Between Desire and Ruin

Between Desire and Ruin

last updateLast Updated : 2026-01-29
By:  Nancy B.Ongoing
Language: English
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
43Chapters
879views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Ethan Mathews has just landed the opportunity of a lifetime: assisting the world renowned architect Dante Hart on a city defining project. But what begins as professional admiration soon becomes something far more dangerous. Late nights filled with whispered critiques, shared sketches, and stolen glances spark an undeniable attraction but the world is ready to judge. Colleagues whisper that Ethan is exploiting Dante, while Dante’s past heartbreak makes him wary of love. When a former partner resurfaces, determined to ruin Dante’s career, Ethan is forced to question whether their passion is worth the risk. A rival firm offers Ethan a tempting position, pushing him to choose between ambition and the man who has become his anchor. As rumors spiral and city officials threaten to remove Dante from the project, the two must navigate jealousy, sabotage, and the ever present scrutiny of a world that refuses to understand their love. Can they prove that their bond is built on trust, talent, and true desire, not just convenience and scandal? Or will ambition, fear, and envy tear them apart before their hearts and their masterpiece are complete?

View More

Chapter 1

Chapter 1

Pukul setengah lima dini hari, terdengar suara pintu depan dibuka.

Aku duduk di atas karpet ruang tamu, lalu memindai berkas kontrak terakhir dan mengirimkannya ke email.

Reza masuk dengan bau alkohol, dan saat melihatku, langkahnya terhenti.

"Kau belum tidur?"

Tanpa mengangkat kepala, aku menjawabnya.

"Masih ada sedikit pekerjaan."

Dia tampak dalam suasana hati yang baik, lalu berjalan menuju kulkas untuk mengambil air, nada suaranya terdengar santai.

"Hari ini sangat melelahkan. Akhirnya penghargaan itu berhasil kudapatkan, tawaran film selanjutnya akan semakin stabil, dan pihak agensi juga tidak perlu repot lagi."

Aku hanya mengangguk dan bergumam pelan sebagai jawaban.

Gerakannya menuang air terhenti, dia melirik ke arahku, lalu bertanya.

"Nara, apa kau tidak senang hari ini?"

Dulu, setiap kali dia membawa kabar baik, mataku yang akan berkaca-kaca terlebih dahulu daripada dirinya sendiri.

Aku akan memeluk dan memujinya berkali-kali, mengatakan bahwa aku memang selalu yakin dia pasti akan berhasil, lalu menggenggam kedua tangannya yang lecet karena syuting, membolak-baliknya dengan penuh rasa sayang.

Namun malam ini, aku hanya menatap layar ponselku.

Aku membalikkan layar ponselku, dan berkata singkat.

"Tidak kok."

Reza memang selalu tahu bagaimana membuat hati seseorang menjadi luluh.

Dia menghampiriku, membungkuk, lalu dengan lembut menyelipkan rambutku yang terurai ke belakang telinga.

"Aku memenangkan penghargaan Aktor Terbaik, kau bahkan tidak mau mengucapkan selamat?"

Seandainya ini terjadi sebelum malam kemarin, mungkin kelembutannya yang sederhana itu sudah cukup membuat pertahananku runtuh seketika.

Tetapi sekarang, aku hanya berkata datar.

"Selamat ya."

Hanya ucapan yang terdengar begitu hambar.

Reza menatapku selama beberapa detik, lalu tiba-tiba mengulurkan tangan dan mengambil ponselku.

Secara refleks, aku langsung mengunci layar ponsel itu.

Tatapannya langsung menjadi muram.

"Kau menyimpan rahasia dariku?"

"Tidak."

"Kalau begitu, buka kuncinya."

Aku mendongak dan menatapnya.

"Sudah kubilang, ada pekerjaan."

Reza tertawa kecil, namun suaranya terasa begitu berat hingga membuat orang merasa sesak napas.

"Nara, sudah delapan tahun, sejak kapan kau punya rahasia yang tidak boleh kulihat?"

Dia mengangkat ponsel itu ke hadapanku.

"Kode sandinya."

Aku terdiam sejenak, lalu menjawab.

"Tanggal lahirku."

Suasana ruang tamu langsung hening.

Ujung jari Reza menggantung di atas layar, lama tidak bergerak.

Akhirnya, dia mengetikkan serangkaian angka.

Salah.

Dia mengetikkan angka lain lagi.

Masih salah.

Ketiga kalinya, dia tidak mencoba lagi.

Tiba-tiba aku teringat pada tahun pertama pernikahan kami, saat dia patah tulang rusuk karena kecelakaan saat syuting. Kalimat pertamanya setelah sadar dari obat bius.

"Nara, tanggal berapa hari ini? Ulang tahunmu sebentar lagi, tapi aku belum memesan kue, kan?"

Saat itu dia menahan sakit hingga dahinya berkeringat, tetapi masih ingat aku suka krim kastanye.

Seiring waktu, dia semakin sibuk sampai-sampai pada hari ulang tahunku yang tersisa hanyalah kupon ucapan selamat otomatis dari sebuah aplikasi.

Reza mengembalikan ponselku, suaranya terdengar lebih rendah.

"Kapan kau mengganti kata sandinya?"

Aku menerimanya kembali, lalu menjawab dengan tenang.

"Sudah lama."

"Kenapa tidak memberitahuku?"

Aku menatapnya, tiba-tiba merasa lucu.

"Memangnya kau pernah bertanya?"

Ekspresi wajah Reza langsung berubah muram.

Baru saja dia hendak berbicara, ponselnya berdering.

Layar ponselnya menyala.

[Keira.]

Nama itu tertera dengan tenang di sana, namun terasa seperti sebilah pisau tipis yang dengan sekali sayatan lembut mampu mengoyak harga diri yang selama ini aku pertahankan dengan susah payah.

Reza melirikku, lalu berbalik dan melangkah menuju balkon.

Namun tangisan Keira terdengar begitu keras hingga suaranya bocor dari ujung telepon.

"Reza, tanganku sakit sekali. Cincinnya tersangkut …."

Reza langsung mengerutkan kening.

"Jangan menangis, aku akan segera ke sana."

Aku duduk di atas karpet, lalu berhasil mengirim lampiran kontrak.

Dia menoleh ke arahku, seolah ingin menjelaskan sesuatu, namun sepertinya merasa tidak perlu.

"Dia sedang ada sedikit masalah."

Aku mengangguk.

"Pergilah."

Namun, justru sikapku itu yang membuatnya semakin tidak nyaman.

"Nara, apa kau harus bersikap sinis seperti ini? Kau tahu aku paling benci kalau kau begini."

Aku menengadah, lalu bertanya dengan tenang.

"Kalimatku yang mana yang melarangmu pergi?"

Dia menelan ludah, tetapi tidak menjawab apa pun.

Sebelum mengganti sepatu dan pergi, dia mengambil piala Aktor Terbaik itu, dan setelah berpikir sejenak, lalu meletakkannya kembali ke tempat semula.

Saat pintu tertutup, aku menerima pesan singkat dari maskapai penerbangan.

[Tiket penerbangan Anda telah berhasil diterbitkan.]

Aku mematikan ponsel.

Di ruang tamu kini hanya tersisa piala itu, seperti sebuah drama picisan yang akhirnya berakhir dipentaskan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
43 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status