LOGINAgnira yang terlilit hutang orang tua terpaksa menikah dengan pria dingin dan arogan seperti Sambara. Namun, ia tidak menyangka bahwa orang yang selama ini berada di sisinya memiliki identitas rahasia. Terlebih saat surat kontrak pernikahan usai, Sambara justru meminta Agnira untuk menghabiskan malam panjang dengannya, dan menjadi istri di atas ranjang yang sesungguhnya. "Milikmu sempit sekali, Agnira," desis Sambara dengan mata terpejam.
View More"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"
Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air.Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan.
"Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya baca," ucap pria itu, tenang.
Agnira mengangguk pelan. Ia kembali fokus pada makanannya, enggan memperpanjang percakapan.
Sambara melirik kecil ke arah wanita di depannya. Wanita yang tiga tahun ia nikahi, yang hanya memiliki gelar sebagai istri, tanpa benar-benar menjalankan perannya. "Kau yakin ingin bercerai?" tanya Sambara hati-hati. Agnira terdiam sejenak sebelum menjawab. "Yakin. Kita sudah sepakat sebelumnya." "Kau benar-benar sudah membaca setiap syarat yang saya ajukan?" tanya Sambara lagi. Agnira semakin diam. Alisnya menukik tajam, pertanyaan itu menimbulkan keraguan tipis yang mengusik. Ia mendongak, menatap pria berwajah tenang di seberangnya. "Maksudmu apa?" tanya Agnira, memastikan. "Tidak ada ... Saya selesai." Sambara mendorong pelan piring kotor di depannya. Ia kembali meraih gelas dan meneguk air hingga habis. Kursi terdorong pelan saat pria itu berdiri. Posturnya tegap, menjulang angkuh di hadapan Agnira. "Saya pamit dulu." Agnira tetap diam. Tatapannya mengikuti punggung lebar suaminya yang semakin menjauh. Ucapan Sambara terasa mengganjal di benaknya. Ia yakin tidak melewatkan apa pun saat membaca persyaratan pernikahan dulu. "Apa yang aku lewatkan?" gumam Agnira lirih. Hening, tak ada jawaban atas pertanyaan yang dia lontarkan. Terserah dan percuma. Ruang kerja bernuansa hitam itu terasa pekat, dipenuhi tekanan dari sorot tajam di balik meja. Salah satu pengacara duduk dengan wajah tegang, jemarinya saling meremas, sesekali melirik takut pada Sambara. "Cetak ulang kontraknya. Tambahkan syarat baru, dan kirimkan hari ini." Perintah itu terdengar dingin dan tegas. "Baik, Bos," jawab anak buah Sambara sambil menunduk hormat. Ia melirik sekilas pada rekannya sebelum keduanya keluar dari ruangan. Sambara menatap ke luar jendela. Sorot tajam itu perlahan meredup, tergantikan senyum miring di sudut bibirnya. Tatapan Sambara kemudian jatuh pada sebuah foto kecil di sudut meja. Pandangan itu beralih pada map di atas meja, wajahnya kembali tak menunjukkan minat. "Kita belum selesai, Agnira," lanjutnya lirih.Agnira menarik napas dalam saat melangkah masuk ke ruang kerja Sambara. Pria itu sudah duduk tenang di balik meja, dengan postur tegap dan wajah rupawan yang entah mengapa selalu mampu mengacaukan fokusnya.
Namun kali ini, ia tidak sendiri. Dua pria lain dengan pakaian formal turut berada di ruangan itu. "Duduk," perintah Sambara singkat, menunjuk kursi dengan dagunya. Agnira mengedarkan pandangan. Ruangan ini terasa pengap dengan dominasi warna hitam. Tirai yang tertutup rapat semakin memperkuat kesan misterius yang menekan. "Saya sudah membaca isi surat cerai yang kamu ajukan," ujar Sambara, memecah kesunyian. Agnira duduk tegap, menatap lurus ke depan, bersiap mendengar. "Kau benar-benar tidak menuntut harta gono-gini?" tanya Sambara memastikan. "Iya. Tidak ada alasan untuk menuntut itu," jawab Agnira tenang. Ia hanya ingin bebas dari kekangan pria itu. Tidak lebih. Sambara mengangguk pelan. Jemarinya mengusap dagu, lalu melirik ke arah pengacaranya. "Maaf, Nyonya. Namun, ada satu persyaratan yang mungkin Anda lewatkan," sela sang pengacara sambil mengeluarkan berkas dari tasnya. Agnira mengernyit. "Syarat apa?" "Silakan Anda baca kembali." Dokumen itu didorong ke arahnya. Agnira meraihnya dan mulai membaca dengan teliti. Awalnya tidak ada yang janggal. Semuanya tampak biasa. Hingga bagian terakhir. Alisnya menukik tajam. Ia mengangkat wajah, menatap Sambara dengan sorot penuh tuntutan. Sementara pria itu tetap tenang, seolah telah menunggu momen ini. "Kita belum resmi berpisah," ucap Sambara santai. "Karena kau belum menunaikan tugas sebagai seorang istri." Tatapannya mengunci Agnira, diiringi senyum samar yang sulit diartikan. "Kau harus menjadi istriku yang sesungguhnya selama tiga puluh hari. Setelah itu terpenuhi, maka kita resmi berpisah." Tangan Agnira terkepal kuat. Amarah yang sejak tadi tertahan kini menggelegak, siap meledak saat syarat itu bukan hanya terucap, tetapi juga tertulis jelas di atas kertas. "Aku menolak." “Kalau begitu semua yang kamu miliki … akan menghilang.” Sambara berdiri, mendekat perlahan. “Kau memiliki satu hari untuk memutuskan.”Agnira menatapnya lamat sementara tangannya terkepal.
Pria ini...
“Kita belum selesai, Agnira. Kamu harus menemaniku sebagai istri, di ranjang, sebelum kita resmi berpisah.”
Dada Agnira bergemuruh hebat saat mendengar penjelasan petugas pemadam. Seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya begitu keras hingga membuat napasnya tercekat."Tidak," bisiknya lirih sambil menggeleng pelan. "Tidak mungkin."Air mata kembali mengalir tanpa mampu ia bendung. Tatapannya kosong menembus kepulan asap yang masih membumbung dari mulut terowongan.Beberapa saat yang lalu Kenan masih berdiri di hadapannya. Masih melindunginya tanpa ragu, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi dirinya dan bayi yang sedang ia kandung. Namun kini, pria itu disebut telah menjadi korban."Kenan tidak mungkin meninggalkanku seperti ini," gumam Agnira dengan suara bergetar. "Dia sudah berjanji akan terus berada di sisiku." Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya menolak mempercayai kenyataan yang baru saja ia dengar, Kenan tidak boleh meninggalkan dirinya. Kepala Agnira menggeleng kencang, air mata kembali turun dari mata indahnya."Dia masih hidup." Agnira menatap Sa
Suara letusan yang memekakkan telinga menggema di sepanjang terowongan, membuat langkah Agnira seketika terhenti. Tubuhnya menegang, sementara jantungnya berdegup semakin kencang. Dengan napas yang mulai memburu, ia perlahan membalikkan badan ke arah asal suara itu.Tubuhnya mendadak lemas saat kobaran api menyembur keluar dari sela-sela bebatuan yang menutup mulut terowongan. Dadanya bergemuruh dihantam berbagai kemungkinan buruk yang menimpa Kenan di dalam sana."Kenan!" teriak Agnira memecah kesunyian malam.Kedua lututnya kehilangan tenaga. Tubuhnya luruh di atas tanah yang basah, sementara hujan mulai turun membasahi wajah dan pakaiannya. Butiran air bercampur dengan air mata yang tak mampu lagi ia bendung.Di kejauhan, suara sirene mobil pemadam kebakaran dan ambulans saling bersahutan. Kilatan lampu merah dan biru menembus derasnya hujan, memantul di antara pepohonan dan dinding hotel yang mulai dilalap api."Asapnya semakin tebal! Tambah selang di sisi timur!" teriak salah seo
Suara runtuhan menggema semakin dekat. Dinding terowongan bergetar hebat, membuat debu beterbangan dan memenuhi udara sempit itu.Leonard mempercepat langkahnya sambil menggendong Agnira. Meski satu pundaknya masih mengucurkan darah akibat luka tembak, kecepatannya sama sekali tidak berkurang."Kenan, jangan berhenti!" bentak pria itu menyadarkan Kenan.Kenan berlari di belakang mereka sambil sesekali menoleh. Kobaran api yang menyusup ke dalam terowongan terus memburu, disusul reruntuhan yang menghancurkan jalur yang baru saja mereka lewati.Brak!Sebuah batu sebesar kepala manusia jatuh tepat di hadapan Kenan. Pria itu melompat menghindar, lalu kembali mengejar Leonard."Seberapa jauh lagi?" teriak Kenan dari belakang."Tidak jauh!" jawab Leonard dengan suara kencang.Namun, baru beberapa langkah mereka berlari, lorong kembali berguncang. Sebuah ledakan kedua terdengar dari arah hotel. Kali ini jauh lebih keras. Gelombang kejutnya merambat hingga ke dalam terowongan, membuat langit-
Kepulan asap mulai masuk dari celah pintu ruang arsip. Asap hitam itu merayap perlahan di sepanjang lantai sebelum semakin lama semakin memenuhi ruangan. Aroma hangus langsung menusuk indra penciuman.Kenan mengernyit. Napasnya menjadi lebih berat, ia segera mendekat ke arah Agnira."Bu, Anda baik-baik saja?" tanya Kenan memastikan.Agnira hanya mengangguk pelan. Dia terbatuk ringan saat aroma pekat menusuk hidungnya. Sedangkan Leonard menghentikan langkahnya. Sorot mata birunya beralih ke arah pintu yang mulai diselimuti asap pekat. Ia tidak menyangka bahwa rencananya berjalan secepat ini, pandangan beralih pada Agnira dan Kenan. "Padahal saya belum puas bermain," bisik Leonard pelan, "apa dia bodoh. Membakar tempat ini di saat saya masih berada di dalamnya." Alarm kebakaran menggema nyaring ke seluruh penjuru hotel. Suara itu bersahut-sahutan dengan dentuman guntur di luar, membuat suasana semakin mencekam.Agnira menoleh ke segala arah. Jantungnya berdegup semakin cepat ketika m
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge
Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak
Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang
Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore