MasukSETA lantas melangkah keluar dari dalam ruang tahanan. Namun baru saja tangannya membuka pintu ruangan tersebut, terdengar suara berdesing dari arah belakang.
Sing!
Sontak Seta miringkan tubuhnya ke samping. Sebilah pedang lewat persis satu jengkal dari bahunya.
Pucatlah wajah sang prajurit mengetahui hal itu. Sempat terlambat menghindar, pasti batang lehernya sudah kena babat putus oleh sambaran pedang tajam tersebut.
“Pembokong keparat!” geram Seta.
Sembari berkata begitu sang prajurit balikkan badannnya. Sebelah kakinya terangkat, melepas satu tendangan memutar ke arah pembokong di belakang.
Des!
“Aaaa!”
Serangan balasan yang tak disangka-sangka itu mendarat telak di rahang lawan. Terdengar jeritan mengaduh. Lalu berisik suara tembok ruang tahanan terhantam benda besar lagi berat. Ditutup nyaring bunyi berkelontangan.
Rupanya yang baru saja melakukan bokongan adalah salah
FAJAR baru saja menyingkap langit timur ketika Seta keluar dari kediamannya di sisi barat istana. Udara dingin menusuk kulit, membawa aroma embun dan bunga kenanga dari taman permaisuri. Ia berjalan cepat melewati lorong panjang berlapis ubin batu. Di tangan kirinya tergenggam secarik kertas lusuh — catatan kecil yang ia temukan di dapur setelah Nini menghilang malam tadi.Tulisan di atasnya hampir pudar, tapi satu kalimat masih terbaca jelas: “Yang datang lewat pintu timur, bukan utusan, melainkan bayangan.”Seta memutar kalimat itu di kepalanya. Ia tahu, pintu timur istana jarang dipakai, hanya dibuka untuk tamu kerajaan tertentu atau untuk keluar masuk para pengawas kebun belakang. Tapi seminggu terakhir, penjaga di sisi timur mendadak diganti dengan wajah-wajah baru — prajurit muda yang tak pernah ia lihat sebelumnya.“Hamba mesti periksa sendiri,” desisnya.Lorong berakhir di pelataran kecil. Beberapa daya
MALAM itu angin berembus lirih melewati pepohonan taman istana. Bayangan lentera bergoyang di dinding bata, menimbulkan kesan seolah ada arwah yang menari di antara kelam. Seta berdiri di tepi kolam, menatap permukaannya yang bergemericik diterpa angin. Di bawah sinar bulan, wajahnya tampak letih, matanya dalam, menyimpan beban yang semakin berat dari malam ke malam.Sudah tiga hari ia menyelidiki dari balik bayang. Setiap langkah berhitung, setiap kata ditimbang. Ia tahu betul bahwa mata dan telinga Dyah Srengga bertebaran di seluruh penjuru istana Panjalu. Tak satu langkah pun boleh keliru, sebab kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat lehernya melayang.“Bukti yang nyata,” gumamnya perlahan. “Hamba mesti temukan itu, sebelum Gusti Permaisuri celaka.”Ia memejamkan mata, mengingat kembali pertemuannya terakhir dengan Sasi Kirana siang tadi. Wajah sang permaisuri yang biasanya teduh tampak resah, suaranya bergetar ketika memerintah agar
MALAM itu langit Panjalu berawan berat. Angin berembus pelan membawa bau bunga kenanga dari taman belakang istana, bercampur samar dengan hawa lembap tanah setelah hujan sore tadi. Seta belum tidur. Matanya menatap tajam ke arah jendela, mendengarkan setiap langkah yang melintas di luar biliknya.Sejak kematian Lira, perasaannya tak pernah benar-benar tenang. Ada sesuatu yang janggal. Ia telah bertanya ke beberapa emban, tapi tak satu pun tahu mengapa perempuan itu keluar dari dapur tengah malam. Lira dikenal rajin, sopan, dan jarang berbuat aneh—tidak mungkin ia mati hanya karena terpeleset.Suara langkah halus terdengar melewati lorong. Seta menegakkan tubuh, beringsut ke pintu. Dari celah bilik, ia melihat dua sosok lewat dengan membawa bakul kecil tertutup kain putih. Mereka berpakaian seperti abdi dapur, tapi langkahnya terlalu berhati-hati, terlalu sunyi.Naluri seorang prajurit bekerja lebih cepat dari pikirannya. Seta mengenakan ikat kepala dan kel
MALAM itu, angin bertiup pelan dari arah hutan utara, membawa bau lembap tanah dan rerumputan. Istana Panjalu tampak tenteram di permukaan, tapi di bawah permukaannya ada arus gelap yang mulai berputar—dan Seta berdiri tepat di tepinya.Sejak menemukan surat rahasia itu di bawah lantai bangsal timur, pikirannya tak pernah tenang. Kata-kata dalam pesan itu berputar-putar di kepalanya seperti mantra yang sulit lenyap: “Tunggumu di batu bundar. Malam saat rembulan ganjil.”Dan malam ini, rembulan itu sedang ganjil—bulan purnama menyorot miring, menimbulkan bayang panjang di atas taman belakang istana.Ia melangkah pelan di antara deretan pohon tanjung dan kamboja. Taman belakang itu berada di sisi timur tembok, jarang dilalui orang kecuali para abdi yang menyapu daun di pagi hari. Di tengah taman ada sebuah batu besar berbentuk bulat pipih, hampir tertutup lumut—itulah yang diyakininya sebagai “batu bundar” dalam pesan.Seta menunggu dari balik semak. Dari kejauhan, ia bisa melihat jalan
Seta menunggu hingga matahari tergelincir dari ubun-ubun. Saat itu, kebanyakan abdi dalem akan sibuk di bangsal tengah—membersihkan ruangan utama setelah santap siang para pembesar. Waktu yang tepat untuk menyusup ke bangsal timur, tempat Wadu tinggal sebelum ia menghilang entah ke mana.Seta memilih jalan belakang, melalui lorong-lorong sempit yang biasa dilalui pengangkat air dan pemikul kayu. Langkahnya ringan, tubuhnya setengah bersembunyi di balik tiang dan tabir. Ia tahu betul, satu kesalahan kecil bisa membuatnya diadili karena menyusup ke ruang kediaman abdi dalem tanpa izin.Bangsal timur sunyi. Di luar, hanya ada satu penjaga yang duduk malas sambil mengunyah sirih. Seta menunggu sampai penjaga itu lengah, lalu menyelinap masuk lewat pintu samping.Ruangan itu gelap, lembap, dan penuh bau keringat. Tikar pandan digelar berderet, menunjukkan bahwa tempat itu dihuni beberapa orang sekaligus.Seta melangkah pelan, menyusuri sudut demi sudut h
Langkah Seta tak langsung menuju ke barak. Pagi itu, setelah meninggalkan kediaman permaisuri, ia berputar arah ke sisi belakang istana.Di sanalah dapur besar kerajaan berdiri, nyaris tak pernah sepi sejak fajar. Asap tipis mengepul dari tungku tanah liat, aroma rebusan daging dan beras merah bercampur dengan harum dedaunan segar yang baru dipotong.Seta menyusup di antara para pelayan yang sibuk, menyapa sekadarnya agar tak tampak mencurigakan. Pandangannya mencari satu nama—Ni Lastri, juru masak kepala yang sudah puluhan tahun mengabdi di istana permaisuri.Tak lama, ia menemukan orang yang dicari-cari di balik anyaman tikar bambu, tengah membersihkan lembaran-lembaran daun pisang.“Ni Lastri…” Seta menyapa dengan suara rendah.Perempuan tua itu menoleh cepat, sedikit heran. “Oh, Raden Seta? Ada angin apa pagi-pagi kemari?”“Tidak usah panggil raden. Aku… aku hanya abdi bi







