentou ser um sorriso. — Senhorita Carter. Que bom que você veio. — O que você quer? — perguntei, mantendo a voz firme, mas meu pulso acelerado traía-me. Ela riu, um som rouco que terminou em tosse, porém foi direta: — Vinte milhões de dólares. — Avançou um passo, o vestido justo marcando os ossos que não estavam lá da última vez. — Meus credores não são pacientes… nem gentis. — Vinte






Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.
리뷰더 보기