Share

Bab 58. Rumah dan Kenangan

Author: Ucing Ucay
last update Last Updated: 2025-08-21 23:05:37

Bima menggandeng tangan Arafah saat mereka berjalan pelan di dalam rumah yang menyimpan ribuan kenangan untuknya. Setiap sudut adalah bagian dari kehidupan Bima yang dulu, sebelum dirinya menjadi seorang tentara. Sebelum dia mengenal medan perang dan kehidupan keras yang membentuknya seperti sekarang.

Arafah bisa melihat bagaimana sorot mata suaminya melembut setiap kali mereka melewati sesuatu yang membangkitkan memorinya.

Di salah satu sudut ruang keluarga, ada rak besar berisi foto-foto lama. Di sana, Bima berhenti. Tangannya masih menggenggam erat tangan Arafah, tapi matanya kini terpaku pada deretan bingkai yang berjajar rapi.

Arafah ikut memperhatikan. Di dalam bingkai-bingkai kaca itu, ada berbagai potret kecil Bima di masa lalu. Bima kecil yang tersenyum tanpa gigi saat digendong ibunya. Bima remaja yang mengenakan seragam putih abu-abu, berdiri dengan ekspresi serius khasnya. Bima muda yang baru saja diterima di akademi militer, mengenakan seragam pertamanya dengan wajah penu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Assalamu'alaikum Cinta : Suamiku Adalah Abdi Negara   Bab 73. Sabar dan Doa

    Bima duduk di kursi rumah sakit dengan kepala tertunduk lesu. Tangan besarnya mengepal di atas lutut, sementara pikirannya terombang-ambing di antara dua lautan yang sama-sama dalam, sama-sama ingin dia selamatkan.Di satu sisi, ada ibunya. Perempuan yang melahirkan, membesarkan, dan memberikan seluruh kasih sayangnya sejak kecil. Perempuan yang kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit, yang dengan suara bergetar bersumpah bahwa dia lebih baik mati daripada melihat Bima terus membangkang.Di sisi lain, ada Arafah. Istrinya. Wanita yang dengan penuh keberanian tetap bertahan di sisinya meski ditolak oleh keluarga. Wanita yang diam-diam menelan kesedihannya sendiri, yang selama ini menutup luka di hatinya hanya karena ingin tetap berada di sisinya.Dan kini, Bima harus memilih.Bima belum memberikan jawaban. Tidak kepada ibunya—tidak kepada siapa pun.Tapi yang jelas, saat ini dia merasa seperti terjebak dalam perang yang tidak pernah bisa dimenangkan.Dari kejauhan, Jihan, adik pere

  • Assalamu'alaikum Cinta : Suamiku Adalah Abdi Negara   Bab 72. Kabar Buruk Datang

    Pagi itu seharusnya menjadi hari yang biasa. Setelah percakapan panjang dan menyakitkan tadi malam, Bima memilih untuk pergi lebih awal ke markas, mencoba mengalihkan pikirannya dari semua hal yang mengacaukan akhir-akhir ini.Sementara itu, Arafah tetap di rumah, masih berusaha mencerna semuanya, mencoba menerima kenyataan bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.Namun, takdir seakan belum puas menguji mereka.Ponsel Bima bergetar saat dia baru saja keluar dari ruang latihan. Napasnya masih memburu setelah sesi sparring dengan beberapa rekannya, tetapi begitu melihat nama yang tertera di layar—Jihan—dadanya tiba-tiba terasa sesak.Bima segera menggeser ikon hijau dan menjawab panggilan. "Halo?"Suara Jihan terdengar panik di ujung telepon. "Abang! Ibu masuk rumah sakit!"Bima terdiam seketika. Jantungnya seperti berhenti berdetak. "Apa?!""Ibu! Barusan dilarikan ke rumah sakit! Aku juga belum tahu detailnya, aku masih di perjalanan ke sana!" suara Jihan bergetar.Bima mencengkeram

  • Assalamu'alaikum Cinta : Suamiku Adalah Abdi Negara   Bab 71. Berbagi Suami

    Malam itu, seperti hari–hari biasa, Arafah duduk di tepi ranjang menunggu kepulangan suaminya. Dua tangan saling menggenggam erat di atas pangkuan, mata sayunya menatap lantai dengan pandangan kosong. Tidak ada gairah di sana, hanya ada kesedihan yang terus–menerus terbaca.Bima baru saja pulang dan gegas masuk ke dalam kamar. Wajahnya terlihat letih. Dia tidak berani menceritakan apa saja yang baru terjadi di rumah kedua orang tuanya pada Arafah."Arafah?" panggilnya hati-hati. "Belum tidur? Sengaja nunggu Mas atau apa?"Arafah menoleh perlahan. Matanya berkilat dalam cahaya redup lampu kamar. Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya, sesuatu yang membuat Bima merasakan kecemasan yang aneh."Kamu kenapa?" tanya Bima lagi, mendekatinya. "Sakit?"Arafah menarik napas dalam, lalu tersenyum kecil—senyum yang tidak mencapai matanya. "Beberapa hari lalu aku bertemu Ibu," katanya pelan.Bima diam, menyimak serius."Dan aku yakin kamu juga baru mengunjunginya.""Kita bahas nanti saja.""Ibu

  • Assalamu'alaikum Cinta : Suamiku Adalah Abdi Negara   Bab 70. Solusi Berpoligami

    Bima duduk di ruangan dengan kepala bersandar di kursi, mata terpejam, dan pikiran yang tidak pernah tenang.Hari ini terasa begitu panjang dan melelahkan. Bukan karena tugas-tugasnya yang berat, bukan karena latihan yang menguras tenaga, tetapi karena pikirannya tidak pernah lepas dari satu hal—rumahnya.Sejak beberapa hari terakhir, Arafah menjadi begitu pendiam. Wajahnya yang biasanya ceria kini lebih banyak tertunduk. Dia tidak lagi menyambut Bima dengan senyuman setiap kali pulang, tidak ada tawa ringan atau percakapan kecil sebelum tidur.Semuanya berubah.Rumah mereka yang dulu terasa hangat kini terasa hampa.Bima tahu Arafah sedang menahan sesuatu. Dia tahu ada beban di hati istrinya, tapi setiap kali dia mencoba bertanya, Arafah hanya tersenyum kecil dan berkata bahwa dia baik–baik saja.Meski Bima tahu itu adalah kebohongan. Bima tetap tidak bisa melakukan apa–apa. Ini membuatnya merasa semakin frustasi.Sampai pada akhirnya, hari ini Bima memutuskan untuk mengambil langkah

  • Assalamu'alaikum Cinta : Suamiku Adalah Abdi Negara   Bab 69. Keheningan yang Menyesakkan

    Langit sore terlihat kelabu saat Arafah melangkah pulang dengan hati yang hancur. Jalanan yang biasa terasa hangat kini terasa dingin, seolah angin senja ikut menyerap segala kewarasan yang tersisa dalam dirinya.Setiap langkah kini terasa lebih berat. Kata-kata Aisyah—Ibu mertuanya—terus terngiang di kepala Arafah, berputar seperti jarum yang menusuk langsung ke dalam jantungnya."Aku akan bersedia menerimamu sebagai menantu asal kau mengizinkan Bima menikah kembali dengan Kirana."Arafah menelan ludah, berusaha mengusir perasaan nyeri yang menggumpal di dadanya.Dalam hati, Arafah menjerit pedih. Dia sudah mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanya ujian, bahwa dia harus kuat. Tapi bagaimana dia bisa tetap kuat ketika yang menolaknya adalah ibu dari pria yang sangat dia cintai?Ketika akhirnya Arafah sampai di rumah, suasana begitu sepi.Bima belum pulang.Arafah melepas sepatunya dengan perlahan, melangkah masuk tanpa suara. Langkahnya gontai berjalan menuju kamar, mendudukka

  • Assalamu'alaikum Cinta : Suamiku Adalah Abdi Negara   Bab 68. Mencintai Berarti Merelakan

    "Dia mencintai Kirana?" ulang Arafah hampir tidak percaya. "Apa dia yang bilang ke Ibu kalau dia mencintai perempuan itu? Mas Bima yang bilang dia mencintainya?"Aisyah tersenyum tipis, lalu mengangguk yakin. "Bima dan Kirana sudah saling mengenal sejak lama. Mereka memiliki sejarah bersama. Aku yakin, jauh di dalam hatinya, dia tahu siapa yang terbaik untuknya."Arafah menggigit bibirnya semakin erat. Dia ingin mengatakan bahwa Bima–lah yang memilihnya. Bahwa Bima–lah yang datang kepadanya dan mengulurkan tangan saat dia tidak memiliki siapa-siapa.Namun, kata-kata itu tidak keluar.Arafah hanya bisa duduk di sana, menahan air matanya agar tidak jatuh.Aisyah menatapnya dengan tatapan penuh harapan."Arafah," katanya pelan, "Jika kau benar-benar mencintai Bima, kau pasti ingin yang terbaik untuknya, bukan?"Arafah mengepalkan tangannya di bawah meja. Suara Aisyah begitu lembut, tetapi kata-katanya terasa seperti belati yang menusuk hatinya berkali-kali.Setelah beberapa saat, Arafah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status