LOGINFive years after my younger brother Luca and my fiancée Elena were killed in an ambush, I arranged my own burial at sea. I was pressing the engraved nameplate onto my custom urn when my father, Don Salvatore Leo, walked into the room with a cigar between his lips. "Antonio, you don't need to go to the docks to mourn them this year. They're not dead." My fingers went white around the nameplate. Then the hidden door in the safe room opened from the inside. Luca walked out with Elena in his arms, casually spinning the emerald ring I had once given her around his finger. "I won the bet," he said, lazy about it. "I told you we could live right next door to him for five years and he'd never figure it out." Then he leaned toward Elena, pitching his voice so it landed exactly where he wanted it. "So tell me. The family heir's seat should be mine now, shouldn't it? Hm?" The woman who had once cried over me and sworn she would marry me, after I took a bullet for Luca and was sent onto the operating table, now rested coldly against his chest. She looked at me with disgust. "He was just stupid. He really believed we were dead." So the safe room connected straight through to the house next door. No wonder my father had used the excuse of reinforcing it to keep me out all these years. I really had been a fool. Right up to the end, I was still thinking about what flowers to bring to the water for them.
View More"Kamu Wanita cacat! Kamu pikir aku dan keluargaku gila mau menjadikanmu istriku, hmm?"
Bagaimana bisa pria seperti Reiko Byakta Adiwijaya yang begitu terpelajar, terlihat bijaksana dan dewasa menyentaknya dan bicara seperti itu?"Jadi semua sandiwara? Pernikahan ini karena kalian menuruti kakek Adiwijaya saja?""Hmm. Jadi jangan berpikir aku menyukaimu! Maaf ya, aku pria normal. Wanita tanpa dua yang menonjol, sangat menjijikkan! itu kayak aku tidur sama laki-laki."Perih tak berdarah di hati Aida ketika mendengar desis Reiko. Pria yang tampak sangat penyayang dengan senyum selalu merekah, bahkan datang ke keluarganya bersama kakeknya Adiwijaya dan orang tuanya ke rumah Aida baik-baik untuk mempersuntingnya begitu lembut tutur katanya. Aida juga jelas sekali mendengar dia tak sama sekali keberatan dengan kondisi fisik Aida.Tapi lihat sekarang. Baru beberapa jam rasanya ijab qabul berlalu dan Aida diboyong ke Jakarta oleh keluarga Adiwijaya, semua berubah. Di rumah orang tua Reiko, dia sudah disentak saat memasuki ruang tamu. Kedua orang tua Reiko langsung meminta putranya menjelaskan status Aida di balik pengetahuan Adiwijaya.Bagaimana Aida tak murka dirinya hanya diperalat?"Kalau begitu aku tidak mau terikat permainanmu dan keluargamu. Ceraikan aku!" sengit Aida menantang tak mau kalah."Hmm. Menceraikanmu, artinya kamu tidak akan mendapatkan biaya sekolah untuk adikmu Lingga, Arum dan Lestari."Nah, ancaman ini membuat Aida bagai tersambar petir. Adiwijaya, kakek Reiko berjanji, selama Aida mau menikah dengan cucunya, maka biaya ibu dan adik-adiknya termasuk sekolah mereka akan ditanggung. Kalau Aida batal menikah, apa yang akan terjadi dengan pendidikan adiknya?'Kenapa juga kakek Adiwijaya harus begitu baik pada kami dan begitu yakin aku paling cocok buat cucunya padahal banyak kekuranganku dan cucunya juga ga mau sama aku?'Aida tak tahu apa alasan pria paruh baya itu selalu menyokong anggota keluarganya selepas ayahnya jatuh sakit hingga pria itu meninggal. Bahkan setelah semua harta mereka habis, untuk berobat dan operasi Aida yang terkena penyakit seperti ayahnya, hanya bedanya ayahnya kanker hati dan Aida di payudara bisa sembuh karena semua disokong Adiwijaya."Lagi mikir, hmm?"Aida tersentak lagi dengan Reiko yang menyindirnya."Pernikahan bisa batal. Tapi bagaimana ibumu yang sudah menikahkanmu dengan saksi pak RT, wakil RT juga keluargamu itu? Apa mereka tidak akan malu di kampung?"Nah iya, Aida memang tak bisa egois. Saat tadi malam Aida ingin membatalkan pernikahan karena insecure fisiknnya, asma ibunya kambuh. Ratna sesak napas, pucat dan hampir pingsan. Ibunya sudah berpikir kalau Reiko adalah pria sempurna. Keluarga mereka juga banyak berhutang budi pada keluarga Adiwijaya."Harusnya kamu menolak kalau memang tak mau menikah denganku!""Kakekku hampir mati karena kena serangan jantung karena aku menolak. Sampai akhirnya papa aku membuat skenario ini." Reiko kembali menegaskan sambil menatap Aida yang duduk di seberangnya."Keluarga intiku tahu aku sudah punya kekasih. Mereka juga sudah menerima kekasihku. Tapi karena kakek bersikeras dengan ribuan alasannya, jadi kami sengaja mengikuti keinginan kakek tapi aku akan membuat perjanjian denganmu.""Bilang aja, kamu takut ga dibagi warisan, kan? klise gitu alasannya sih?" sindir Aida yang membuat wajah Reiko memerah padam"Jangan banyak bicara!" sentaknya sedetik kemudian.Reiko mengambil map di meja yang membuat sofa yang diduduki Aida bersebrangan dengan Reiko."Ini surat perjanjiannya.Tandatangani dan kamu aku tetap dapat benefit dari pernikahan kita sesuai janji kakekku, Adiwijaya!"Sebetulnya saat mendengar kalimat pertama, Aida Tazkia, ingin bersikeras meminta suaminya menceraikannya saja demi harga dirinya.Tapi mendengar kata benefit, gadis itu terngiang sindiran Reiko. Uang biaya pendidikan Lingga yang sudah diterima di Aero Flyer Institute, biaya masuk SMA dan SMP untuk Arum dan Lestari itu seakan terpampang nyata seperti serial horor dalam benak Aida."Apa yang kamu tunggu? Cepat tandatangani!"Aida kembali disadarkan dengan suara bariton tegas yang membuatnya fokus pada surat perjanjian itu."Boleh aku membacanya dulu?" Aida menurunkan intonasi suaranya, mulai melunak.Tapi justru membuat Reiko memberikan senyum menyindir dan membuat Aida kembali dihinakan.'Benar-benar manner-nya buruk banget! Apa susahnya memberikan kertasnya tanpa di lempar, sih? Dia ingin aku memungut lembaran itu seperti pengemis?'Aida mengomel dalam hatinya saat dia memunguti satu persatu lembar kertas yang dilemparkan Reiko. Pria itu tersenyum menghina. Aida sungguh tak habis pikir.Masih berbekas dalam benaknya apa yang terjadi saat ijab qabul. Reiko yang begitu romantis. Kecupan di dahi itu, cara pria itu merangkul dan menggenggam tangannya tiba-tiba membuat Aida yang bergidik ngeri.'Untuk mengambilkan lembaran di dekat sepatunya saja dia tak mau membantu.'Semua berlawanan. Tak ada lagi kelembutan Reiko. Aida harus berusaha sendiri memungut lembaran itu bahkan ada kertas yang berjarak kurang dari setengah meter dari tempat Reiko duduk. Padahal agak sulit Aida bergerak dengan kebaya yang masih melekat di tubuhnya.Aida belum mengganti pakaian pengantin karena memang saat sampai di rumah keluarga Reiko, Endra Adiwijaya menunjukkan penolakannya pada Aida. Istrinya dan adik-adik Reiko juga tampak mencemoohnya sebelum Endra meminta Reiko menjelaskan kontrak perjanjian. Di kamar itulah Reiko membuat Aida mengerti tentang statusnya berdasarkan poin perjanjian yang membuat kepala gadis itu berdenyut."Tandatangani cepat! Sudah setengah jam kamu baca itu. Penanya ada di meja!"'Tapi ini semua demi impian dan pendidikan adik-adikku.' Aida mengingatkan dalam benaknya sebelum pena di tangannya bergerak menggoreskan tinta di kertas perjanjian."Ini sudah, mas Re--""Panggil aku pak! Kecuali di depan umum dan di depan kakekku, kamu boleh memanggilku begitu untuk menutupi rahasia yang hanya diketahui keluarga intiku."Lihatlah, betapa Reiko memang sudah tak lagi menganggap Aida sebagai istrinya. Hubungan mereka hanya sebatas rekan bisnis sesuai dengan surat kontrak yang sudah dikembalikan oleh Aida."Baik Pak. Tapi apa boleh saya bertanya beberapa hal tentang poin di kontrak itu?""Yang mana?"Reiko baru mau menyerahkan surat-surat yang digenggamnya supaya wanita itu membacanyaTapi"Pasal ke empat poin ketiga, tentang pihak kedua akan tinggal bersama pihak pertama di tempat tinggal yang sudah ditentukan pihak pertama dan tidak diizinkan menolak. Poin ke empat, Pihak kedua wajib berperilaku baik selama tinggal bersama, menuruti semua perintah pihak pertama selaku seorang istri dan tidak boleh membantah pihak pertama dalam permasalahan apapun. Lalu poin kelima, Pihak kedua akan bersama pihak pertama selama maksimal lima tahun tanpa boleh mencampuri urusan pihak pertama baik dengan urusan pribadinya ataupun pekerjaannya dan tidak boleh mengganggu pihak pertama, membuat malu, menjatuhkan harga diri pihak pertama, dilarang memicu keributan yang mengganggu ketenangan pihak pertama serta harus tetap menjaga rahasia perihal perjanjian yang sudah disepakati kedua belah pihak serta poin keenam, pihak kedua tidak boleh berhubungan dengan pria manapun selama kontrak berlangsung."'Bagimana dia bisa hapal, bahkan tak ada kalimat yang ditambahkan dan disortir?'Tanpa membaca isi dari surat perjanjian, Aida baru saja menanyakan sesuatu yang membuat Reiko diam-diam tak percaya kalau tidak mendengarnya sendiri.Wanita di hadapannya hanya membaca surat perjanjian dan setelah tanda tangan, Aida tak diizinkan untuk memegang salinannya.Tapi Aida mengingat penuh pasal dan butir-butirnya."Apa pelayan di rumah Anda tidak akan curiga atau mereka sudah tahu rahasia ini, pak Reiko?"Tapi karena Aida sudah bertanya, Reiko berusaha kembali fokus menjawab."Tidak ada pelayan di apartemenku. Harusnya ada, house keeping datang setiap pagi. Tapi karena kamu akan tinggal di sana, aku tidak bisa membiarkan pihak luar tahu rahasia hubungan kita. Jadi kebersihan dan semua yang harusnya tanggung jawab mereka, harus kamu yang menggantikannya. Aku suka kebersihan dan tidak mentolerir sedikitpun berkurang di apartemenku meski cuma satu persen."Kalau tidak ingat biaya sekolah adiknya dan kondisi ibunya yang bisa drop dan shock karena sudah sangat bahagia dengan pernikahan Aida, ingin rasanya gadis itu membuka selopnya dan melemparkan ke kepala suami rasa iblis di hadapannya detik itu juga."Ah, dinikahi untuk jadi pembantu?""Gitu kira-kira. Tapi bayarannya setimpal kan? Mana ada pembantu di bayar miliyaran buat penuhin biaya sekolah adiknya?" Reiko tak kalah sinis menanggapi Aida yang baru menyindirnya."Ingat, kalian bukan orang kaya lagi! Duit kalian sudah habis untuk berobat kan?""Benar sekali. Terima kasih untuk bayarannya dan semoga kerjasama kita tidak ada yang mencederainya.""Aku orang yang memegang janjiku.""Hahaha!" Aida jutru menyindir Reiko dengan tawa terbahak-bahak yang membuat wajah Reiko memerah marah."Apa yang lucu? Kamu tidak mempercayaiku, hmmm?""Janji ijab kabul di depan Tuhan saja Anda cederai, pak Reiko Byakta Adiwijaya. Bagaimana saya bisa menaruh kepercayaan seratus persen pada Anda?"In the end Luca did exactly what anyone should have expected.While Salvatore slept one afternoon, Luca went into his study and took his signet and the deed to the east-side docks.He ran into Gianna in the hallway.She opened her mouth. For a moment it looked as though she might stop him.Then she saw his bloodshot eyes, and once again she chose to say nothing and let him go.Luca took the deed to the underground casino the Costas ran. He put the east-side docks and the old Leo house up as collateral and walked away with ten million dollars in chips.Sitting at the table, he told himself he could take it all back in one night. He'd have the succession again. He'd rebuild everything. Elena would come back on her own.By morning it was all gone.Marco Testa, who ran the floor, slapped the collateral agreement against Luca's chest."Under the contract, Mr. Leo, the east docks and the Leo house belong to the Costa family as of today. You also owe us three million private, and the
Elena collected Antonio's ashes from the burial service.There was no funeral. No priest. No family.Only her, alone at the docks, following the instructions in Antonio's journal as she let the ashes go a little at a time into the cold Harozon.The wind carried some of it back against her face, where it mixed with the rain."You're free now," she said quietly to the water. "No more carrying what isn't yours. No more walking on eggshells around any of them. No more bleeding for people who never earned it."She had the flash drive with her name on it made into a pendant and wore it at her throat.Then she put his sketchbook in order and started planning an exhibition.Back at the estate, the Leo family was coming apart.Luca's shoulder stayed bandaged. With the succession gone, he spent his days breaking furniture and screaming at whoever was closest.Half the roses Antonio had kept for five years died in the garden. Nobody looked after them.There was nothing in the kitchen bu
The Leo family's quarterly dinner was already at its height, the crystal chandeliers bright enough to hurt, every cousin and elder and inner-circle man in the room.Don Salvatore Leo stood at the head table with a champagne flute in his hand. He cleared his throat and smiled at his younger son."I want to take this occasion to announce something. My son, Luca Leo, will be formally installed as the future Don of the Leo family. From tonight, every part of this family's business answers to him."Luca, in a custom black suit, raised his glass to the room and let the congratulations wash over him.Gianna watched him with open pride.Then the ballroom doors banged open.Elena walked in soaked through, black coat clinging to her, her face like ice.She carried a silver tray with a tablet on it. The sound of her heels on the marble silenced the room table by table."Elena, what is this?" Gianna said, frowning. "Come here. The announcement is nearly finished."Luca went to meet her, s
Elena stopped the car at the Harozon River docks.Rain hammered the windshield with the same rhythm it had carried on the night of the engagement party five years ago.Her hands shook as she pushed the flash drive into her laptop.It was password protected.What would he have used?She typed in her own birthday.The drive opened.Her eyes went red all over again.At the top of the directory was a folder marked RECORDINGS.She clicked it, and Luca's voice filled the car, thick with malice."That's the plan. Blow up an empty car, let everyone think Elena and I are dead, and that bastard carries it for the rest of his life. Every day of it, thinking his job got us killed. He'll turn all that rage and guilt into taking ground for the family, and when he's done the hard part, I come back and take everything."The staged deaths. Five years ago, on tape.She went cold all the way through, and kept scrolling.The recordings came one after another, each one going in like a knife.












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.