MasukHer mama always said she was special. His daddy called him a demon. But even monsters can fall in love. Montessa Tovar is walking home alone when she is abducted by Lu, a serial killer with unusual talents and a grudge against the world. But in time, the victim becomes the executioner as 'Apocalyptic' Montessa and her doomed lover, 'Nuclear' Lulu, crisscross the country in a bloody firestorm of revenge. ©️ Crystal Lake Publishing
Lihat lebih banyak"Kayla, ambilin handuk!" Suara teriakan Axel terdengar dari kamar mandi, membuat tanganku yang sedang mengoles kream tabir surya ke wajah mendadak terhenti.
Aku menoleh ke arah kamar mandi dengan dahi berkerut. "Ambil aja sendiri! Lo kan punya kaki!"
"Lo mau gue becekin kamar lagi? Nanti lo jangan marah ya!"
"Sialan, lo!" rutukku dengan wajah masam.
Aku meletakkan botol kream ke meja rias dengan gerakan kasar, lalu meraih handuk di kasur untuk mengantarkannya ke kamar mandi.
Dari pintu kamar, aku melihat ruang shower yang tertutup kaca itu penuh dengan uap air hangat yang menutupi sebagian dindingnya, membuat pandanganku ke bagian dalam tampak buram.
Dengan dada yang masih diliputi amarah, aku langsung membuka pintu kaca sambil mengomel.
"Makanya kalau mandi siapin dulu semuanya. Jangan lang—" Kalimatku seketika terhenti setelah mataku menangkap tubuh bugil suamiku yang terekspos begitu jelas tanpa sehelai benang pun.
Mataku sempat membulat dan tertahan di daerah vitalnya selama beberapa detik sebelum akhirnya membuang muka demi membersihkan mataku dari noda dan dosa.
Brengsek! Kenapa aku harus melihat benda itu pagi-pagi begini?
Aku menggigit bibir bawah sambil memejamkan mata, lalu mengulurkan handuk padanya dengan gerakan ragu. "Cepetan ambil!"
Namun, Axel seperti sengaja ingin mengerjaiku. Aku mendengar suara kekehan kecil lolos dari bibirnya disusul suara percikan air bekas langkah kakinya yang mendekat.
"Ngapain lo tutup mata? Bukannya lo udah sering liat gue bugil?"
Benar. Selama hampir satu tahun menjalin pernikahan rahasia dengan sepupuku itu, kami sudah biasa saling melihat tubuh polos kami. Meski begitu, kami sama sekali tidak tertarik untuk melakukan hubungan badan.
Ya mana mungkin kami bernafsu untuk melakukan hubungan itu? Axel adalah kakak sepupuku dari pihak Ibu. Kami yang hanya terpaut usia lima tahun sudah terbiasa bermain bersama sejak kecil. Tapi gara-gara wasiat sialan dari Papaku, kami akhirnya terpaksa menikah.
"Gue geli lihat pentungan lo. Cepet nih, ambil handuknya!" teriakku dengan mata yang masih terpejam erat.
Namun, bukannya mengambil handuk, Axel justru menarik tanganku. Ia memutar tubuhku dengan cepat dan mendekapku erat dari belakang.
Aku bisa merasakan tubuhnya yang masih basah, menembus kain piyamaku yang tipis. Aku bahkan bisa mencium wangi bergamot dari sabun favorit Axel yang maskulin.
Untuk beberapa saat, tubuhku membeku dalam dekapannya. Aku hampir saja lupa, bahwa pria di belakangku ini adalah kakak sepupuku yang menikah denganku karena terpaksa. Sampai akhirnya setetes air jatuh dari ujung rambutnya, tepat mengenai bulatan dadaku yang masih bebas dari balutan BH.
Aku terperanjat dan langsung memberontak sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kungkungannya. "Axel! Apaan sih, lo?! Lepasin gak?!"
Namun, postur badannya yang jauh lebih tinggi dariku, serta tubuhnya yang tegap membuatku kesulitan untuk melawan. Ia justru semakin mengeratkan dekapannya, hingga membuatku kesulitan untuk bergerak.
"Lo nggak biasanya grogi gini. Jangan-jangan... lo mulai naksir gue, ya?" godanya di ceruk leherku.
Aku berusaha menyikut perutnya sebisa mungkin. "Gak usah kepedean deh, lo!" Lalu menjauhkan wajah untuk menghindari wajah Axel yang semakin mendekat. "Ngapain juga gue naksir sama cowok ingusan kayak lo."
Nada suaraku terdengar ragu di telingaku sendiri. Meski aku yakin tidak mungkin menyukainya, entah kenapa dadaku justru berdesir saat mengucapkan kalimat itu.
"Serius, lo?" godanya lagi tepat di lubang telingaku.
Dalam sekejap, bulu kudukku meremang setelah suaranya yang serak menggelitik lubang telingaku. Ditambah lagi, tonjolan dari kejantannya yang begitu dekat terus menggesek bokongku yang masih belum mengenakan pakaian dalam."Axel, gue nggak bercanda ya. Cepat lepasin gue!"
Bukannya menurut, dia justru mendorong tubuhku hingga menempel ke dinding kaca, mengunci pergerakanku di sana.
"Ah! Axel!" Pekikku begitu tubuhku menempel di dinding kaca. "Sialan lo ya! Lepasin gue bilang!"
"Kenapa gue harus nurut? Lo kan istri gue. Jadi... gue boleh dong nikmatin tubuh lo."
Deg! Jantungku seketika mencelos. Entah kalimat itu hanya godaan atau bahasa spontan yang lolos begitu saja dari mulut pria normal sepertinya.
Namun yang pasti, kalimat itu sukses membuat detak jantungku semakin tak terkendali.
'Sial! Aku tidak mungkin punya keinginan untuk bercinta dengannya, kan?' rutukku dalam hati.
Tidak. Jangan sampai itu terjadi. Aku yakin respon tubuhku ini terjadi karena usiaku yang saat ini sudah lebih dari sembilan belas tahun. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh dorongan hormon di tubuhku yang sedang bergejolak.
"Lo jangan bercanda, Axel. Kita sudah sepakat gak akan ngelakuin itu. Lagipula lo sepupu gue! Lo tega?!"
"Tapi gue cowok normal, Kayla..." sangkalnya dengan tegas diiringi seringai nakal.
Aku sangat mengerti di usia Axel yang sudah dua puluh empat tahun, ia pasti memiliki keinginan yang besar untuk melakukan seks. Di tambah lagi dia adalah pemain basket yang mempunyai stamina tinggi.
Tapi tetap saja, aku adalah sepupunya. Rasanya masih sulit dipercaya jika aku harus berhubungan badan dengan pria yang sudah sering bermain denganku sejak kecil.
Lagipula, di kampus Axel terkenal sebagai cowok playboy yang punya banyak cewek. Aku yakin dia pasti sudah sering berhubungan badan dengan cewek-cewek itu. Jadi... tidak ada alasan dia harus menyentuhku juga.
"Gue nggak mau!" tolakku, lalu berbalik badan menghadapnya saat mendapat celah. "Lo kan punya banyak cewek. Main aja sama mereka. Jangan gue!"
Dengan gerakan cepat, aku menyundul alat vitalnya yang bergelantungan bebas menggunakan lutut.
"Aww!" Axel memekik sambil mencengkeram keperkasaannya itu dengan kedua tangan.
Bersama dengan itu, aku langsung mendorongnya dan berusaha untuk melarikan diri.
"Kayla!"
"Sorry... gue terpaksa!" Aku berlari sekencang mungkin hingga keluar kamar.
Namun sialnya, Axel berhasil menangkapku tepat di ruang dapur dengan tubuh yang masih telanjang, lalu mendekap tubuhku dari belakang. "Lo pikir bisa lari dari gue?"
