Share

Bab 6

Penulis: Author Receh
last update Terakhir Diperbarui: 2024-09-05 19:35:13

Beberapa minggu setelah mereka setuju untuk menjalani peran sebagai pasangan kontrak, Galendra dan Sera menghadiri sebuah pesta malam gala yang bergengsi di kota. Acara ini dihadiri oleh para elit bisnis dan tokoh masyarakat, menyediakan platform yang sempurna bagi mereka untuk memperkuat citra mereka sebagai pasangan yang solid.

Di atas tangga masuk, Galendra memberikan tangannya kepada Sera dengan penuh keanggunan, seperti pasangan yang benar-benar terbiasa dengan sorotan publik. Sera mengenakan gaun hitam yang elegan, sementara Galendra memakai setelan jas hitam yang memancarkan kepercayaan diri dan kekuasaan.

Mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruang pesta yang gemerlap, di mana lampu-lampu gantung kristal memantulkan cahaya ke seluruh ruangan. Tamu-tamu lain memperhatikan mereka dengan rasa ingin tahu, sebagian besar penasaran tentang pasangan baru ini yang terlihat begitu cocok bersama.

Saat mereka berdiri di tengah-tengah ruangan, Galendra memegang gelas sampanye dengan elegan dan tersenyum pada Sera. "Kamu terlihat luar biasa malam ini, Sera."

Sera membalas senyumnya, meskipun dalam hati masih ada kekhawatiran dan ketidakpastian tentang peran yang mereka mainkan. "Terima kasih, Galendra. Kamu juga terlihat sangat berkelas."

Seorang tamu mendekati mereka, seorang pengusaha terkenal dari kota itu, dan mengulurkan tangan kepada Galendra. "Galendra, Sera, senang bertemu dengan kalian. Saya mendengar banyak tentang kolaborasi bisnis baru kalian. Sungguh menarik!"

Galendra menyambut dengan ramah, menggenggam tangan tamu tersebut dengan mantap. "Terima kasih, Pak Widodo. Kami senang bisa hadir malam ini."

Obrolan mereka terus berlanjut, dengan Galendra dan Sera terlibat dalam percakapan yang santai namun tajam tentang tren bisnis terbaru dan proyek-proyek mereka. Mereka berdua saling melengkapi dengan baik: Galendra menunjukkan kepemimpinan dan wawasannya dalam dunia bisnis, sementara Sera menambahkan nuansa kehangatan dan kecerdasan emosional dalam setiap interaksi.

Saat malam berlanjut, Sera merasa semakin nyaman berada di samping Galendra. Meskipun semuanya terasa seperti permainan, dia merasakan bahwa ada kekuatan di balik hubungan mereka yang mungkin lebih dari sekadar kontrak bisnis.

Ketika akhirnya mereka meninggalkan pesta, Sera dan Galendra kembali ke mobil Galendra yang mewah. Di dalam, mereka duduk dengan diam sejenak sebelum Galendra memulai pembicaraan.

"Sera, bagaimana perasaanmu setelah malam ini?" tanya Galendra dengan lembut.

Sera menatap ke luar jendela sejenak, mencoba merangkum semua pengalaman malam ini. "Ini semua masih terasa surreal bagiku, Galendra. Tapi aku percaya bahwa kita bisa melakukannya dengan baik bersama."

Galendra mengangguk, senyumnya hangat. "Aku juga percaya itu. Kita mulai dengan baik, dan aku yakin kita bisa mencapai tujuan kita dengan kerjasama ini."

Sera menoleh kembali ke arah Galendra, matanya penuh dengan tekad. "Kita akan melakukan ini bersama-sama."

Mereka berdua menatap satu sama lain, merasakan bahwa langkah mereka malam ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar permainan bisnis. Bagi Sera, ini adalah peluang untuk membalas dendam dan mendapatkan kembali kekuatannya. Bagi Galendra, ini adalah tentang membangun reputasi dan mencapai tujuan ambisiusnya.

Dengan hati yang berdegup kencang, mereka melanjutkan perjalanan mereka sebagai pasangan kontrak, tidak sadar akan rintangan dan cobaan yang akan menanti mereka di masa mendatang.

Malam itu, di restoran yang elegan dan tenang, suasana terasa tegang ketika Sera dan Galendra tiba bersama. Mereka duduk di meja yang terletak tidak jauh dari Arga, yang duduk dengan seorang wanita muda yang tampak sopan namun tegang di sebelahnya. Sera mengenakan gaun hitam yang elegan, sementara Galendra memakai setelan jas abu-abu gelap yang mencerminkan keanggunan dan kepercayaan diri.

Arga, yang terkejut melihat Sera bersama Galendra, mencoba untuk menyembunyikan rasa tidak nyamannya di balik senyuman yang kaku. "Sera, siapa orang ini?" tanyanya dengan suara yang mencoba untuk tetap tenang meskipun jelas terlihat ada ketegangan di matanya.

Sera, dengan sikap tenang dan mantap, menatap Arga dengan tatapan tajam. "Ini Galendra," jawabnya singkat namun jelas.

"Calon suamiku."

Arga menatap Galendra dengan pandangan yang sulit dipahami, mencoba untuk menutupi rasa kesal dan kecewa yang muncul. Dia merasa seakan-akan Sera sedang mencoba untuk menyakiti perasaannya dengan memperlihatkan kemesraan dengan Galendra di depannya. Namun, dia sadar bahwa perasaannya tidak bisa diungkapkan dengan terbuka di tempat umum ini.

Anissa, wanita di sampingnya, mencoba untuk meredakan ketegangan dengan tersenyum ramah kepada Sera dan Galendra. "Senang bertemu dengan kalian berdua," ucapnya dengan nada yang berusaha untuk tetap santai.

Galendra, dengan sikap yang tenang dan santai, menyambut sapaan Anissa dengan sopan. "Sama-sama, senang bertemu denganmu juga, Anissa."

Sera, sambil mengambil gelas anggurnya dengan anggun, merasa kepuasan dalam dirinya. Dia tahu bahwa kehadirannya dengan Galendra di sini tidak hanya menunjukkan kedekatan mereka, tetapi juga memberinya kesempatan untuk menunjukkan kepada Arga bahwa dia telah bangkit dan menemukan kebahagiaan yang baru.

Percakapan di meja terus berlanjut, walaupun suasana tetap terasa tegang di antara mereka. Galendra dengan bijaksana memimpin obrolan, mencoba untuk menjaga agar percakapan tetap ringan dan santai.

Ketika makan malam mendekati akhirnya, Arga menemukan momen untuk bertanya lagi pada Sera, meskipun dengan suara yang sedikit tegang.

"Galendra, apa yang membuatmu begitu spesial bagi Sera?"

Galendra, tanpa merasa terganggu dengan pertanyaan itu, menjawab dengan sopan dan tegas. "Sera wanita yang baik dan menyenangkan.Dia begitu spesial dan istimewa!"

Arga menelan ludah, merasa tidak puas dengan jawaban itu namun juga tidak bisa menunjukkan amarahnya secara langsung. Dia merasa bahwa Sera sedang berusaha untuk melukainya dengan menunjukkan hubungan dekatnya dengan Galendra di hadapannya.

Sera, sambil memperhatikan reaksi Arga dengan hati-hati, menyadari bahwa dia telah berhasil mempengaruhi perasaan mantan suaminya itu. Dalam dirinya, dia merasa sedikit lega, mengetahui bahwa dia tidak lagi terjebak dalam perasaan terpuruk yang pernah dia alami.

Ketika saatnya untuk berpisah di akhir malam, mereka saling bertukar senyum dan kata-kata perpisahan yang sopan. Sera berdiri dengan kepala tegak, merasa bangga dengan dirinya sendiri karena telah melewati pertemuan ini dengan tenang dan dengan kekuatan yang baru ditemukan.

Mereka berdua keluar dari restoran dengan langkah mantap, udara malam yang sejuk memberikan mereka rasa lega setelah pertemuan yang intens tersebut. Sera melirik ke arah Galendra, yang tersenyum padanya dengan penuh pengertian.

"Terima kasih, Galendra," ucap Sera dengan suara yang hangat.

"Kamu telah memberiku dukungan yang sangat besar."

Galendra tersenyum sambil mengangguk, "Kita melalui ini bersama-sama, Sera. Kita akan terus melangkah maju."

Dengan keyakinan dan harapan baru dalam hati mereka, Sera dan Galendra melanjutkan perjalanan mereka sebagai pasangan kontrak. Mereka sadar bahwa tantangan dan rintangan mungkin menanti di depan, tetapi mereka yakin bahwa dengan saling mendukung, mereka dapat menghadapinya dengan baik.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 85

    Malam pertama di rumah terasa aneh sekaligus menenangkan buat Daffi, suara jangkrik dari taman belakang, aroma masakan mama Sera yang masih samar di dapur, dan langkah kaki orang-orang yang ia sayangi terdengar begitu nyata sampai dadanya terasa penuh, seperti ada ruang kosong yang perlahan terisi lagi tanpa ia sadar. Ia berbaring menatap langit-langit kamar, lampu tidur temaram, kepalanya masih sesekali nyut-nyutan, tapi yang lebih mengganggu justru potongan-potongan bayangan aneh yang muncul tiba-tiba—suara rem mendecit, kaca pecah, teriakan seseorang. “Ah…” ia meringis pelan sambil memegang pelipis. Tok tok. Pintu diketuk pelan. “Mas, aku masuk ya?” suara Giska lembut dari luar. “Iya… masuk,” jawab Daffi. Giska masuk bawa segelas susu hangat, duduk di tepi ranjang, “Dokter bilang minum ini biar tidurnya nyenyak.” Daffi menerimanya, lalu menatap Giska lama banget. “Ada apa?” tanya Giska kikuk. Daffi menghela napas pelan. “Aku ngerasa bersalah.” “Loh, kenapa?” “Aku nggak

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 84 Kepulangan Daffi dari RS

    Pagi berikutnya datang dengan suasana yang jauh lebih ringan, sinar matahari masuk lembut ke kamar rawat, Daffi terbangun perlahan dan mendapati Giska tertidur di kursi dengan kepala bersandar di sisi ranjangnya, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya terlihat lelah tapi tenang, membuat Daffi menatap lama tanpa sadar bibirnya terangkat tipis.“Giska…” panggilnya pelan.Giska tersentak bangun, langsung berdiri panik, “Mas? Kamu kenapa? Sakit?” tanyanya cepat-cepat.Daffi menggeleng pelan, “Nggak, aku cuma… kamu semalaman di sini ya?”“Iya,” jawab Giska sambil tersenyum kecil, “aku bilang juga apa, aku nggak ke mana-mana.”Daffi terdiam sejenak, lalu berkata jujur, “Aku nggak inget banyak hal, tapi tiap bangun dan lihat kamu, rasanya kayak pulang.”Kalimat itu membuat mata Giska berkaca-kaca, “Mas jangan ngomong gitu pagi-pagi,” katanya sambil tertawa kecil yang bergetar, “aku bisa nangis lagi.”Tak lama kemudian mama Sera dan papa Galen masuk membawa sarapan, mama Sera langsung mendeka

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 83 Ketegaran Gisha

    Pagi merambat masuk lewat celah jendela ICU, cahaya tipis menyentuh wajah Daffi yang kini terlihat sedikit lebih hidup meski tubuhnya masih dipenuhi selang, mama Sera duduk di samping ranjang sejak subuh dengan tangan tak lepas menggenggam jemari putranya, sementara papa Galen berdiri menyandarkan bahu ke dinding, matanya terus mengawasi setiap gerak kecil yang terjadi.Daffi mengerjap pelan, napasnya terdengar lebih teratur, “Ma…” panggilnya lirih lagi, kali ini lebih jelas.Mama Sera langsung condong, suaranya bergetar tapi hangat, “Iya, Nak… Mama di sini, kamu jangan banyak ngomong dulu ya.”Daffi mengangguk tipis, lalu matanya bergeser mencari, berhenti pada sosok Giska yang duduk tak jauh darinya, “Kamu… capek?” tanyanya polos, seolah tak tahu sudah berapa lama gadis itu menangis demi dirinya.Giska tersenyum sambil menyeka air mata, “Nggak, aku malah lega kamu bangun,” jawabnya cepat, takut suaranya pecah lagi.Dokter masuk dengan map di tangan, memeriksa kondisi sambil berkata

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 82 Daffi bangun?

