LOGINAkhirnyaaa ... sabar, ya, Mba beb ... bentar saya up lagi ... kisseesss...
“Haaah …” Dinda berbaring lelah di tempat tidur. Mendesah panjang sambil meregangkan tubuhnya yang terasa kaku dan penat. Meski baru selesai mandi, tetapi sisa lelah di tubuhnya masih saja tersisa. “Sampe Jakarta, aku mau pijat lagi.”Felix tertawa kecil sambil memposisikan dua koper besar yang baru saja mereka beli di sudut kamar. Padahal, di hari kedua mereka di Thailand, Dinda sudah menghabiskan waktu berjam-jam di spa hotel dengan alasan lelah. Dan besok, istrinya itu sepertinya akan kembali menghabiskan waktu untuk memanjakan diri setelah tiba di Jakarta.Lima hari menghabiskan bulan madu berdua ternyata terasa sangat singkat. Jika tidak mengingat tanggung jawabnya di kantor, Felix pasti akan menambah cuti bulan madunya bersama Dinda. “Bagian mana yang pegel?” tanya Felix menghampiri Dinda. Merangkak pelan di atas tubuh sang istri. “Biar aku pijitin sekarang.”Bibir Dinda mengerucut dan menggeleng. “Jangan bikin aku keramas lagi hari ini.”“Oke.” Felix mencuri satu kecupan di bi
Cinta menuang seluruh isi tas milik Cibi, setelah menumpahkan isi tas miliknya sebelumnya. Namun, benda yang dicarinya tidak kunjung ditemukan. Bahkan, ia juga sudah mencari di dalam koper, tetapi tidak juga menemukan barang tersebut.“Pa! Lihat pil KB …” Cinta menggeleng. Ia berbalik dan segera berjalan ke balkon. Bertolak pinggang pada Bias yang tengah santai memangku Cibi. Tatapannya menyipit, curiga semua ini adalah ulah suaminya. “Papa Bi nyembunyiin pil KB-ku, kan!”Bias menatap Cibi, lalu menggeleng. Bicara tanpa menoleh pada Cinta. “Papa mana mungkin nyembunyiin pil KB mamamu, kan, Sayang? Mamamu itu asal nuduh. Nggak ada bukti.”“Pa!”“Sstt!” Bias mendelik pada Cinta, tetapi nada suaranya tetap santai. “Masa’ suaminya dibentak-bentak di depan anaknya? Ckckck.”“Ini juga!” Cinta mendesah kesal ketika melihat Cibi sudah memegang camilan sepagi ini. “Cibi itu belum sarapan, kenapa dikasih camilan?”“Dia tadi nunjuk camilannya,” jawab Bias tetap santai menanggapi kekesalan istrin
“Ayolah Mama Ci,” Bias masih bersikukuh membujuk Cinta untuk memberi Cibi seorang adik, “lepas KB juga belum tentu hamil bulan depannya.”“Ehhh … nggak ingat kemarin waktu bikin Cibi bulan depannya langsung hamil?” “Itu, kan, waktu Cibi, bukan adeknya,” ujar Bias menatap putrinya yang ada di gendongannya, “kamu mau adek, kan? Iyak, kan?” tanyanya sambil mengangguk dan Cibi pun langsung mengikuti gerakan kepala Bias sambil mengoceh.“Nah!” Bias langsung menunjuk putrinya. “Cibi ngangguk! Dia mau adek katanya.”Cinta menggulirkan bola matanya lalu mengambil Cibi dari gendongan Bias. “Nggak usah ngarang,” ucapnya sambil merebahkan putrinya di tempat tidur. “Ini sudah waktunya bobok! Tolong matiin lampunya, Pa.”“Habis Cibi tidur–”“Aku sudah minum pil tadi pagi,” sela Cinta berbaring di samping Cibi, bersiap tidur untuk melepas lelah setelah seharian mengikuti prosesi pernikahan Dinda, “jadi–”“Besok pagi nggak usah minum lagi,” putus Bias segera mematikan lampu kamar dan menyisakan sat
“Dinda … selamat, ya,” ucap Ranu saat bersalaman dengan Dinda. Saling mencium pipi, lalu berakhir dengan satu pelukan hangat. “Mas titip salam, karena masih di Surabaya.”Dinda mengangguk. Ia pun sudah mengetahui hal tersebut dari grup kantor. Raksa masih berada di Surabaya dan tidak bisa menghadiri pernikahan Dinda. “Iya, makasih sudah datang,” balas Dinda setelah mengurai pelukannya dan menatap Altaf dengan senyum semringah. Berusaha menyembunyikan rahasia yang ada di antara mereka perihal rumah, demi menjaga hati pasangan masing-masing.“Selamat, Din,” ucap Altaf setelah menyalami Felix, “kalian berdua ini nggak ada suaranya, tapi tau-tau nikah.”“Di situ seninya, Mas,” sambar Dinda sambil mengalungkan tangan ke lengan Felix dengan mesra, “ayok foto dulu!” “Ayo!” Ranu langsung berdiri sejajar dengan Dinda.Sementara Altaf, langsung sadar diri. Ia bergeser, lalu berdiri di samping Felix. Lampu kilat kamera menyambar beberapa kali, mengabadikan senyum bahagia mereka berempat. Sete
“Aku iri.” Cinta mengerucutkan bibir sambil memeluk lengan Bias dari samping. “Dulu waktu kita nikah nggak begini. Nggak ada seserahan, mahar juga … berapa, sih, maharku waktu kita nikah kemarin? Aku lupa.”“Jangankan kamu, aku yang ngomong aja juga lupa,” jawab Bias terus terang. Bagaimana bisa ingat, jika pernikahan mereka dilakukan karena terpaksa. Bukan berlandaskan cinta, melainkan benci dan dendam. “Tapi, uangnya masih ada. Di walk in closet, di samping tempat jam tangan tangan.”Cinta mencebik. Lebih merapatkan diri pada Bias. Mereka tengah melihat Dinda yang sedang berfoto dengan para undangan yang hadir. Aura kebahagiaan terlihat jelas dan hal itu berbanding terbalik dengan pernikahannya dahulu kala.“Nggak ada foto-foto juga, kan?” Cinta menunduk dengan helaan panjang. Ia sadar, semua yang telah terjadi adalah karena ulahnya sendiri. Jadi, mau tidak mau ia harus menerimanya dengan lapang dada. “Udahlah, nggak usah diingat lagi.”“Nanti kita foto sendiri,” ucap Bias mengusap
“Silakan masuk,” ucap Felix menyambut ramah kedatangan Bias dan Cinta di rumahnya, “jangan sungkan dan anggap rumah sendiri.”Menjelang hari H, ternyata ada saja beberapa hal yang luput dari perhatian dan tidak dipertimbangkan. Salah satunya adalah permintaan Dinda agar Cinta menginap di rumahnya sebelum hari pernikahan.Rumah baru itu memang memiliki tiga kamar, tetapi hanya dua yang bisa digunakan sebagai tempat tidur. Dinda tidur bersama ibunya di kamarnya, sementara satu kamar lainnya sudah dipersiapkan untuk pak RT dan istrinya yang akan menjadi perwakilan keluarga Dinda dalam prosesi pernikahan.Karena hal yang terlupakan itulah, rencana pun berubah tiba-tiba. Mau tidak mau, Cinta dan keluarga kecilnya akan mengungsi di rumah Felix. “Maaf, ya, Pak, udah ngerepotin,” ucap Cinta hanya untuk berbasa-basi. Karena ia yakin, Felix tidak akan keberatan menampung Bias dan dirinya. “Nggak repot sama sekali,” ucap Felix menghampiri Bias dan mengulurkan kedua tangan pada bayi cantik yang







