Share

Bab 5

Penulis: Author Receh
last update Terakhir Diperbarui: 2024-08-19 12:25:03

Setelah pertemuan di kafe itu, Galendra merasa semakin penasaran dengan Sera. Ada sesuatu dalam diri wanita itu yang membuatnya ingin tahu lebih dalam, tidak hanya tentang kualifikasinya untuk pekerjaan, tetapi juga tentang kehidupannya dan tujuan yang ingin dicapai. Di malam yang tenang, saat duduk di ruang kerjanya yang luas, Galendra memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang Sera.

Ia mulai dengan membuka laptopnya dan mencari informasi tentang Sera di media sosial. Di profil LinkedIn Sera, Galendra melihat berbagai pencapaian profesional yang mengesankan, proyek-proyek yang pernah dia tangani, dan berbagai rekomendasi dari rekan-rekan kerjanya. Semua ini membuat Galendra semakin yakin bahwa Sera adalah kandidat yang sangat cocok untuk perusahaan. Namun, yang membuatnya lebih tertarik adalah sisi pribadi Sera yang terlihat dari beberapa unggahan di media sosial lainnya.

Melalui I*******m, Galendra melihat foto-foto Sera bersama anak-anaknya, momen-momen bahagia yang penuh cinta dan tawa. Ada juga foto-foto perjalanan, menunjukkan bahwa Sera adalah seseorang yang mencintai petualangan dan menghargai pengalaman hidup. Di beberapa caption, Sera berbicara tentang pentingnya keseimbangan antara karier dan keluarga, serta bagaimana ia berusaha memberikan yang terbaik dalam kedua aspek tersebut.

Penasaran, Galendra menghubungi Rani keesokan harinya di kantor. "Rani, bisa kita bicara sebentar?" panggilnya melalui interkom.

Tak lama kemudian, Rani masuk ke ruangan. "Ada yang bisa saya bantu, Pak Galendra?"

"Saya ingin tahu lebih banyak tentang Sera, bukan hanya dari sisi profesional, tapi juga kehidupan pribadinya. Apa kamu tahu sesuatu yang bisa membantu?" tanya Galendra, berusaha terdengar santai meskipun rasa penasarannya jelas terpancar.

Rani tersenyum, sepertinya sudah menduga pertanyaan ini akan muncul. "Sera itu orang yang sangat berdedikasi, Pak. Saya tahu dia adalah ibu dari dua anak dan dia sangat sayang sama mereka. Dia sering bercerita tentang bagaimana dia berusaha menyeimbangkan waktu antara pekerjaan dan keluarga. Sera juga aktif di beberapa komunitas sosial, sering terlibat dalam kegiatan sukarela."

Galendra mendengarkan dengan seksama, semakin terpesona dengan cerita Rani. "Apa kamu tahu apa tujuan hidupnya? Apa yang sebenarnya dia cari dengan melamar di perusahaan ini?"

"Saya rasa Sera ingin memberikan contoh yang baik buat anak-anaknya, Pak. Dia ingin menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan tekad, kita bisa mencapai apa yang kita impikan. Dia juga sepertinya ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia bisa mencapai lebih banyak lagi di bidang profesional," jawab Rani dengan tulus.

Setelah Rani keluar dari ruangan, Galendra duduk termenung. Sera bukan hanya sosok profesional yang berbakat, tapi juga seorang ibu yang kuat dan inspiratif. Dia merasa ada sesuatu yang sangat menarik dari kombinasi kekuatan dan kelembutan yang dimiliki Sera.

Hari-hari berikutnya, Galendra semakin sering memikirkan Sera. Ia merasa ada koneksi yang kuat dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Dalam rapat-rapat dan pertemuan dengan tim eksekutif, pikirannya sering melayang ke arah Sera, membayangkan bagaimana wanita itu bisa membawa perubahan positif tidak hanya di perusahaan, tetapi mungkin juga dalam hidupnya.

Akhirnya, Galendra memutuskan untuk mengambil langkah lebih lanjut. Ia mengundang Sera untuk makan malam, kali ini di sebuah restoran kecil yang tenang dengan suasana yang intim. Saat mereka duduk di meja yang dikelilingi oleh lilin dan musik jazz yang lembut, Galendra merasa ini adalah saat yang tepat untuk mengenal Sera lebih dalam.

"Terima kasih sudah datang, Sera. Aku ingin tahu lebih banyak tentang dirimu, tidak hanya sebagai calon karyawan, tapi sebagai pribadi," kata Galendra sambil tersenyum hangat.

Sera tersenyum, merasa sedikit terkejut tapi juga senang dengan perhatian Galendra. "Terima kasih sudah mengundang saya, Galendra. Apa yang ingin kamu tahu?"

"Segalanya. Mulai dari apa yang membuatmu bersemangat setiap hari, sampai tujuan hidupmu yang paling dalam. Aku ingin tahu apa yang membuatmu menjadi dirimu yang sekarang," jawab Galendra dengan jujur.

Percakapan pun mengalir dengan alami. Sera bercerita tentang masa kecilnya, perjuangannya sebagai ibu tunggal, dan impian-impian yang ingin ia wujudkan. Galendra mendengarkan dengan penuh perhatian, semakin terpesona dengan setiap cerita yang dibagikan Sera.

Malam itu, di bawah cahaya lilin dan suasana yang hangat, Galendra merasa semakin yakin bahwa Sera adalah seseorang yang istimewa. Tidak hanya untuk Romanov Corp., tapi juga mungkin untuk dirinya. Ia merasakan sebuah koneksi yang kuat, sesuatu yang jarang ia rasakan sebelumnya.

Saat mereka berpisah malam itu, Galendra berkata, "Aku sangat menghargai waktu dan ceritamu, Sera. Aku berharap kita bisa melanjutkan percakapan ini lagi. Ada banyak hal yang ingin aku tahu lebih dalam tentang dirimu."

Sera tersenyum, merasa ada harapan baru yang menyala dalam dirinya. "Aku juga, Galendra. Terima kasih untuk malam yang luar biasa."

Mereka berdua berpisah dengan perasaan yang hangat dan penuh harapan, menyadari bahwa pertemuan ini bukan hanya tentang pekerjaan, tapi mungkin awal dari sesuatu yang lebih besar dan bermakna dalam hidup mereka.

Malam itu, di ruang kerja Galendra yang megah namun terasa nyaman, dia duduk memikirkan langkah berikutnya. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya sejak pertemuannya dengan Sera. Galendra merasa bahwa ada peluang untuk membantu Sera sekaligus mencapai tujuannya sendiri. Pikirannya kembali ke cerita Sera tentang mantan suaminya, Arga, yang telah meninggalkan luka mendalam dalam hidupnya. Ide yang tidak biasa terlintas di benaknya.

Keesokan harinya, Galendra memutuskan untuk bertemu lagi dengan Sera. Dia menghubungi Rani untuk mengatur pertemuan pribadi di ruangannya. Sera datang dengan sedikit penasaran, tidak menyangka akan dipanggil secepat ini setelah pertemuan mereka yang terakhir.

"Selamat pagi, Galendra. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Sera dengan senyum ramah, meski hatinya sedikit gugup.

"Pagi, Sera. Silakan duduk. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Galendra sambil mempersilakan Sera duduk di kursi di depan mejanya.

Sera duduk dan memperhatikan Galendra yang tampak serius. "Apa yang ingin kamu bicarakan, Galendra?" tanyanya, penasaran.

Galendra mengambil napas dalam-dalam, berusaha memilih kata-kata yang tepat. "Sera, aku tahu ini mungkin terdengar aneh, tapi aku punya ide yang bisa menguntungkan kita berdua. Aku ingin menawarkan sebuah kerjasama... sebuah kontrak."

Sera mengerutkan kening, bingung. "Kontrak? Maksudmu apa?"

"Begini, aku tahu tentang mantan suamimu, Arga, dan bagaimana dia telah menyakiti kamu. Aku juga tahu bahwa kamu punya keinginan untuk membalas dendam, meskipun kamu mungkin tidak mengatakannya dengan jelas.

"Aku bisa membantumu mencapai tujuan itu," kata Galendra dengan tenang, memperhatikan reaksi Sera.

Sera terdiam sejenak, lalu menatap Galendra dengan tatapan penuh tanya. "Maksudmu... kamu ingin membantu aku membalas dendam pada Arga?Tapi bagaimana caranya?"

Galendra tersenyum tipis. "Aku punya sumber daya dan pengaruh yang bisa membuat hidup Arga tidak nyaman. Tapi aku butuh bantuanmu juga. Aku ingin kamu menjadi kekasih kontrakku. Kita akan berpura-pura sebagai pasangan, dan aku akan membantumu dalam segala hal yang kamu butuhkan untuk membalas dendam pada Arga."

Sera terkejut, tidak menyangka akan mendengar tawaran seperti itu. "Menjadi kekasih kontrak? Kenapa kamu ingin melakukan ini?"

"Ada beberapa alasan pribadi yang membuatku ingin melakukan ini, dan aku yakin kita bisa saling menguntungkan. Kamu akan mendapatkan kesempatan untuk membalas dendam, dan aku akan mendapatkan keuntungan dari situasi ini juga. Kita bisa bekerja sama untuk mencapai tujuan masing-masing," jelas Galendra dengan serius.

Sera berpikir keras, mencerna semua yang baru saja dikatakan Galendra. Tawaran itu terdengar menggiurkan, namun juga penuh risiko. "Bagaimana kalau aku setuju? Apa yang akan terjadi?"

"Kita akan menjalani kontrak ini dengan kesepakatan yang jelas. Aku akan memastikan Arga merasakan akibat dari perbuatannya, dan kamu akan mendapatkan dukungan penuh dariku. Tapi kita harus tampil meyakinkan sebagai pasangan. Ini bukan hanya soal membalas dendam, tapi juga tentang bagaimana kita bisa bekerja sama dengan baik," kata Galendra dengan mantap.

Sera menghela napas, hatinya berdebar-debar. Tawaran ini bisa menjadi jalan untuk menyelesaikan dendam yang selama ini dia pendam. "Baiklah, Galendra. Aku setuju dengan tawaranmu. Tapi aku ingin semuanya jelas dalam kontrak. Aku tidak mau ada hal yang merugikan di kemudian hari."

"Tentu, Sera. Kita akan menyusun kontrak ini dengan jelas dan transparan. Kamu tidak perlu khawatir," jawab Galendra sambil tersenyum lega.

"Ini akan menjadi awal dari kerjasama yang menarik."

Dengan perasaan campur aduk antara antusiasme dan ketidakpastian, Sera setuju untuk menjalin kerjasama dengan Galendra. Mereka berdua tahu bahwa ini bukan jalan yang mudah, tetapi jika dijalani dengan benar, bisa membawa mereka ke tempat yang lebih baik dan membalas dendam yang selama ini Sera impikan.

Dalam beberapa hari ke depan, mereka akan mulai menjalani peran mereka sebagai pasangan kontrak, dengan tujuan yang jelas dan tekad yang kuat. Galendra yakin bahwa bersama-sama, mereka bisa mengatasi segala rintangan dan mencapai tujuan yang diinginkan. Sementara itu, Sera merasa ada harapan baru dan kekuatan yang lahir dari kerjasama ini, siap untuk menghadapi masa depan dengan segala tantangannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 85

    Malam pertama di rumah terasa aneh sekaligus menenangkan buat Daffi, suara jangkrik dari taman belakang, aroma masakan mama Sera yang masih samar di dapur, dan langkah kaki orang-orang yang ia sayangi terdengar begitu nyata sampai dadanya terasa penuh, seperti ada ruang kosong yang perlahan terisi lagi tanpa ia sadar. Ia berbaring menatap langit-langit kamar, lampu tidur temaram, kepalanya masih sesekali nyut-nyutan, tapi yang lebih mengganggu justru potongan-potongan bayangan aneh yang muncul tiba-tiba—suara rem mendecit, kaca pecah, teriakan seseorang. “Ah…” ia meringis pelan sambil memegang pelipis. Tok tok. Pintu diketuk pelan. “Mas, aku masuk ya?” suara Giska lembut dari luar. “Iya… masuk,” jawab Daffi. Giska masuk bawa segelas susu hangat, duduk di tepi ranjang, “Dokter bilang minum ini biar tidurnya nyenyak.” Daffi menerimanya, lalu menatap Giska lama banget. “Ada apa?” tanya Giska kikuk. Daffi menghela napas pelan. “Aku ngerasa bersalah.” “Loh, kenapa?” “Aku nggak

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 84 Kepulangan Daffi dari RS

    Pagi berikutnya datang dengan suasana yang jauh lebih ringan, sinar matahari masuk lembut ke kamar rawat, Daffi terbangun perlahan dan mendapati Giska tertidur di kursi dengan kepala bersandar di sisi ranjangnya, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya terlihat lelah tapi tenang, membuat Daffi menatap lama tanpa sadar bibirnya terangkat tipis.“Giska…” panggilnya pelan.Giska tersentak bangun, langsung berdiri panik, “Mas? Kamu kenapa? Sakit?” tanyanya cepat-cepat.Daffi menggeleng pelan, “Nggak, aku cuma… kamu semalaman di sini ya?”“Iya,” jawab Giska sambil tersenyum kecil, “aku bilang juga apa, aku nggak ke mana-mana.”Daffi terdiam sejenak, lalu berkata jujur, “Aku nggak inget banyak hal, tapi tiap bangun dan lihat kamu, rasanya kayak pulang.”Kalimat itu membuat mata Giska berkaca-kaca, “Mas jangan ngomong gitu pagi-pagi,” katanya sambil tertawa kecil yang bergetar, “aku bisa nangis lagi.”Tak lama kemudian mama Sera dan papa Galen masuk membawa sarapan, mama Sera langsung mendeka

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 83 Ketegaran Gisha

    Pagi merambat masuk lewat celah jendela ICU, cahaya tipis menyentuh wajah Daffi yang kini terlihat sedikit lebih hidup meski tubuhnya masih dipenuhi selang, mama Sera duduk di samping ranjang sejak subuh dengan tangan tak lepas menggenggam jemari putranya, sementara papa Galen berdiri menyandarkan bahu ke dinding, matanya terus mengawasi setiap gerak kecil yang terjadi.Daffi mengerjap pelan, napasnya terdengar lebih teratur, “Ma…” panggilnya lirih lagi, kali ini lebih jelas.Mama Sera langsung condong, suaranya bergetar tapi hangat, “Iya, Nak… Mama di sini, kamu jangan banyak ngomong dulu ya.”Daffi mengangguk tipis, lalu matanya bergeser mencari, berhenti pada sosok Giska yang duduk tak jauh darinya, “Kamu… capek?” tanyanya polos, seolah tak tahu sudah berapa lama gadis itu menangis demi dirinya.Giska tersenyum sambil menyeka air mata, “Nggak, aku malah lega kamu bangun,” jawabnya cepat, takut suaranya pecah lagi.Dokter masuk dengan map di tangan, memeriksa kondisi sambil berkata

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 82 Daffi bangun?

    Pagi menjelang dengan langkah pelan, bau kopi pahit bercampur aroma antiseptik menyelimuti lorong rumah sakit, mama Sera masih di kursi yang sama, tak tidur semalaman, matanya merah tapi sorotnya tetap bertahan, “Dokter bilang apa lagi?” tanyanya begitu dokter jaga keluar dari ICU.Dokter menghela napas singkat, “Kondisinya stabil, tapi belum ada tanda sadar. Kita tunggu respons otaknya,” ucapnya hati-hati.Giska menunduk, jarinya saling mengait, “Mas Daffi kuat, Dok… dia pasti bangun,” katanya seperti meyakinkan diri sendiri.Tak lama, suara langkah tergesa terdengar, Aira datang dengan wajah pucat, “Mama… Papa…” suaranya pecah saat melihat kondisi sekitar, “Kak Daffi gimana?”Mama Sera langsung berdiri dan memeluk putrinya, “Doain kakakmu ya, Sayang… dia lagi berjuang.”Di sisi lain lorong, dua polisi mendekat ke papa Galen, suara mereka rendah namun tegas, “Pak, kami sudah mengamankan Lily. Beberapa bukti baru menguatkan keterlibatannya.”Papa Galen mengangguk dingin, “Lanjutkan. J

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 81 Kesedihan semua orang

    Koridor rumah sakit yang dingin itu kembali riuh ketika mama Sera dan papa Galen datang dengan langkah tergesa, wajah keduanya pucat dan napas tersengal karena panik setelah menerima telepon Giska yang suaranya gemetar, mama Sera langsung menghampiri Giska begitu melihatnya duduk lemas di bangku tunggu dengan tangan berlumur darah kering, “Giska… anakku… Daffi gimana keadaannya?” suaranya bergetar sambil memegang bahu menantunya itu, sementara papa Galen berdiri di samping mereka dengan rahang mengeras, matanya tajam menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. Giska menelan ludah, air matanya jatuh lagi tanpa bisa ditahan, “Masih di dalam, Ma… dokter bilang lukanya parah, kepalanya kena benturan keras, tangannya patah… aku takut…” ucapnya terbata, dan seketika mama Sera memeluk Giska erat, menepuk punggungnya pelan seolah mencoba menyalurkan kekuatan, “Sst… kamu harus kuat, Daffi anak kuat, dia darah Galen, dia nggak bakal gampang kalah,” ucapnya meski suaranya sendiri ber

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 80 Terluka Parah

    Pagi menjelang dengan langit kelabu, hujan semalam masih menyisakan genangan di sepanjang jalan menuju mansion keluarga Galen. Di ruang makan besar yang kini terasa lebih tenang, Daffi duduk menatap secangkir kopi yang mulai dingin, pikirannya masih bergulat dengan laporan dari Detektif Ardi. Giska datang membawa roti panggang, menyentuh pundaknya lembut sambil berbisik, “Kau belum tidur lagi, ya?” Daffi menghela napas pelan, “Sulit tenang, Giska. Lily belum berhenti, aku tahu. Dia pasti sedang menyiapkan sesuatu.” Giska duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat, “Apa pun yang dia rencanakan, kita hadapi bersama. Aku nggak mau kamu tanggung semua sendiri.”Daffi menatap wajah istrinya, sorot matanya melembut, “Kamu selalu jadi alasanku untuk tetap kuat.” Mereka berdua saling diam beberapa saat sampai langkah kaki Sera terdengar mendekat. “Kalian harus tetap hati-hati,” katanya sambil duduk di seberang meja. “Tadi pagi aku dapat kabar dari Ardi, mereka menemukan bukti baru—transa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status