LOGINGale Armstrong is studying a degree in Medicine. All she has to do to finish the degree is write the exams. However, being a student comes with a lot of expenses and a lot of money Gale does not have. She is in a large amount of debt, due to the piled up student loans, she has to use in order to pay for college. So, she started working as a personal assistant to Aidan Johnson for the past year, to try and pay off her studies, but things did not quite go to plan... Aidan Johnson. He's cold, arrogant and one of the richest men in the country. He gets everything he wants. Everything except Gale, and he will stop at nothing to get what he can't have...
View More“Ugh ....”
Kedua mata Reina mengerjap pelan menyesuaikan cahaya yang masuk mengenai mata indahnya. Gadis itu memegangi kepalanya yang masih berdenyut nyeri. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Apalagi di bagian berharga miliknya yang ngilu juga perih tak terkira. Reina mengedarkan pandangannya dan baru sadar bahwa kini ia tengah berada di sebuah kamar mewah dengan nuansa berwarna gelap. “Aku di mana ini?” lirih Reina hingga menyadari ada sesuatu yang salah. “Aaaa! Apa yang terjadi ... ssshhh! Sakit!” Suara gadis itu memekik ketika mendapati dirinya tak berbusana hanya berbalut selimut saja. Reina berusaha menyusun kepingan puzzle yang berserakan di otaknya. Namun tiba-tiba terdengar sebuah suara dari pintu kamar mandi. Seketika Reina menoleh. Ia tatap sosok pria dewasa memakai jas hitam dengan tatapan datar lurus ke depan. Lelaki dengan rahangnya yang tegas, hidung mancung dan alis yang tebal. Tentu hal itu bisa membuat perempuan manapun akan tertarik pada pesonanya. “Si‒siapa, kamu?” lirih Reina dengan suara yang bergetar. Matanya memanas. Rasanya gadis itu ingin menangis saat itu juga. Reina mencengkeram erat selimut yang menutupi tubuh sampai sebatas dada. Punggungnya beringsut mundur menabrak kepala ranjang besar itu. Sungguh dia takut dengan tatapan di hadapannya tersebut. Tak ada jawaban. Lelaki itu justru mengeluarkan selembar cek dan meletakkannya di atas meja nakas. “Segera gunakan kembali pakaianmu dan ambil uang ini. Saya harus segera pergi.” Lelaki berjas hitam itu melenggang pergi meninggalkan Reina seorang diri tanpa merasa bersalah sama sekali. “Tapi, Pak? Tunggu! Jangan pergi!” Reina merasa tidak terima. Ia butuh penjelasan mengapa bisa berada di tempat itu bersama seorang lelaki yang asing baginya. Teriakan Reina berakhir dengan sebuah kekecewaan saat mendengar pintu kamar ditutup keras. “Ya, Tuhan ... bagaimana mungkin ini bisa terjadi?!” lirihnya merasa hina. Reina mulai mengingat kembali peristiwa yang terjadi tadi malam. Karin—sang sahabat mengajaknya keluar dari acara pesta perusahaan ketika gadis itu merasakan kepalanya pusing setelah menenggak satu gelas minuman yang diberikan sahabatnya tersebut. “Apakah dia menjebakku? Tidak mungkin. Apa salahku?” Dada Reina terasa semakin sesak. Kepalanya menunduk dengan bahu yang berguncang. Kesucian yang ia pertahankan selama ini, kini telah direnggut paksa oleh seorang lelaki yang tidak pernah ia kenali sama sekali. Gadis itu tidak dapat membayangkan jika sang kekasih hati nanti tahu akan perbuatannya. Reina menangis sejadi-jadinya meski semua itu hanya akan berakhir sia-sia. Dan bersamaan dengan itu, ponselnya berdering berkali-kali. Ia tahu betul siapa yang menghubunginya pagi-pagi seperti ini. Pasti ibu tirinya yang berusaha menelepon dan meminta uang untuk biaya pengobatan sang ayah. Gadis itu teringat akan sebuah cek yang diberikan oleh lelaki tadi. Terpaksa Reina harus menerimanya. Tetapi ia berjanji di dalam hati akan mencari lelaki itu dan mengembalikan uang tersebut apapun caranya. Reina segera menghapus air matanya. Gadis itu tertatih-tatih mengambil pakaiannya yang berserakan di mana-mana. Ada bagian tertentu yang robek parah. Beruntung di sana juga ada jaket jeans milik Reina. Ia pun segera memakainya. Reina meninggalkan hotel itu dengan tergesa-gesa. Tidak peduli jika bagian inti tubuhnya masih terasa sakit. Ia harus menukarkan cek itu dan pulang ke rumah dengan membawa uang tunai untuk ibu tirinya. “Ke mana saja semalam? Mana uangnya, sudah dapat belum?” tanya sang ibu tiri dengan suara lantang. Baru saja tiba di depan pintu rumah, gadis itu langsung mendapat tatapan penuh amarah dari Linda—ibu tirinya. Bahkan wanita paruh baya itu berani menceramahinya. Tak ingin berdebat, Reina kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Lalu ia berikan kepada ibu tirinya tersebut. “Jangan lupa untuk biaya sekolah adik juga. Jangan sampai dia putus sekolah,” ungkap Reina penuh ketegasan. Wanita paruh baya itu menatap tak suka kepada anak tirinya. “Banyak sekali uangnya. Dapat dari mana?” sentak sang ibu tiri sambil mengibaskan uang itu di depan wajahnya. “Jangan-jangan kamu jual diri, ya?” bisiknya kemudian. “Itu bukan urusan Ibu.” Reina segera masuk ke dalam kamarnya. Tidak mempedulikan sang ibu tiri yang masih menunggu penjelasan darinya. Gadis itu segera membersihkan diri di dalam kamar mandi. Ia membasuh tubuhnya berkali-kali. Reina berusaha meninggalkan jejak laknat dari lelaki yang telah merenggut kesuciannya. Baru keluar dari kamar mandi, Reina mendengar ponselnya berdering berkali-kali. Dengan malas gadis itu mengecek ponselnya. Rupanya beberapa panggilan tak terjawab dan sebuah pesan dari manajer di kantor. [Kamu di mana Reina? Kenapa meja kerjamu kosong, hem? Saya tunggu kedatanganmu secepatnya. Jangan sampai kamu kehilangan pekerjaan selamanya.] Reina menghembuskan nafasnya dengan kasar. “Jangan sampai aku dipecat. Tak biasanya Pak Burhan sampai marah seperti ini.” Beberapa menit telah berlalu. Reina sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Cepat-cepat gadis itu memesan ojek online. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat saat memasuki area kantor. Reina langsung masuk ke dalam lift menuju lantai 17 di mana terdapat ruangan tempatnya bekerja. Gadis itu terburu-buru keluar dari pintu lift. Reina tak sadar jika di sisi sebelah kiri tak jauh dari tempatnya ada sang CEO tampan bernama Regan Aditya Admaja tengah berunding dengan manajer perusahaan. Regan tak sengaja menangkap sosok Reina yang berjalan tergesa-gesa. “Tunggu, dia siapa? Dia bekerja di sini?” tanya Regan dengan kedua alis yang tertaut tanda ia merasa heran. “Namanya Reina, Pak. Dia karyawan baru di perusahaan ini. Tetapi kemampuannya di atas rata-rata dan selalu bisa diandalkan. Saya tidak tahu mengapa dia bisa datang terlambat hari ini. Biarkan saya memarahinya Pak,” ungkap sang manajer sambil menunduk takut. “Tidak perlu.” Regan mengangkat satu tangannya ke udara. Ia menghadang sang manajer yang hendak mengejar kepergian Reina. “Aku ada tugas baru untukmu,” ucapnya kemudian sambil tersenyum smirk menatap pintu ruang kerja Reina.It's beautiful. It is a flpping huge mansion. Theo squeals in awe, "Look at it mommy! It;s so big! Even bigger than our house!" I smile at how cute he is. I park in the drive. I unbuckle him ffrom his car seat and grap his bags. I take his hand and lead him to the front door. "Is this Mr. Boss man's house?" He asks. "No. This is his mommy and daddy's house. We are coming to visit them and Mr. Boss Man." I smile silly to myself as I think about his innocent made uo nickname. The doorb opens to reveal a causally dressed Aidan. I realise now that I forgot to change. The hassle of having a child. I have a grey beanie on, a pink sweater, and on top of that, a black jacket, and finally blue jeans, whick are paired with some high heeled boots. Aidan has cancelled the dress thing because as it gets colder, the more impossible it becomes to keep waem in a dress. Nevertheless, the whole high heel thing became worse. He is now forcing me to wear six inches, He pulls me in for a hug. "H
Christmas seems to be approaching very quickly. I bought Theo a moving train set, which we will place around his room because he absolutely adores them. i also bought him a little bicycle, which doesnt have any pedals on it, but heh as to make it move nu pushing his lgegs on the floor. i ahv already wrapped up all his presents because his little prying eyes seems to discover things they shouldnt. he likes opening cupboards. I have ha to child- proof the entire hourse, and yet his little fingers still seeem to get into things. He loves climbing as well. I ahave found him on the kitchen countertops, where he balled his eyes out becauese he got stuck.I grab my bag, throw on a beanie, and find Theo. "let's go. I need to get one last present for my boss. Do you want to come?" I smile. He nods eagerly. "Alright. Let's go then." I smile. "What are we going to buy, Mom?" He asks. "I'm thinking about a new watch. he loves them." I explain. Theo nods eagerly in the back seat. "Just like he
As I walk into the office, and I finally manage not to stumble. I have almost mastered the art of working in heels. It's learnt skill. Today, Aidan made me wear high heeled boots, and a turtle neck dress which is actually really pretty. It's navy blue, and the ankle boots match perfectly. They are actually really pretty. It's flippon cold outside though, so I have a coat on, along with a scarf. i sit down and busy myself with my work. i was just about to call back another company who had asked for an appointment, when I am interrupted. "You must ne Gale." A voicded says and my head snaps upwards. It's Airah Fosters. Aidan's sister. i smile. "The one and only!" I grin. "You must be Airah. Congratulations on your wedding!" I smile and stand up to work over to her. The resemblance between the Johnsons siblings is undeniable. Airah is a female version of Aidan. She is shorter though, and more petite, while Aidan is more well built and towers over me. Her blue eye
"Hello Sleepy head. I've gone out with Airah for lunch. If you need me, you know what to do - G" I write, and draw a smiley face, and out it on his laptop. I grab my bag. put my beanie on my head and head out. It's starting to snow outside. Airah smiles and leads me to her car. It's a gorgeous red Mclaren. I hop into the front passenger's seat. "What about David?" I ask. "He's got his own car." She smiles and we drive off. I don't think that it is such a good idea to drive with her in the car, because she's technically a racing driver. Which might not be such a bad thing. If she is a racing driver, that mean he reaction time must be insane. However, she drives extremely fast as she speeds through the traffic, but, she seems to be a really good driver so I don't say anything. She bursts out laughing. "What?" I ask. Airah just laughs harder, and looks in her review mirror. "You should see your face! You are nervous aren't you? Especially since I
"The thought of settling down scares me." He pauses, "I guess doing, Er... what I do, it just makes me feel that I won't ever have to settle down. I still have a chance to live out my life and not have to be tied down by someone. Doing this, it makes sure that i don't meet her, that it won't ever
“The Tuba.” He answers.“Seriously? If you could play any instrument you would play the tuba?” I burst out laughing. Aidan joins me and nods.“This lasagna is seriously fantastic. I can’t remember the last time I have had home cooked lasagna.”
“Gale Armstrong has completed her degree in Medicine with a diploma. Congratulations on this great achievement and all your hard work! We will see you at the graduation ceremony on Wednesday Morning.” He reads. I squeal. I did it! I had done it! I had passed my degree! Aidan looks at
“Hey! Just what do you think you are doing? Driving my car?” I ask as I get into the passenger’s seat. “Where is your car?”

![His Suffered Wife [ENGLISH]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)










Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore