“Iya, Pak,” jawab Aneya mantap. Mereka masuk ke dalam lift tanpa banyak bicara. Pintu lift menutup perlahan, menyisakan keheningan yang terasa canggung, tetapi tidak sepenuhnya tidak nyaman. Aneya menatap angka lantai yang bergerak turun. Ia menyadari betapa sunyinya lift itu, hanya diisi suara dengung mesin dan napas mereka yang teratur. Ia berusaha tenang, mengingatkan bahwa ini hanyalah makan siang, bukan wawancara lanjutan dan juga bukan ujian. “Kantinnya di lantai dasar,” ujar Ravin memecah hening. Aneya mengangguk, “Baik, Pak,” Pintu lift terbuka. Aroma makanan yang bercampur langsung menyergap indra penciuman Aneya. Kantin perusahaan itu luas dan tertata rapi, jauh dari bayangan kantin sempit dan riuh yang selama ini ia kenal. Beberapa karyawan tampak duduk berkelompok, bercakap ringan sambil menyantap makan siang mereka. Beberapa pasang mata melirik ke arah Ravin, lalu secara refleks ikut melirik Aneya yang berjalan di sampingnya. Aneya menyadari hal itu, meski ia berpur
Read more