LOGINZaman Tiga Benua, kekuatan kultivasi menentukan hierarki manusia. Yunlong, pusat kekuatan manusia, penuh sekolah kultivasi, pegunungan sakral, dan kota-kota besar
View MoreDi lereng hijau pegunungan Yulong, tersembunyi sebuah desa kecil bernama Yunhe. Kabut pagi selalu menutupi atap-atap kayu, sementara sungai deras berkelok di antara sawah dan kebun. Penduduknya hidup sederhana. Mereka bukan kultivator yang bisa membelah langit atau menundukkan gunung; mereka hanyalah manusia biasa, yang hari-harinya diisi dengan menanam padi, memetik buah, dan berkumpul di sekitar api unggun saat malam tiba.
Lian Xue, enam belas tahun, adalah salah satu dari mereka. Tubuhnya ramping tapi kuat karena kerja keras di sawah, rambut hitam panjangnya terikat sederhana, dan matanya selalu menatap langit seolah mencari jawaban atas pertanyaan yang tak pernah terucap. Ia tinggal bersama ayahnya, seorang petani tua yang bijaksana; ibunya, lembut dan penuh kasih; dan adik perempuannya, Lian Mei, yang baru berusia delapan tahun namun lincah tak kenal lelah. Keluarga itu tidak kaya, tapi mereka bahagia. Setiap pagi, Lian Xue membantu ayahnya di ladang sambil mendengarkan cerita tentang dunia luas: kultivator yang bisa terbang di awan, sekolah-sekolah besar di kota-kota jauh, dan roh-roh purba yang mengintai di hutan gelap. “Hati-hati dengan hutan itu, Xue’er,” kata ayahnya suatu hari, menyeka keringat di dahi. “Dunianya bukan untuk kita. Kita cukup di sini, dengan tanah dan langit yang memberi kita hidup.” Lian Xue mengangguk. Tapi di dalam hatinya, rasa penasaran berkobar. Ia sering membayangkan bagaimana rasanya memiliki kekuatan itu: untuk melindungi orang-orang yang dicintai, untuk mengubah nasib. Tapi itu hanyalah mimpi. Ia tahu posisinya di dunia ini hanyalah sebagai manusia biasa. Hari itu dimulai seperti biasanya. Matahari menyapu desa dengan cahaya keemasan. Lian Xue dan adiknya bermain di tepi sungai, melempar batu ke air sambil tertawa. Ibu mereka memanggil dari rumah kayu, menyajikan sarapan nasi hangat dengan sayur segar. Ayah mereka sudah pergi ke ladang, meninggalkan pesan agar Lian Xue segera bergabung. Tetapi siang itu, angin tiba-tiba berubah. Udara menjadi berat, seperti ada sesuatu yang mengintai di balik pepohonan. Burung berhenti berkicau, anjing-anjing mulai menggonggong gelisah. Lian Xue merasakan getaran halus di tanah, denyut nadi raksasa yang bangun dari tidur panjang. “Ada apa, Kak?” tanya Lian Mei, matanya membesar karena takut. “Tidak apa-apa, Mei’er. Mungkin badai akan datang,” jawab Lian Xue, meski hatinya tidak yakin. Ia menggenggam tangan adiknya dan bergegas pulang. Sesampainya di desa, kekacauan sudah terjadi. Jeritan terdengar dari hutan. Makhluk-makhluk roh liar—serigala raksasa berbulu api, ular beracun yang meluncur di udara—menyerbu. Ini bukan serangan biasa; mereka tampak ganas, seolah didorong kekuatan gelap yang tak terlihat. Rumah-rumah dihancurkan, penduduk tak berdaya menjadi mangsa. Lian Xue melihat ayahnya berlari dengan pedang tua di tangan, senjata yang selama ini hanya dipakai memotong kayu. “Xue’er! Bawa ibumu dan adikmu! Pergi ke sungai, sembunyi di gua!” teriaknya. “Tapi Ayah…” protes Lian Xue, tapi ayahnya sudah menghadang serigala yang melompat ke arahnya. Pertarungan itu singkat tapi brutal. Ayahnya, meski gagah, hanyalah manusia biasa. Serigala itu merobeknya dengan cakarnya, meninggalkan tubuhnya tergeletak di tanah berlumur darah. Lian Xue menatap dengan mata membara, tapi ia tahu tak bisa melawan. Ia berlari ke rumah dan menemukan ibunya sedang melindungi Lian Mei dari roh lain. “Ibu! Kita harus pergi!” seru Lian Xue, menarik tangan mereka. Namun terlambat. Seekor ular meluncur dari atap, mulutnya terbuka lebar dengan taring beracun. Ibu mereka mendorong anak-anaknya ke samping, tapi gigitan itu mengenai lehernya. Ia jatuh, tubuhnya kejang-kejang karena racun. “La… ri… Xue’er… Lindungi… adikmu…” suaranya terbata-bata, mulutnya mengeluarkan darah. Lian Xue menggendong Lian Mei yang menangis, berlari sekuat tenaga ke hutan. Roh-roh itu mengejar, tapi ia mengenal jalan setapak rahasia yang jarang digunakan. Mereka bersembunyi di gua kecil di tepi sungai, mendengar jeritan desa perlahan mereda menjadi keheningan yang menakutkan. Malam itu, Lian Xue memeluk adiknya yang gemetar, air matanya mengalir tanpa suara. Desanya hancur. Keluarganya hilang. Hanya dendam yang tersisa di hatinya. Dendam terhadap dunia yang kejam ini, terhadap kekuatan yang tak adil. Tapi di tengah kegelapan, sebuah tekad lahir. Ia akan bertahan. Ia akan bangkit. Suatu hari, ia akan membalasDebu pekat dan puing-puing Istana Giok masih melayang di udara saat Liang Xiao melesat keluar dari reruntuhan dengan ledakan energi yang memekakkan telinga. Di pelukannya, Ling Er mencengkeram erat jubah Liang Xiao, mencoba menstabilkan diri di tengah kecepatan yang ekstrem, sementara tangan kanan Liang Xiao memegang kotak hitam berisi fragmen pertama Segel Kunci seolah itu adalah nyawanya sendiri. Di bawah mereka, ribuan prajurit elit kekaisaran telah membentuk barisan kura-kura yang rapat, dengan ujung-ujung tombak panjang yang berkilau mengarah tajam ke langit."Pemanah, lepaskan hujan kematian!" teriak seorang komandan dari atas kuda perangnya di kejauhan.Ribuan anak panah yang ujungnya telah dilapisi energi api spiritual meluncur deras bagaikan hujan meteor yang jatuh ke bumi. Namun, Liang Xiao tidak lagi merasakan ancaman yang berarti dari senjata-senjat
Jenderal berpakaian zirah hitam itu melangkah maju dengan kaku, setiap gerakannya memancarkan aura kematian yang begitu pekat hingga membuat udara di labirin terasa membeku. Namanya adalah Jenderal Shen, seorang pahlawan perang kekaisaran yang legendaris, namun kini ia hanyalah raga kosong yang dikendalikan sepenuhnya oleh Parasit Jiwa dari Sekte Tanah Suci. Matanya yang hitam pekat tanpa putih mata tidak lagi memancarkan emosi manusia, hanya haus darah yang tak terhingga dan dingin."Mundur, Ling Er! Dia bukan lagi manusia yang bisa kau ajak bicara!" teriak Liang Xiao, suaranya bergema di dinding labirin yang mulai retak.Jenderal Shen mengayunkan pedang raksasanya dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Serangan itu tidak hanya membawa beban fisik yang mampu menghancurkan gu
Setelah memulihkan sedikit tenaga dan menenangkan gejolak emosi yang sempat meluap di antara mereka, Liang Xiao dan Ling Er bergerak cepat menembus bayang-bayang menuju pusat Ibu Kota. Tujuan mereka adalah Istana Giok, sebuah kompleks bangunan megah yang dulunya merupakan tempat pemujaan sakral para kaisar terdahulu, namun kini diyakini sebagai tempat penyimpanan fragmen pertama Segel Kunci yang sangat dijaga ketat."Hati-hati, Liang Xiao. Indra spiritualku menangkap adanya fluktuasi energi yang sangat tidak stabil di bawah tanah istana ini," bisik Ling Er sambil menahan napas, matanya waspada memindai sekeliling. Mereka kini telah berada di depan sebuah pintu rahasia yang tersembunyi dengan sangat rapi di balik patung singa giok raksasa yang tampak angkuh.Dengan menggunakan tenaga dalam yang telah dimurnikan melalui
Pria berjubah putih itu melangkah maju dengan tenang, namun setiap tapakannya meninggalkan jejak hangus yang dalam di tanah berbatu, seolah-olah bumi itu sendiri merasa kesakitan. Lambang matahari hitam di dadanya seakan berdenyut secara ritmis, memancarkan aura kegelapan yang sangat kontras dengan pakaian putihnya yang bersih tanpa noda. Dia adalah Penatua Mo, salah satu dari tujuh "Bayangan Matahari" milik Sekte Tanah Suci yang dikenal karena kekejamannya yang dingin dan efisiensi dalam melenyapkan musuh."Liang Xiao, kau hanyalah seekor lalat yang mencoba menembus cakrawala langit dengan sayap rapuhmu," suara Penatua Mo bergema, mengandung getaran energi resonansi yang membuat gendang telinga siapa pun yang mendengar berdenging hebat. "Serahkan kunci itu sekarang, dan aku akan memberikan kemurahan hati berupa kematian yang cepat tanpa siksaan."Liang Xiao ti
Gema genderang perang dari kulit Badak Guntur purba menderu di sepanjang koridor pegunungan, menggetarkan setiap butir debu di wilayah yang kini dikenal sebagai tanah terkutuk. Kabar mengenai jatuhnya Sekte Awan Surgawi—pilar moral yang berdiri selama mileniu
Lin Zhe memacu kuda spiritualnya tanpa henti, membelah malam yang pekat seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Kuda itu, seekor Bicorn bertenaga petir, mengeluarkan busa da
Tiga bulan telah berlalu sejak Liang Xiao keluar dari Kesengsaraan Surgawi yang mengantarkannya ke Transformasi Tingkat Akhir. Tiga bulan itu ia habiskan untuk menyempurnakan integrasi semua warisan yang ia terima. Api Abadi kini menari dengan anggun di inti spirit
Setelah menginternalisasi sebagian besar pengetahuan array dari Liang Qiao dan menjelajahi beberapa kitab kuno serta ramuan spiritual, Liang Xiao semakin merasa takjub dengan kedalaman warisan Keluarga Liang. Namun, ia tahu, masih banyak rahasia yang tersembunyi di












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews