Ranjang Panas Suamiku

Ranjang Panas Suamiku

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-16
Oleh:  D.N.ABaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
5 Peringkat. 5 Ulasan-ulasan
8Bab
18Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

"Kau harus menjadi istriku selama tiga puluh hari." Suara itu terdengar dingin dan tegas. ... Agnira harus menelan pil pahit saat surat cerai yang ia ajukan pada suaminya tertolak begitu saja. Satu klausal tersembunyi yang tidak pernah ia sadari sejak awal menjadi sumber segalanya. Ia dipaksa tinggal lebih lama. Dipaksa berbagi ruang. Dipaksa menghadapi tatapan yang kini terasa berbeda. Yang awalnya penolakan, berubah menjadi ketegangan. Yang awalnya benci, berubah menjadi sesuatu yang lebih panas dari yang seharusnya. Karena semakin mereka mencoba menjaga jarak, semakin jelas satu hal yang tak bisa mereka hindari. Bagaimana jika malam yang seharusnya jadi akhir … justru jadi awal dari segalanya?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 01

"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian," ujar wanita cantik itu dengan sorot mata tenang.

Goresan pisau yang tengah memotong daging perlahan terhenti. Sorot tajam itu sekilas menatap wanita di depannya sebelum meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan.

"Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya baca," ucap pria itu, tenang.

Agnira mengangguk pelan. Ia kembali fokus pada makanannya, enggan memperpanjang percakapan.

Sambara melirik kecil ke arah wanita di depannya. Wanita yang tiga tahun ia nikahi, yang hanya memiliki gelar sebagai istri, tanpa benar-benar menjalankan perannya.

"Kau yakin ingin bercerai?" tanya Sambara hati-hati.

Agnira terdiam sejenak sebelum menjawab. "Yakin. Kita sudah sepakat sebelumnya."

"Kau benar-benar sudah membaca setiap syarat yang saya ajukan?" tanya Sambara lagi.

Agnira semakin diam. Alisnya menukik tajam, pertanyaan itu menimbulkan keraguan tipis yang mengusik. Ia mendongak, menatap pria berwajah tenang di seberangnya.

"Maksudmu apa?" tanya Agnira, memastikan.

"Tidak ada ... Saya selesai." Sambara mendorong pelan piring kotor di depannya. Ia kembali meraih gelas dan meneguk air hingga habis.

Kursi terdorong pelan saat pria itu berdiri. Posturnya tegap, menjulang angkuh di hadapan Agnira.

"Saya pamit dulu."

Agnira tetap diam. Tatapannya mengikuti punggung lebar suaminya yang semakin menjauh. Ucapan Sambara terasa mengganjal di benaknya. Ia yakin tidak melewatkan apa pun saat membaca persyaratan pernikahan dulu.

"Apa yang aku lewatkan?" gumam Agnira lirih.

Hening, tak ada jawaban atas pertanyaan yang dia lontarkan.

"Terserah dia saja. Lebih baik aku juga segera pergi."

Ruang kerja bernuansa hitam itu terasa pekat, dipenuhi tekanan dari sorot tajam di balik meja. Salah satu pengacara duduk dengan wajah tegang, jemarinya saling meremas, sesekali melirik takut pada Sambara.

"Cetak ulang kontraknya. Tambahkan syarat baru, dan kirimkan hari ini." Perintah itu terdengar dingin dan tegas.

"Baik, Bos," jawab anak buah Sambara sambil menunduk hormat. Ia melirik sekilas pada rekannya sebelum keduanya keluar dari ruangan.

Sambara menatap ke luar jendela. Sorot tajam itu perlahan meredup, tergantikan senyum miring di sudut bibirnya. Tatapan Sambara kemudian jatuh pada sebuah foto kecil di sudut meja.

"Kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku, Agnira," desis Sambara pelan. "Saya tidak pernah melepaskan sesuatu yang masih menjadi milikku."

Pandangan itu beralih pada map di atas meja, wajahnya kembali tak menunjukkan minat. "Kita belum selesai, Agnira," lanjutnya lirih. "Dan semuanya bahkan baru saja dimulai."

Agnira menarik napas dalam saat melangkah masuk ke ruang kerja Sambara. Pria itu sudah duduk tenang di balik meja, dengan postur tegap dan wajah rupawan yang entah mengapa selalu mampu mengacaukan fokusnya.

Namun kali ini, ia tidak sendiri. Dua pria lain dengan pakaian formal turut berada di ruangan itu.

"Duduk," perintah Sambara singkat, menunjuk kursi dengan dagunya.

Agnira mengedarkan pandangan. Ruangan ini terasa pengap dengan dominasi warna hitam. Tirai yang tertutup rapat semakin memperkuat kesan misterius yang menekan.

"Saya sudah membaca isi surat cerai yang kamu ajukan," ujar Sambara, memecah kesunyian.

Agnira duduk tegap, menatap lurus ke depan, bersiap mendengar.

"Kau benar-benar tidak menuntut harta gono-gini?" tanya Sambara memastikan.

"Iya. Tidak ada alasan untuk menuntut itu," jawab Agnira tenang.

Ia hanya ingin bebas dari kekangan pria itu. Tidak lebih. Sambara mengangguk pelan. Jemarinya mengusap dagu, lalu melirik ke arah pengacaranya.

"Maaf, Nyonya. Namun, ada satu persyaratan yang mungkin Anda lewatkan," sela sang pengacara sambil mengeluarkan berkas dari tasnya.

Agnira mengernyit. "Syarat apa?"

"Silakan Anda baca kembali."

Dokumen itu didorong ke arahnya. Agnira meraihnya dan mulai membaca dengan teliti.

Awalnya tidak ada yang janggal. Semuanya tampak biasa. Hingga bagian terakhir. Alisnya menukik tajam. Ia mengangkat wajah, menatap Sambara dengan sorot penuh tuntutan. Sementara pria itu tetap tenang, seolah telah menunggu momen ini.

"Kita belum resmi berpisah," ucap Sambara santai. "Karena kau belum menunaikan tugas sebagai seorang istri."

Tatapannya mengunci Agnira, diiringi senyum samar yang sulit diartikan. "Kau harus menjadi istriku yang sesungguhnya selama tiga puluh hari. Setelah itu terpenuhi, maka kita resmi berpisah."

Tangan Agnira terkepal kuat. Amarah yang sejak tadi tertahan kini menggelegak, siap meledak saat syarat itu bukan hanya terucap, tetapi juga tertulis jelas di atas kertas.

“Aku tidak akan melakukannya.” Tolak Agnira, tegas.

“Kalau begitu semua yang kamu miliki … akan menghilang.” Sambara berdiri, mendekat perlahan. “Kau memiliki satu hari untuk memutuskan.”

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

Cynta
Cynta
awalnya terpaksa, lama-lama keterusan deh.. semoga segera jatuh cinta.. penasaran kelanjutannya..
2026-04-17 19:29:22
1
0
OTHOR CENTIL
OTHOR CENTIL
gak punya perasaan, kejam banget sampe pengen cekiiiik dehhh. duhhhh. gak bisa bayangin gimana sakitnya jadi istri
2026-04-17 18:42:21
1
0
Strawberry
Strawberry
laki kok kejam gitu...pingin nyekik
2026-04-17 18:35:55
1
0
QueenShe
QueenShe
Sambara bawaannya bikin panas terus ya. Agnira sampe wow... terusin thor..
2026-04-17 18:33:58
1
0
Renjana Senja
Renjana Senja
biasanya awal-awal itu emang terpaksa. tapi lama-kelamaan juga nyaman. btw, ceritanya bagus, gas update terus Thor.......
2026-04-17 18:30:22
1
0
8 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status