Bitter Love

Bitter Love

last updateÚltima atualização : 2023-07-17
Por:  ArtemisiaCompleto
Idioma: English
goodnovel18goodnovel
9.5
12 classificações. 12 avaliações
107Capítulos
22.6Kvisualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

" I have signed the divorce papers. Take this money and get lost from here. Never show me your slutty face again," He said rudely throwing some money on my face. His every word pierced through my heart like arrows. I looked at the notes which were scattered on the floor. Tears formed in my eyes but I controlled them. A painful chuckle left my mouth. " So, it's your final decision?" I again asked controlling my tears. A little hope was still inside me that he will believe me. He replied making a disgusted face," Yes. It's my final decision. I was a fool to love a character less woman like you. I have freed you. Now, you can whore around without any interruption." ********* He was right in his place and she was also right in her place. Then, who was at fault? Join Shivansh and Niyati's journey to know how a sweet love story turned into a bitter love story. Will these two broken hearts heal ever or destiny has something else planned for them. . . . I am not a native English speaker. Please pardon my mistakes. If you believe in redemption and second chance then this book won't disappoint you.

Ver mais

Capítulo 1

Prologue & Characters

Aroma biji kopi yang baru digiling menyeruak lembut di udara, memenuhi setiap sudut ruangan kedai "Kopi Kata". Sore itu, cahaya matahari yang miring membiaskan warna keemasan melalui jendela kaca besar, menciptakan suasana yang hangat dan tenang. Namun, bagi Rian, tempat ini bukan sekadar tempat minum kopi biasa. Tempat ini adalah medan tempur tempat harga dirinya dipertaruhkan demi memenangkan hati seorang barista.

Rian merapikan kerah kemeja flanelnya yang agak kebesaran, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya yang agak tidak beraturan. Di balik meja kasir kayu jati yang mengilap, berdiri Maya. Gadis itu tampil santai dengan rambut dikuncir kuda dan celemek denim bertuliskan logo kedai. Jemarinya dengan lincah menyeka bagian atas mesin espresso stainless steel.

Dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar terlihat tenang dan tidak terburu-buru, Rian mendekati meja kasir. Rian memasang wajah sok cool terbaiknya, memiringkan senyum sedikit seperti aktor film aksi.

"Mbak Maya," panggil Rian dengan suara pelan yang sengaja diatur agar terdengar hangat dan tulus.

Maya tidak langsung mendongak. Tangannya masih sibuk mengelap sisa uap susu di steamer wand. "Mau pesan apa, Mas? Kopi item kita hari ini pakai biji gayo, lagi enak-enaknya."

Rian tersenyum tipis. Ia menopang satu tangannya di atas meja, menatap wajah Maya yang fokus. "Pesanannya bisa disimpan sebentar. Saya cuma mau tanya sesuatu yang nggak ada di menu papan tulis itu."

Maya akhirnya menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan kain lapnya, lalu mendongak dan menatap Rian tepat di mata. Satu alisnya terangkat. "Nggak ada di menu? Kita nggak jual makanan berat di sini, Mas Rian."

"Bukan makanan," Rian menggeleng pelan, memasang raut muka serius dengan tatapan mata yang dibuat sedalam mungkin. "Saya cuma mau tanya... Mbak Maya simpan peta, nggak?"

Maya tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan Rian dari atas ke bawah, seolah-olah sedang mengukur maksud dari pertanyaan ajaib itu. "Peta? Mas Rian mau pergi ke mana memangnya? Nyari alamat jalan mana?"

Rian tersenyum lebar. Dalam hatinya, ia merasa umpan yang ia lempar sudah berhasil dimakan bulat-bulat. Ini adalah momen yang paling pas untuk meluncurkan kalimat pamungkasnya.

"Bukan nyari alamat jalan," ujar Rian pelan, suaranya terdengar makin puitis. "Soalnya saya rasanya baru aja tersesat... tersesat di dalam indahnya mata Mbak Maya, dan saya bingung gimana cara jalan pulangnya."

Di pojokan kedai, Ahenk—sahabat Rian yang berpura-pura membaca buku—hampir saja menyemburkan es teh manis dari mulutnya. Ahenk menepuk dadanya sendiri, menahan tawa membayangkan betapa percaya dirinya sahabatnya itu.

Namun, ekspresi Maya di balik kasir sama sekali tidak berubah. Tidak ada rona merah di pipinya, tidak ada pula senyuman malu-malu. Gadis itu hanya terdiam selama tiga detik, lalu secara mengejutkan mengangkat kedua tangannya ke depan mata, membentuk lingkaran menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya seperti sepasang kacamata mainan.

"Mas Rian," panggil Maya dengan nada suara datar tanpa beban.

"Ya, Maya?" Rian menaikkan alisnya, heran dengan gestur tersebut.

"Mata saya ini minus tiga koma lima dan ada silindrisnya sedikit," kata Maya tenang sambil tetap mempertahankan kacamata jarinya. "Jadi kalau Mas Rian merasa tersesat di dalam mata saya, itu bukan karena indah, tapi karena penglihatan Mas yang blur. Makanya, jangan lupa pakai kacamata biar nggak terus-terusan tersesat... apalagi kalau nanti salah masuk ke WC cafe."

Senyum percaya diri di wajah Rian mendadak membeku secara instan.

"Hah? WC cafe?" gagap Rian, kata-katanya mendadak tertahan di tenggorokan.

Maya melepas lingkaran jarinya lalu tertawa kecil, sebuah tawa manis yang justru terasa mematikan bagi Rian. "Iya! Lagian kalau tersesat di mata orang itu repot. Mending pakai GPS navigasi, atau minimal bawa kompas. Mau saya panggilkan sekuriti buat bantu navigasi jalan keluar dari kedai?"

Dari balik meja pojok, Ahenk sudah tidak sanggup menahan diri lagi. Pundaknya berguncang hebat, menutupi mukanya dengan buku agar suara tawa gelaknya tidak pecah di dalam ruangan yang lumayan sepi itu.

Rian berdehem keras, mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang baru saja jatuh bertumpahan di atas lantai kasir. "Ehm... nggak usah dipanggilkan sekuriti. Saya cuma... mau pesan kopi."

"Nah, gitu dong dari tadi," sahut Maya riang sambil mengetik sesuatu di layar sentuh kasirnya. "Mau Americano atau mau es kopi susu?"

"Americano aja... dingin, esnya dibanyakin," gumam Rian pasrah.

"Siap. Americano dingin satu, esnya dibanyakin buat mendinginkan kepala dan navigasi hati yang baru aja tersesat," pukas Maya sambil tersenyum manis meledek. "Totalnya dua puluh lima ribu. Bayar pakai QRIS atau tunai, Mas Rian yang puitis?"

Rian cuma bisa menghela napas panjang, merogoh ponsel di sakunya, dan menempelkan layar ke mesin pembayaran tanpa sanggup menatap mata Maya lagi. Hari pertama perburuan cintanya resmi berakhir dengan kekalahan telak.

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

avaliaçõesMais

iambest
iambest
It's indeed a bitter love. Lots of emotions and scenes that really captured my heart. It feels so real. I love this story so much. Good job author!
2025-08-03 23:31:59
1
0
Anna
Anna
Good story, recommended
2024-03-26 18:41:27
2
0
Namshan
Namshan
I loved all ur books .. everything i read ur books ,I feel its one of the best .. this book was too good
2024-02-19 08:11:48
1
0
Teneisha Frazier
Teneisha Frazier
I truly loved how this story went and turned out. I am truly a fan of your work. I have read all 7 of your books. I can't wait until you have more. I will be patiently waiting. keep up the amazing work.
2023-08-17 13:31:41
0
0
uzmasayeed43
uzmasayeed43
beautiful ending ...
2023-07-18 04:27:06
1
0
107 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status