LOGIN"Kau harus menjadi istriku selama tiga puluh hari." Suara itu terdengar dingin dan tegas. ... Agnira harus menelan pil pahit saat surat cerai yang ia ajukan pada suaminya tertolak begitu saja. Satu klausal tersembunyi yang tidak pernah ia sadari sejak awal menjadi sumber segalanya. Ia dipaksa tinggal lebih lama. Dipaksa berbagi ruang. Dipaksa menghadapi tatapan yang kini terasa berbeda. Yang awalnya penolakan, berubah menjadi ketegangan. Yang awalnya benci, berubah menjadi sesuatu yang lebih panas dari yang seharusnya. Karena semakin mereka mencoba menjaga jarak, semakin jelas satu hal yang tak bisa mereka hindari. Bagaimana jika malam yang seharusnya jadi akhir … justru jadi awal dari segalanya?
View More"Ekhem ..."Sebuah deheman pelan terdengar dari balik kulkas.Agnira dan Nayara sontak mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Di sana berdiri Sambara dengan bahu bersandar santai pada kulkas. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara sorot matanya menatap lurus ke arah mereka."Kenapa kau yang memasak?" tanya Sambara dengan nada yang jelas menunjukkan ketidaksukaannya.Tatapannya kemudian beralih kepada Nayara yang langsung berdiri tegak dengan wajah sedikit pucat. Wanita itu buru-buru melangkah mendekat, berniat mengambil centong yang berada di tangan Agnira. Namun sebelum sempat melakukannya, Agnira lebih dulu menahan lengannya."Memangnya kenapa kalau aku memasak?" balas Agnira sambil bertolak pinggang. Matanya memicing penuh kejengkelan. "Salah? hah!"Sambara menghembuskan napas pelan. Jemarinya terangkat mengusap pelipis yang sebenarnya tidak terasa gatal."Sudah saya katakan, kau itu majikan. Dan seorang majikan seharusnya dilayani, bukan bekerja di dapur seperti in
Rumah Kenan tidak berada di pusat kota, juga bukan di kawasan perumahan mewah. Rumah sederhana itu berdiri di pinggiran kota, tepat menghadap hamparan laut lepas yang membentang luas sejauh mata memandang. Debur ombak yang terdengar silih berganti menciptakan suasana tenang yang sulit ditemukan di tempat lain."Rumah ini pernah hampir digusur?" tanya Sambara tiba-tiba.Pria itu berdiri dengan kedua tangan di saku celana, matanya mengarah ke lautan yang berkilauan diterpa cahaya matahari sore."Dari mana Anda tahu, Pak?" tanya Kenan penasaran.Sambara menarik napas pelan. Lalu dagunya terangkat, menunjuk ke arah sebuah bangunan megah yang berdiri tidak jauh dari sana. Di tepi pantai, sebuah resort mewah menjulang dengan arsitektur modern yang mencolok di antara pemandangan alam sekitar."Itu milik Ravenmark Holdings," ujar Sambara tenang. Ia menoleh ke arah Kenan dan menatap pria itu lurus-lurus. "Dan Ravenmark Holdings adalah perusahaan s
"Pak, saya boleh bersandar? Kepala saya pusing," ujar Kenan sambil meringis pelan.Sambara hanya diam dan melirik sinis pria berwajah pucat di sampingnya. Tidak ada tanda-tanda pria itu akan membuka suara. Namun, beberapa detik setelah Kenan berucap, bahu Sambara terasa berat. Kenan sudah menyandarkan kepalanya di sana dengan nyaman, seolah tidak peduli dengan sorot mata dingin yang Sambara tunjukkan."Heh! Berat!" sentak Sambara sambil menggoyangkan bahunya.Namun, Kenan tidak bergerak sama sekali. Pria itu tampak sudah tertidur pulas dengan mata terpejam rapat dan napas yang teratur.Agnira memantau segalanya dari kaca spion mobil, dia menyipitkan mata saat melihat Sambara mengangkat tangan. Dengan tanpa perasaan Sambara mendorong kepala Kenan dan membuat pria itu terantuk pintu mobil, Kenan meringis kecil, sementara Agnira membulatkan mata tidak percaya."Sambara!" bentak Agnira sambil memutar tubuhnya, matanya memicing menatap ke arah pria di belakangnya itu."Saya hanya merenggan
"Biar aku yang menuntun Kenan," ucap Agnira sambil berjalan mendekat.Wanita itu mengulurkan tangan, berniat membantu Kenan yang masih terlihat belum sepenuhnya pulih. Jemarinya bahkan hampir menyentuh lengan pria itu. Namun sebelum sempat melakukannya, Sambara bergerak lebih cepat.Dengan wajah datar, pria itu lebih dulu meraih bahu Kenan dan menopangnya dengan mantap."Mari," ucap Sambara singkat.Tanpa memberi kesempatan pada Agnira untuk membantah, ia langsung menuntun Kenan melangkah keluar dari rumah sakit. Agnira hanya bisa berhenti di tempat dan menatap punggung keduanya dengan ekspresi kesal.Sementara itu, Kenan terlihat canggung. Tatapannya berpindah-pindah antara Agnira dan Sambara, merasa ada sesuatu yang tidak beres di antara pasangan suami istri ini.Sedangkan Sambara tetap berjalan santai, seolah tindakannya barusan adalah hal yang paling wajar di dunia. Namun sorot matanya yang tajam jelas menunjukkan satu hal, ia sama sekali tidak berniat membiarkan Agnira menyentuh












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore