author-banner
Author Receh
Author Receh
Author

Romane von Author Receh

Balas Dendam Wanita Yang Terhina

Balas Dendam Wanita Yang Terhina

DramaWanita KuatDewasaMandiriPerselingkuhanPengkhianatan
Serena Agatha, wanita yang sakit hati atas perlakuan mantan suami dan mantan mertuanya membuat wanita itu gelap mata. Dia membalas perbuatan keluarga angkuh dengan cara licik. akankah Sera akan terus larut dalam dendam atau justru memilih berhenti kala seorang pria mencintainya dengan tulus meski status wanita itu sendiri janda anak dua?
Lesen
Chapter: Bab 86 Ingatan Kembali
Seminggu kemudian kondisi Daffi semakin membaik. Wajahnya sudah tidak sepucat sebelumnya, langkahnya juga jauh lebih stabil meskipun dokter masih melarangnya melakukan aktivitas berat. Kehangatan perlahan kembali memenuhi mansion keluarga Galen. Suara tawa yang sempat menghilang kini terdengar lagi hampir setiap hari. Pagi itu ruang makan dipenuhi aroma sarapan yang baru selesai disiapkan. Mama Sera tampak sibuk mengatur piring, sementara papa Galen membaca koran di ujung meja. Aira sesekali melontarkan candaan yang membuat suasana semakin hidup. Daffi turun dari tangga dengan langkah pelan. Begitu melihatnya, mama Sera langsung tersenyum lebar. "Nah, pangeran tidur sudah bangun." Daffi menggeleng sambil tertawa kecil. "Mama masih menganggap aku anak kecil?" "Di mata Mama, kamu akan selalu jadi anak kecil." "Aduh." "Jangan protes." Semua orang tertawa. Tak lama kemudian Giska muncul dari dapur membawa segelas jus buah. "Ini harus diminum." Daffi menatap gelas itu lalu meng
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-25
Chapter: Bab 85
Malam pertama di rumah terasa aneh sekaligus menenangkan buat Daffi, suara jangkrik dari taman belakang, aroma masakan mama Sera yang masih samar di dapur, dan langkah kaki orang-orang yang ia sayangi terdengar begitu nyata sampai dadanya terasa penuh, seperti ada ruang kosong yang perlahan terisi lagi tanpa ia sadar. Ia berbaring menatap langit-langit kamar, lampu tidur temaram, kepalanya masih sesekali nyut-nyutan, tapi yang lebih mengganggu justru potongan-potongan bayangan aneh yang muncul tiba-tiba—suara rem mendecit, kaca pecah, teriakan seseorang. “Ah…” ia meringis pelan sambil memegang pelipis. Tok tok. Pintu diketuk pelan. “Mas, aku masuk ya?” suara Giska lembut dari luar. “Iya… masuk,” jawab Daffi. Giska masuk bawa segelas susu hangat, duduk di tepi ranjang, “Dokter bilang minum ini biar tidurnya nyenyak.” Daffi menerimanya, lalu menatap Giska lama banget. “Ada apa?” tanya Giska kikuk. Daffi menghela napas pelan. “Aku ngerasa bersalah.” “Loh, kenapa?” “Aku nggak
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-31
Chapter: Bab 84 Kepulangan Daffi dari RS
Pagi berikutnya datang dengan suasana yang jauh lebih ringan, sinar matahari masuk lembut ke kamar rawat, Daffi terbangun perlahan dan mendapati Giska tertidur di kursi dengan kepala bersandar di sisi ranjangnya, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya terlihat lelah tapi tenang, membuat Daffi menatap lama tanpa sadar bibirnya terangkat tipis.“Giska…” panggilnya pelan.Giska tersentak bangun, langsung berdiri panik, “Mas? Kamu kenapa? Sakit?” tanyanya cepat-cepat.Daffi menggeleng pelan, “Nggak, aku cuma… kamu semalaman di sini ya?”“Iya,” jawab Giska sambil tersenyum kecil, “aku bilang juga apa, aku nggak ke mana-mana.”Daffi terdiam sejenak, lalu berkata jujur, “Aku nggak inget banyak hal, tapi tiap bangun dan lihat kamu, rasanya kayak pulang.”Kalimat itu membuat mata Giska berkaca-kaca, “Mas jangan ngomong gitu pagi-pagi,” katanya sambil tertawa kecil yang bergetar, “aku bisa nangis lagi.”Tak lama kemudian mama Sera dan papa Galen masuk membawa sarapan, mama Sera langsung mendeka
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-10
Chapter: Bab 83 Ketegaran Gisha
Pagi merambat masuk lewat celah jendela ICU, cahaya tipis menyentuh wajah Daffi yang kini terlihat sedikit lebih hidup meski tubuhnya masih dipenuhi selang, mama Sera duduk di samping ranjang sejak subuh dengan tangan tak lepas menggenggam jemari putranya, sementara papa Galen berdiri menyandarkan bahu ke dinding, matanya terus mengawasi setiap gerak kecil yang terjadi.Daffi mengerjap pelan, napasnya terdengar lebih teratur, “Ma…” panggilnya lirih lagi, kali ini lebih jelas.Mama Sera langsung condong, suaranya bergetar tapi hangat, “Iya, Nak… Mama di sini, kamu jangan banyak ngomong dulu ya.”Daffi mengangguk tipis, lalu matanya bergeser mencari, berhenti pada sosok Giska yang duduk tak jauh darinya, “Kamu… capek?” tanyanya polos, seolah tak tahu sudah berapa lama gadis itu menangis demi dirinya.Giska tersenyum sambil menyeka air mata, “Nggak, aku malah lega kamu bangun,” jawabnya cepat, takut suaranya pecah lagi.Dokter masuk dengan map di tangan, memeriksa kondisi sambil berkata
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-10
Chapter: Bab 82 Daffi bangun?
Pagi menjelang dengan langkah pelan, bau kopi pahit bercampur aroma antiseptik menyelimuti lorong rumah sakit, mama Sera masih di kursi yang sama, tak tidur semalaman, matanya merah tapi sorotnya tetap bertahan, “Dokter bilang apa lagi?” tanyanya begitu dokter jaga keluar dari ICU.Dokter menghela napas singkat, “Kondisinya stabil, tapi belum ada tanda sadar. Kita tunggu respons otaknya,” ucapnya hati-hati.Giska menunduk, jarinya saling mengait, “Mas Daffi kuat, Dok… dia pasti bangun,” katanya seperti meyakinkan diri sendiri.Tak lama, suara langkah tergesa terdengar, Aira datang dengan wajah pucat, “Mama… Papa…” suaranya pecah saat melihat kondisi sekitar, “Kak Daffi gimana?”Mama Sera langsung berdiri dan memeluk putrinya, “Doain kakakmu ya, Sayang… dia lagi berjuang.”Di sisi lain lorong, dua polisi mendekat ke papa Galen, suara mereka rendah namun tegas, “Pak, kami sudah mengamankan Lily. Beberapa bukti baru menguatkan keterlibatannya.”Papa Galen mengangguk dingin, “Lanjutkan. J
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-02
Chapter: Bab 81 Kesedihan semua orang
Koridor rumah sakit yang dingin itu kembali riuh ketika mama Sera dan papa Galen datang dengan langkah tergesa, wajah keduanya pucat dan napas tersengal karena panik setelah menerima telepon Giska yang suaranya gemetar, mama Sera langsung menghampiri Giska begitu melihatnya duduk lemas di bangku tunggu dengan tangan berlumur darah kering, “Giska… anakku… Daffi gimana keadaannya?” suaranya bergetar sambil memegang bahu menantunya itu, sementara papa Galen berdiri di samping mereka dengan rahang mengeras, matanya tajam menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. Giska menelan ludah, air matanya jatuh lagi tanpa bisa ditahan, “Masih di dalam, Ma… dokter bilang lukanya parah, kepalanya kena benturan keras, tangannya patah… aku takut…” ucapnya terbata, dan seketika mama Sera memeluk Giska erat, menepuk punggungnya pelan seolah mencoba menyalurkan kekuatan, “Sst… kamu harus kuat, Daffi anak kuat, dia darah Galen, dia nggak bakal gampang kalah,” ucapnya meski suaranya sendiri ber
Zuletzt aktualisiert: 2025-12-19
Skandal Panas Sekretaris Seksi

Skandal Panas Sekretaris Seksi

DramaWanita KuatAroganPengkhianatan
Olivia Lauren, wanita berusia 25 tahun dia merupakan seorang sekertaris yang bekerja Perusahaan ternama. Dibalik kecantikan dan kecerdikan, Olivia memiliki rahasia panas yang berupa skandalnya bersama seorang Ceo tampan Akankah Olivia akan terus hidup dalam cacian orang lain dan menikmati skandalnya atau justru malah menyerah?
Lesen
Chapter: Season 2 Part 35 End
Hari pernikahan mewah Nayla dan Regan akhirnya tiba. Pagi itu, langit cerah seolah ikut merestui kisah cinta yang penuh liku. Di sebuah ballroom hotel bintang lima yang disulap menjadi taman bergaya klasik Eropa, para dekorator sudah menyelesaikan sentuhan akhir: bunga-bunga putih dan pastel menghiasi setiap sudut, lampu kristal menggantung anggun di atas altar, dan karpet merah terbentang dari pintu masuk hingga ke pelaminan. Di ruangan rias, Nayla duduk mematung. Gaun pengantinnya begitu anggun—berwarna ivory dengan detail renda yang lembut, menyelimuti tubuhnya bagaikan embun pagi. Rambutnya disanggul elegan, dihiasi tiara kecil yang berkilau. Namun yang paling mencolok adalah sinar matanya—campuran gugup dan bahagia. Seorang MUA membenahi riasan terakhir. “Kamu cantik banget, Kak Nayla. Calon suamimu pasti bakal terpesona.” Nayla hanya tersenyum kecil. Jantungnya berdetak tak karuan. Lalu pintu terbuka pelan. Ibunya masuk, mengenakan kebaya biru muda dengan sanggul rapi. Untu
Zuletzt aktualisiert: 2025-06-15
Chapter: Season 2 Part 34
Beberapa waktu lalu, segalanya terasa jauh lebih rumit bagi Regan. Ia tahu, mencintai Nayla berarti juga harus menghadapi tembok tinggi bernama ibunya. Seorang wanita keras kepala yang sudah lebih dulu menyimpan luka dan prasangka terhadap laki-laki sepertinya—berduit, berpengaruh, dan dianggap tidak benar-benar tulus.Tapi Regan tidak menyerah. Ia datang berulang kali, berdiri di depan pintu rumah sederhana itu, dengan sabar menunggu dan menghadap tatapan tajam yang tak pernah menyambut hangat. Ia tidak membela diri dengan kata-kata manis, melainkan dengan sikap. Ia menunduk ketika disalahkan, meminta maaf atas sesuatu yang bahkan belum ia lakukan, dan tetap datang esok harinya.Dan pada satu sore yang hujan, saat ibu Nayla membuka pintu dengan wajah lelah, Regan menyerahkan payungnya dan berkata dengan suara yang tenang namun mantap, “Saya mungkin bukan pria sempurna, Bu. Tapi saya mau belajar. Untuk Nayla, untuk Ibu juga.”Entah bagaimana, ketulusan itu perlahan meluruhkan kerasnya
Zuletzt aktualisiert: 2025-05-29
Chapter: Season 2 Part 33 Pergi dari rumah
Begitu Regan pergi, ibunya Nayla langsung menutup pintu dengan keras. Napasnya memburu, matanya penuh amarah saat berbalik menatap putrinya. “Kamu ini sebenarnya maunya apa, Nayla?!” bentaknya tajam. Nayla mengepalkan jemarinya, berusaha menahan air mata. “Aku nggak melakukan apa-apa, Bu. Regan yang datang ke sini, aku nggak mengundangnya.” “Tapi kamu juga nggak mengusirnya!” sergah ibunya. “Apa kamu masih belum kapok berurusan dengan laki-laki kaya? Setelah Darren, sekarang Regan? Kamu pikir mereka itu tulus? Mereka hanya mempermainkanmu, Nayla!” Nayla menggeleng, mencoba membela diri. “Regan beda, Bu. Dia nggak seperti Darren.” “Beda? Beda apanya?!” suara ibunya meninggi. “Semua laki-laki seperti mereka sama saja. Mereka bisa mendapatkan segalanya dengan mudah, termasuk perempuan yang mereka mau. Dan kamu? Kamu cuma akan jadi korban lagi, Nayla! Aku nggak mau melihat kamu jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.” Nayla meremas jemarinya. “Bu, aku sudah dewasa. Aku
Zuletzt aktualisiert: 2025-02-12
Chapter: Season 2 Part 32
Malam itu, setelah Regan pergi, Nayla duduk termenung di kamarnya. Hatinya terasa berat, meski ia sudah memutuskan untuk tetap tinggal bersama ibunya. Ia tahu ibunya hanya menginginkan yang terbaik, tapi mengapa ia merasa seperti burung dalam sangkar? Ibunya masuk ke kamar, membawa secangkir teh hangat. "Kamu udah makan malam?" tanyanya lembut. Nayla tersenyum kecil. "Udah, Bu." Sang ibu duduk di tepi ranjang, menatap putrinya penuh kasih. "Ibu tahu ini berat buat kamu, Nak. Tapi percayalah, keputusan ini yang terbaik. Pria kaya seperti Regan sama saja seperti mantan suamimu. Mereka punya kuasa untuk mengendalikan perempuan sepertimu." Nayla terdiam. Ia tahu ibunya berbicara berdasarkan pengalaman. Tapi Regan... ia berbeda, kan? "Kamu nggak perlu memikirkan dia lagi. Fokuslah pada hidupmu. Ibu hanya ingin kamu bahagia," lanjut sang ibu, mengelus punggung tangan Nayla. Nayla mengangguk pelan. "Iya, Bu..." Tapi saat ia berbaring di tempat tidur malam itu, pikirannya tetap
Zuletzt aktualisiert: 2025-02-10
Chapter: Season 2 Part 31
Malam itu, setelah makan malam selesai, Regan kembali ke kamarnya. Ia berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang mansion. Hatinya gelisah. Kata-kata ibunya terus terngiang di kepalanya. Ia sadar Nayla butuh waktu. Tapi, apakah ia bisa menunggu? Atau lebih tepatnya, apakah ia bisa membiarkan Nayla terus berada di bawah tekanan ibunya? Regan menghela napas panjang, lalu meraih ponselnya. Ia mencoba menghubungi Nayla, tapi seperti yang sudah ia duga, nomor itu tidak aktif. Pasti ponsel Nayla masih disita oleh ibunya. Ia mengepalkan tangannya, merasa frustasi. Tak lama kemudian, pintu kamarnya diketuk. Sean masuk dengan ekspresi santai. “Kak, masih kepikiran Nayla?” Regan menoleh dan tersenyum tipis. “Apa kelihatannya?” Sean tertawa kecil, lalu berjalan mendekat. “Aku nggak nyuruh Kakak buat nyerah, ya. Tapi coba deh, jangan cuma fokus buat rebut Nayla dari ibunya. Kakak harus yakinin dia kalau dia butuh Kakak juga.” Regan terdiam. Ada benarnya. Ia bisa
Zuletzt aktualisiert: 2025-02-08
Chapter: Season 2 Part 30 Nasehat Keluarga
Di kediaman keluarga Regan, suasana terasa tegang. Olivia duduk di ruang keluarga dengan ekspresi khawatir, sementara Arjun berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di dada. Mereka baru saja menerima kabar bahwa Regan diusir dari rumah Nayla, dan itu membuat mereka tak habis pikir. Regan masuk dengan langkah cepat, masih dengan wajah dingin dan rahangnya mengeras. Olivia langsung berdiri dan menghampiri putranya. "Apa yang sebenarnya terjadi, Regan? Kenapa ibunya Nayla sampai bersikap seperti itu?" tanya Olivia cemas. Regan melepas jasnya dan melemparkannya ke sofa. “Dia membenci pria kaya. Dia pikir aku nggak lebih baik dari Darren.” Arjun menghela napas panjang. “Dan kamu hanya menerima begitu saja? Seharusnya kamu bicara baik-baik dengan wanita itu.” Regan mendengus sinis. “Sudah. Tapi ibunya tetap bersikeras. Bahkan menyita ponsel Nayla agar aku nggak bisa menghubunginya.” Olivia menatap putranya dengan iba. Ia tahu betapa Regan mencintai Nayla. “Jadi, kamu mau
Zuletzt aktualisiert: 2025-02-07
Kecantol Cinta Janda

Kecantol Cinta Janda

Wanita KuatCinta yang ManisPerbedaan UsiaCinta PertamaKomediBadboyBos / CEOIbu Tunggal
Cinta tak memilih status, bahkan saat hatimu sudah hancur berkeping-keping. "Aku janda, Kiwi. Punya masa lalu, punya luka. Masih mau jatuh cinta sama aku?" "Aku bukan cari yang sempurna, Melon. Aku cari yang nyata." Kiwi Arsenio—pria mapan, tampan, dan jadi rebutan banyak wanita—jatuh cinta bukan pada wanita muda yang menggoda, tapi pada Melon Zavira, janda satu anak yang lebih suka menghabiskan waktu di rumah sambil menanam bunga daripada pamer di media sosial. Namun cinta mereka tidak semudah resep smoothie. Masa lalu Melon yang kelam dan keluarga Kiwi yang penuh tuntutan membuat hubungan ini seperti buah yang belum matang—butuh kesabaran, pengorbanan, dan keberanian untuk bisa dinikmati. Mampukah Kiwi bertahan demi cinta yang tak biasa ini? Atau justru Melon yang akan mundur, demi melindungi hati yang pernah retak?
Lesen
Chapter: Bab 30 Persiapan menuju pernikahan
Melon memandangi foto itu cukup lama. Jantungnya memang sempat berdegup lebih cepat. Namun perlahan ia menarik napas dalam. Lalu mengembuskannya pelan. Kiwi yang berdiri di sampingnya masih mengepalkan tangan. "Aku akan laporkan ini ke polisi." "Tunggu." Melon menyentuh lengan pria itu. "Kita pikirkan dengan tenang." "Melon, ini bukan masalah kecil." "Aku tahu." "Mereka memotret Jeruk." "Aku juga tahu." Suara Melon tetap lembut. Tidak tinggi. Tidak panik. Justru ketenangannya membuat Kiwi perlahan ikut menenangkan diri. --- Melon kembali melihat foto itu. Ia memperbesar gambar. Memperhatikan setiap sudut. Lalu menggeleng pelan. "Aku tidak mau orang ini berhasil." Kiwi mengernyit. "Maksudmu?" "Dia mengirim pesan seperti ini karena ingin kita takut." "Kalau kita panik..." "Berarti dia menang." Kiwi terdiam. Ucapan Melon masuk akal. Sangat masuk akal. --- Melon menghapus air mata yang tadi sempat jatuh. Kemudian menatap Kiwi dengan senyum kecil. "Ingat w
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-27
Chapter: Bab 29 Ancaman Nyata
Melon menatap layar ponselnya tanpa berkedip.Foto itu masih terpampang jelas.Kiwi.Lemonta.Dan kalimat yang membuat jantungnya berdebar tidak nyaman.> Kita perlu bicara sebelum kamu menikah."Melon?"Suara Bu Nayla kembali terdengar.Wanita itu langsung berpindah kursi dan duduk di samping Melon."Ada apa?"Melon menyerahkan ponselnya.Bu Nayla membaca pesan itu.Wajahnya langsung berubah serius."Nomor siapa ini?""Tidak tahu.""Dia menghubungimu lagi?"Melon menggeleng."Baru kali ini."Bu Nayla langsung mengambil ponselnya sendiri."Aku telepon Kiwi."---Saat itu juga Kiwi masih berdiri di depan rumah baru.Suasana antara dirinya dan Lemonta semakin tegang."Kamu tidak punya hak mengganggu hidup Melon lagi."Lemonta tertawa pendek."Aku ayah Jeruk.""Kamu baru ingat sekarang?"Senyum Lemonta memudar."Aku mengakui kesalahanku.""Dan aku ingin memperbaikinya."Kiwi menggeleng."Tidak.""Kamu ingin kembali karena melihat mereka bahagia.""Itu berbeda."Mata Lemonta mulai mengera
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-25
Chapter: Bab 28 Badai sebelum pernikahan
Hari-hari setelah kunjungan Bu Nayla berlalu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Tidak ada lagi pertengkaran besar.Tidak ada lagi drama yang menguras air mata.Namun justru ketenangan itulah yang membuat semuanya terasa menegangkan.Karena semakin dekat ke hari pernikahan, semakin banyak perasaan yang bermunculan.Bahagia.Takut.Gugup.Harap.Dan sesekali, cemas.---Sebulan setelah pertemuan itu, hubungan Melon dan Kiwi perlahan membaik.Bukan dengan cara yang terburu-buru.Mereka memilih berjalan pelan.Sangat pelan.Kiwi tak lagi memaksa.Ia datang hanya ketika diizinkan.Ia menelepon hanya ketika diperlukan.Ia belajar bahwa cinta tidak bisa dipaksa tumbuh melalui kata-kata.Melainkan melalui konsistensi.Dan Melon melihat semuanya.Melihat bagaimana Kiwi benar-benar berubah.Melihat bagaimana pria itu tidak lagi sekadar berjanji.Melainkan bertindak.---Pagi hari.Kiwi mengantar Jeruk ke sekolah.Siang hari.Ia mengecek pembangunan rumah.Malam hari.Ia membantu Melon memil
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-24
Chapter: Bab 27 Hampir selesai
Melon masih duduk terpaku di kursinya.Matanya sedikit merah.Bukan karena sedih.Melainkan karena selama bertahun-tahun, ia terbiasa menghadapi tatapan meremehkan setiap kali status jandanya diketahui orang lain.Namun hari ini berbeda.Untuk pertama kalinya, seseorang yang seharusnya memiliki alasan paling besar untuk menolaknya justru menerimanya dengan tangan terbuka.Jeruk yang masih berada di pangkuan Bu Nayla tampak nyaman."Nenek cantik," puji Jeruk polos.Bu Nayla langsung tertawa bahagia."Aduh, cucu bonus Nenek ini pintar sekali."Jeruk mengangguk bangga."Tentu saja. Aku anak Ibu Melon."Mereka bertiga tertawa bersama.Suasana yang tadinya canggung berubah hangat.Sangat hangat.---Tak lama kemudian Bu Nayla menoleh ke arah Melon."Ada satu hal yang belum sempat Ibu ceritakan."Melon mengusap sudut matanya."Apa itu, Bu?"Bu Nayla tampak ragu sesaat.Lalu tersenyum kecil."Rumah yang sedang dibangun Kiwi."Melon mengernyit."Rumah?""Iya.""Rumah yang hampir selesai."Mel
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-23
Chapter: Bab 26 Pendapat Calon Mertua
Kiwi masih berdiri di pinggir jalan bahkan setelah sosok Melon dan Jeruk menghilang di tikungan. Mobil-mobil berlalu lalang di depannya, tetapi pikirannya kosong.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar kehilangan seseorang karena kesalahannya sendiri.Bukan karena orang ketiga.Bukan karena keadaan.Melainkan karena ia terlalu lama membiarkan semuanya menggantung.---Sementara itu, Melon dan Jeruk sudah tiba di rumah.Jeruk langsung duduk di ruang tamu, membuka kotak pensil warna barunya dengan penuh semangat."Ibu, lihat! Yang ini warna emas!""Bagus.""Yang ini warna perak!""Bagus juga."Jeruk mendadak berhenti.Ia menatap ibunya yang sedang menyusun belanjaan di meja."Ibu.""Hm?""Ibu sedih ya?"Melon tersenyum tipis."Enggak.""Bohong."Melon tertawa kecil."Kamu kok makin pintar sih?"Jeruk mengangkat bahu."Aku kan anak Ibu."Jawaban itu berhasil membuat Melon tertawa sungguhan.Jeruk lalu memeluk pinggang ibunya."Aku cuma nggak suka kalau Ibu sedih."Melon mem
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-22
Chapter: Bab 25
Sore itu mereka kembali ke rumah keluarga Kiwi, tapi suasananya sudah beda. Bukan lagi “main ke rumah orang tua”. Tapi rasanya seperti… keluarga yang lagi nyiapin hajatan. Mama Kiwi langsung bergerak cepat. “Kita hitung tamu. Keluarga inti dulu. Nggak usah banyak-banyak.” Ayah Kiwi buka buku catatan lama. “Tenda kecil cukup. Halaman muat dua puluh kursi.” “Catering sederhana aja,” tambah Mama Kiwi. “Nasi kuning, lauk rumahan. Nggak usah gaya hotel.” Kiwi berbisik ke Melon, “Lihat kan? Mereka lebih heboh dari kita.” Melon tertawa pelan. “Aku suka yang begini. Nggak ribet.” Jeruk lari ke tengah ruang tamu. “Aku tugas apa?” Semua berhenti. Mama Kiwi menunjuk dia. “Kamu bawa cincin.” Jeruk langsung berdiri tegap. “Siap!” Ayah Kiwi menimpali, “Tapi jangan sampai jatuh.” Jeruk panik. “Eh… aku latihan dulu deh.” Semua tertawa. --- Menjelang magrib, Kiwi dan Melon akhirnya punya waktu berdua di teras belakang. Langit oranye. Udara adem. Suara piring dari dapur samar-samar.
Zuletzt aktualisiert: 2026-02-03
Das könnte dir auch gefallen
Istri Delapan Puluh Kilo
Istri Delapan Puluh Kilo
Rumah Tangga · Ummu Nadin
1.9K Aufrufe
Bukan Kesepakatan Pernikahan
Bukan Kesepakatan Pernikahan
Rumah Tangga · Rose Milkyway
1.9K Aufrufe
FITNAHMU ADALAH DOAMU, MAS!
FITNAHMU ADALAH DOAMU, MAS!
Rumah Tangga · BUNGA MAYANG
1.9K Aufrufe
Marriage Agreement
Marriage Agreement
Rumah Tangga · hinatasenja
1.9K Aufrufe
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status