MasukHer mama always said she was special. His daddy called him a demon. But even monsters can fall in love. Montessa Tovar is walking home alone when she is abducted by Lu, a serial killer with unusual talents and a grudge against the world. But in time, the victim becomes the executioner as 'Apocalyptic' Montessa and her doomed lover, 'Nuclear' Lulu, crisscross the country in a bloody firestorm of revenge. ©️ Crystal Lake Publishing
Lihat lebih banyakBagian 1
"Sandra, aku sudah tidak sanggup lagi hidup bersama Mas Rian. Mas Rian ternyata menjalin hubungan dengan sekretarisnya. Aku sudah tidak kuat, San." Nia menangis di pelukanku, menceritakan tentang persoalan rumah tangga yang sedang dihadapinya.
"Mas Rian juga kerap memukuliku. Ia mengancam akan menceraikanku jika menolak keinginannya untuk menikah dengan sekretarisnya itu. Aku nggak mau dimadu, San. Aku harus gimana?"
Nia masih menangis di pelukanku, dan aku masih berusaha menenangkan sahabatku itu. Hanya kata 'sabar' yang bisa kuucapkan untuk menenangkannya, karena aku juga tidak tahu mau berbuat apa.
"Sabar ya, Nia. Aku tahu, kamu adalah wanita yang kuat, pasti kami bisa melewati semua ini," ucapku padanya.
"Kenapa dengan Nia? Mengapa dia menangis?" tanya Mas Ilyas-suamiku yang ternyata sudah berada di ruang tamu, tempat kami berada saat ini. Aku bahkan tidak mendengar deru mesin mobilnya, mungkin karena terlalu fokus mendengarkan curhatan Nia.
"Sudah pulang, Mas?" Aku mencium punggung tangan Mas Ilyas dengan takjim, kemudian meraih tas kerjanya.
"Iya, Mas sudah lama loh berdiri di depan pintu. Kalian saja yang tidak menyadari keberadaan Mas," ucap Mas Ilyas sambil menjatuhkan bobotnya di atas sofa.
"Ngomong-ngomong, Nia kok nangis? Ada apa?" tanya Mas Ilyas lagi.
"Nia sedang ada masalah dengan Mas Rian. Sepertinya, rumah tangga kami sudah nggak bisa dipertahankan. Mas Rian ingin menikah lagi, dan Nia nggak mau dimadu." Nia kembali menangis setelah menceritakan persoalan rumah tangganya kepada Mas Ilyas.
"Jika memang benar bahwa Rian ingin menikah lagi, lebih baik kamu meminta pisah darinya. Menurut Mas, begitu jauh lebih baik."
Apa aku tidak salah dengar? Mas Ilyas menyuruh Nia untuk berpisah dari suaminya? Bukankah selama ini Mas Ilyas paling membenci perceraian. Karena menurutnya, perceraian memang dihalalkan, tapi sangat dibenci oleh Allah. Makanya suamiku sangat membenci perceraian.
"Kok cerai sih, Mas? Siapa tahu rumah tangga mereka masih bisa dipertahankan. Kita kan belum mendengar penjelasan dari Mas Rian," protesku yang tidak suka dengan saran Mas Ilyas tersebut.
"Aku setuju dengan saran Mas Ilyas, Sandra. Sekarang masalahnya, aku mau tinggal dimana jika aku berpisah dengan Mas Rian? Kalian kan tahu sendiri kalau aku hidup sebatang kara," keluh Nia.
Memang bebar, Nia tidak punya sanak saudara di kota ini. Setelah ibunya meninggal, Rini tinggal sebatang kara, ia berjuang menghidupi dirinya sendiri, sampai akhirnya ia menikah dengan Mas Rian dan mendapatkan keluarga baru.
"Nggak usah khawatir, kamu tinggal di rumah ini saja, anggap saja seperti rumah sendiri. lagian, kamu kan sahabat Istriku. Kamu boleh tinggal di sini sampai kapanpun kamu mau. Iya kan, Sandra?" Mas Ilyas menatapku, ia memutuskan sepihak, tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu.
Memang, aku dan Nia sudah bersahabat sejak masa SMA. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Tapi bukan berarti ia bebas tinggal di sini. Bukannya tidak kasihan, hanya saja aku takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan nantinya. Apalagi sekarang statusnya sudah beda. Entah mengapa, berat sekali rasanya menerima kehadiran Nia di rumah ini.
"Ya sudah, mulai malam ini, kamu boleh tinggal di sini. Sandra, kamu antar Nia ke kamarnya ya. Mas mau mandi dulu." Mas Ilyas pun beranjak dari tempat duduknya.
Aku merasa, ada yang beda dari sikap Mas Ilyas malam ini. Ia sama sekali tidak meminta pendapatku tentang hal ini. Ada apa denganmu, Mas?
Meskipun dengan berat hati, aku akhirnya mengijinkan Nia untuk tinggal di rumah ini. Aku selalu berdoa di dalam hati agar Nia kembali kepada suaminya. Bagaimanapun juga, aku tidak ingin melihat rumah tangga sahabatku hancur.
***
Aku membantu Mbok Yuli untuk menyiapkan hidangan makan malam dan menatanya di atas meja makan. Setelah itu, aku mengajak Mas Ilyas dan juga Nia untuk makan malam bersama. Biasanya aku dan Mas Ilyas hanya makan berdua saja, sekarang makan bertiga karena sudah ada Nia di rumah ini.
Aku mengambil piring keramik yang sudah tersedia di atas meja, menyendok nasi dan sayuran untuk kuberikan kepada Mas Ilyas.
"Mas, kamu mau makan pake apa? Ayam atau ikan? Ikan saja ya, dicampur sayuran juga biar lebih sehat." Tiba-tiba Nia melakukan hal sama denganku, menyendok nasi ke atas piring, kemudian langsung memberikannya pada Mas Ilyas.
Aku melongo melihat tingkah sahabatku tersebut. Bahkan ia sudah mengambil alih tugas yang seharusnya kulakukan. Apakah ia tidak sadar dengan apa yang ia lakukan?
Aku masih berdiri dengan piring yang sudah berisi nasi, tapi belum dicampur dengan lauk. Melihat tingkah Nia seperti itu, membuat selera makanku mendadak menjadi hilang.
"Maaf ya Sandra. Bukan maksudku untuk mengambil alih tugasmu. Itu kebiasaan yang tidak pernah bisa kutinggalkan. Saat bersama Mas Rian, aku sudah terbiasa melayaninya. Aku tidak akan makan sebelum menyiapkan makanan untuk Mas Rian terlebih dahulu," ucap Nia. Mungkin ia tidak enak melihat raut wajahku yang mulai berubah.
Aku kembali duduk di atas kursi, tanpa berbicara sepatah katapun. Mood-ku sudah hilang. Ada firasat buruk yang menyelimuti
hatiku. Aku takut jika Nia akan menjadi duri dalam rumah tanggaku.
"Sesekali dilayani sama Nia 'kan nggak apa-apa," ucap Mas Ilyas sambil mengunyah makanannya.
"Suamimu itu tidak tahu diri ya Nia. Punya istri baik seperti kamu, tapi masih tetap ingin mencari yang lain. Mas sarankan, lebih baik kamu pisah darinya, daripada bertahan tapi menyakitkan bagimu." Lagi-lagi, Mas Ilyas kembali menyarankan agar Nia bercerai dari suaminya.
"Tenang saja, Mas. Nia akan menggugat cerai Mas Rian. Tidak ada gunanya mempertahankan rumah tangga yang didalamnya sudah ada orang ketiga," jawab Nia sambil menyendok sayur capcay dari dalam mangkuk keramik bergambar ayam tersebut, dan memindahkannya ke piringnya.
Mas Ilyas dan Nia terlihat menikmati makan malam ini. Sementara aku, sudah tidak berselera sama sekali.
Aku segera menyudahi makanku, kemudian bergegas ke kamar karena aku merasa tidak dianggap sama sekali.
Sejak kehadiran Nia di rumah ini, Mas Ilyas seolah tidak lagi menganggapku ada. Padahal belum sampai satu hari, gimana kalau ia akan tinggal lama di rumah ini? Bisa-bisa, perhatian Mas Ilyas akan beralih padanya.
Nia juga kelihatannya suka sekali mencari perhatian dari Mas Ilyas. Membuatku menjadi cemburu. Aku tidak suka jika suamiku lebih perhatian pada wanita lain, meskipun wanita itu sahabatku sendiri.
Tok tok tok!
"San … Sandra, Mas masuk ya!" Terdengar suara Mas Ilyas memanggil namaku. Ternyata, ia menyusulku.
Aku tidak menjawabnya, memilih untuk diam.
"Kok kamu nggak jawab sih?" tanya Mas Ilyas setelah ia membuka pintu, dan kini ia duduk bersamaku di bibir ranjang.
"Kamu ngambek, ya?"
Pertanyaan macam apa itu? Sudah jelas-jelas aku ngambek, tapi masih ditanya juga. Nambah kesal saja.
"Kamu kok ngambek sih? Emangnya Mas salah apa?"
"Mas sadar nggak sih? Mas sudah mengabaikanku. Mas malah lebih perhatian sama Nia dibanding aku, istrimu sendiri. Aku juga nggak suka, Mas menyarankan agar Nia minta pisah dari suaminya. Itu nggak boleh, Mas. Dosa loh menyuruh pasangan suami-istri berpisah," protesku sambil membuang wajah, tidak mau menatap wajahnya.
"Mas hanya tidak ingin melihat Nia terluka. Jika Nia masih tetap bersama dengan suaminya, otomatis hatinya akan terluka. Makanya, lebih baik mereka pisah saja."
"Tetap saja nggak boleh, Mas. Biar mereka yang memutuskan. Lagian, kita kan belum dengar penjelasannya Mas Rian. Siapa tahu mereka hanya salah paham."
Aku berusaha mengingatkan Mas Ilyas, agar jangan ikut terlibat dalam persoalan rumah tangga Nia. Meskipun aku dan Nia sudah bersahabat sejak dulu, tapi ada batasannya juga.
"Kamu tidak percaya padaku, Sandra? Kamu pikir aku berbohong?" Tiba-tiba Nia sudah berada di ambang pintu, ternyata ia mendengar pembicaraanku dengan Mas Ilyas.
"Jika kamu tidak bersedia menerimaku di rumahmu ini, nggak apa-apa, aku akan pergi," ucapnya sambil menangis.
"Bukan begitu. Bukannya aku tidak percaya padamu, Nia. Aku hanya memberi saran kepada Mas Ilyas agar menemui Mas Rian dulu. Siapa tahu rumah tanggamu dengan Mas Rian masih bisa dipertahankan." Aku berusaha meyakinkan Nia, tapi Nia tidak mau mendengar penjelasanku.
"Nia, apa yang dikatakan Sandra itu benar. Sandra tidak ada maksud apa-apa. Kamu kembalilah ke kamarmu, selamat beristirahat," ucap Mas Ilyas.
Nia pun berlalu dari hadapan kami, meninggalkanku dan Mas Ilyas yang masih berada di dalam kamar.
***
Tengah malam, aku tiba-tiba terbangun karena dorongan ingin buang air kecil. Aku tiba-tiba terkejut saat tubuh Mas Ilyas tidak ada di atas kasur yang kami tempati bersama. Hanya ada selimut dan bantal kesayangannya saja.
Kemana Mas Ilyas malam-malam begini? Apa mungkin ia haus dan pergi ke dapur untuk mengambil minum?
Aku langsung beranjak dari atas ranjang, untuk mencari Mas Ilyas.
Saat menuruni anak tangga, tiba-tiba ...
Bersambung
CONNECT WITH CRYSTAL LAKE PUBLISHINGWebsite(be sure to sign up for our newsletter)FacebookTwitterWith unmatched success since 2012, Crystal Lake Publishing has quickly become one of the world’s leading indie publishers of Mystery, Thriller, and Suspense books with a Dark Fiction edge.Crystal Lake Publishing puts integrity, honor, and respect at the forefront of our operations.We strive for each book and outreach program that’s launched to not only entertain and touch or comment on issues that affect our readers, but also to strengthen and support the Dark Fiction field and its authors.Not only do we publish authors who are destined to be legends in the field (and as hardworking as us), but we also look for men and women who care about their readers and fellow human beings. We only publish the very best Dark Fiction and look forward to launching many new careers.We strive to know each and every one of our readers, while building personal relationships with our authors,
CONNECT WITH THE AUTHORWebsiteFacebookTwitter
BIOGRAPHYMercedes M. Yardley is a dark fantasist who wears stilettos, red lipstick, and poisonous flowers in her hair. She is the author of the short story collection Beautiful Sorrows, the novellas Apocalyptic Montessa and Nuclear Lulu: A Tale of Atomic Love and Little Dead Red, and the novels Nameless: The Darkness Comes and Pretty Little Dead Girls: A Novel of Murder and Whimsy. She often speaks at conferences and teaches workshops on several subjects, including personal branding and how to write a novel in stolen moments. Mercedes lives and works in Sin City with her family and menagerie of Strange and Unusual Pets. You can reach her at www.abrokenlaptop.com.
THE END?Not if you dive into Mercedes’ other books:Nameless: The Darkness Comes—Luna Masterson sees demons. She has been dealing with the demonic all her life, so when her brother gets tangled up with a demon named Sparkles, ‘Luna the Lunatic’ rolls in on her motorcycle to save the day. Armed with the ability to harm demons, her scathing sarcasm, and a hefty chip on her shoulder, Luna gathers the most unusual of allies, teaming up with a green-eyed heroin addict and a snarky demon ‘of some import.’ After all, outcasts of a feather should stick together . . . even until the end.Little Dead Red—The Wolf is roaming the city, and he must be stopped. In this modern day retelling of Little Red Riding Hood, the wolf takes to the city streets to capture his prey, but the hunter is close behind him. With Grim Marie on the prowl, the hunter becomes the hunted.Pretty Little Dead Girls: A Novel of Murder and Whimsy—Bryony Adams is destined to be murdered, but fortunately Fate has terrible
CHAPTER TWOMontessa awoke and moaned. Renan’s blows had been nearly unbearable this time. She blinked, but the room remained dark.“Decided to wake up?” The voice was soft, surprisingly so. The words were spoken intimately like a lover would, but she didn’t recognize the voice, except to say that
CHAPTER ONEShe was beautiful, this woman who wandered the graveyard. All hair and eyes. In a light cotton dress covering her rounded belly, she walked barefoot across the overgrown lawns. She smiled and laughed as she touched the flowers garnishing the dead.She saw a particularly beautiful heads
CHAPTER ELEVENShe spent the night in Lu’s bed, because she didn’t want to be alone. It was a new thing to feel lips without fists and her hair pulled without hatred.“Renan is going to come for me, you know,” she told him. She traced his ribs, found a couple that stuck out farther than they should ha
CHAPTER THREEThe meathead bouncer saw Montessa leave that night, but he didn’t see where she went. Assumed she walked home if she didn’t have a ride. She’d been walking home a lot lately.“What’s that supposed to mean?” Renan demanded. His voice was hot and dangerous, his eyes narrowed to slits.
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan