Luka Yang Menembus Langit

Luka Yang Menembus Langit

last updateHuling Na-update : 2026-05-01
By:  AkaiyKumpleto
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
1 Rating. 1 Rebyu
164Mga Kabanata
3.4Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Zaman Tiga Benua, kekuatan kultivasi menentukan hierarki manusia. Yunlong, pusat kekuatan manusia, penuh sekolah kultivasi, pegunungan sakral, dan kota-kota besar

view more

Kabanata 1

Bab 1 – Desa Yang Tenang, Bayangan yang mengintai

Di lereng hijau pegunungan Yulong, tersembunyi sebuah desa kecil bernama Yunhe. Kabut pagi selalu menutupi atap-atap kayu, sementara sungai deras berkelok di antara sawah dan kebun. Penduduknya hidup sederhana. Mereka bukan kultivator yang bisa membelah langit atau menundukkan gunung; mereka hanyalah manusia biasa, yang hari-harinya diisi dengan menanam padi, memetik buah, dan berkumpul di sekitar api unggun saat malam tiba.

Lian Xue, enam belas tahun, adalah salah satu dari mereka. Tubuhnya ramping tapi kuat karena kerja keras di sawah, rambut hitam panjangnya terikat sederhana, dan matanya selalu menatap langit seolah mencari jawaban atas pertanyaan yang tak pernah terucap. Ia tinggal bersama ayahnya, seorang petani tua yang bijaksana; ibunya, lembut dan penuh kasih; dan adik perempuannya, Lian Mei, yang baru berusia delapan tahun namun lincah tak kenal lelah. Keluarga itu tidak kaya, tapi mereka bahagia. Setiap pagi, Lian Xue membantu ayahnya di ladang sambil mendengarkan cerita tentang dunia luas: kultivator yang bisa terbang di awan, sekolah-sekolah besar di kota-kota jauh, dan roh-roh purba yang mengintai di hutan gelap.

“Hati-hati dengan hutan itu, Xue’er,” kata ayahnya suatu hari, menyeka keringat di dahi. “Dunianya bukan untuk kita. Kita cukup di sini, dengan tanah dan langit yang memberi kita hidup.”

Lian Xue mengangguk. Tapi di dalam hatinya, rasa penasaran berkobar. Ia sering membayangkan bagaimana rasanya memiliki kekuatan itu: untuk melindungi orang-orang yang dicintai, untuk mengubah nasib. Tapi itu hanyalah mimpi. Ia tahu posisinya di dunia ini hanyalah sebagai manusia biasa.

Hari itu dimulai seperti biasanya. Matahari menyapu desa dengan cahaya keemasan. Lian Xue dan adiknya bermain di tepi sungai, melempar batu ke air sambil tertawa. Ibu mereka memanggil dari rumah kayu, menyajikan sarapan nasi hangat dengan sayur segar. Ayah mereka sudah pergi ke ladang, meninggalkan pesan agar Lian Xue segera bergabung.

Tetapi siang itu, angin tiba-tiba berubah. Udara menjadi berat, seperti ada sesuatu yang mengintai di balik pepohonan. Burung berhenti berkicau, anjing-anjing mulai menggonggong gelisah. Lian Xue merasakan getaran halus di tanah, denyut nadi raksasa yang bangun dari tidur panjang.

“Ada apa, Kak?” tanya Lian Mei, matanya membesar karena takut.

“Tidak apa-apa, Mei’er. Mungkin badai akan datang,” jawab Lian Xue, meski hatinya tidak yakin. Ia menggenggam tangan adiknya dan bergegas pulang.

Sesampainya di desa, kekacauan sudah terjadi. Jeritan terdengar dari hutan. Makhluk-makhluk roh liar—serigala raksasa berbulu api, ular beracun yang meluncur di udara—menyerbu. Ini bukan serangan biasa; mereka tampak ganas, seolah didorong kekuatan gelap yang tak terlihat. Rumah-rumah dihancurkan, penduduk tak berdaya menjadi mangsa.

Lian Xue melihat ayahnya berlari dengan pedang tua di tangan, senjata yang selama ini hanya dipakai memotong kayu. “Xue’er! Bawa ibumu dan adikmu! Pergi ke sungai, sembunyi di gua!” teriaknya.

“Tapi Ayah…” protes Lian Xue, tapi ayahnya sudah menghadang serigala yang melompat ke arahnya.

Pertarungan itu singkat tapi brutal. Ayahnya, meski gagah, hanyalah manusia biasa. Serigala itu merobeknya dengan cakarnya, meninggalkan tubuhnya tergeletak di tanah berlumur darah. Lian Xue menatap dengan mata membara, tapi ia tahu tak bisa melawan. Ia berlari ke rumah dan menemukan ibunya sedang melindungi Lian Mei dari roh lain.

“Ibu! Kita harus pergi!” seru Lian Xue, menarik tangan mereka.

Namun terlambat. Seekor ular meluncur dari atap, mulutnya terbuka lebar dengan taring beracun. Ibu mereka mendorong anak-anaknya ke samping, tapi gigitan itu mengenai lehernya. Ia jatuh, tubuhnya kejang-kejang karena racun. “La… ri… Xue’er… Lindungi… adikmu…” suaranya terbata-bata, mulutnya mengeluarkan darah.

Lian Xue menggendong Lian Mei yang menangis, berlari sekuat tenaga ke hutan. Roh-roh itu mengejar, tapi ia mengenal jalan setapak rahasia yang jarang digunakan. Mereka bersembunyi di gua kecil di tepi sungai, mendengar jeritan desa perlahan mereda menjadi keheningan yang menakutkan.

Malam itu, Lian Xue memeluk adiknya yang gemetar, air matanya mengalir tanpa suara. Desanya hancur. Keluarganya hilang. Hanya dendam yang tersisa di hatinya.

Dendam terhadap dunia yang kejam ini, terhadap kekuatan yang tak adil.

Tapi di tengah kegelapan, sebuah tekad lahir.

Ia akan bertahan. Ia akan bangkit. Suatu hari, ia akan membalas

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Rebyu

Klan Qing
Klan Qing
Izin Promo Thor. Judulnya: Bangkitnya Jenderal Perang
2026-03-27 02:20:30
0
0
164 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status