INICIAR SESIÓNFara berada di ruang intensive hampir dua jam lamanya. Pintu besar berwarna putih itu tertutup rapat tanpa celah sedikit pun, meninggalkan rasa cemas yang terus menggerogoti dada setiap orang yang menunggu di luar. Lorong rumah sakit malam itu terasa begitu dingin, Sean duduk di kursi besi dengan kedua siku bertumpu di lutut, wajahnya tertunduk dalam. Jemarinya saling menggenggam begitu kuat sampai urat di tangannya terlihat menonjol. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu tampak benar-benar kehilangan kendali. Di sekelilingnya, keluarga besar Narendra juga menunggu dengan perasaan gundah. Mama Renata terus melafalkan doa di dalam hati sambil sesekali menyeka air mata. Papanya Sean berjalan mondar-mandir tanpa arah. Sella duduk di samping sang kakak, meski dirinya juga panik, gadis itu tetap berusaha terlihat tenang. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar baik-baik saja, terutama Sean. Kepalanya terus memutar kejadian beberapa menit lalu, baya
Deburan ombak Nusa Penida perlahan menjauh, menyisakan memori manis yang sempat mereka ukir di pulau karang tersebut. Namun, perjalanan harus terus berlanjut, Sean membawa Fara kembali ke villa mereka di Bali. Agenda hari itu cukup padat namun santai, mengemas pakaian dan membereskan seluruh barang bawaan sebelum penerbangan kembali ke Jakarta. Di dalam kamar villa yang sejuk, Sean membuka beberapa kantong belanjaan besar. Beberapa hari lalu, ia sengaja meluangkan waktu untuk membelikan Fara belasan potong baju hamil berbahan katun tipis yang longgar dan nyaman. Ia tahu betul cuaca Jakarta sedang terik-teriknya, dan ia tidak ingin istrinya merasa gerah atau tidak nyaman dengan perut yang kian membuncit. "Mas, ini banyak banget bajunya. Kamu beli seolah-olah aku mau melahirkan besok," goda Fara, tersenyum kecil sambil melipat satu per satu terusan katun berwarna pastel itu. Sean terkekeh, mengecup dahi Fara sekilas sebelum merebut pakaian dari tangan istrinya. "Sudah, kamu duduk
Langit pagi di hari terakhir liburan mereka di Bali tampak lebih biru dari biasanya. Angin laut yang berembus pelan seolah ikut menenangkan suasana hati siapa saja yang memandangnya. Namun, berbeda dengan keindahan yang tampak tenang itu, suasana di sekitar villa tempat Sean Narendra menginap justru sibuk sejak subuh. Hari ini, Sean sudah memiliki satu rencana khusus. Rencana yang bahkan sudah ia siapkan diam-diam sejak dua hari lalu. Pria itu ingin mengajak istrinya, Fara, mengunjungi salah satu pantai tercantik di pulau kecil dekat Bali. Tempat yang sejak lama diimpikan Fara setelah melihat foto-fotonya di media sosial. Nusa Kelingking, Sebuah surga kecil di Pulau Nusa Penida. Dan Sean akan memastikan hari itu menjadi sangat spesial bagi istrinya, karena dulu Sean sering kali mendengar wanitanya menggumamkan pulau itu saat mereka masih terjerat kontrak. “Mas… serius kita ke sana?” tanya Fara dengan mata berbinar ketika Sean membantunya masuk ke dalam mobil menuju pelabuhan priva
Matahari bahkan belum benar-benar terbit tinggi ketika suara ribut sudah memenuhi rumah megah keluarga kecil Sean Narendra. Sejak pagi, suasana di lantai dua kediaman mereka sudah seperti medan perang kecil. “Mas Sean! Ini koper siapa yang masih kosong?” suara Fara terdengar dari walk in closet mereka. Sean yang baru saja masuk ke kamar dengan segelas jus alpukat di tangan hanya menaikkan sebelah alis. “Koper kita.” Fara menatap suaminya seolah mendengar sesuatu yang sangat mustahil. “Kita berangkat BabyMoon seminggu ke Bali, Mas. Seminggu! Aku lagi hamil, bajuku harus banyak. Obat-obatan, skincare, sandal, baju santai, baju tidur—” “Sudah ada di Bali.” jawab Sean dengan normalnya seperti tidak ada kebingungan sedikitpun di kepalanya. Fara mengerjapkan mata. “Maksudnya?” Sean berjalan santau, meletakkan jus di meja lalu berdiri di belakang istrinya yang tengah mengacak lemari. Kedua tangannya melingkar lembut di pinggang sang istri. “Maksudnya, beli saja di Bali.” jawab Sean,
Keduanya sekarang tengah mandi bersama di dalam kamar mandi yang luas, Air hangat yang mengguyur tubuh perlahan melunturkan sisa ketegangan yang sempat menyelimuti mereka sejak perdebatan sore tadi. Sean dengan telaten mengeringkan rambut Fara menggunakan handuk lembut setelah mereka selesaimembersihkan diri, sebuah gestur manis yang selalu berhasil membuat jantung Fara berdesir, meski rasa bersalah masih sedikit menggelayuti hatinya. "Mas..." panggil Fara lirih, memecah keheningan di antara mereka. Sean menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap sang istri melalui pantulan cermin. "Kenapa, sayang? Ada yang sakit?" tanyanya dengan nada suara yang jauh lebih lembut dari biasanya. Fara menggeleng pelan. "Maaf soal yang tadi. Aku... aku tidak bermaksud tidak sopan dengan memanggil namamu langsung, aku hanya terlalu panik dan emosional." Sean membalikkan tubuh Fara agar menghadapnya sepenuhnya. Ia mengulas senyum tipis, lalu mendaratkan kecupan hangat di kening istrinya. "Sud
Langkah Sean mendadak terhenti. Wajahnya yang tadi penuh kelembutan langsung mengeras, matanya membelalak menatap layar ponselnya. Perubahan ekspresi Sean yang drastis itu tentu saja tidak luput dari perhatian Fara. "Ada apa, Mas? Siapa yang mengirim pesan tadi?" tanya Fara, kecemasan kembali merayap di hatinya. "Bukan siapa-siapa, sayang. Cuma orang kantor masalah proyek," bohong Sean, suaranya sedikit gugup. "Kamu masuk duluan sama Mbak Sinta, ya? Mas mau bicara sebentar sama Ardi di luar." Fara menatap Sean penuh selidik, insting seorang wanita jarang sekali salah. Ia tahu suaminya sedang menyembunyikan sesuatu. Namun, melihat guratan kelelahan di wajah Sean, Fara memilih untuk mengalah. "Ya sudah, Mas jangan lama-lama ya," ujar Fara lemah sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. Begitu pintu rumah tertutup rapat, senyuman di wajah Sean langsung lenyap. Pria itu berbalik dengan langkah lebar dan tergesa menghampiri Ardi yang masih berdiri di dekat mobil. Aura di sekitar Se







