Between the Game of Death and Love

Between the Game of Death and Love

last updateLast Updated : 2026-01-02
By:  Yhen AmorOngoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
10
1 rating. 1 review
20Chapters
2.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

He was a Kung Fu head trainer, who was framed by his two trainees in a rape and murder case of Clushia, a female trainee, who was obsessed with him. He was convicted and brought to the maximum penal institution called the 'Hellhole', for no prisoner got out of it alive. In one of the prisoners’ riots, he was forced to fight to defend himself but ended up killing another prisoner. He was put to an oubliette. Unknown to him, that oubliette is the door to an underground city, with an arena for the so-called “Game of Fangs and Death” by the Alpha Pharoah. The game is for five nights. If he wins, he will be given a free pass leading to a secret passage, away from the 'Hellhole'. Could there be an escape for him from the 'Hellhole'? Could his heart find an escape from the Alpha Pharoah's daughter, who has a lot of similarities to Clushia? It was like, Clushia had been born again through her. Would suddenly his never known powerful blood and lineage eventually help him escape from his death?

View More

Chapter 1

CHAPTER I - The Start of Complexity In Fiel's Life

Pintu tertutup di belakangku dengan bunyi pelan, menjadi tanda akhir dari lima tahun hubungan kami.

Salju tebal menerobos masuk ke kerah bajuku. Aku menyeret koper dengan satu roda yang sudah rusak, melangkah tertatih di jalan bersalju.

Perutku kembali melilit hebat. Aku berpegangan pada tiang lampu jalan dan membungkuk, lalu muntah keras.

Salju di tanah dipenuhi darah yang merah mencolok. Bagian kanan atas perutku terasa nyeri menekan tak tertahankan. Dengan langkah sempoyongan, aku duduk di pinggir jalan.

Salju turun berhamburan, angin dingin menyapu hatiku yang sudah kosong. Meski rasa sakit itu sudah lama membuatku mati rasa, tubuhku tetap gemetar tanpa bisa ditahan.

Air mata menggenang di pelupuk mata. Aku mendongak menatap lampu jalan di atas kepala. Cahaya kuning hangat itu sama sekali tidak terasa hangat.

Lima tahun lalu di malam badai salju seperti ini, aku menggendong Nathan berjalan semalaman di atas salju. Demi menyelamatkannya, aku berteriak sampai suaraku habis, meneguk air salju hingga lambungku rusak karena beku.

Namun kini, dia menjepit rokok di antara jemarinya dan menatapku dengan sorot mata penuh jijik. Kemudian, dia berkata pelan, "Althea nggak suka bau obat di tubuhmu. Ivory, ambil 10 miliar ini dan enyah."

Aku meraba cek itu, sudut bibirku terangkat membentuk senyum mengejek.

Sepuluh miliar. Semua cinta dan khayalanku selama lima tahun ini, ternyata cukup mahal.

Aku menyelipkan cek itu ke saku dalam bajuku. Harus kusimpan baik-baik. Ini uang peti matiku. Aku berdiri perlahan, melangkah maju dengan tertatih. Saat melewati tempat pembuangan sampah, sekilas aku langsung melihat tumpukan barang-barang milikku di sana.

Jimat keselamatan yang kuminta untuknya dengan bersujud langkah demi langkah, telah digunting hingga hancur. Sweter wol kasmir yang kubuat sendiri dengan bergadang tiga malam berturut-turut, penuh dengan bekas jejak kaki kotor.

Bagi kalangan keluarga konglomerat, benda-benda seperti itu memang tampak murah seperti sampah. Namun, semuanya adalah benda terbaik yang pernah bisa kuberikan padanya. Tanpa sadar, aku melangkah mendekat dan ingin memungutnya kembali. Namun tiba-tiba terngiang di kepalaku ucapan Althea, "Sial."

Tanganku pun ditarik kembali.

Sudahlah, tidak perlu.

Aku melepas kalung yang sudah kupakai selama tiga tahun dari leherku. Itu satu-satunya hadiah yang pernah dia berikan, sebuah barang bonus yang tidak berharga.

"Kalau sudah putus, putuskanlah sampai bersih."

Aku melemparkannya ke dalam tumpukan kotoran itu. Aku kira aku akan cukup tega. Namun saat berbalik, hatiku tetap terasa seperti disayat pisau.

Dari belakang terdengar suara mesin mobil. Maybach milik Nathan melaju kencang melewatiku. Segelas teh susu panas menghantam wajahku, boba yang lengket menempel di sweter murahku.

"Kenapa sampah ini masih ada ...."

Uap panas mengepul, mengaburkan pandanganku. Yang terdengar hanya suara manja Althea, lalu deru kendaraan yang makin menjauh.

Pada akhirnya aku tetap tidak bisa menahannya, air mata jatuh diam-diam. Kepura-puraan yang tersisa, kini hancur berkeping-keping dalam aroma manis teh susu yang bercampur angin dingin.

....

Dengan uang itu, aku menyewa sebuah apartemen tua dan sempit di dekat rumah sakit. Selain pergi ke rumah sakit untuk kemoterapi, aku hampir tidak pernah keluar.

Kemoterapi sangat menyakitkan. Cairan obat mengalir ke pembuluh darah, rambutku rontok segenggam demi segenggam. Aku tidak berani bercermin, juga tidak berani keluar rumah.

Setiap hari aku meringkuk di atas ranjang sempit, mengintip keramaian dan kebahagiaan mereka di linimasa.

Asisten pribadi Nathan mengunggah sebuah video. Di bawah langit penuh kembang api, Nathan memeluk Althea, menunduk mencium rambutnya dengan lembut.

Cincin berlian merah muda di jari Althea tampak sangat menyilaukan. Wajar saja, Nathan dulu merancangnya sendiri segores demi segores selama hampir tiga bulan.

Saat itu, aku yang tidak tahu apa-apa sempat ingin melihat gambar desainnya. Dia langsung bereaksi berlebihan, "Jangan sentuh!"

Baru sekarang aku mengerti, nada kasarnya waktu itu bukan karena kesal aku masuk ke ruang kerjanya tanpa izin, melainkan karena takut aku menodai cintanya pada Althea.

Komentar di bawahnya sebagian besar adalah ucapan selamat dari teman-teman dekat mereka.

[ Memang cuma Kak Althea yang pantas buat Nathan! ]

[ Si bisu itu bahkan nggak bisa dibandingkan dengan sehelai rambut Kak Althea! ]

Mungkin dulu aku akan merasa sakit hati saat melihat semua ini. Namun bagi diriku yang sekarang, semua itu sudah tidak penting.

Aku yang hidup dengan menghitung mundur sisa waktuku, benar-benar tidak punya energi untuk dihabiskan pada emosi seperti itu. Dengan ekspresi datar, aku mematikan ponsel. Perawat mencabut jarum infus di tanganku.

Dari kamar sebelah kembali terdengar suara benda dibanting, disusul teriakan kasar seorang remaja laki-laki. "Pergi! Kalian semua keluar!"

Ini sudah keributan ketiga hari ini. Tetangga baruku sepertinya orang gila yang bahkan lebih tidak ingin hidup dibandingkan diriku.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Jay Crawley
Jay Crawley
This book is seriously worth a read!! You won't be disappointed I swear!!
2022-03-13 04:15:11
0
0
20 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status