LOGINRisa menikahi suaminya karena terpaksa, tapi suaminya—Bara hanya mau tubuhnya. Saat anaknya lahir, ASI-nya tak keluar, bayinya rewel, tubuhnya lelah, namun Bara tak pernah peduli. Saat Damar, kakak angkat Bara, datang tinggal sementara, ia akhirnya melihat sendiri bagaimana Risa diperlakukan. Bara makin sering pergi. Damar makin sering ada di sisi Risa. Dan tanpa pernah direncanakan, Damar mulai menjadi sosok yang seharusnya menjadi peran Bara. "Mas, ini kayanya gabisa kalau dikompres aja. Kalau mas bantu hisap— mas bisa, gak ya?”
View More“Risa! Urusin anak kamu itu! Berisik banget!”
Hentakkan itu membuat Risa mendongak.
Pasalnya, dari pagi ia menahan sakit di tubuhnya.
“Tapi Sara nangis terus dari tadi, Mas. Badanku masih lemes banget ...,” lanjut Risa sembari mengayun tubuh Sara penuh kelembutan. Sebulir keringat mulai bercucuran menandakan bagaimana rasa lelah yang ia derita.
“Kamu baru segitu aja ngeluh. Gimana aku yang baru pulang kerja! Aku tuh capek! Urus anak kamu yang berisik banget!”
Pelipisnya makin basah oleh keringat, satu tangan menimang Sara yang terus menangis tanpa jeda. Matanya sayu, wajahnya pucat, tubuhnya menggigil di bawah lampu redup yang nyaris padam.
Risa menahan napas, menatap bayinya yang menangis di pelukannya.
“Aku cuma minta tolong bikinin susu, Mas,” bisiknya.
“Ya udah, gendong aja. Ntar juga diem sendiri,”
Suara Bara membelah kamar sempit itu seperti cambuk. Jemarinya sibuk menggulir ponsel, seakan dunia Risa dan anak mereka hanya suara latar yang mengganggu.
Risa menatap suaminya lama, antara lelah dan putus asa.
“Mas, tolong banget, aku takut jatuh kalau jalan ke dapur. Aku cuma minta tolong bikinin susu, sebentar aja…” katanya lirih, tapi di akhir kalimatnya suaranya bergetar.
“Risa, kamu tuh bisa nggak sih jangan manja?” Bara mengangkat wajahnya dengan tatapan menusuk. “Lagian kenapa ASI kamu nggak keluar-keluar juga, hah? Pantes anakmu rewel mulu.”
Risa menelan ludah, mencoba tetap lembut. “Aku udah coba, Mas. Tapi—”
“Udah, bawa aja anak kamu keluar. Aku mau tidur.”
Tangannya gemetar. Pandangannya buram.
Risa menggoyang tubuh Sara pelan, memohon pada bayi itu untuk berhenti menangis. Tapi tubuhnya sendiri limbung—dan sebelum sempat ia sadari, langkahnya goyah ke belakang.
Sebuah tangan sigap menahan bahunya.
“Pelan-pelan, Ris.”
Suara itu terdengar melegakan.
Risa menoleh, dan menemukan Damar berdiri di ambang pintu—kaus abu-abu yang dikenakannya kusut, rambutnya sedikit berantakan.
Sudah beberapa hari ini Damar menumpang di rumah itu. Rumah tua peninggalan orang tuanya—yang kini ditempati Bara dan Risa—masih menyimpan aroma masa lalu yang belum sepenuhnya hilang. Karena proyek kerjanya di Berlin baru saja selesai, Damar memutuskan pulang untuk sementara, menunggu waktu sebelum kembali terbang ke luar negeri.
“Mas Damar…,” panggil Risa pelan, suaranya hampir tenggelam di antara detak canggung yang memenuhi udara.
Risa terdengar ragu, seperti takut keberadaannya justru akan memperburuk keadaan.
Damar menatap sekilas pintu kamar yang tertutup rapat, lalu menatap Risa lagi. “Udah, sini. Aku bantu.”
Ia menahan bahu adik iparnya itu, membimbingnya perlahan ke kursi di ruang makan.
Langkah-langkah kecil Risa terdengar samar di sela tangisnya yang melemah.
“Biar aku aja yang buatin susunya,” ucap Damar akhirnya.
“Eh, nggak usah, Mas. Nanti Mas tambah capek … Mas kan baru sampai dari Berlin.”
“Tapi kamu bisa jatuh kalau tetap maksain diri,” potongnya lembut, tanpa nada perintah, tapi juga tak memberi ruang untuk bantahan.
Risa hanya bisa diam, menatap punggung Damar yang kini bergerak di dapur. Suara sendok, air panas, dan botol kaca beradu menenangkan hatinya lebih dari apapun.
Tak lama kemudian, lelaki itu kembali dengan botol kecil berisi susu hangat.
“Coba, ini. Udah pas.” Ia mengetes suhu di pergelangan tangan sebelum menyerahkan ke Risa.
Gerakannya hati-hati, nyaris seperti seorang ayah sejati. Oh— sejak kapan ia memikirkan ini?
“Terima kasih, Mas,” bisiknya, suaranya bergetar pelan.
Damar hanya mengangguk, lalu duduk di kursi seberang. Pandangannya tak pernah benar-benar meninggalkan Risa, tapi juga tidak menelanjangi. Ada sesuatu di sana—campuran kasihan, marah, dan sayang yang belum punya nama.
Sara mulai menyusu perlahan.
“Kamu kelihatan pucat,” ucap Damar lirih. “Udah makan?”
Risa menggeleng. Damar menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis. “Abis ini makan, ya. Aku jagain Sara dulu.”
Suara isapannya membuat ruangan itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
“Bara kayak gitu terus?” Damar akhirnya bertanya, suaranya rendah tapi menusuk.
Risa tak menjawab. Ia hanya menunduk, matanya berkaca. “Dia cuma lagi capek, Mas…” katanya menutupi luka yang tak bisa ditutup.
Ia mengepalkan tangannya di atas meja, lalu melepaskannya lagi perlahan. Damar menghela napas pelan, lalu berdiri, mendekat ke arah mereka.
Saat ia berjongkok, tangan mungil Sara tiba-tiba mencengkeram jari telunjuknya kuat-kuat, membuat lelaki itu tertegun.
Risa ikut menatap pemandangan itu. Ada kehangatan yang menjalar pelan di dadanya—campuran aneh antara haru dan rasa yang tak bisa ia namai.
Ia menghembuskan napas panjang.
“Kamu istirahat dulu. Gantian aku yang jagain Sara,” ujarnya menatap Risa sekilas.
Risa kembali menggelengkan kepalanya, meski matanya tampak sayu akibat rasa lelah yang tak lagi bisa ia tahan. “Nggak usah, Mas. Aku masih kuat kok. Lagian ... aku juga takut kalo Sara nangis dan ganggu tidurnya Mas Bara,” jujur Risa dari lubuk hatinya.
Damar menatap Risa lama dengan alis yang bertaut, seakan ingin mengatakan banyak hal pada adik iparnya itu, tapi ia memutuskan untuk menahannya. “Kamu nggak perlu maksain diri kamu,” ucapnya pelan. “Kamu juga butuh istirahat, kalo kamu tumbang, gimana mau jagain Sara?”
Risa menunduk, di sudut hatinya, ia ingin sekali memejamkan mata, tapi di sudut lainnya, ia tak tega membiarkan pria itu menimang anaknya seorang diri, apalagi Damar tak pernah memegang Sara sebelumnya, pikirannya melayang pada sore itu ketika tangisan Sara yang menggema dan berhasil membuat Bara naik pitam, seakan darah dagingnya itu adalah pengganggu baginya.
“Aku udah biasa, Mas ... nanti juga sembuh sendiri,” jujur Risa dengan nada getir.
Damar menghela napas panjang, tatapan tajam dan menusuk berhasil membuat Risa tak berkutik. “Ris,” pangilnya tegas, membuat Risa mendongakkan kepalanya dan membalas tatapannya. “Tidur.”
Risa terdiam, antara ingin menuruti atau kembali menolak dan bersikukuh dengan pemikirannya sendiri.
Risa terdiam, antara ingin menuruti atau kembali menolak. Tapi sebelum ia sempat menjawab, Damar bergerak—meletakkan bantal di sisinya, jaraknya hanya sejengkal dari tempat Risa berbaring sementara jemari Damar masih dalam genggaman Sara.
“Kamu nurut, ya,” tukasnya pelan. “Nanti aku bangunin kalau susunya habis.”
Suara itu datar— namun entah mengapa bergetar untuk pertahanannya. Mana pernah suaminya seperti ini?
“Mas ...,” lirih Risa hampir tak terdengar, “aku ... pusing ...,” ujarnya, merasakan pandangannya buram.Damar langsung menegang. “Risa?”Kelopak mata Risa berkedut, tubuhnya condong ke depan, hampir jatuh dari sofa. Damar sigap meraih bahunya, menahan tubuh itu sebelum benar-benar ambruk.“Risa!” amar menguncang tubuh Risa beberapa kali, mencoba membuatnya tetap tersadar. “Hei. Jangan merem. Dengar aku.”Tangan Risa meraih udara kosong, gemetar, lalu jatuh lemas ke pangkuannya.“Mas ... aku ... nggak bisa napas ...,” bisiknya parau.Damar membeku sepersekian detik—cukup untuk menunjukkan rasa takutnya—lalu langsung mengangkat wajah Risa dengan kedua tangannya.“Risa, buka mata. Sekarang.”Risa mencobanya ... tapi pandangannya kabur. Badannya dingin. Kepalanya terasa ringan.“Mas ... gelap ...”Tubuhnya terkulai.Damar menahan napas meliat Risa yang semakin lemah.“RISA!”Risa membuka mulutnya sedikit, seperti ingin bicara—tapi tak ada suara yang keluar.Tubuhnya tiba-tiba jatuh penuh
Damar menepis tangan Risa dari pompa itu dengan cepat—keras—pompa itu jatuh ke lantai. Menimbulkan suara yang cukup keras. Damar bergegas menggeser tubuhnya, menghalangi Risa menggapai pumping itu.“RISA!” bentaknya.Risa tersentak, menatap nanar pumping miliknya yang kini teronggok di balik badan Damar. “Mas! Kenapa—”“Karena kamu nyakitin diri sendiri,” jawabnya datar. Sangat datar.Risa mendongak, berlinang air mata. “Aku cuma mau ngeluarin ASI! Tadi udah keluar! Harusnya bisa lebih banyak—”“Risa.”Bentakan Damar tajam. Mengiris. Dingin. “Kamu perahnya sembarangan. Ritmenya nggak bener. Kamu maksa perah ASI sampai merah,” ujar Damar melihat sekilas area dada Risa, melihat sebagai kakak ipar yang cemas, bukan pria bernafsu.Risa menggeleng keras, napasnya tersengal, dadanya naik turun tak karuan. “Awas! Aku harus isi botolnya! Kalau aku nggak perah, nanti ASI-nya makin sedikit—Mas nggak ngerti—”“Aku ngerti.”Damar jarang—sangat jarang—menaikkan suara.Wajahnya mengeras. Rahangnya
Damar mendongak perlahan—sangat perlahan—seolah Risa baru saja menamparnya dengan pertanyaan itu. Tatapannya kosong, sebelum akhirnya ia mengembalikan fokusnya pada Risa.“Jangan paksa aku buat jawab pertanyaan yang bahkan kamu sendiri tahu itu nggak benar,” ucapnya dingin.Nada suaranya rendah, serak, tapi tetap stabil. Tidak ada belaian. Tidak ada pelukan. Hanya ketegasan yang terus menusuk.Risa menggigit bibirnya, bahunya bergetar. “Tapi Mas nggak jawab ... berarti—”“Tuhan, Risa.”Damar mengusap wajahnya sendiri—frustasi—lalu menunduk, seperti menahan amarah yang sudah mencapai batas.“Kalau kamu ngomong kayak gitu terus,” ia menatap Risa tajam, “kamu bukan cuma nyakitin diri kamu sendiri. Kamu nyakitin Sara juga.”Risa terdiam. Napasnya tercekat.“Dia butuh kamu. Ibu kandungnya.”Damar mencondongkan tubuh sedikit, memnyadarkan Risa, tapi suaranya menekan dada Risa seperti beban.“Kamu masih bertahan di sini, masih berani buat nyoba, masih mau nyusuin dia walaupun sakitnya seteng
"Udah?" Damar memicingkan matanya, menatap Risa yang tengah merapikan tas milik Sara."Iya," jawab Risa singkat.Damar mengangguk, tangannya membuka pintu mobil dengan mudah dan meninggalkan Risa yang masih meredakan debaran di dadanya."Duh, gimana ya?" gelisah Risa, ragu. Ia menatap keluar, mendapati Damar yang tengah menunggunya di depan sana. "Sara, Nak ... kamu harus kerja sama sama Mama ya, Sayang," ujarnya menata Sara, menepuk gadis mungil itu penuh kasih syaang.Tok. Tok.Ketukan di jendela samping membuatnya terkejut, lebih terkejut lagi ketika mendapati Damar yang sudah membuka pintu mobil. "Aku bawain," ujarnya satai.Risa terpaku, matanya tak henti menatap Damar dengan perasaan sungkan. Sedetik kemudian, pandangan mereka bertemu, membuat keduanya sedikit canggung."Ayo," ujar Damar, memperingati."E-eh," jawabnya terkesiap. "I-iya, Mas," lanjutnya. Ia keluar mobil, dan berjala di sisi Damar yang kini melambatkan langkahnya."Dokter udah nunggu," lirih Damar membuat Risa mem












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews