MasukBagaimana jadinya bila warna aura setiap manusia menjadi kesaktian destruktif yang mampu melenyapkan satu sama lain? Untuk itulah dunia ini tercipta. Dunia di mana warna setiap aura adalah kekuatan yang mampu menghancurkan, mengeksekusi, merestorasi, mendekonstruksi hingga mengendali. Empat manusia telah terpilih. Membangkitkan lagi organisasi tersembunyi. Di dunia yang tak mengindahkan belas kasih. Bertarung, bertempur, dan melenyapkan manusia lainnya menjadi asas dunia ini. Hingga manusia beriris berlian terlahir. Datang demi mengatur setiap sistem politik, norma, pendidikan hingga sumber daya. Dua Pewaris Aura Cahaya bersama rekan-rekannya hadir demi mengontrol dunia. "Bukankah sudah kuperingatkan berulang kali ... perdamaian yang didambakan umat manusia adalah omong kosong? Karenanya, lumrah jika kukendalikan seluruh sistem setiap bangsa. Atau kalau dibutuhkan, kubuat perang tiada berhenti ...."
Lihat lebih banyak!!! PERHATIAN !!!
(NOVEL TIDAK PLAGIAT DAN TIDAK BERHAK DIPLAGIAT.) . (Hak cipta dilindungi undang-undang no 28 tahun 2014.) . . . . [Novel Sistem Aura (Infinity) sudah ada versi cetaknya, untuk order bisa cek ke sosial media Imstagrann: @nehulisme] Jilid 1: Konspirasi Penguasa. (TAMAT) Jilid 2: Dunia Ilusi. (TAMAT) Jilid 3: Manipulasi Para Raja. . . ________________________________________________________________________________________________________________________________________________ Menurut beberapa buku-buku sejarah: Dunia ini telah menanggung purifikasi ratusan kali. Binasanya seluruh kaum. Musnahnya peradaban. Hilangnya catatan sejarah. Sakitnya bumi. Struktur planet-planet yang kacau berantakan. Masa apokaliptik telah berlaku. Dahulu kala planet yang hijau dan subur telah rusak oleh peperangan seluruh umat manusia. Masa-masa yang rasanya telah menjadi detik-detik kehancuran total. Akan tetapi, pada planet satu-satunya tersebutlah didapati empat manusia yang selamat dari kepunahan. Tiada lagi yang dapat diperbuat. Seluruhnya sudah rata, binasa, sirna, dan tampak tak berguna. Manakala takdir menuntun mereka secara elusif, pertemuan di antara keempat manusia hanyalah mencetuskan sebuah tanda tanya besar. Apa lagi yang harus dicari? Siapa lagi yang wajib dibunuh? Kaum mana lagi yang pantas digantikan? Sejarah apa lagi yang harus diubah? Ideologi apa lagi yang harus dihapus? Sedang planet ini dan setiap planet atau galaksi di luar sana telah kacau berantakan. Mereka bahkan ragu untuk saling membunuh. Toh, apa gunanya lagi membunuh kalau semuanya sudah diindikasikan akan tamat secara total? Demi menanti kematian, keempat manusia mengisi sisa waktu dengan perbincangan ringan. Membahas segala kekonyolan yang telah terjadi. Memperbincangkan cita, cinta dan kerja. Membicarakan masa lalu yang suram dan bahagia, menaruh harapan pada impian tinggi yang saat ini berakhir kehancuran. Dan lain sebagainya selama berhari-hari tanpa makan, tanpa minum. Tanpa tempat meneduh, hanya langit gelap nan berbintang sebagai hiburan pemandangan, sementara bencana alam berkesinambung tetap terjadi. Manusia bermata hitam, adalah perempuan yang amat pendiam. Bicarakan hal-hal yang amat penting. Tidak terlalu memiliki argumen menarik, namun menurutnya, bintang Fajar di langit sana akan meledak, dan menjadi bintang katai hitam. Manusia bermata ungu, laki-laki yang memiliki kesadaran terhadap siklus revolusi dan evolusi. Mempunyai pengetahuan terhadap sejarah. Pengetahuan sejarah yang selalu menjadi bagiannya secara turun temurun kehidupan. Karena menurut keyakinannya, sejarah adalah ringkasan untuk sebuah bukti kenyataan. Ia pria yang cerewet, banyak bicarakan data dan persepsi. Tidak memercayai adanya kedamaian dunia tanpa dalih peperangan. Sebab baginya, sejarah berdarah tidak pernah akan berkesudahan, itu amat mustahil katanya. Pria berambut putih memiliki keberanian tangguh, pantang menyerah, tanpa pernah jatuh dalam beban keputusasaan. Ia bertahan di sini dengan sebilah pedang berlian, ia hadir dengan darah di sekujur badan. Tak banyak yang dirinya utarakan, hanya satu kalimat penting tidak penting yang disampaikannya: 'Aku hanya ingin memancing ikan lagi.' Wanita bermata merah, adalah satu-satunya tokoh manusia yang memimpin sebuah bangsa. Bangsa yang disebut bangsa Methuselah. Dia kehilangan banyak kawan. Kekasihnya, kaumnya, dan setiap individu yang dikasihinya telah gugur tanpa sisa. Dari beberapa kurun waktu, peristiwa tersebut berkelanjutan. Sebagaimana yang tertuang pada salah satu lembaran-lembaran buku lainnya yang berbunyi: Mata angin Barat adalah di mana sinar kemerahan terbit. Mata angin Timur adalah di mana sinar kebiruan terbit. Mata angin Selatan adalah di mana sinar kehijauan terbit. Mata angin Utara adalah di mana sinar pingai terbit. Mata angin Timur Laut adalah di mana sinar keunguan terbit. Mata angin Barat Laut adalah di mana sinar kecokelatan terbit. Dan tentu saja, mata angin Barat Daya adalah di mana sinar kejinggaan terbit. Sejatinya tidaklah kebetulan mengapa hanya keempat manusia yang selamat dalam masa kehancuran ini. Mereka sudah diselamatkan melalui Sistem yang sukar dideskripsikan umat manusia. Sebuah Sistem unik yang melegalitas kempat manusia ini sebagai empat tokoh terpilih: Empat Kreator Alam Semesta Aura. Namun demikian, hanya tiga manusia yang berkompeten menangkap setiap pendaran sinar elusif dalam empat arah mata angin: Barat, Timur, Selatan dan Utara. Lantaran tidaklah sebagaimana wanita bernetra hitam, yang sanggup menyaksikan seluruh delapan titik arah mata angin yang dipendari cahaya elusif nan magis. Bahkan wanita itu pula yang mendapati satu lagi titik pendaran sinar bernuansa putih gemilang, namun terbilang ganjil serta mengundang tanda tanya besar oleh lantaran tidak turut turun di salah satu penjuru mata angin. Tak pelak, keempat manusia tercengang akan setiap fenomena yang ada. Juga yang tidak kalah mengejutkannya bahwa tidak sedikit pun ketakutan bernaung di antara mereka, justru sebaliknya, hawa aneh nan menarik seakan menyambut tenang segala penjuru mata angin yang terpancar sinar. Hingga begitulah, fenomena tersebut tidak berlangsung lama, secara tiba-tiba ketujuh pendaran mata angin saling berintegral. Berkumpul sebagai satu kesatuan pendaran denyar yang masif. Lantas memecah. Meledak bagaikan 'bigbang'—dalam intensitas rendah tentunya. Secara irasional musnahnya ledakan tersebut memuntahkan empat buah apel yang serta-merta melayang di hadapan keempat manusia. Dan lagi-lagi lewat Sistem yang sukar didefinisikan mereka dititah guna memakan masing-masing satu buah apel tersebut. Hanya satu kesadaran yang mereka rasakan; masing-masing di antara mereka melahap habis buah yang tersaji. Tetapi karenanya, manusia bermata ungu tiba-tiba berceletuk, “Inilah ilmu yang selama ini kita cari. Sejarah yang sengaja dihapuskan. Buah keabadian.” “Atau aku menyebutnya sebagai ... ilmu Aura,” sambung pria berambut putih—dirinya bahkan tidak yakin mengapa ia mesti menakrifkan hal tersebut. ”Kalian mengalaminya?“ selidik wanita bernetra hitam seolah telah merasakan kebugaran tubuh yang paling nikmat di muka bumi ini. Keempat manusia mengalaminya. Mengalami aura magis, yang secara ajaib mengubah segala cara pandang mereka terhadap kehidupan. Sedang tujuh titik sentral aura mereka serentak berpancar cemerlang. Maka Sistem super-canggih itu mendadak saja menurunkan preskripsi kepada ke-Empat Kreator Alam Semesta guna mendirikan kembali suatu peradaban baru. Peradaban dengan era yang lebih berkualitas. Peradaban hebat dan era yang mereka legalisasi sebagai … Era Aura. Keempat manusia menanggungnya. Garis takdir telah menentukan. Mereka tidak dapat mengelak. Tidak ada alasan tepat untuk menolak. Lewat alam bawah sadar, mereka telah dirancang sedemikian rupa. Empat Kreator Alam Semesta Aura mulai mengimplementasikan setiap mandat. Lewat Aura Biru tanah dihamparkan. Lewat Aura Hijau udara disterilisasi. Lewat Aura Merah lumpur dididihkan. Lewat Aura Pingai lautan dibekukan. Lewat bermacam jenis warna Aura lainnya bumi dan planet-planet direkonstruksi. Keempat Kreator Alam Semesta kemudian dititah untuk melahirkan keturunan-keturunan baru. Itu mudah bagi mereka. Keturunan-keturunan dari ke-Empat Kreator Alam Semesta akhirnya terlahir ke bumi. Terus kumulatif seiring waktu dan generasi. Dengan demikian pula, telah lahir manusia-manusia unik, yang berbeda dari kaum-kaum sebelumnya. Ilmu Aura secara alamiah telah menurun pada anak cucu ke-Empat Kreator Alam Semesta—para pewaris Aura. Dan secara inkremental, terbentuklah peradaban baru. Mulai dari: Pewaris Aura Hijau serta Aura Biru mempunyai kapabilitas mengendalikan hewan-hewan. Seperti jenis unggas, predator dan sebangsanya. Mereka tinggal di benua Barat. Penguasa benua Barat. Pewaris Aura Merah berkapabilitas mengendalikan lava, serta Aura Pingai mempunyai kapabilitas yang mampu mengendalikan es. Mereka tinggal di benua Selatan. Penguasa benua Selatan. Pewaris Aura Sian berkapabilitas memanifestasikan petir. Pewaris Aura jingga mempunyai kapabilitas memanifestasikan listrik. Tinggal di benua Utara. Penguasa benua Utara. Pewaris Aura Cokelat berkapabilitas mengendalikan aspek botani. Pewaris Aura Kelabu berkapabilitas memanifestasikan aspek halusinasi. Mereka tinggal di benua Timur. Penguasa benua Timur. Sedang manusia biasa yang bukanlah apa-apa, tetap cukup utilitas dalam tujuan politik. Akan tetapi, digenerasi ke 24 tanpa alasan yang jelas ke-Empat Kreator Alam Semesta mendadak hilang dari panggung dunia. Dan hanya satu kalimat dalam kitab Purnawarna yang mengonfirmasi alasan ke-Empat Kreator Alam Semesta itu menghilang: 'Tidak dapat terelakan, tidak sanggup diabaikan. Kami—Empat Kreator Alam Semesta Aura—harus bersembunyi pula dari panggung dunia. Menyelia dari dimensi tak tergapai. Menunggu isyarat akhir. Demi menghindari kecintaan yang mencetuskan dendam.'Kota Auroran ....Jepretan kamera polaroid berhasil menangkap satu objek berbentuk kumbang hias. Mengabaikan banyaknya jenis kumbang maupun serangga-serangga hias yang terawat dalam tempatnya masing-masing. Seekor kumbang dua tanduk dengan corak belang keperakan yang mengilap jika terpindai cahaya menjadi satu-satunya serangga yang sanggup memancingnya memaksimalkan alat potretnya.“... kayaknya ini udah bagus deh.” Cyka memastikan hasil pemotretannya dengan mengangkat foto sedekat yang dibutuhkannya. Mengamatinya dalam waktu sebentar, berharap hasilnya cukup untuk dikatakan sempurna, tapi setelah pengecekan itu beres yang dia temukan sayangnya masih berupa kekurangan. “HHAAHH ... masih aja begini ....”Sore itu pukul 16:44, salju tengah meliburkan keberadaannya dan layar langit sedang merona kejinggaan, sementara Cyka sengaja mampir di pasar ini untuk tidak melewatkan kesempatan memenuhi kepentingan hobinya. Namun, posisinya sekarang yang berdiri di dalam toko serangga hias justru di
14:11. Kota Dream ....Beres dari menangani segelintir pembenci Eriel, Ixia, Una dan Aon bersyukur bisa kembali menemani keberadaan Arunika. Mereka dengan suasana hati yang bugar kini menikmati waktu di bibir pantai dekat apartemen Drim, diikuti oleh Hiro dan keempat pengawalnya. Cakrawala yang biru kehijauan dan pasir pantai yang hangat diresapi betul bukan hanya oleh mereka melainkan diikuti sedikit pengunjung yang punya keinginan mencicipi suasana lebih hangat dari normalnya.Belakangan ini Una, Ixia dan Aon sulit lepas dari kesibukan mengurus kehidupannya masing-masing. Penyelidikan terhadap Renaus maupun investigasi seberapa berbahayanya Auranias Cahaya Kael De Rigel sebabnya masih dalam jadwal tunggu yang hendak dibereskan. Namun, tentu soal berita kejahatan Renaus kepada keluarga Eriel entah adakah sudah diketahui Hiro atau belum, apalagi konon katanya rumor bisa lebih cepat menyebar ketimbang berita konkretnya. Tetapi, dengan itu Ixia, Una dan Aon tidak harus dilanda kaget yan
“Pak Rio!” “Ketua Rio, boleh minta penjelasannya!” “Apakah betul militer nasional siap untuk berperang?” Disiarkanlah berita gempar terkait pembatalan rapat darurat parlemen lengkap dengan isu-isu yang belakangan kian mencemaskan. Di sebuah taman Kota Tianfan dalam jadwal inspeksi daerahnya kepala pemerintahan Selatan-Putih itu langsung dicegat orang-orang yang kebelet meraup info terbaru. “... apa yang terjadi, Pak?” Berdesak-desakan dengan para rekan satu profesinya seorang jurnalis cewek mengajukan pertanyaan yang mendesak. “Rapat darurat dibatalkan tanpa alasan yang jelas, dan muncul kecurigaan mengenai sabotase. Apa benar itu karena keputusan final mengenai kebijakan tata dunia Tetua-Aura Alara yang banyak tidak sependapat, termasuk keputusan penanganan soal desa Aswad yang menemui kebuntuan?” Ditengah gerimis salju Ketua Rion dan rombongannya pasrah menjeda kerjanya. Keputusannya untuk sengaja menunda penjelasan sampai memiliki situasi yang baik sekarang kelihatannya kurang
“Jadi, mari kita selesaikan ini secara sederhana dan sesingkat-singkatnya ....“ Ketua El yang merasa tertekan mulai mengambil cara termudah. ”Nah, setelah kalian mengetahui dan memahami apa yang terjadi ... menurut kalian bagaimana?“ Oshi dan Ereia bergeming bersama sekelumit bahan pertimbangannya masing-masing. Saat ini Ereia mengaku hendak berpegang pada caranya mempertahankan kestabilan sekaligus persatuan desanya, dan hanya itu yang disampaikannya. ”Setelah kami pikir-pikir ....“ Selanjutnya Oshi yang angkat suara. Menegakkan tubuhnya, menatap Ketua El penuh harap. Dia tahu inilah saatnya memanfaatkan kesempatan. ”... dengan semua tekanan dan ketidakadilan ini, dengan banyaknya tekanan yang sudah mencelakakan kami, maka kami menemukan titik kalau inilah saatnya untuk perang total. Tidak ada lagi negosiasi. Tidak ada lagi pengharapan pada dewan utama. Kita pertahankan apa yang sudah kita usahakan. Jadi, hal pertama yang harus diperjuangkan adalah merebut kembali manajemen bandar
Episode 297: Hidup Ini Jadi Berat Karena Sebagai Hal Yang Tidak Diinginkan. Tensi pertarungan lebih tinggi dan intensitas serangan lebih rapat. Sangat ambisius dan agresif bagaimana mereka bertempur. “GYYAAAAAAAAAH ...!” Odero mengaktivasi [Sisik Seribu Api] yang mengejawantahkan ratusan bola-bol
Episode 286: Bagaikan Napas Yang Hadir Tanpa Wujud, Setia Sampai Tak Berkesadaran. Satu manusia yang tidak bisa diampuni ialah Eriel De Atria. Pengampunan untuknya hanya akan layak diberikan jika ia mau menerima penderitaan yang paling ia hindari.Begitulah kesimpulan Renaus sejauh ini dalam rangka m
Episode 291: Jika Kamu Penting Baginya, Dia Akan Menghampiri Tanpa Diminta.3469 / 18 / Cancer (Musim Hujan). 09:35.'Drap'.Sesosok berjubah lonceng mendarat mulus di atas deretan bebatuan. Ekspresi mukanya tetap kaku kendati lokasi yang dituju berhasil dipijaki. Bersamaan dengan tiupan angin lembut,
Bab 9: SISTEM AURA V.7.5 (Peserta Primordial). 'Di luasnya alam semesta Aura ini ... ada yang mengawasi mereka.' Menyaksikan data-data alam semesta Aura dan Gudang Ilmu-Ilmu Aura, siapapun pasti takjub akan semua pengetahuan bagai tak berujung itu, yang apabila dicatatkan sebagai sebuah buku anak-






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak