LOGINAneya Naez tidak menyangka bahwa hidupnya akan berubah sejak hari ia melangkah masuk ke kantor Bhaskara Karya Sejahtera. Ravin Bhaskara, CEO sekaligus laki-laki yang diam-diam menaruh pandangannya sejak detik pertama ia duduk di ruang wawancara. Kedekatan mereka kian berubah menjadi rasa yang tak bisa ia abaikan. Di tengah kedekatan terlarang itu, Aneya masih terjebak dalam hubungan beracun dengan Arya, kekasih posesif yang terus menyakitinya. Mampukah Aneya menemukan kebebasan dan kebahagiaan di sisi Ravin atau justru terseret kembali dalam kegelapan yang siap menghancurkan hidupnya?
View MoreAneya memutuskan untuk melamar kerja. Rencana tabungan pernikahan yang benar-benar tidak bertambah, tuntutan hidup, serta hubungan yang perlahan berubah menjadi rangkaian percakapan yang selalu berujung pada tuntutan.
Menjadikan sebuah hal yang paling mendesak di dalam dadanya sejak beberapa bulan terakhir. Ia sadar bahwa ia tidak harus menjalani hidupnya dengan stagnan dan bergantung pada keadaan. Aneya duduk pada sebuah kedai kopi yang sudah terlalu akrab baginya. Meja kayu di sudut ruangan, stop kontak yang selalu ia gunakan, bahkan alunan musik akustik yang diputar sore itu terasa seperti mengulang hari dengan keadaan yang sama. Waktu terasa kabur ketika hari-hari yang ia jalani diisi dengan pola yang serupa. Laptop terbuka di hadapannya, di monitornya menampilkan Daftar Riwayat Hidup yang sedang ia revisi untuk kesekian kalinya. Dibacanya ulang setiap baris kata, memastikan tidak ada kesalahaan ejaan atau informasi yang terlewat. Ia tahu sebagian besar perekrut mungkin hanya akan melirik sekilas sebelum beralih ke berkas berikutnya. Namun, tetap saja Aneya ingin memastikan semuanya terlihat rapi. “Kau lagi-lagi terpaut dengan aktivitas yang sama, untuk apa lagi kau mengurus lamaran kerjamu itu,” ujar seseorang. Aneya mendongak ke arah sumber suara. Arya berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan datar sembari bersedikap dada. Sorot matanya tak menunjukkan ketertarikan sedikit pun pada apa yang sedang Aneya perjuangkan. “Aku sedang memperbaiki berkas lamaranku. Aku butuh kerja, Arya,” ucap Aneya lirih. “Kau tidak merasa lelah dengan hasil yang tetap seperti itu?” cemooh Arya. “Aku sedang berusaha, tenangkan dirimu,” balas Aneya. “Kita butuh kepastian, tabungan pernikahan kita tidak bertambah. Kau masih saja berputar di tempat yang sama, hasilnya pun nihil. Berusaha juga tidak cukup jika tidak ada hasilnya,” gerutu Arya. Jeda singkat tercipta di antara mereka berdua. Aneya menatap pria di depannya, mencoba mencari sisa-sisa empati yang dulu pernah ada. Aneya tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima jarak yang kian renggang dan sifat dingin milik Arya. Pria itu terasa seperti orang asing yang mengenal dirinya cukup lama. “Apakah ada perempuan lain selain diriku?” tanya Aneya. Suara Aneya bergetar tipis. Namun, ia berusaha menahannya. Arya terdiam sesaat. Tawanya pecah saat itu juga, ia tertawa tanpa humor. “Kau ini bicara apa?! Sudahlah, berhenti menuduhku selingkuh!” pungkas Arya, “daripada memikirkan hal yang tidak beres, lebih baik kau fokus pada tanggung jawabmu. Bahkan untuk mendapatkan pekerjaan saja kau tidak bisa.” Kalimat itu langsung menusuk di dada Aneya. Ia menerima hujaman verbal itu tanpa aba-aba. “Tapi … kau mau kemana?” tanya Aneya lirih “Ada urusan,” sahut Arya datar. Urusan yang sama sekali tidak pernah ia jelaskan. Pria itu pergi begitu saja dari hadapan Aneya, meninggalkannya dengan laptop yang masih terbuka dan minuman yang semakin terasa hambar. Musik di belakang Aneya masih terus mengalun, tawa pengunjung lain terdengar samar. Dunia di sekitarnya berjalan seperti biasa, seolah percakapannya dengan Arya barusan tidak pernah terjadi. Sementara itu, ia juga masih terpaku pada tempatnya, bahkan untuk menghirup udara saja membuat paru-parunya terasa berat. Tekanan batin dan tekanan ekonomi beradu di kepalanya, menciptakan kebisingan yang hanya bisa didengar oleh dirinya. Aneya memesan minuman seperti biasa, lalu kembali duduk. Tangannya bergerak membuka kembali berkas lamaran, kali ini dengan tekad yang bercampur lelah. “Harus berapa gelas cokelat dingin lagi agar hidupku tidak terus-terusan seperti ini?” batinnya getir. Ia sadar bahwa hubungannya dengan Arya sudah sangat jauh berubah. Pria itu semakin dingin dan menjadi posesif yang tidak bisa dijelaskan, bahkan terlalu sering membuatnya merasa bersalah. Tudingan perihal Arya yang selingkuh bukan lagi sebatas rumor, Aneya sudah terlalu sering mendengar, memergoki serta terlalu sering memaafkan pria tersebut. Aneya bahkan kehilangan beberapa teman akibat ulah Arya. Namun, entah kenapa ia masih memilih bertahan dan berharap pria itu akan berubah, walaupun dengan harapan yang semakin tipis. Pandangan Aneya teralihkan ke arah luar kedai, sebuah cahaya terang menarik perhatiannya. Sebuah videotron menyala tidak jauh dari posisinya, berdiri tegak di antara lalu lintas yang mulai padat. Pada videotron itu terpampang informasi rekrutmen sebuah perusahaan yang sedang merekrut sekretaris. Ketika menangkap deretan kata tersebut, Aneya mengerutkan sedikit dahinya. Ia berdiri, berpindah ke area luar agar bisa melihat lebih jelas. Udara malam menyentuh wajahnya, membawa aroma aspal dan kendaraan yang lalu-lalang. Aneya kemudian memicingkan mata, memastikan bahwa apa yang ia lihat bukan sekadar ilusi dari kelelahan. “Perusahaan Bhaskara Karya Sejahtera ingin merekrut sekretaris?” gumam Aneya. Dengan gerakan cepat, Aneya mengeluarkan ponsel dan memotret layar itu. Ia memperbesar gambar yang diambilnya dan membaca setiap detail dengan saksama. Alamat surel, persyaratan umum dan kontak yang tertera pada iklan tersebut ia perhatikan satu per satu. Nama perusahaan itu terdengar asing di telinganya. Namun, desain selebarannya sederhana, rapi dan tidak berlebihan. Tidak ada janji manis murahan yang terasa muluk, tidak ada pula kata-kata hiperbola seperti yang sering ia temui pada lowongan kerja abal-abal. Malam itu, Aneya membuka laptopnya kembali. Ia menyusun ulang berkas lamaran dengan lebih teliti. Portofolio ia rapikan, pengalaman sebagai asisten dosen ia jabarkan dengan jelas, riwayat organisasi ia susun singkat namun padat. Rasa ragu yang ia rasakan berubah menjadi sesuatu yang lebih berani. Tanpa menunggu rasa takut kembali mengambil alih, ia langsung mengirim surat lamaran serta berkas pendukung pada surel yang tertera di informasi rekrutmen itu. Ia tidak tahu apakah lamaran itu akan dibalas. Namun, setidaknya ia sudah mengambil satu langkah. Ada keraguan, harap dan kelelahan yang bercampur menjadi satu di dalam jiwa Aneya. Baginya, ini bukan lagi soal percaya atau tidak percaya. Ini hanya soal bertahan sedikit lebih lama sebelum mengetahui hasil dari semuanya. Ia menutup laptop perlahan. Tidak ada perasaan lega yang berlebihan, hanya kesadaran bahwa ia telah mengambil satu langkah. Tak lama kemudian, Arya kembali menjemputnya. Aneya duduk di jok belakang motor, memandangi jalan yang terbentang di depannya. Lampu-lampu kota memantul di aspal yang gelap. Aroma asing yang berasal dari Arya kembali menyergapnya, manis dan terlalu familiar. Aneya memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Beberapa menit kemudian, ia merasakan ponselnya bergetar pelan di tangannya. Pertanda ada sebuah notifikasi yang masuk. “Selamat malam, Nona Aneya. Lamaran Anda telah kami terima. Kami akan segera menghubungi Anda kembali untuk jadwal wawancara di Bhaskara Karya Sejahtera berikutnya, tertanda Ravin Bhaskara” celetuk isi surel tersebut. Senyum kecil terbit di wajah Aneya. Ada rasa gugup, takut, sekaligus lega yang bercampur menjadi satu. Perasaan yang terasa ringan dan jarang ia rasakan akhir-akhir ini. Sepersekian detik kemudian Aneya mengernyitkan alisnya, ia membaca kembali isi surel tersebut. Terasa ada sesuatu yang aneh. “Ravin Bhaskara? Apakah dia direktur dari perusahaan tersebut?” batin Aneya. Sedikit yang Aneya tahu bahwa nama dan bayangan miliknya telah ditandai oleh perusahaan tersebut. Sebuah pertemuan telah terjadwal yang akan ia hadapi nantinya. Motor terus melaju, membawa Aneya menjauh dari kedai kopi itu. Aneya yang menatap jalan panjang di depannya malam itu, belum menyadari bahwa keputusan kecilnya di kedai kopi akan mempertemukannya dengan seseorang yang akan mengubah seluruh hidupnya.Ibu dan Ayahnya bergeming, pertanyaan yang diutarakan Ravin begitu personal bagi mereka. Aneya menunduk, ia tidak ingin menautkan pandangan pada siapa pun. “Aneya cukup kuat bertahan dengan orang seperti itu, tapi saya memilih untuk tetap melindunginya,” lanjut Ravin sedikit sarkas dan sedikit menambah bumbu pengakuan. “Kami sebagai orang tuanya mengenal dengan baik hubungan mereka,” sangkal Ayah Aneya tidak percaya. “Mohon maaf, Pak, tapi saya tidak yakin dengan apa yang Anda katakan barusan. Berhubung Aneya berada di sekitar, coba saja tanya dia bagaimana perlakuan pria itu belakangan ini,” sanggah Ravin tenang berusaha membuat pikiran Ayah Aneya terbuka. Aneya mendongak pelan saat mendengar pernyataan tersebut. Ravin seolah melempar topik kembali ke arahnya, ia hanya bisa mendengus pelan. “Apakah benar tentang apa yang dikatakan pria ini?” tanya Ayah Aneya dengan stabil dan tidak meledak-meledak. Aneya menggangguk pelan, masih enggan membuka suara. Entah kenapa tiba-tib
Sorot mata Ayahnya berubah tajam. Aneya tidak memberi respon apa pun kecuali tetap membiarkan semua mengalir begitu saja. “Begitu rupanya, atau Anda sedang menghindari sesuatu yang terjadi dengan putri saya?” tanya Ayah Aneya mengintimidasi secara halus. “Menghindari sesuatu? Bisa dijelaskan lebih rinci permasalahannya, Pak?” tanya Ravin mengulang pernyataan tersebut sembari mengulik dengan suara yang tetap stabil. Aneya tampak susah payah mengatur pernapasan, dada yang tiba-tiba berat dan telapak tangan yang berkeringat cukup untuk membuatnya tersiksa. Tanpa sadar, ia kembali memainkan jari-jemari dengan pandangan yang tetap berpusat di Ayahnya. “Apa yang sudah Anda perbuat dengan putri saya selama ini?! Saya tidak bisa tinggal diam jika selama ini dia bekerja hanya untuk menjadi simpanan!” bentak Ayah Aneya sambil menatap benda pipih tersebut. Aneya tersentak, kata-kata itu seolah menjadi trauma mendalam baginya. Ia tidak ingin Ravin menjadi kambing hitam, tetapi hanya ini
Ia memindai wajah orang tuanya yang mana masing-masing menyimpan emosi yang berbeda-beda. Tidak ada jawaban atau sanggahan yang keluar dari Ibu dan Ayah Aneya. “Semua ini … terlalu menyakitkan. Coba saja kalian bayangkan jika berada di posisiku yang baru saja mendapatkan pekerjaan,” kata Aneya pelan sambil mengusap pipinya. Bekas tamparan tersebut masih terasa perih. Ia menelan sisa ludah yang berada di mulut hanya untuk membasuh kerongkongan yang terasa kering. “Telpon atasanmu sekarang,” pinta Ayah Aneya akhirnya tanpa basa-basi. Aneya menghembuskan napas kesal, masih frustasi. Namun, ia tetap menuruti kalimat itu demi menghindari tudingan yang semakin menjadi, tidak ingin pipinya kembali dijadikan samsak emosi. Tas yang masih menggantung di bahu dialihkan ke dalam genggaman, ia meraih ponselnya dengan daya yang tersisa beberapa persen. Pelan jarinya menggulir layar mencari nama Ravin. “Pesanku beberapa waktu lalu sudah masuk?” tanya Aneya dalam hati saat melihat ruang p
Aneya terkejut bukan main dengan pertanyaan yang terasa seperti disambar petir. Ia tersungkur berlutut begitu saja sambil menatap kedua orang tuanya. “Ibu … Ayah … siapa yang memberitahukan kalian?!” tanya Aneya yang kemudian melirik Ayahnya. “Jadi itu benar bahwa kau memang simpanannya?!” tanya Ayah Aneya dengan nada yang tegas. “Apa?! Tentu saja tidak! Aku tidak seperti itu, tolong beritahu padaku siapa yang memberi informasi seperti itu!” seru Aneya dengan nada yang melengking. Tanpa aba-aba, satu tamparan berhasil dilayangkan di pipi Aneya. Suasana menjadi sunyi yang menegang di antara mereka bertiga, sorot matanya seolah tidak habis pikir dengan apa yang baru saja dilakukan oleh seorang pria yang selama ini menjadi pelindung. Dalam situasi seperti itu, Aneya menatap Ayahnya dengan pijar mata yang dongkol dan rahang mengatup kuat. Seumur hidup, ia tidak pernah mendapat perlakuan kasar seperti itu. “Ayah … kenapa?” tanya Aneya lirih dengan air mata yang tidak bisa dibendung.
“Aku tidak tahu, Ravin. Cukup beri aku waktu sekarang untuk sendiri,” jawab Aneya tegas.Ia bisa melihat pundak pria itu sedikit merosot. Aneya tahu bahwa Ravin tetap tidak akan siap dengan keputusannya. Namun, bagaimanapun ia harus tetap perlahan menjauhi pria tersebut.“Kalau begitu … aku ke ruan
Baru saja Aneya ingin menyanggah perkataan tersebut. Ia kemudian mengurungkan niatnya.Ia sudah memberitahukan alasan mengapa ia menolak. Pikirnya pria itu mungkin lupa atau sengaja mencoba memutar balikkan sesuatu di antara mereka agar tidak membiarkannya menjauh.“Ravin, tidak ada yang menyuruhku
Perjalanan menuju kantor terasa jauh lebih lambat dari biasanya. Pertama kali setelah beberapa lama ia selalu dijemput oleh Ravin.Bus yang ia tumpangi berhenti di beberapa titik untuk menaikkan penumpang. Setiap kali pintu terbuka dan orang-orang naik, Aneya merasa waktu berjalan lebih cepat darip
Aneya hampir kesiangan jika tidak dibangunkan oleh suara klakson mobil milik tetangganya. Bunyi itu terdengar beberapa kali dari luar jendela kamarnya.Ia membuka mata dengan malas, lalu memutar tubuh sedikit di atas kasur. Pandangannya yang masih buram secara refleks mencari jam dinding.“Astaga,”
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews