LOGINPada malam ulang tahun pernikahan kelimanya, hidup Ghea Clarisa hancur dalam sekejap. Ia memergoki suaminya, Arka, berselingkuh dengan sahabat terbaiknya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Ghea kehilangan seluruh harta warisannya dan nyaris menyerah pada hidup. Di titik terendah, takdir mempertemukannya kembali dengan cinta masa lalu yang pernah ia tinggalkan, Devan. Bersama pria itu, Ghea bangkit dan menyusun balas dendam untuk menghancurkan mereka yang telah merenggut segalanya. Namun, saat rahasia demi rahasia terungkap, ia menyadari bahwa dirinya mungkin hanya pion dalam permainan yang jauh lebih besar. Ketika cinta lama kembali hadir, sementara dendam dan kebohongan semakin menjerat, mampukah Ghea menemukan kebenaran sebelum semuanya terlambat?
View More“Kamu kemana Mas? Aku udah nunggu di sini dari jam sembilan,” pesan itu terkirim lagi, setelah Arka mengiyakan ajakan makan malam yang Ghea lakukan pada sang suami siang tadi.
Pukul sembilan lewat dua puluh tujuh, Ghea masih berdiri di tepi rooftop hotel berbintang lima, menggenggam kotak hadiah kecil berisi jam tangan Richard Mille yang menghabiskan hampir seluruh tabungan pribadinya.
Angin malam Jakarta bertiup menggigit, tapi dingin yang merayap di punggungnya bukan berasal dari sana. Matanya tertuju pada layar ponsel yang masih sama seperti dua puluh menit terakhir. Satu centang. Pesan terkirim, belum terbaca.
“Kamu kemana Mas, aku tunggu di sini.”
Lokasi sudah ia kirimkan. Foto meja makan malam dengan lilin yang hampir habis, dua set piring berlapis emas, dan botol wine merah yang sudah dibuka satu jam lalu juga sudah ia lampirkan. Tapi Arka? Suaminya itu seolah lenyap ditelan bumi.
Anniversary ke-5. Lima tahun pernikahan. Lima tahun sejak dia memegang tangannya di pelaminan dan berjanji tidak akan pernah membiarkannya menunggu.
Ghea menggigit bibir bawahnya. Jarinya bergerak cepat menekan nomor pelayan rumah mereka di Kemang. Dua nada dering yang langsung terangkat oleh penjaga rumah.
“Bu Ghea?”
“Pak Eko, apakah Mas Arka ada pulang ke rumah?” tanyanya memastikan Arka yang lupa akan ajakannya untuk makan malam bersama malam ini.
Keheningan di ujung sambungan sudah cukup menjadi jawaban. “Belum, Bu. Pak Arka belum ada kembali ke rumah sejak berangkat kerja sore tadi,” jawab Pak Eko.
Jantung Ghea berdetak lebih keras. Dia mengucapkan terima kasih dengan suara yang berusaha dia jaga tetap stabil, lalu menutup telepon.
Di rumah tidak. Rooftop hotel juga tidak. Lalu di mana suaminya berada?
“Apa dia ada rapat mendadak? Tapi kenapa tidak berkirim kabar lebih dulu?” pikir Ghea, jika benar Arka ada rapat atau pertemuan dadakan dengan klien yang sering dilakukan suaminya hingga harus sering pulang larut ke rumah mereka.
“Ah, aku mau nunggu di apartemennya saja. Biasa kalau ada jamuan dadakan, Mas Arka akan kembali ke apartemen,” ujarnya dengan tenang, meski perasaannya sudah mulai gelisah saat Arka tak bisa lagi dihubungi.
Ide menyusul ke apartemen muncul seperti kilat. Apartemen di kawasan SCBD itu memang menjadi tempat istirahat Arka ketika dia terlalu lelah pulang ke Kemang karena kemacetan ibu kota. Atau ketika dia mengaku ada meeting larut malam. Ghea tidak pernah bertanya lebih jauh. Dia percaya pada Arka yang benar-benar selalu meratukannya.
Dia menarik napas panjang, melambaikan tangan pada pelayan hotel yang mendekat. “Tolong rapikan semuanya. Saya harus pergi.”
“Apakah makanan jadi kami bungkus, Bu?”
“Terserah.”
Ghea sudah melangkah menuju lift. Di dalam kabin yang dingin dan sunyi, dia kembali membuka ponsel. Pesan kedua dia ketik untuk Arka.
“Mas ada meeting ya… kalau gitu ga usah pulang ke rumah ya… Ghea tahu Mas Arka pasti capek,” pesannya yang langsung terkirim meski pesan sebelumnya masih centang satu.
Lift terbuka di lantai dasar. Ghea melangkah cepat melewati lobi hotel yang mewah, menjinjing tas mewah yang di dalamnya tersimpan kotak hadiah itu.
Pengemudi taksi online sudah menunggu sesuai pesanan. Sebab sopir pribadi sudah ia minta untuk pulang ke rumah, ia berpikir akan pulang bersama Arka, suaminya.
Sepanjang perjalanan, dia tidak bisa diam kukunya terus mengetuk-ngetuk gagang pintu, matanya bergantian menatap jalanan macet dan layar ponsel yang tetap gelap.
“Kenapa tidak dibalas? Apa mungkin ponselnya kehabisan daya?” Ia masih berpikir positif, sebab memang kesibukan Arka yang memang luar biasa. Kadang harus melewatkan jam makan siang, sehingga Ghea selalu mengirim bekal untuk makan siang pada Arka.
Pikiran mulai meracuni dirinya. Apakah Arka kecelakaan? Apakah ponselnya mati? Atau… Ghea menggeleng keras. Tidak. Jangan berpikir yang aneh-aneh.
Taksi berhenti tepat di depan apartemen megah mereka pukul sepuluh kurang dua puluh. Ghea membayar, melompat keluar, dan berjalan cepat menembus lobi yang ber-AC dingin. Satpam di meja depan menyapanya dengan hormat. Security card-nya masih berfungsi. Lift eksklusif membawanya naik ke lantai tiga puluh tiga tanpa hambatan.
“Aku akan memberikan kejutan buatmu, Mas,” pikir Ghea. Sebab Arka yakin tidak menyangka jika Ghea akan menyusul ke apartemen dan bermalam di sana.
Lift terbuka. Koridor panjang dengan lantai marmer mengilap membentang di hadapannya. Ghea berjalan mematikan suara. Sepatu haknya yang mahal justru menjadi musuh sekarang.
Pintu apartemen nomor 3307. Rumah kedua mereka. Ghea segera mengangkat tangan untuk menekan kode. Tanpa menunggu lama, pintu terbuka, menyambut kehadiran Ghea sebagai sang pemilik yang bisa masuk leluasa.
Dia melangkah masuk tanpa suara. Ruang tamu terang, lampu menyala sebagai pertanda ada sang penghuni di apartemen mereka. Siapa lagi kalau bukkan Arka, suaminya. Senyum Ghea semakin merekah dibuatnya.
Sepatu pria tergeletak di dekat sofa. Jas Arka, dasi yang dia belikan sepekan lalu tergeletak di atas sofa.
“Benar dugaanku. Mas Arka pasti pulang ke apartemen saat lelah begini,” gumamnya, kedua sudut bibirnya pun semakin melebar ketika mendapati sang suami tercinta ada di dalam.
Langkah kaki Ghea terhenti, kala mendapati sepatu hak stiletto merah. Tas kecil branded milik seorang wanita tergeletak di ujung sofa panjang.
“Itu bukan milikku,” gummanya dengan debaran jantung yang semakin menggila dan Ghea berusaha menahan pikiran buruk yang mulai menjalar ke otaknya.
Darahnya membeku. Langkah kakinya terus membawanya menyusuri ruang apartemen mewahnya menuju kamar utama. Pintu kamar setengah terbuka. Cahaya temaram dari lampu tidur menyelinap keluar, membentuk garis tipis di lantai gelap.
Dari balik pintu tebal kedap suara itu, mungkin hanya imajinasinya, atau mungkin— dia mendengar sesuatu. Suara yang samar, kadang ada tawa yang terdengar semakin jelas kala kaki semakin mendekat ke arah sana.
Jantungnya berhenti. Saat suara semakin jelas, bukan gumaman lagi dan tawa. Melainkan desahan panjang, terputus-putus yang Ghea sangat tahu arti dewasa itu. Tak hanya seorang pria, tapi suara itu bersama dengan wanita.
Ghea merasakan dadanya dihantam palu godam. Jari-jarinya gemetar hebat saat tangannya terangkat untuk membuka sempurna pintu kamar utama mereka.
Dan suara-suara itu semakin jelas terdengar nyaring,
“Ah—Arka, pelan-pelan—”
Ghea berhenti tepat di balik pintu. Tangannya yang memegang kotak hadiah gemetar hebat. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Kepalanya berdenyut. Dari celah pintu, dia bisa melihat bayangan dua tubuh di kaca besar depan ranjang mereka. Saling terkait, bergerak dalam irama yang membuat perutnya mual ingin memuntahkan isi perut yang kosong oleh angin malam sebab terlalu lama menunggu kehadiran suaminya.
Suara perempuan itu, Ghea tahu persis suara itu. Suara yang selalu dia dengar setiap hari. Suara yang mengucapkan selamat anniversary pertama kali di ulang tahun pernikahan mereka. Bahkan, suara yang memberikan ide makan malam romantis malam ini dengan sempurna, dan dia pula yang menghancurkannya.
Suara yang memanggilnya “Ghea, Saayang” dengan tulus. Suara itu milik Nadia.
Nadia. Sahabatnya. Sahabat terbaik yang ia miliki. Bahkan, wanita yang menangis bahagia di pelukannya saat Arka melamar Ghea.
Desahan panjang terdengar lagi. Dan Ghea mendengar suara Arka, suami yang dia tunggu dua jam di rooftop, yang pesannya tidak pernah dibalas, berbisik dengan nada yang begitu intim, begitu dekat.
“Kamu enak sekali, Sayang. Kamu selalu terbaik saat bermain di atas ranjang.”
Suara gelak tawa menyambut kalimat yang keluar dari mulut Arka, “benarkah? Makanya kamu selalu ketagihan dengan permainanku?”
“Tentu saja. Kamu tak sebanding dengan Ghea, Nad.”
“Jangan sebut namanya saat aku berada di atasmu, Honey.”
Restoran mewah itu masih bergema dengan keheningan yang canggung dan mencekam setelah Nadia diseret keluar dengan paksa oleh sekuriti. Para tamu yang hadir mulai kembali ke obrolan mereka dengan suara pelan, tapi bisik-bisik yang penuh rasa ingin tahu masih terdengar di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang tidak nyaman.Arka berdiri di samping meja dengan wajah merah padam dan panas karena rasa malu yang luar biasa dan penghinaan yang tidak pernah dia bayangkan akan dia alami. Tangannya yang gemetar hebat, dadanya naik turun dengan cepat, dan matanya yang kosong menatap ke arah pintu tempat Nadia baru saja dibawa pergi dengan paksa.Ghea masih duduk dengan tenang di kursinya, air es masih menetes dari rambut pendeknya yang basah, tapi senyum tipis yang penuh kemenangan dan tidak terlihat oleh siapa pun masih men
Suasana terasa seperti berada di dalam gelembung yang terisolasi dari kekacauan dunia luar, hanya ada mereka berdua di tengah gemerlap kemewahan. Di antara dentingan gelas kristal yang samar dan aroma masakan Prancis yang masih menyengat di udara, ketegangan di meja mereka terasa semakin memuncak. Arka masih menggenggam jemari Ghea dengan erat dan penuh keyakinan, tangannya yang berkeringat menunjukkan kegugupan yang tidak biasa dari seorang CEO yang biasanya penuh percaya diri dan tegas. Detak jantungnya berdebar kencang di dadanya yang sesak, menunggu dengan cemas jawaban yang akan mengubah segalanya dan menentukan masa depannya.Ghea tidak menarik tangannya dengan kasar atau tiba-tiba seperti yang mungkin diharapkan Arka. Sebaliknya, dengan penuh perhitungan, dia membiarkan kulitnya bersentuhan dengan tangan pria yang dulu sangat dia cintai dengan tulus selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya bagi Arka. Dia membiarkan Arka merasakan kehangatan yang tersisa di balik di
Arka menatap Ghea dengan pandangan yang sarat akan keputusasaan dan hasrat kepemilikan yang menggebu. Matanya yang merah karena kurang tidur dan penuh penyesalan, tidak pernah lepas dari wajah Ghea yang tenang dan anggun di bawah cahaya lilin. Di dalam hatinya yang kacau, dia merasakan gelombang emosi yang tidak bisa dia kendalikan—penyesalan, kerinduan, dan keinginan untuk memiliki kembali wanita yang telah dia sia-siakan."Ghea," bisik Arka, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. "Aku tidak bisa terus hidup dengan penyesalan ini. Setiap malam, aku terbangun dan mengingat semua yang telah aku lakukan padamu. Aku telah menghancurkanmu, dan aku tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya."Dengan gerakan perlahan dan penuh keraguan, Arka menjangkau meja dan mencoba menggenggam jemari Ghea. Tangannya bergetar saat menyentuh kulit Ghea yang lembut, dan dia menggenggamnya erat-erat, seolah-olah dia takut wanita itu akan menghilang jika dia melepaskannya."Aku minta maaf," kata Arka, sua
Di bawah naungan pohon rindang yang besar dan teduh, Ghea duduk dengan anggun dan tenang di atas kursi taman kayu yang sederhana, sebuah buku terbuka di pangkuannya yang dipeluknya dengan lembut, dan gaun sutra putih yang melingkupi tubuhnya seperti aliran air yang bergerak lembut setiap kali angin bertiup dan menyentuh kain sutranya. Rambut pendeknya yang rapi tertiup pelan oleh angin sore, dan wajahnya yang tenang serta penuh kedamaian tampak seperti lukisan yang sempurna, seolah-olah dia adalah bagian dari taman itu sendiri.Dari balik jendela lantai dua yang dingin, Arka berdiri diam dan membeku seperti patung, matanya terpaku pada pemandangan di bawah sana yang memukau hatinya. Jari-jarinya menekan kaca jendela dengan lembut, seolah-olah dia mencoba meraih sesuatu yang ada di luar jangkauannya yang semakin jauh.Aura keten












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews