MasukJohn Garnett's secretary fed me to the dogs on my own birthday. I called his number endlessly to call for help, only for him to block my number immediately, as he fooled around with his secretary at the presidential suite in broad daylight. All I felt was agony as I was ripped into countless little pieces, still holding on to the black rose seeds he had given me when we were younger. That was not thrilling enough for the secretary, however, she buried me in the backyard of John' villa, intent on making my perished soul watch their bedroom activities. It was not until rain poured a month later, and a cluster of black roses suddenly grew in the backyard. "Where's Claire? I was just scaring her with the dogs—did she run away just to spite me?"
Lihat lebih banyakBrug...! Eldrian menutup wajahnya dengan bantal.
Pagi yang cukup cerah setelah melalui malam yang cukup menyebalkan bagi Eldrian. Seperti biasa dia harus putus dengan wanita yang dia kencani karena tau kalau si Venya mantannya hanya suka pada hartanya saja. Menjadi CEO sebuah perusahaan teknologi bukan hal sulit untuk memilih wanita yang disukai tapi sangat sulit untuk mencari wanita BAIK yang memang mencintai dirinya dibandingkan embel-embel harta dan posisinya.
“Ini kopinya Pak,” kata Supri asisten rumah tangga yang melayani Eldrian di rumah.
“Iya Mas, terima kasih, taruh di situ saja!” jawabnya.
“Mau baca koran Pak?” tanya Supri lagi.
“Ah, iya taruh situ saja Mas! Terima kasih,” jawabnya lagi.
Supri diam dan permisi keluar kamar, dia tau sepertinya ada yang menggangu pikiran bosnya pagi ini. Belum sempat Supri keluar Eldrian memanggilnya.
“Mas Supri!” Eldrian memanggil
“Eh iya Pak?” Supri kaget.
“Tolong bilang mas Tony ya, besok saya ke kantor ga usah diantar mobil, dan tolong minta siapkan motor matic satu ya. Kalau ga ada tolong belikan yang second aja di mana gitu terserah yang jelek aja asal masih bisa di starter otomatis!" pinta Eldrian.
Si Supri mulai bingung “Buat siapa Pak motornya?” tanyanya.
“Ya buat saya lah, mulai besok saya mau ngantor pakai motor aja,” jawab Eldrian.
“Loh, kenapa kok gitu Pak?” tanya Supri makin bingung.
“Ga papa Mas, biar ga macet aja,” jawab bosnya itu.
“Lah, terus kenapa cari yang second Pak?” tanya Supri penasaran.
“Udah, kamu jangan kepo, pokoknya saya minta tolong kamu bilang gitu ke Mas Tony ya, udah gitu aja jangan banyak tanya, Terima kasih,” jawab Eldrian.
Supri pergi sambil tetap penasaran. Sampai di parkiran Supri menyampaikan pesan Eldrian ke Tony supir pribadinya.
“Loh, buat apa beli motor? Second pula?” tanya Tony tak kalah penasaran.
“Ya ga tau mas, ini si Bos aneh dari pagi, kopi ga diminum, koran ga dibaca,eh malah minta beli motor second, katanya sih mau kerja pakai motor mulai besok,” jawab si Supri .
“Loh, terus aku sopir pribadinya buat apa? Ini mobil banyak ga dipakai?” si Tony mulai was-was.
“Ah, ya sudahlah saya cari motor second dulu lah,” pamit Tony pada Supri dan mulai mencari pesanan bosnya yang cukup aneh menurut mereka.
Eldrian lahir dari keluarga yang cukup terpandang, kuliah di Harvard dan mengembangkan usaha keluarga sebagai CEO di usia yang cukup muda yaitu 28 tahun. Semua bisa dia lakukan. Pria ini bukan karakter anak orang kaya manja. Biasa hidup sendiri di luar negeri membuatnya sangat terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Dia sangat ramah dan bahkan selalu berkata sopan kepada semua pegawai dirumahnya.
Dia juga cukup tampan, termasuk tipe ideal pemikat wanita. Hanya saja Eldrian termasuk punya hati yang sulit ditakhlukkan. Dia tidak suka wanita berpakaian minim, dia tidak suka wanita cantik yang bodoh, dia tidak suka wanita cerewet, dia tidak suka wanita yang suka pamer harta, tidak suka wanita yang begini, begitu, begino,,bla,,bla,,bla,, panjang lah kriteria wanita idealnya. Oleh karena itu orang tua Eldrian, Bapak dan Ibu Dewanga cukup lelah menjodohkannya dikarenakan kebanyakan putri orang kaya punya sifat yang dibenci olehnya.
“Tok...Tok...Tok,” Tony mengetuk pintu kamar.
“Ya, silahkan masuk!” Eldrian menyahut.
“Pak, ini saya Tony, ini kunci motor yang Bapak pesan ya,” Tony masuk dan memberikan kunci motor matic second pesanannya.
“Besok saya kerjanya apa Pak?” tanya Tony khawatir.
“Katanya Pak Eldrian mau naik motor saja?” tanya Tony lagi.
“Oh iya, kamu santai dulu aja lah di rumah!” jawab bosnya.
“Maksud Bapak saya dipecat Pak?” Tony makin was-was.
“Ya ga lah Mas, ga usah mikir yang aneh-aneh, saya cuma mau naik motor aja,” jawab Eldrian tersenyum. “Besok lusa Mas Tony masuk lagi saja bantu-bantu Bi Sarni sama Mas Supri urus rumah ya!”.
“Oh begitu ya Pak, iya Pak terima kasih, lalu mobil yang di parkiran gimana Pak?” tanya Tony lagi.
“Oh iya, dipanasin aja tiap pagi pakai aja jalan ke pasar atau ke supermarket kalau Bi Sarni sama Mas Supri mau belanja kalian bertiga aja biar sekalian refreshing!” jelas Eldrian.
“Woh, yang bener Pak? Waduh seneng banget ini,” wajah sumringah di wajah Tony.
“Hihihi, ya udah santai aja, pokoknya saya minta tolong mobil saya dirawat, biar kalau saya butuh sewaktu-waktu udah ready ya!” jelas bosnya itu.
“Oh iya, SIAP PAK !” Tony semangat. “Saya permisi dulu ya Pak,” pamit Tony. Eldrian menggangguk dan Tony pun keluar dari kamar.
Bos muda itu membuka lemari bajunya, sambil memilih beberapa baju dia menelepon Pak Hadi kepala HRD .
“Tut....tut....tut....!” suara panggilan di Handphone.
“Halo, Ya Pak Eldrian, dengan saya Hadi HRD ada yang bisa dibantu Pak?” jawab stafnya.
“Begini Pak, tolong diatur ya mulai besok saya mau posisi Office Boy untuk saya ya Pak!” pinta Eldrian.
“Gimana Pak? OB Pak? Buat siapa Pak?" Pak Hadi seperti salah dengar.
“Untuk saya Pak Hadi, saya mau jadi Office Boy di kantor,” jawab bosnya itu santai.
“Kenapa begitu Pak?” tanya Pak Hadi bingung.
“Saya ingin pantau kinerja staf saya Pak. Jika saya masuk sebagai OB saya bisa tau mereka lebih jelas. Mana yang kerjanya bagus, mana yang santai-santaian, mana yang makan gaji buta,” jelas Eldrian.
“Oh begitu ya Pak, baik Pak saya siapkan, ini kebetulan ada posisi di bagian pemasaran kantor cabang,” jawab Pak Hadi.
“Okay!” Eldrian setuju.
“Tapi Pak, kalau OB kerjanya berat lo Pak, ga mau ganti posisi saja Pak? Mungkin staf admin atau staf marketingnya saja Pak?” Pak Hadi menawarkan.
“OB aja Pak, saya lama ga olah raga Pak pengen sibuk-sibuk sedikit,” jawab bosnya itu kalem.
“Oh begitu ya Pak, tapi ini dirahasiakan ya Pak?” Pak Hadi serba salah.
“Iya Pak, saya mau sedikit bermain di kantor. Begitu ya Pak tolong diatur! Tolong dirahasiakan dan tolong nama saya, semua identitas saya diganti!” pinta Eldrian lagi.
“Baik Pak,” jawab Pak Hadi agak pasrah.
Senin pagi, Eldrian keluar dari rumah dengan motor matic second putih dan helm standart hadiah gratisan dealer motor. Semua asisten di rumahnya heran, sebenarnya apa yang bosnya itu pikirkan. Eldrian memakai baju kaos sederhana, celana jeans sederhana, jaket sederhana dan tas ransel yang juga sederhana. Jauh dari brand mahal kesukaannya.
“Bos kita kenapa ya Ton?” celetuk Supri ke Tony.
“Mungkin lagi bosen Pri, bosen jadi orang kaya, mungkin bos mau ngerasain jadi orang biasa kaya kita-kita gini,” jawab Tony.
“Tapi tujuannya itu loh Ton? Apa? Kenapa coba kok susah-susah naik motor?” si Supri kepo.
“Ya itu Pri, tidak boleh banyak tanya katanya,” jawab Tony.
“Hemmmm....” si Tony dan Supri menghela nafas bersamaan.
Perusahaan R22 Tech kantor cabang 1
Eldrian datang menemui Pak Hadi dan langsung diberikan kartu karyawan baru dengan nama Ziyan Priambada.
“Wow, nama baru saya bagus juga Pak,” katanya sembari tersenyum.
“Ah..Bapak bisa saja,” Pak Hadi menjawab dengan wajah pucat.
“Pak Eldrian, ini serius Bapak mau jadi OB? Saya masih bisa ubah lo Pak, OB berat lo Pak,” saran Pak Hadi.
“Iya Pak, tidak masalah, OB juga profesi yang baik, sudah tidak usah sungkan. Silahkan Bapak kerja saja! Biar saya mulai kerja disini juga,” tutur Eldrian sambil tersenyum dan berlalu.
Pak Hadi mengernyitkan alis dan menatap bosnya itu dengan was-was, dia khawatir kalau kelakuan bos mudanya itu kedepan bisa dijadikan masalah oleh Bapak dan Ibu dewangga, tentu saja itu akan membuat dia berpotensi untuk disalahkan sebagai kepala HRD.
Ziyan (nama samaran Eldrian) mengetuk pintu dan mulai masuk ke kantor barunya.
“Selamat pagi! Perkenalkan saya Ziyan, saya OB baru di sini mohon kerjasamanya,” sapa Ziyan memberi salam orang se kantor. Beberapa pasang mata menatap aneh pria itu, sebagian ada yang tersenyum, ada yang melihatnya, ada juga yang bahkan hampir tidak peduli dan terus sibuk bekerja.
“Puk...!” ada seseorang yang menepuk pundaknya.
“Halo Ziyan, salam kenal, selamat bekerja ya, Semangat !” wanita itu tersenyum dengan sangat ramah, wajahnya cantik dengan rambut panjang diikat sedikit dan tergerai dengan rapi.
“Oh iya Bu, dengan ibu siapa kalau boleh tau?” Ziyan mencoba ramah.
Wanita itu tersenyum “Panggil saya Ilona, saya pasti banyak butuh bantuan Mas Ziyan nantinya, minta tolong ya jangan kaget dengan kerja saya, di sini sibuk banget soalnya,” jawab Ilona dengan ramah sambil berlalu menuju arah pintu keluar.
“Mas Ziyan ya? Bisa tolong saya?” seorang staf kantor mulai mengajak Ziyan bekerja. “Masnya bisa fotokopi ga? Tolong dong ini dikopikan semua ya!” sembari menyodorkan setumpuk dokumen.
Ziyan menerimanya dan segera lah dia menuju mesin foto kopi.
“Bisa kan? Saya tunjukkan satu kali, selanjutnya tolong dilanjutkan ya Mas!” staf itu mengajarkan.
Ziyan mengangguk, foto kopi adalah tugas pertama Ziyan dan berlanjut dengan banyak tugas lainnya di hari itu.
"Mas, tolong angkatkan barang ini ke lantai dua!” pinta Ani.
“Mas, tolong hubungi Pak Johan untuk minta nota retur barang di lantai 4 ya Mas!” pinta si Amar.
“Mas Ziyan, saya ngantuk banget nih, di kantin ada kopi Americano Latte tolong belikan satu ya, sama roti bludernya juga ya! Gulanya dikit aja ya!, terima kasih Mas,” pinta si Iqbal.
“Mas bisa minta tolong angkat produk ke lantai 3 Mas?” Bu Riska minta tolong.
Hampir tanpa jeda dan kesempatan bernafas, ternyata kantor yang dimasuki Ziyan cukup sibuk. Masuk jam istirahat kantor, Ziyan duduk minum teh sambil meregangkan kakinya yang mulai pegal. Dia duduk di belakang tembok yang terhalang almari dokumen sehingga tidak terlihat oleh staf lainnya.
“Fuhhh.... bisa santai juga akhirnya, ternyata padat juga kerjaan staf di sini,” Ziyan bergumam sambil nyengir.
“Kayanya aku salah devisi, hubungi Pak Hadi saja lah, minta pindah ke devisi lain,” batin Ziyan.
Belum sempat ziyan mengirim pesan terdengar suara staf menyebut namanya.
“Siapa tadi namanya? Ziyan ya? OB baru yang tadi itu loh?” seseorang membicarakannya.
“Iya Ziyan, kenapa?” sahut seseorang.
“Cakep juga ya, sayang OB kalau staf udah kupacarin hihihi,” jawab suara itu.
“Ya elah, dasar lu matre, emang kalau OB kenapa?” sahut temannya.
“Ya ogah lah, bisa-bisa nanti aku yang biayai kebutuhan hidupnya, mau kencan aku yang bayar, ih males banget!” ujar suara itu mengejek.
Tanpa terdengar oleh staf yang sedang bergosip Ziyan pergi ke arah kantin, perutnya mulai lapar dan sepertinya dia tidak suka dengan perbincangan wanita tadi. Ya memang benar Ziyan alias Eldrian paling benci dengan tipe wanita materialistis, oleh karena itu dia memilih pergi menghindar. Pria itu duduk dibangku kantin dan makan mie ayam pesanannya. Dia memakan mie perlahan sambil menghela nafas, entah apa yang dia pikirkan. Seorang tuan muda CEO perusahaan yang punya segalanya itu sedang MURUNG.
Lara wailed, "Please, I'm begging you! I'll do anything—just don't set the dogs on me! I'm begging you…"I closed my eyes and sighed—that was exactly how I had begged before I died.I called John's number almost fifty times, only to have my number blocked.It was only after my windpipe was chewed through and all my fingers bitten off that I passed out from the agony, and no longer felt anything anymore.Nonetheless, it was an eye for an eye now, as Lara experienced my despair and helplessness.-Meanwhile, John was searching for the wilting black roses.He had always been a clean freak, but he dug his long fingers into the soft soil, getting it in between his fingernails.The rain was flowing down his cheeks, also drenching his locks and leaving them sticking over his brow."Claire—you held on to the seeds even as you died. Were you trying to tell me something? That it hurts so much, and you want me to save you soon?"That was when he abruptly pulled a rotting stem still hel
John turned towards Alfie. "Right… that threatening text message. Have you found out who's the registered owner?"Alfie scowled. "Yes, and it's registered to… Lara's cousin."John's face contorted viciously as soon as Alfie finished, and he wheeled on Lara, his eyes ablaze with frightening flames of wrath, "You're still lying to me?! What did you do to Claire?! Be honest, or I will make you wish you were dead!"Perhaps stricken by great terror, Lara flinched, before laughing eerily on top of her lungs. "Yes, I killed her—I fed her to the dogs! What, does that break your heart?""You're crazy!" John shrieked, the veins behind his hand bulging. "What did she do?! Why did you do that to her?!""Why, you ask? You, of all people, ask me why?" Lara's voice cracked with tears even as she pointed at John and snapped. "Did you forget what you said? You loved me most, didn't you? And wished Claire Smith was dead?!""You were the one who said she's a dog—that you won't feel guilt even if
On the other hand, John's knuckles clenched after he read the last line.He shut the book, lowering his gaze as he murmured, "Happiness? How am I going to be happy without you, Claire?" Just as he finished, movement could be heard from the basement.John's tender gaze turned sharp as he strode down to the basement.The cramped room below was surrounded by cold concrete walls, and there were no windows—only a single dim light bulb overhead was the source of light. Lara was inside, hugging her knees as she hid in a corner, trembling while she pleaded in her raspy voice, "John! Please let me go… I didn't do anything!"You saw Ms. Smith's text—she's alive and well!"How could you bear to hurt me? If I knew you were just treating me like a fling, I would have just taken Ms. Smith insults in stride without holding a grudge!"I smirked in amusement—her acting was impeccable, even now.She had laughed so hard she was in tears when she saw the pieces left of me, even intentionally bu
Alfie cried, "That's impossible, Mr. Garnett! I-I'd never dare to do something like that!""You're all rotten!" John bellowed coldly nonetheless. "Lara just told me Claire sent a threatening text to her! She has to be alive! No, wait—bring her here, right now!"In just ten minutes, Lara arrived in a hurry, her heels clicking in her wait."John, what are you—are you crazy?!"However, even before she could stop to ask, John seized her viciously by the throat.Even so, John's fingers clenched as he stared daggers at her. "Tell me. What the hell is going on? Claire just texted you, didn't she? Then why is forensics telling me those bones are hers?!"Lara flushed rapidly as she gasped for breath, fear showing in her eyes. "John! I didn't… I really didn't do anything! She's your childhood friend—I'd never dare! Why can't you believe me?""So you're just lying, huh?" John growled through his teeth nonetheless. "You're hoping so much that she'll die, so that you can replace her… don't y












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan