Compartilhar

108: Menuntaskan Rindu

Autor: Ana_miauw
last update Data de publicação: 2026-08-20 10:17:18

“Gimana? Masih mau pura-pura insomnia Cuma gara-gara hormon?”

Begitu pintu ruang periksa tertutup rapat, suara Kalandra langsung terdengar di telinga Ghea.

Pria itu berjalan di sampingnya menuju parkiran. Tapi sungguh, betapa menyebalkannya pria itu yang kini jelas menampakkan kilat jenaka di matanya saat mengucapkan kalimat tersebut barusan.

Wajah Ghea kembali terasa memanas. “Siapa yang pura-pura? Dokter bilang itu respons alami tubuh, Kal. Bukan kemauanku,” elaknya.

Kalandra menghentika
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Asistenku Membuatku Tak Karuan   186: Untuk Kali Ini Dia Menang

    Taksi yang ditumpangi Ghea berhenti di pelataran rumah ibu mertuanya. Matahari sudah mulai meninggi, tetapi tubuh Ghea masih terasa dingin. Wajahnya pucat, kepalanya berdenyut, dan fisiknya belum sepenuhnya pulih setelah pingsan.Begitu mobil berhenti, Ghea langsung membuka pintu. Ia membayar ongkos tanpa menunggu kembalian, lalu bergegas menuju teras rumah.Sebelum sempat mengetuk pintu, pandangannya tertuju ke arah garasi. Mobil Kalandra terparkir di sana. Sedikit rasa lega muncul di dadanya karena dugaannya benar; Kalandra memang pulang ke rumah ini.Untuk sesaat, ada harapan yang tumbuh. Mungkin ibu mertuanya mau mendengarkan penjelasannya, dan mungkin Kalandra masih berada di dalam agar mereka bisa membicarakan semuanya.Ghea menekan bel pintu. Ia sempat ragu saat pintu tak kunjung dibuka setelah beberapa lama. Saat ia hampir berbalik pergi, terdengar suara kunci berputar dari dalam dan pintu pun terbuka.Seorang asisten rumah tangga muncul lebih dulu, lalu Denia berjalan me

  • Asistenku Membuatku Tak Karuan   185: Antara Sadar Dan Tidak Sadar

    Ghea membuka mata perlahan, merasakan denyut nyeri yang menghantam bagian belakang kepalanya. Ia tidak tahu apakah ia sempat pingsan sepenuhnya atau hanya terjebak dalam lamunan panjang yang melelahkan.Ingatan terakhirnya masih merekam kejadian dini hari tadi dengan jelas. Ia merangkak dengan putus asa menuju kamar bayi, mendapati tempat tidur Kenzie kosong, lalu menjerit dalam kepanikan. Setelah itu, semuanya gelap. Ia tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah tubuhnya kehilangan tenaga.Namun, kejanggalan segera menyerbu pikirannya begitu ia sadar sepenuhnya.Ia tidak lagi berada di kamar bayinya. Sinar matahari masuk melalui celah tirai, menandakan hari sudah menjelang siang. Yang lebih membingungkan, ia kini berada di ranjang kamar tidurnya sendiri. Pakaian formal yang dikenakannya tadi malam pun telah berganti menjadi piyama tidur yang longgar dan nyaman.Ghea berusaha bangkit. Sementara Bibi—begitu melihat majikannya membuka mata, wanita paruh baya langsung mendekat denga

  • Asistenku Membuatku Tak Karuan   184: Reruntuhan Malam di Penthouse

    Reruntuhan Malam di Penthouse Langkah kaki Ghea terasa begitu berat setibanya di kediamannya. Seolah setiap jengkal lantai marmer di penthouse menarik tubuhnya untuk jatuh. Keheningan langsung menyambutnya, memukul wajahnya yang sudah pucat semenjak insiden tadi. Ghea berdiri beberapa detik di ambang pintu, membiarkan tubuhnya bersandar pada kusen. Kepalanya terasa sangat berat, sementara pikirannya berkecamuk hebat. Kalimat yang diucapkan Kalandra sebelum ia meninggalkannya tadi masih berputar-putar tanpa henti, berdengung di dalam kepala dan meremukkan sela-sela dadanya. Talak. Tiga kata itu terlalu kejam, terlalu asing, dan sama sekali tak pernah terlintas dalam kamus rumah tangga mereka. Sepanjang perjalanan pulang di dalam taksi, Ghea bahkan belum mampu mencerna kejadian tersebut sepenuhnya. Ada bagian dari dirinya yang masih menolak mentah-mentah realitas pahit itu. Ia terus membohongi diri sendiri, berharap semua keributan di restoran tadi hanyalah mimpi buruk akibat

  • Asistenku Membuatku Tak Karuan   183: Selesai?

    “Tidak. Aku tidak meminta kamu langsung percaya. Tapi setidaknya dengarkan penjelasanku.”“Aku sudah terlalu sering mendengar penjelasanmu.”Tak hanya kedua mata Ghea yang basah, tapi hatinya. Ia benar-benar bingung bagaimana cara menjelaskan situasi ini kepada Kalandra, terutama dalam keadaannya yang terjepit sekarang. Di matanya, kemarahan Kalandra malam ini sudah mencapai puncaknya.“Setiap kali aku bertanya tentang Haris, alasannya selalu sama: urusan kantor, dokumen, rapat, atau perjalanan kerja. Sekarang, alasan apa lagi yang mau kamu pakai?” cerca Kalandra tajam.“Kalandra, tolong jangan campuradukkan pekerjaan dengan hubungan kita,” balas Ghea, hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.“Justru kamu yang mencampuradukkannya! Pria itu selalu ada di dekatmu. Ke mana pun kamu pergi, dia selalu ada. Saat orang-orang mulai membicarakan kalian, kamu tetap saja membelanya. Bahkan sekarang, setelah semua kekacauan yang terjadi di rumah, kamu masih memilih keluar secara diam-diam

  • Asistenku Membuatku Tak Karuan   182: Tak Berdaya

    Ghea sama sekali tak bergeming dari tempatnya berdiri. Cukup lama dia di sana dalam keadaan bingung.Barulah beberapa saat kemudian langkah kakinya mengantarkannya ke kamar tamu, dalam keadaannya yang super kacau. Kepalanya terasa berat setelah seharian bekerja, ditambah tangis yang sejak tadi sulit dihentikan. Setiap kali mencoba memejamkan mata, ucapan Kalandra kembali terngiang di kepalanya.Ibu macam apa kamu sebenarnya, Ghea?Ghea bukan tidak tahu dirinya masih punya kekurangan sebagai seorang ibu. Ia pun sadar pekerjaannya sering membuat waktu bersama keluarga terbatas. Namun, mendengar Kalandra mengatakan hal itu setelah ia bahkan tidak tahu Kenzie sakit membuat dia terasa begitu terpukul. Sebab ia tak pernah sengaja mengabaikan anak mereka.Kalau saja ia tahu Kenzie demam tinggi dan harus dibawa ke rumah sakit, ia tidak mungkin tetap duduk di ruang rapat.Ghea mengusap wajahnya. Seharusnya ia bisa beristirahat sejenak dan membiarkan suasana mereda sampai pagi. Nam

  • Asistenku Membuatku Tak Karuan   181: Ibu Macam Apa Kamu?

    Jarum jam di dinding penthouse telah menunjukkan pukul sepuluh lewat sepuluh menit ketika Ghea mendorong pintu utama dengan langkah lelah.Seharian penuh ia bergelut dengan rapat pleno direksi dan tumpukan dokumen strategis yang seolah tiada habisnya. Tubuhnya sudah terasa berat sejak beberapa jam lalu. Namun, yang lebih mengganggu pikirannya justru persoalan dengan Kalandra.Sepanjang perjalanan pulang, Ghea memikirkan pertengkaran mereka.Ia tahu, terus mempertahankan perang dingin seperti ini tidak akan menyelesaikan apa pun. Betapapun sakit hatinya karena Kalandra sempat meragukan dirinya, Ghea tetap ingin menyelesaikan masalah mereka. Malam ini, ia berniat mengajak suaminya berbicara baik-baik, menyingkirkan ego masing-masing, lalu meluruskan kesalahpahaman yang semakin besar gara-gara gosip di kantor.Begitu masuk ke foyer, Ghea langsung melepas sepatu hak tingginya dan menatanya di rak. Namun, baru beberapa langkah berjalan, ia mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda.Pen

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status