Home / Urban / Badai Sang Pemberani / 003. Kisah Kelam Sang Mafia

Share

003. Kisah Kelam Sang Mafia

Author: Iq Nst
last update Last Updated: 2025-08-09 06:51:28

Bandara internasional itu dipenuhi hiruk pikuk penumpang yang berlalu lalang, suara roda koper berderit di lantai marmer, aroma kopi dari kafe, pengumuman keberangkatan dan kedatangan bergema bergantian. Namun, semua itu seakan meredup ketika seorang pria melangkah tenang keluar dari pintu kedatangan.

Posturnya tinggi, tegap, berwajah rupawan, dengan rahang tegas dan tatapan mata yang dalam. Usianya sekitar tiga puluh tahun, namun caranya berjalan --tenang, mantap, tanpa tergesa-gesa, menyiratkan wibawa yang sulit di jelaskan dengan kata-kata. Banyak mata wanita otomatis terarah padanya. Beberapa bahkan tersenyum samar, memainkan rambut atau bibir, mencoba menarik perhatiannya.

Dari sudut Kafe, sekelompok wanita berbisik sambil menahan tawa kecil.

"Pasti dia seorang aktor," kata salah satu wanita.

"menurutku bukan, dia pasti model internasional," sanggah wanita yang lain.

"Kalian pasti salah, jangan-jangan personel boy band K-pop," celetuk wanita berbaju kuning.

Bahkan seorang pria paruh baya menghampiri mereka dan berkata lirih. "Kalau menurut saya, bisa jadi dia adalah seorang pangeran dari Timur Tengah.":

Salah seorang wanita yang berwajah manis tertawa lirih. "Bapak sedang bercanda ya. Sejak kapan seorang pangeran Timur Tengah berwajah oriental."

Pendapat-pendapat itu bertebaran seperti riak air, namun sang pria tetap melangkah tanpa terganggu sedikitpun, seolah baginya semua tatapan, senyuman dan celoteh mereka adalah hal yang biasa terjadi, seperti angin lalu. Senyum tipis sempat terbit di bibirnya--bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk dirinya sendiri.

Ia telah terbiasa dengan sorot mata itu. Baginya, suasana di bandara kala itu adalah panggung, dan ia sebagai pemeran utama yang namanya terbang seperti pesawat di angkasa.

Pria iitu bernama Calvin, atau lebih lengkapanya adalah Calvin law, seorang pria berpenampilan elegan berpaspor Singapura. Bagi yang melihatnya tentu akan mengira ia adalah seorang prince, model, atau selebritis yang sedang berlibur. Wajah rupawannya menggambarkan aura kharismatik yang tinggi bagi setiap mata yang memandang.

Namun di balik semua itu, Calvin Low adalah sebuah bayangan dari kegelapan yang menakutkan. Dia adalah bos mafia. Namanya begitu populer di kalangan dunia hitam. Dibalik senyum yang menawan, Calvin Low adalah sosok yang menakutkan bagi musuh-musuhnya. Dia bisa beubah menjadi sosok kejam bagi siapa pun yang menghambat jalannya. Tapi di balik itu semua, Calvin Low juga di kenal sebagai pria sejati yang menghargai kesetiaan dan keberanian. Dia sangat disegani bagi semua mitranya, dan ia juga terkenal sangat loyal kepada mereka. Tapi jika ada di antara mereka yang berkhianat maka Calvin akan menjadi singa yang siap memburu siapa pun itu..

SEKILAS KITA AKAN FLASHBACK DAN MENGUPAS SISI KELAM MASA LALU DARI CALVIN LOW.

Calvin Low adalah seorang anak yang memiliki darah campuran. Ayahnya adalah pria keturunan Tionghoa yang berprofesi sebagai bandar judi di daerah perbatasan kepulauan Riau. Sementara ibunya adalah wanita cantik asal kota kembang Bandung. Sebelum menikah dengan ayahnya, ibu Calvin berprofesi sebagai wanita penghibur di beberapa club malam. Ayah Calvin adalah salah satu pelanggan yang sering memakai jasa ibunya. Setelah berkenalan dan menjalin hubungan selama setahun lebih, Ayah Calvin benar-benar jatuh hati kepada ibunya dan memutuskan untuk menikah. Kebahagian pasangan itu semakin bertambah setelah setahun kemudian lahirlah Calvin.

Namun kebahagian itu ternyata tidak bertahan lama.

Pada saat Calvin berusia 10 tahun, ibu Calvin terlibat perselingkuhan dengan seorang polisi. hubungan gelap itu terjadi selama setahun. Ayah Calvin mulai mencurigai adanya sesuatu yang mencurigakan dari istrinya.

Dan kejadian malam berdarah itu masih terbayang dalam benak Calvin Low.

Ayah Calvin akhirnya membunuh ibunya dan pasangan selingkuhannya dengan kejam ketika sedang bermesraan di sebuah kamar hotel.

Setelah membunuh keduanya. Ayah Calvin menjadi buronan aparat atas tuduhan pembunuhan terhadap seorang polisi dan istrinya. Selama tiga tahun ayahnya Calvin menjadi buronan polisi, hingga akhirnya dia tewas tertembak ketika coba melarikan diri di sebuah bandar judi dekat perairan.

Sejak saat itu, Calvin Low berubah menjadi sosok remaja jalanan. Dia bekerja sebagai pembantu di sebuah arena perjudian ilegal yang berada di Kepulauan Riau.

Tapi, setahun kemudian. Bandar tempatnya bekerja di grebek oleh petugas kepolisian. Semua pekerja dan juga pemilik di tangkap kemudian di masukkan ke dalam sel tahanan polisi. Calvin Low di vonis hukuman selama enam bulan kurungan.

Setelah bebas dari hukuman selama enam bulan. Masa itu Calvin Low masih berumur 16 tahun. Ia mencoba nasibnya menjadi seorang petarung bebas di arena bawah tanah. Dia berlatih keras, tanpa kenal rasa lelah. Calvin Low berubah menjadi remaja yang tangguh, tak kenal takut.

Dalam pertarungan perdananya. Calvin Low sedikit kewalahan. Namun akhirnya dengan perjuangan dan tekad pantang menyerah, ia berhasil memenangkannya, dari sanalah awal dari kejayaannya.

Calvin terus bertarung, ia tak pernah kalah. Namanya mulai di kenal sebagai petarung muda yang menjanjikan.

Popularitas Calvin di arena saat itu menjadi awal perkenalannya dengan seorang pria paruh baya bernama Miguel Cortez.

Miguel Cortez adalah pebisnis asal Amerika Selatan. Di samping sebagai pebisnis, Miguel Cortez juga adalah salah satu promotor kelas atas di arena pertarungan bebas. Dia menonton pertarungan Calvin kala itu. Dan akhirnya mereka berkenalan, lalu Miguel menjadi promotor untuk pertarungan Calvin selanjutnya.

Miguel sangat senang dengan Calvin. Kemenangan-kemenangan secara beruntun diperoleh Calvin. Namanya menjulang tinggi sebagai petarung yang belum terkalahkan. Setiap lawan selalu bisa dia kalahkan. Calvin memiliki rasa percaya diri yang tinggi. teknik beladirinya begitu sempurna, ia bisa memadukan antara kekuatan dan kepintaran yang sulit untuk di temukan dari semua petarung yang lain.

Hubungan antara Miguel dan Calvin terbentuk bukan sekedar bisnis, tapi lebih dari itu. Mereka seperti sahabat atau keluarga. Pertemuan mereka tidak hanya terjadi di arena pertarungan bebas. Tapi mereka sering terlihat bersama di tempat tertentu seperti restaurant mahal, cafe, discotik, dan Juga club-club malam yang tersebar di penjuru kota.

Selama dua tahun hubungan bisnis keduanya berjalan mulus sesuai harapan, tanpa ada masalah. Namun akhirnya. Semua berakhir menjadi tragedi berdarah yang tak akan pernah pudar dalam ingatan.

Penyebab awal dari peristiwa bukan lain hanya dua kata yang terkesan sepele namun sangat berbahaya: WANITA CANTIK.

Wanita itu bernama Nadya. rupanya cantik, kulitnya mulus, usianya belum genap 20 tahun, dia berasal dari Sumatra Bagian Selatan.

Nadya adalah kekasih dan wanita simpanan Miguel. Hubungan mereka sudah terjalin hampir satu tahun lamanya. Miguel sudah berusia setengah abad, berbeda jauh dengan Nadya. Sekilas mereka lebih pantas di sebut sebagai pasangan bapak dan anak daripada sepasang kekasih yang sedang larut dalam gelora asmara.

