MasukMobil SUV hitam melaju di kegelapan malam menuju sebuah gedung megah yang berdiri kokoh di lingkungan perkotaan.
Ringo keluar lebih dulu meninggalkan Julia dan Toni di sana. Ia berjalan menuju pos sekuriti dan mengambil gelas lalu menyeduhnya dengan kopi. Kemudian ia duduk sambil menyalakan rokok. Seorang securiti menatapnya dan menawarkan beberapa permen. Ringo mengambil tanpa banyak bicara. Sementara mobil SUV kembali melaju meninggalkan gedung menuju sebuah apartemen tempat tinggal Julia. Sambil menyetir Toni melirik ke arah Julia dan berbicara dengan nada lembut. "Bagaimana kalau malam ini kita habiskan untuk berpesta. Ya... sambil menunggu pagi," ucapnya sambil memegang tangan Julia. Julia menoleh dan melepaskan tangannya dari Toni. "Aku ingin istirahat, Toni. Aku capek." Toni melaju tampak gurat kecewa di wajahnya. Mobil SUV tiba dan sampai di sebuah apartemen mewah. Julia membuka pintu mobil, lalu turun. Tanpa basa-basi, ia tinggalkan Toni yang menatapnya sampai menghilang di balik dinding gedung. Toni menyalakan mesin dan melaju pergi dengan perasaan kecewa. Siapakah Toni, Julia, dan Ringo sebenarnya? Kita akan kupas sekilas jati diri dari ketiganya: *Toni. Pemuda berusia 29 tahun. Salah satu kepercayaan dari bos sindikat mafia. Matanya sipit dengan kulit pucat, wajah khas oriental, dia seorang pemberani walau kadang gampang emosi. Jago berkelahi. Sudah banyak orang yang hancur di tangannya. Toni sudah lama menaruh hati pada rekan cantiknya yang bernama Julia. Namun cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Julia bukan hanya kepercayaan dari sang bos mereka, tapi ia juga merupakan kekasihnya. Kecantikan Julia membuat hati sang bos menjadi terpikat. walaupun hubungan mereka tanpa ikatan. Tapi hal itu cukup untuk membuat Toni mundur dan tak berani melangkah terlalu jauh dalam mendekati Julia. *Julia. Wanita cantik, blasteran Jawa dan eropa, tinggi semampai, wajah cantik dengan pesona campuran yang bisa membuat pria melayang menatapnya. Namun di balik kecantikan, tersembunyi kekejaman seperti iblis. Banyak darah yang tumpah akibat kekejamannya. Julia ibarat dewi yang hidup seperti bayang-bayang kematian bagi musuh-musuhnya. *Ringo. Pria berusia 35 tahun, berwajah dingin. Sangat kejam. Nalurinya seperti binatang buas. Tak punya perasaan. Sangat jago berkelahi. Kekuatan fisiknya mampu mengalahkan banteng terkuat. Walaupun ukuran tubuhnya tergolong sedang bagi ukuran pria dewasa, namun kekuatan dan kekejamannya seperti iblis penghisap darah. Ringo berasal dari daerah Indonesia bagian timur. Dia pernah mendekam dalam penjara selama sepuluh tahun. Sejak kecil dia hidup dalam kekerasan. Orang tua dan kakaknya sering menyiksanya hingga babak belur, seperti menyesali keberadaannya diantara mereka. Rasa iri dan sakit hati membekas dalam diri Ringo sejak kecil. Perlakuan orang tuanya yang tidak adil dan kekejaman saudaranya membuat Ringo remaja berubah menjadi iblis. Pada saat Ringo berusia 15 tahun, ia membunuh seluruh keluarganya dengan cara memenggal kepala mereka dengan sebuah golok. Ringo tak pernah menyesal atas perbuatannya. Ia akhirnya di hukum oleh pengadilan. Atas pertimbangan usia Ringo yang kala itu masih dibawah umur, akhirnya pengadilan menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara. Setelah keluar dari penjara. Sosok Ringo berubah menjadi pembunuh kejam. Ringo menjadi preman jalanan. Menjadi penjagal. Dia akan lakukan apa saja pekerjaan untuk bertahan hidup. Hingga akhirnya, tiga tahun yang lalu, seorang bos mafia penomena mendengar keberadaan sang penjagal. Sang bos lalu merangkulnya untuk bergabung dalam bisnis gelap yang ia jalani. Sejak saat itu, kehidupan Ringo berubah drastis. Dia menjadi salah satu kepercayaan dari sang bos. Statusnya bisa di sejajarkan dengan Julia dan juga Toni dalam bisnis yang di jalankan saat ini. Begitulah gambaran ke tiga tokoh yang menjadi gerbang menuju sang bos mafia. Bagi yang mengenal tentu akan berfikir seribu kali jika berurusan dengan mereka. ***** Gerimis masih belum juga reda ketika kabar itu datang. Sebuah karung ditemukan terdampar di pinggir sungai kecil di daerah pinggiran kota. Bau anyir darah bercampur lumpur segera menusuk hidung para warga yang pertama kali menemukannya. Begitu karung itu dibuka, semua orang yang hadir terdiam, sebagian menutup mulut, sebagian lagi mundur perlahan. Di dalamnya, tubuh seorang pemuda terbujur kaku. Kepalanya berlumuran darah, tampak luka parah di pelipis kanan--jelas akibat pukulan benda tumpul. Lehernya penuh lebam, bibirnya pecah, dan jemarinya terkepal seperti menahan sesuatu sebelum mati. Wajahnya pucat, dingin, namun menyimpan bekas rasa takut di detik-detik terakhir hidupnya. Polisi yang tiba di lokasi segera mengidentifikasi korban. Namanya Gibran, usia 25 tahun. Beberapa warga mengenalnya sebagai wartawan lepas yang sering meliput kasus-kasus sensitif di kota ini. Namun, data resmi menunjukkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, Gibran bekerja sebagai sekuriti di PT. Sinar Surya--perusahaan yang masih tergolong baru, namun kemajuan bisnisnya berkembang sangat cepat. Brigadir Wisnu, seorang detektif muda dengan insting tajam, berdiri membeku di sisi karung itu. Tatapannya tak lepas dari wajah pucat sahabat lamanya itu. Ia dan Gibran pernah berjuang bersama membongkar jaringan kejahatan di kota ini. Gibran adalah informannya yang paling berani dan setia, sering menyusup ke lingkaran berbahaya demi mendapatkan kebenaran. Kini, tubuh itu terbujur kaku di hadapannya, menjadi saksi bisu bahwa permainan yang sedang mereka hadapi jauh lebih berbahaya daripada dugaan awal. Wisnu berjongkok, menatap luka di kepala Gibran. "Pukulan benda keras... dilakukan dari jarak dekat," gumamnya pelan. Tangannya mengepal di saku jaketnya, menahan gejolak emosi yang membakar dada. Ia tahu, ini bukan pembunuhan acak. Gibran dibungkam. Dugaan sementara tim forensik mengarah pada pembunuhan terencana. Tidak ada tanda perampokan, tidak ada barang berharga yang hilang - hanya nyawa yang direnggut. Gibran mungkin telah menyentuh rahasia yang seharusnya tidak ia ketahui. Di bawah langit yang masih meneteskan gerimis, Wisnu berjanji pada dirinya sendiri. "Siapa pun yang melakukan ini... aku akan menemukanmu." Ia tahu, jalannya tidak akan mudah. Jejak yang ia ikuti bisa membawanya ke dalam sarang yang sama yang telah menelan nyawa Gibran. Namun di balik rasa duka, terselip api tekad. Gibran bukan hanya korban - ia adalah pesan peringatan. Dan Wisnu, dengan setiap detak jantungnya, bersumpah akan membongkar semua rahasia kotor yang tersembunyi di balik kematian sahabatnya itu. Malam itu, di tepian sungai yang sunyi, dimulailah perburuan yang akan mengubah hidupnya selamanya. IBLIS TAK SELALU DATANG DENGAN TANDUK DAN API, KADANG IA BERWUJUD MANUSIA YANG TERSENYUM MANIS. KEKEJAMAN BUKAN HANYA MENGHUNUS PEDANG. TERKADANG IA MEMBUNUH PERLAHAN DENGAN TIPU DAYA. HATI YANG GELAP DAN SANGGUP MENELAN CAHAYA, DAN KETIKA ITU TERJADI, MANUSIA PUN BISA BERBUAT LEBIH KEJAM DARI IBLIS ITU SENDIRI. BAHKAN IBLIS YANG TAK TERLIHAT DALAM WUJUD SEBENARNYA LEBIH BERBAHAYA JIKA HADIR DI ANTARA MANUSIA.Sebulan telah berlalu sejak semua badai itu mereda. Kota kini kembali menjadi tenang. Kehidupan perlahan berjalan seperti semula. Namun di hati Badai dan Valeri, gema dari perjalanan panjang, pertarungan nyawa, dan persahabatan yang tumbuh tak akan pernah hilang. Hari itu, langit sore Jakarta begitu cerah, dihiasi semburat jingga yang hangat. Di pusat kota, sebuah kafe kecil bergaya Eropa berdiri anggun di sudut jalan, dengan jendela kaca yang memantulkan cahaya senja. Aroma kopi dan kue manis berpadu menciptakan rasa damai yang sempurna. Badai duduk di sudut dekat jendela, mengenakan kemeja putih dan jas biru muda sederhana..Wajah tampannya terlihat tegas, namun ada kegugupan yang tak biasa yang tak mampu disembunyikan. Pintu kafe terbuka pelan. Valeri melangkah masuk dengan balutan gaun merah muda yang menawan, rambutnya terurai lembut, dan senyum manis langsung membuat hati Badai bergetar. Tatapan mereka bertemu, dan waktu seperti berhenti sesaat. "Maaaaf, aku sedikit terlambat
Langit Jakarta sore itu berwarna jingga keemasan ketika roda pesawat khusus yang membawa Badai Lesmana, Valerie Marcel, Mellisa, Nilam dan dua perwira tinggi kepolisian, menyentuh landasan. Suara deru mesin terasa seperti menghapus semua kepenatan perjalanan panjang yang mereka tempuh dari Mumbai. Di balik pintu kaca bandara, beberapa wajah penuh rindu tampak gelisah. Hilda, Rayhan, dan beberapa teman kuliah Valeri berdiri sambil memegang buket bunga dan poster bertuliskan "Welcome Back Valeri!" Wajah mereka berseri-seri walau sedikit sembap bekas tangis bahagia. Tak jauh dari sana, Badai juga telah dinanti Pak Hendra dan Ibu Lestari - orang tua angkatnya yang sederhana namun penuh cinta. Hilda dan Faisal, adik-adik Badai, ikut berdiri sambil menatap penuh harap ke arah landasan. Ketika pintu pesawat terbuka, udara Jakarta yang hangat menyapa mereka. Badai, melangkah turun lebih dulu dengan langkah mantap, meski ada bekas perban di bahu kirinya. Valeri menyusul di belakang, sen
Tiga hari telah berlalu sejak malam penuh darah dan peluru itu. Senja Mumbai kini terasa hangat, seakan kota ini ikut merayakan hadirnya babak baru setelah badai panjang.Ballroom megah di pusat kota dipenuhi tamu-tamu penting, diplomat, pejabat tinggi, hingga awak media yang menunggu momen bersejarah malam itu.Badai dan Valeri hadir dengan pakaian formal elegan. Luka-luka mereka belum pulih sepenuhnya, namun sorot mata keduanya sudah kembali tajam - bukan lagi sebagai buronan, tetapi sebagai pahlawan yang diakui oleh dua negara.Di sudut ruangan , Mellisa berdiri bersama Nilam, wajahnya penuh haru saat melihat putrinya kini menjadi simbol keberanian.Acara dimulai dengan pidato penuh wibawa dari Kepala Menteri Maharashtra, Vinod Kapor. Suaranya mantap, tapi ada getaran emosi yang tak bisa ia sembunyikan."Malam ini, kita bukan hanya merayakan keberhasilan membongkar sindikat yang mengancam negara ini. Kita juga memberi penghormatan setinggi-tingginya kepada seorang sahabat... Ashok
Tiba-tiba suara langkah kaki cepat terdengar. Valeri muncul dari sisi kontainer dengan pistol teracung."Waktumu berakhir disini, Dinesh. Jangan coba-coba melarikan diri."Dinesh memutar tubuh, menembakkan pelurunya secara liar. Peluru menghantam tiang besi, memercikkan api. Valeri melompat ke arah samping, berguling, dan melesatkan dua peluru yang mengenai lengan Dinesh, membuat senjatanya terlepas.Dinesh mengerang, tapi sebelum sempat bergerak, Sunil Khan muncul dari sisi lain. "Kau tidak punya jalan untuk lolos dari hukum, Dinesh!"Putus asa, Dinesh berlari sambil menyerang Sunil Khan dengan tinju keras. Mereka bertarung sengit di tepi dermaga - pukulan, tendangan, hingga kepala Dinesh nyaris menghantam pagar besi.Sunil yang terluka sempat terdesak, tapi Valeri dengan gerakan cepat menendang punggung Dinesh, menjatuhkannya ke lantai kayu dermaga.Dinesh berusaha meraih pisau di ikat pinggangnya, namun kaki Valeri sudah lebih cepat, , menendang pisau itu jatuh ke laut. Dalam hitu
Badai dan Valeri menyerbu masuk, senjata terarah pada tiga sosok di ujung ruangan: Manoj Shetty, Dinesh Verma, dan Rakit Sharma yang pucat ketakutan.Manoj menggenggam pistol, matanya merah penuh kebencian. Dinesh, dengan darah menetes di pelipisnya, menatap Badai dan Valeri dengan amarah membara."Kalian..."desis Dinesh. "Buronan sialan! Kalian pikir sudah menang?"Badai menarik napas panjang. "Tidak ada yang menang malam ini, Dinesh. Semua tentang keadilan dan kebenaran sesungguhnya."Manoj mengangkat pistol nya, tapi Valeri lebih cepat.Bang!Tembakannya mengenai senjata Manoj, membuat pistol itu terlempar.Sunil Khan masuk bersama beberapa polisi, mengepung ruangan. "Turunkan senjata kalian! Ini perintah!"Namun Manoj hanya tertawa, gila."Kalian pikir ini sudah selesai? Lihat saja permainan selanjutnya!""BUNUH MEREKA!!" teriak Manoj Shetty. wajahnya dipenuhi kebencian. Dinesh dan Rakit, sudah dalam posisi bertahan, senjata serbu di tangan mereka meluncurkan rentetan peluru mema
Seminggu setelah Tewasnya Dorna Dee dalam Pertarungan di Dermaga.Di sebuah gedung tua di pinggiran Mumbai, Manoj Shetty duduk di kursi kulit yang tampak lusuh namun masih menyisakan aroma cerutu mahal. Asap rokok memenuhi ruangan, menari di bawah cahaya lampu redup yang menggantung. Di depannya, Dinesh Verma mondar-mandir gelisah, sementara Rakit Sharma, asisten pribadi Vinod Kapor yang berkhianat duduk dengan wajah pucat pasi."Situasi kita semakin buruk," Dinesh membuka suara dengan nada geram. "Alvaro dan Desi sudah tertangkap di Jakarta. Vinod Kapor berhasil diselamatkan. Sekarang pemerintah pusat turun tangan langsung. Kita sudah jadi buronan."Rakit angkat bicara dengan suara gemetar, "Tapi... Polisi sudah menemukan beberapa gudang senjata kita. Mereka akan menyerang markas ini kapan saja. Kita harus keluar dari India."Manoj menatapnya tajam hingga Rakit tak berani menatap balik. "Keluar? Tidak. Aku tidak akan lari seperti pengecut. Kita hancurkan mereka dulu sebelum mereka sa







