تسجيل الدخول“Akhirnya kau membuka suara,” celetuk Arya sarkas dengan seringai khasnya. Ravin meraih pergelangan tangan kiri Aneya, lalu bangkit dari tempat duduk. Aneya segera menyusul, napasnya memburu saat ia berdiri di sisi pria itu. Jemarinya menegang dalam genggaman Ravin, sementara tatapannya tertuju tajam pada Arya. “Kau bahkan terdengar tidak serius setiap kali menanggapi Ravin!” pekik Aneya bersama dengan amarah yang akhirnya meluap. “Jika aku tidak serius, untuk apa aku mengerahkan tenaga dalam menjawab pertanyaan seperti itu?” sahut Arya, “jangan terlalu dendam padaku, kita dulu juga pernah menjalin hubungan.” Rahang Aneya mengeras. Ia merenggut tangannya dari genggaman Ravin, lalu melangkah cepat menghampiri Arya. Jemarinya mengepal erat di sisi tubuh, sementara tatapannya tak lepas dari pria itu, seolah tak ada lagi yang mampu menghalangi langkahnya. Telapak tangan Aneya mendarat telak di pipi Arya, menghasilkan bunyi tamparan yang memecah keheningan. Ia tertegun saat melih
“Salahkah jika aku percaya diri pada hal yang kuyakini?” tanya Arya sarkas membalik pertanyaan. “Senang mendengarmu begitu percaya diri,” sahut Ravin tak kalah sarkas. Netra Aneya bergantian melirik kedua pria yang berada di sekitarnya. Ia mengembuskan napas pelan melalui hidung, berusaha agar salah satu dari mereka tidak ada yang menyadari hal tersebut. “Sampai kapan aku akan dikarantina di sini?” tanya Arya kemudian. Aneya memperhatikan gerak-gerik Arya yang merogoh saku celana, seolah berusaha keras mengeluarkan benda dari dalam sana. Sebatang rokok kemudian dibakar oleh pria itu, tidak ada yang membuka suara dan Arya terlihat tetap santai menghisap rokoknya beberapa kali dengan kepulan asap yang beberapa kali dikeluarkan dari mulutnya. “Aku tidak akan menjawab pertanyaan tersebut, tapi aku ingin bertanya satu hal padamu,” kata Ravin mencoba tetap pada topik. “Ravin, kau punya terlalu banyak pertanyaan, aku bahkan tidak yakin akan menjawab semua pertanyaan itu,” ucap Ar
Aneya bergeming sembari menatap ke arah pintu yang menuju balkon. Tanpa sadar ia menarik napasnya dalam dan mengembuskannya perlahan, ia mencoba membuat perasaannya stabil. “Aku siap,” jawab Aneya akhirnya terdengar pelan. “Tetap bersamaku, jangan lepaskan genggamannya,” sahut Ravin setengah berbisik. Genggaman pria itu semakin menguat kala langkah kaki mereka kini tertuju pada satu arah menuju pintu tersebut. Pria itu kemudian menarik pintu kaca besar setelah berhasil memutar gagangnya. Semilir angin malam yang terasa sejuk seketika menyambut mereka, salah satu tangan Aneya mencoba memperbaiki rambutnya yang tertiup angin. Pandangannya mengedar, balkon itu cukup luas. “Di mana dia?” gumam Aneya pelan hampir tak terdengar. “Ikut aku, balkon ini terhubung dengan beberapa bagian balkon di sisi samping,” ucap Ravin sederhana. Aneya sedikit terkejut ketika pria di sampingnya mendengar apa yang baru saja ia katakan. Sepersekian detik berikutnya, derap langkah mereka berjalan
“Benar. Namun, untuk menempatinya secara permanen dia perlu mengeluarkan biaya lebih banyak lagi daripada yang sudah ku keluarkan saat pertama kali membeli rumah tersebut,” jawab Ravin dengan penuh sarkas sambil melirik ke arah kekasihnya. Mulut Aneya terbuka lebar disusul dengan tawa yang pecah. “Apakah di samping nama tengahmu ada terselip julukan tuan tukang pamer?” “Berhenti menggodaku seperti itu,” kata Ravin yang ikut larut dalam tawa. “Setidaknya aku berhasil mengetahui nama lengkapmu selama ini,” sahut Aneya tak mau kalah. Di detik berikutnya, Ravin memarkirkan mobilnya tepat berada di samping rumah tersebut, tawa mereka kemudian perlahan berhenti senada dengan deru mesin. Senyuman Ravin terukir begitu manis kala netra milik Aneya masih terpaku pada pria itu. “Kita akan melanjutkannya setelah ini, jangan kemana-mana,” ucap Ravin yang kemudian membuka pintu mobilnya. “Tunggu!” seru Aneya dengan nada mencegat. Pria tersebut belum sepenuhnya keluar, masih sedang ber
“Aku sama sekali tidak bermaksud,” kata Aneya mengalihkan pembicaraan. Ravin berdeham kecil disusul helaan napas pelan, senyum simpul pria itu sempat tercipta di wajahnya. Pintu kemudian tertutup, sementara Aneya menunggu Ravin masuk dan ikut duduk pada kursi kemudi. Saat Ravin sepenuhnya masuk ke dalam, pandangan Aneya sempat tersita kala mendapati ekspresi milik Ravin menautkan satu alisnya. Ia mencoba menebak apa yang sedang bergumul dalam isi kepala pria itu, alih-alih berdiam diri. Aneya kemudian membuka suara pelan. “Ada apa? Apakah ada sesuatu yang kau lupa di dalam sana?” tanya Aneya menerka dengan hati-hati. Ravin menoleh ke arahnya, air wajah itu masih bertahan di sana. Helaan napas pria itu keluar lebih berat daripada sebelumnya, sembari diikuti dengan kepala yang menunduk. “Tiba-tiba aku juga merasa energiku tidak stabil,” jawab Ravin kemudian terdengar lirih. “Hei, tidak masalah,” sahut Aneya, “apakah kau bisa menjelaskan padaku dengan pelan kenapa tiba-tiba m
“Kupastikan tidak sampai sejam,” jawab Ravin terdengar mantap. “Kau janji?” tanya Aneya sekali lagi mencoba memastikan. “Janji, aku tidak akan meninggalkanmu terlalu lama,” sahut Ravin sambil mengelus pucuk kepala kekasihnya. “Terima kasih,” ucap Aneya pelan dengan senyum yang sempat terkulum. Ravin mengangguk pelan dan kemudian menjauhkan tangannya dari kepala Aneya. Pria tersebut kini sepenuhnya keluar dari balik meja kerjanya, sedangkan Aneya tetap memperhatikan setiap gestur yang dilakukan Ravin, termasuk menyamakan langkah mereka menuju pintu. “Silakan,” kata Ravin tenang sambil memegang gagang pintu ruangannya. Pintu terbuka tanpa tergesa, koridor di depan ruangan milik Ravin terpampang dengan jelas di mata Aneya. Ia mengambil langkah lebih dulu saat keluar dari ruangan milik Ravin, ia juga mengambil beberapa langkah demi menyisakan sedikit ruang bagi Ravin agar pria itu bisa mengunci pintu tanpa terhalang oleh badannya. Gemerincing kunci yang keluar dari saku pria
“Sayangnya tidak, aku serius atas apa yang kukatakan. Jika dia tidak bisa berkomitmen, maka biarkan aku menjadi lelaki pertama yang membuktikan padamu akan hal tersebut,” jawab Ravin dengan tegas dan terdengar serius. Aneya terkesiap dengan apa yang ia dengar. Nada pria itu bergema tidak main-mai
Aneya terdiam beberapa detik di tempat. Jemarinya langsung bergerak di atas layar ponsel, sibuk membalas pesan dari Ravin tanpa benar-benar memedulikan sekitar. Fokusnya tertahan penuh pada percakapan itu, sementara Arya dibiarkan berdiri beberapa langkah darinya, seolah Aneya sengaja menciptakan j
“Aku sangat perlu dan akan mendiskusikan hal itu bersama Arya,” jawab Aneya dengan jujur. “Kalian akan bertemu besok?” tanya Ibu Aneya dengan penasaran. “Iya, kebetulan kami sudah membuat jadwal temu dari hari-hari sebelumnya,” jawab Aneya tanpa mengalihkan perhatian dari benda di hadapannya.
Aneya sontak terkejut, beruntung ia sudah berada di pekarangan kantor. Hal tersebut membuatnya segera mematikan pengeras suara dari ponsel dan menempelkan benda itu ke telinga. “Kau membuatku terkejut!” seru Aneya setengah berbisik sembari menatap sekitar. “Ada yang menjemputmu?” tanya Ravin tida