Miguel sangat sayang dan cinta kepada kekasih gelapnya itu. Semua permintaan Nadya ia turuti : Mobil mewah, apartemen, perhiasan mewah, dan banyak lagi. Semua itu ia berikan sebagai lambang cinta kepada Nadya. Namun bagi Nadya sendiri. Apa yang ia lakukan bukan karena cinta tapi karena hasrat kemewahan yang selama ini belum pernah ia dapatkan.

Miguel mencintainya bagai musim semi yang tak pernah berakhir, menghadiahi bunga, perhiasan, dan janji yang di bungkus kata-kata manis. Di matanya, Nadya adalah cahaya yang menunda senja hidupnya. Namun di hati sang gadis, tak ada rumah untuk cintanya - semua hanya sebatas pelabuhan persinggahan sementara. Ia menikmati pelukan dan belaian, sementara Miguel tenggelam, tak sadar cintanya perlahan hanyut tanpa arah dan tujuan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Iq Nst
jangan lupa komen nya ya..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Badai Sang Pemberani   095. Suasana Penuh Cinta

    Sebulan telah berlalu sejak semua badai itu mereda. Kota kini kembali menjadi tenang. Kehidupan perlahan berjalan seperti semula. Namun di hati Badai dan Valeri, gema dari perjalanan panjang, pertarungan nyawa, dan persahabatan yang tumbuh tak akan pernah hilang. Hari itu, langit sore Jakarta begitu cerah, dihiasi semburat jingga yang hangat. Di pusat kota, sebuah kafe kecil bergaya Eropa berdiri anggun di sudut jalan, dengan jendela kaca yang memantulkan cahaya senja. Aroma kopi dan kue manis berpadu menciptakan rasa damai yang sempurna. Badai duduk di sudut dekat jendela, mengenakan kemeja putih dan jas biru muda sederhana..Wajah tampannya terlihat tegas, namun ada kegugupan yang tak biasa yang tak mampu disembunyikan. Pintu kafe terbuka pelan. Valeri melangkah masuk dengan balutan gaun merah muda yang menawan, rambutnya terurai lembut, dan senyum manis langsung membuat hati Badai bergetar. Tatapan mereka bertemu, dan waktu seperti berhenti sesaat. "Maaaaf, aku sedikit terlambat

  • Badai Sang Pemberani   094. Kembali Ke Tanah Air

    Langit Jakarta sore itu berwarna jingga keemasan ketika roda pesawat khusus yang membawa Badai Lesmana, Valerie Marcel, Mellisa, Nilam dan dua perwira tinggi kepolisian, menyentuh landasan. Suara deru mesin terasa seperti menghapus semua kepenatan perjalanan panjang yang mereka tempuh dari Mumbai. Di balik pintu kaca bandara, beberapa wajah penuh rindu tampak gelisah. Hilda, Rayhan, dan beberapa teman kuliah Valeri berdiri sambil memegang buket bunga dan poster bertuliskan "Welcome Back Valeri!" Wajah mereka berseri-seri walau sedikit sembap bekas tangis bahagia. Tak jauh dari sana, Badai juga telah dinanti Pak Hendra dan Ibu Lestari - orang tua angkatnya yang sederhana namun penuh cinta. Hilda dan Faisal, adik-adik Badai, ikut berdiri sambil menatap penuh harap ke arah landasan. Ketika pintu pesawat terbuka, udara Jakarta yang hangat menyapa mereka. Badai, melangkah turun lebih dulu dengan langkah mantap, meski ada bekas perban di bahu kirinya. Valeri menyusul di belakang, sen

  • Badai Sang Pemberani   093. Pertemuan dan Sahabat

    Tiga hari telah berlalu sejak malam penuh darah dan peluru itu. Senja Mumbai kini terasa hangat, seakan kota ini ikut merayakan hadirnya babak baru setelah badai panjang.Ballroom megah di pusat kota dipenuhi tamu-tamu penting, diplomat, pejabat tinggi, hingga awak media yang menunggu momen bersejarah malam itu.Badai dan Valeri hadir dengan pakaian formal elegan. Luka-luka mereka belum pulih sepenuhnya, namun sorot mata keduanya sudah kembali tajam - bukan lagi sebagai buronan, tetapi sebagai pahlawan yang diakui oleh dua negara.Di sudut ruangan , Mellisa berdiri bersama Nilam, wajahnya penuh haru saat melihat putrinya kini menjadi simbol keberanian.Acara dimulai dengan pidato penuh wibawa dari Kepala Menteri Maharashtra, Vinod Kapor. Suaranya mantap, tapi ada getaran emosi yang tak bisa ia sembunyikan."Malam ini, kita bukan hanya merayakan keberhasilan membongkar sindikat yang mengancam negara ini. Kita juga memberi penghormatan setinggi-tingginya kepada seorang sahabat... Ashok

  • Badai Sang Pemberani   092. Akhir Kejahatan

    Tiba-tiba suara langkah kaki cepat terdengar. Valeri muncul dari sisi kontainer dengan pistol teracung."Waktumu berakhir disini, Dinesh. Jangan coba-coba melarikan diri."Dinesh memutar tubuh, menembakkan pelurunya secara liar. Peluru menghantam tiang besi, memercikkan api. Valeri melompat ke arah samping, berguling, dan melesatkan dua peluru yang mengenai lengan Dinesh, membuat senjatanya terlepas.Dinesh mengerang, tapi sebelum sempat bergerak, Sunil Khan muncul dari sisi lain. "Kau tidak punya jalan untuk lolos dari hukum, Dinesh!"Putus asa, Dinesh berlari sambil menyerang Sunil Khan dengan tinju keras. Mereka bertarung sengit di tepi dermaga - pukulan, tendangan, hingga kepala Dinesh nyaris menghantam pagar besi.Sunil yang terluka sempat terdesak, tapi Valeri dengan gerakan cepat menendang punggung Dinesh, menjatuhkannya ke lantai kayu dermaga.Dinesh berusaha meraih pisau di ikat pinggangnya, namun kaki Valeri sudah lebih cepat, , menendang pisau itu jatuh ke laut. Dalam hitu

  • Badai Sang Pemberani   091. Serbuan Terakhir

    Badai dan Valeri menyerbu masuk, senjata terarah pada tiga sosok di ujung ruangan: Manoj Shetty, Dinesh Verma, dan Rakit Sharma yang pucat ketakutan.Manoj menggenggam pistol, matanya merah penuh kebencian. Dinesh, dengan darah menetes di pelipisnya, menatap Badai dan Valeri dengan amarah membara."Kalian..."desis Dinesh. "Buronan sialan! Kalian pikir sudah menang?"Badai menarik napas panjang. "Tidak ada yang menang malam ini, Dinesh. Semua tentang keadilan dan kebenaran sesungguhnya."Manoj mengangkat pistol nya, tapi Valeri lebih cepat.Bang!Tembakannya mengenai senjata Manoj, membuat pistol itu terlempar.Sunil Khan masuk bersama beberapa polisi, mengepung ruangan. "Turunkan senjata kalian! Ini perintah!"Namun Manoj hanya tertawa, gila."Kalian pikir ini sudah selesai? Lihat saja permainan selanjutnya!""BUNUH MEREKA!!" teriak Manoj Shetty. wajahnya dipenuhi kebencian. Dinesh dan Rakit, sudah dalam posisi bertahan, senjata serbu di tangan mereka meluncurkan rentetan peluru mema

  • Badai Sang Pemberani   090. Starategi Bukan Sekedar Misi

    Seminggu setelah Tewasnya Dorna Dee dalam Pertarungan di Dermaga.Di sebuah gedung tua di pinggiran Mumbai, Manoj Shetty duduk di kursi kulit yang tampak lusuh namun masih menyisakan aroma cerutu mahal. Asap rokok memenuhi ruangan, menari di bawah cahaya lampu redup yang menggantung. Di depannya, Dinesh Verma mondar-mandir gelisah, sementara Rakit Sharma, asisten pribadi Vinod Kapor yang berkhianat duduk dengan wajah pucat pasi."Situasi kita semakin buruk," Dinesh membuka suara dengan nada geram. "Alvaro dan Desi sudah tertangkap di Jakarta. Vinod Kapor berhasil diselamatkan. Sekarang pemerintah pusat turun tangan langsung. Kita sudah jadi buronan."Rakit angkat bicara dengan suara gemetar, "Tapi... Polisi sudah menemukan beberapa gudang senjata kita. Mereka akan menyerang markas ini kapan saja. Kita harus keluar dari India."Manoj menatapnya tajam hingga Rakit tak berani menatap balik. "Keluar? Tidak. Aku tidak akan lari seperti pengecut. Kita hancurkan mereka dulu sebelum mereka sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status