    Pagi menjelang dengan langkah pelan, bau kopi pahit bercampur aroma antiseptik menyelimuti lorong rumah sakit, mama Sera masih di kursi yang sama, tak tidur semalaman, matanya merah tapi sorotnya tetap bertahan, “Dokter bilang apa lagi?” tanyanya begitu dokter jaga keluar dari ICU.Dokter menghela napas singkat, “Kondisinya stabil, tapi belum ada tanda sadar. Kita tunggu respons otaknya,” ucapnya hati-hati.Giska menunduk, jarinya saling mengait, “Mas Daffi kuat, Dok… dia pasti bangun,” katanya seperti meyakinkan diri sendiri.Tak lama, suara langkah tergesa terdengar, Aira datang dengan wajah pucat, “Mama… Papa…” suaranya pecah saat melihat kondisi sekitar, “Kak Daffi gimana?”Mama Sera langsung berdiri dan memeluk putrinya, “Doain kakakmu ya, Sayang… dia lagi berjuang.”Di sisi lain lorong, dua polisi mendekat ke papa Galen, suara mereka rendah namun tegas, “Pak, kami sudah mengamankan Lily. Beberapa bukti baru menguatkan keterlibatannya.”Papa Galen mengangguk dingin, “Lanjutkan. J

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 81 Kesedihan semua orang

    Koridor rumah sakit yang dingin itu kembali riuh ketika mama Sera dan papa Galen datang dengan langkah tergesa, wajah keduanya pucat dan napas tersengal karena panik setelah menerima telepon Giska yang suaranya gemetar, mama Sera langsung menghampiri Giska begitu melihatnya duduk lemas di bangku tunggu dengan tangan berlumur darah kering, “Giska… anakku… Daffi gimana keadaannya?” suaranya bergetar sambil memegang bahu menantunya itu, sementara papa Galen berdiri di samping mereka dengan rahang mengeras, matanya tajam menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. Giska menelan ludah, air matanya jatuh lagi tanpa bisa ditahan, “Masih di dalam, Ma… dokter bilang lukanya parah, kepalanya kena benturan keras, tangannya patah… aku takut…” ucapnya terbata, dan seketika mama Sera memeluk Giska erat, menepuk punggungnya pelan seolah mencoba menyalurkan kekuatan, “Sst… kamu harus kuat, Daffi anak kuat, dia darah Galen, dia nggak bakal gampang kalah,” ucapnya meski suaranya sendiri ber

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 80 Terluka Parah

    Pagi menjelang dengan langit kelabu, hujan semalam masih menyisakan genangan di sepanjang jalan menuju mansion keluarga Galen. Di ruang makan besar yang kini terasa lebih tenang, Daffi duduk menatap secangkir kopi yang mulai dingin, pikirannya masih bergulat dengan laporan dari Detektif Ardi. Giska datang membawa roti panggang, menyentuh pundaknya lembut sambil berbisik, “Kau belum tidur lagi, ya?” Daffi menghela napas pelan, “Sulit tenang, Giska. Lily belum berhenti, aku tahu. Dia pasti sedang menyiapkan sesuatu.” Giska duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat, “Apa pun yang dia rencanakan, kita hadapi bersama. Aku nggak mau kamu tanggung semua sendiri.”Daffi menatap wajah istrinya, sorot matanya melembut, “Kamu selalu jadi alasanku untuk tetap kuat.” Mereka berdua saling diam beberapa saat sampai langkah kaki Sera terdengar mendekat. “Kalian harus tetap hati-hati,” katanya sambil duduk di seberang meja. “Tadi pagi aku dapat kabar dari Ardi, mereka menemukan bukti baru—transa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status