"Lepasin gue Axel! Lo nggak benar-benar ingin bercinta sama gue, kan?!"
"Gue mau..." sahutnya, sukses membuatku sangat shock.
CONNECT WITH CRYSTAL LAKE PUBLISHINGWebsite(be sure to sign up for our newsletter)FacebookTwitterWith unmatched success since 2012, Crystal Lake Publishing has quickly become one of the world’s leading indie publishers of Mystery, Thriller, and Suspense books with a Dark Fiction edge.Crystal Lake Publishing puts integrity, honor, and respect at the forefront of our operations.We strive for each book and outreach program that’s launched to not only entertain and touch or comment on issues that affect our readers, but also to strengthen and support the Dark Fiction field and its authors.Not only do we publish authors who are destined to be legends in the field (and as hardworking as us), but we also look for men and women who care about their readers and fellow human beings. We only publish the very best Dark Fiction and look forward to launching many new careers.We strive to know each and every one of our readers, while building personal relationships with our authors,
CONNECT WITH THE AUTHORWebsiteFacebookTwitter
BIOGRAPHYMercedes M. Yardley is a dark fantasist who wears stilettos, red lipstick, and poisonous flowers in her hair. She is the author of the short story collection Beautiful Sorrows, the novellas Apocalyptic Montessa and Nuclear Lulu: A Tale of Atomic Love and Little Dead Red, and the novels Nameless: The Darkness Comes and Pretty Little Dead Girls: A Novel of Murder and Whimsy. She often speaks at conferences and teaches workshops on several subjects, including personal branding and how to write a novel in stolen moments. Mercedes lives and works in Sin City with her family and menagerie of Strange and Unusual Pets. You can reach her at www.abrokenlaptop.com.
THE END?Not if you dive into Mercedes’ other books:Nameless: The Darkness Comes—Luna Masterson sees demons. She has been dealing with the demonic all her life, so when her brother gets tangled up with a demon named Sparkles, ‘Luna the Lunatic’ rolls in on her motorcycle to save the day. Armed with the ability to harm demons, her scathing sarcasm, and a hefty chip on her shoulder, Luna gathers the most unusual of allies, teaming up with a green-eyed heroin addict and a snarky demon ‘of some import.’ After all, outcasts of a feather should stick together . . . even until the end.Little Dead Red—The Wolf is roaming the city, and he must be stopped. In this modern day retelling of Little Red Riding Hood, the wolf takes to the city streets to capture his prey, but the hunter is close behind him. With Grim Marie on the prowl, the hunter becomes the hunted.Pretty Little Dead Girls: A Novel of Murder and Whimsy—Bryony Adams is destined to be murdered, but fortunately Fate has terrible
CHAPTER ONEShe was beautiful, this woman who wandered the graveyard. All hair and eyes. In a light cotton dress covering her rounded belly, she walked barefoot across the overgrown lawns. She smiled and laughed as she touched the flowers garnishing the dead.She saw a particularly beautiful heads
CHAPTER FIVEThis guy?” Lu said.“Renan.”“Yeah. Him. Why are you guys together, anyway? He’s obviously a complete tool.”Montessa stayed silent. This was where she was supposed to defend Renan. Tell her kidnapper she was in love, that he didn’t know her boyfriend, that he couldn’t make judgments on the
CHAPTER FOURIt seemed a shame to be so close to the sea and not to dabble in it just a little. There was nowhere Lu liked better. Sometimes he thought he’d been born of the sea, a Boy of Sorrows, and one day he’d simply walk back into the waves and disappear.“Fitting,” she said.“Why is that?”
CHAPTER THREEThe meathead bouncer saw Montessa leave that night, but he didn’t see where she went. Assumed she walked home if she didn’t have a ride. She’d been walking home a lot lately.“What’s that supposed to mean?” Renan demanded. His voice was hot and dangerous, his eyes narrowed to slits.
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan