Masuk"Kau harus menjadi istriku selama tiga puluh hari." Suara itu terdengar dingin dan tegas. ... Agnira harus menelan pil pahit saat surat cerai yang ia ajukan pada suaminya tertolak begitu saja. Satu klausal tersembunyi yang tidak pernah ia sadari sejak awal menjadi sumber segalanya. Ia dipaksa tinggal lebih lama. Dipaksa berbagi ruang. Dipaksa menghadapi tatapan yang kini terasa berbeda. Yang awalnya penolakan, berubah menjadi ketegangan. Yang awalnya benci, berubah menjadi sesuatu yang lebih panas dari yang seharusnya. Karena semakin mereka mencoba menjaga jarak, semakin jelas satu hal yang tak bisa mereka hindari. Bagaimana jika malam yang seharusnya jadi akhir … justru jadi awal dari segalanya?
Lihat lebih banyak"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian," ujar wanita cantik itu dengan sorot mata tenang.
Goresan pisau yang tengah memotong daging perlahan terhenti. Sorot tajam itu sekilas menatap wanita di depannya sebelum meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya baca," ucap pria itu, tenang. Agnira mengangguk pelan. Ia kembali fokus pada makanannya, enggan memperpanjang percakapan. Sambara melirik kecil ke arah wanita di depannya. Wanita yang tiga tahun ia nikahi, yang hanya memiliki gelar sebagai istri, tanpa benar-benar menjalankan perannya. "Kau yakin ingin bercerai?" tanya Sambara hati-hati. Agnira terdiam sejenak sebelum menjawab. "Yakin. Kita sudah sepakat sebelumnya." "Kau benar-benar sudah membaca setiap syarat yang saya ajukan?" tanya Sambara lagi. Agnira semakin diam. Alisnya menukik tajam, pertanyaan itu menimbulkan keraguan tipis yang mengusik. Ia mendongak, menatap pria berwajah tenang di seberangnya. "Maksudmu apa?" tanya Agnira, memastikan. "Tidak ada ... Saya selesai." Sambara mendorong pelan piring kotor di depannya. Ia kembali meraih gelas dan meneguk air hingga habis. Kursi terdorong pelan saat pria itu berdiri. Posturnya tegap, menjulang angkuh di hadapan Agnira. "Saya pamit dulu." Agnira tetap diam. Tatapannya mengikuti punggung lebar suaminya yang semakin menjauh. Ucapan Sambara terasa mengganjal di benaknya. Ia yakin tidak melewatkan apa pun saat membaca persyaratan pernikahan dulu. "Apa yang aku lewatkan?" gumam Agnira lirih. Hening, tak ada jawaban atas pertanyaan yang dia lontarkan. "Terserah dia saja. Lebih baik aku juga segera pergi." Ruang kerja bernuansa hitam itu terasa pekat, dipenuhi tekanan dari sorot tajam di balik meja. Salah satu pengacara duduk dengan wajah tegang, jemarinya saling meremas, sesekali melirik takut pada Sambara. "Cetak ulang kontraknya. Tambahkan syarat baru, dan kirimkan hari ini." Perintah itu terdengar dingin dan tegas. "Baik, Bos," jawab anak buah Sambara sambil menunduk hormat. Ia melirik sekilas pada rekannya sebelum keduanya keluar dari ruangan. Sambara menatap ke luar jendela. Sorot tajam itu perlahan meredup, tergantikan senyum miring di sudut bibirnya. Tatapan Sambara kemudian jatuh pada sebuah foto kecil di sudut meja. "Kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku, Agnira," desis Sambara pelan. "Saya tidak pernah melepaskan sesuatu yang masih menjadi milikku." Pandangan itu beralih pada map di atas meja, wajahnya kembali tak menunjukkan minat. "Kita belum selesai, Agnira," lanjutnya lirih. "Dan semuanya bahkan baru saja dimulai." Agnira menarik napas dalam saat melangkah masuk ke ruang kerja Sambara. Pria itu sudah duduk tenang di balik meja, dengan postur tegap dan wajah rupawan yang entah mengapa selalu mampu mengacaukan fokusnya. Namun kali ini, ia tidak sendiri. Dua pria lain dengan pakaian formal turut berada di ruangan itu. "Duduk," perintah Sambara singkat, menunjuk kursi dengan dagunya. Agnira mengedarkan pandangan. Ruangan ini terasa pengap dengan dominasi warna hitam. Tirai yang tertutup rapat semakin memperkuat kesan misterius yang menekan. "Saya sudah membaca isi surat cerai yang kamu ajukan," ujar Sambara, memecah kesunyian. Agnira duduk tegap, menatap lurus ke depan, bersiap mendengar. "Kau benar-benar tidak menuntut harta gono-gini?" tanya Sambara memastikan. "Iya. Tidak ada alasan untuk menuntut itu," jawab Agnira tenang. Ia hanya ingin bebas dari kekangan pria itu. Tidak lebih. Sambara mengangguk pelan. Jemarinya mengusap dagu, lalu melirik ke arah pengacaranya. "Maaf, Nyonya. Namun, ada satu persyaratan yang mungkin Anda lewatkan," sela sang pengacara sambil mengeluarkan berkas dari tasnya. Agnira mengernyit. "Syarat apa?" "Silakan Anda baca kembali." Dokumen itu didorong ke arahnya. Agnira meraihnya dan mulai membaca dengan teliti. Awalnya tidak ada yang janggal. Semuanya tampak biasa. Hingga bagian terakhir. Alisnya menukik tajam. Ia mengangkat wajah, menatap Sambara dengan sorot penuh tuntutan. Sementara pria itu tetap tenang, seolah telah menunggu momen ini. "Kita belum resmi berpisah," ucap Sambara santai. "Karena kau belum menunaikan tugas sebagai seorang istri." Tatapannya mengunci Agnira, diiringi senyum samar yang sulit diartikan. "Kau harus menjadi istriku yang sesungguhnya selama tiga puluh hari. Setelah itu terpenuhi, maka kita resmi berpisah." Tangan Agnira terkepal kuat. Amarah yang sejak tadi tertahan kini menggelegak, siap meledak saat syarat itu bukan hanya terucap, tetapi juga tertulis jelas di atas kertas. “Aku tidak akan melakukannya.” Tolak Agnira, tegas. “Kalau begitu semua yang kamu miliki … akan menghilang.” Sambara berdiri, mendekat perlahan. “Kau memiliki satu hari untuk memutuskan.”Agnira keluar dari kamar mandi masih dalam gendongan Sambara. Tubuhnya sudah terasa lebih segar, dibalut kemeja milik pria itu yang kebesaran di tubuh mungilnya. Lengannya melingkar lemah di leher Sambara."Aku mau ke kamar," ucap Agnira, dingin.Sambara tidak menjawab. Namun langkahnya berbelok, keluar dari kamar pribadinya dan menuju pintu bercat putih di seberang.Pintu terbuka.Aroma lavender langsung menyambut, lembut dan menenangkan–berbanding terbalik dengan kamar Sambara yang gelap dan pekat. Kamar Agnira didominasi warna putih, bersih, rapi, tanpa cela.Sambara menurunkan Agnira perlahan ke atas ranjang. Tanpa banyak bicara, ia merapikan rambut wanita itu, menatapnya sekilas, lalu berbalik pergi.Tidak ada ucapan, tidak ada kalimat lainnya, hanya hening tanpa suara. Seolah kedekatan semalam tidak pernah terjadi.Dering ponsel memecah keheningan. Agnira meraih benda itu dengan cepat. Beberapa panggilan tak terjawab memenuhi layar–puluhan, sejak semalam.Ia langsung mengangkat.
Pagi datang terlalu cepat. Semilir angin menyusup dari celah jendela, menggerakkan tirai hitam yang sejak semalam tertutup rapat. Aroma sisa kehangatan masih tertinggal di dalam kamar, meninggalkan jejak jelas bahwa sesuatu telah terjadi di sana.Sambara menjadi orang pertama yang membuka mata. Ia bergerak pelan, melirik ke arah Agnira yang masih terlelap. Wanita itu tampak damai, seolah tidak ada yang berubah, seolah malam tadi hanyalah mimpi yang tidak nyata."Sial ... aku menginginkannya lagi," bisik Sambara, lirih.Ia menarik selimut, menutup tubuh Agnira yang terbuka. Jemarinya menyusuri rambut hitam itu perlahan, memperhatikan wajah cantik di hadapannya dengan saksama.Senyum tipis terukir di bibir Sambara, "Perempuan keras kepala." Bayangan semalam kembali terlintas. Tangis Agnira saat menyadari tidak ada pengaman, kepanikan yang jelas terpancar di matanya. Namun alih-alih berhenti, Sambara justru menariknya lebih dalam, hingga akhirnya wanita itu kelelahan dan terlelap.Tatap
Tubuh kecil itu berguncang pelan, tangannya bergetar samar saat mata itu menatap benda asing yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Benda itu terlihat besar dengan bentuk yang cukup aneh menurut Agnira."Kemarilah," ucap Sambara memberi perintah.Degup jantung Agnira berpacu lebih cepat saat dia bergerak lebih dekat. Sesekali matanya melirik kecil pada benda yang menurutnya sedikit membuat ia tidak nyaman itu. Namun anehnya, Sambara tidak terlihat risih ataupun malu.Sial. Di sini hanya ia yang malu sendirian.Sambara tersenyum samar, "Mau menyentuhnya?" Hah. Agnira terdiam, napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya saat ungkapan kalimat itu terucap. Bagaimana bisa Sambara melemparkan pertanyaan seperti itu.Tangan besar Sambara meraih jemari lentik Agnira, walaupun terlihat ragu, tetapi wanita itu terpaksa harus menuruti perintah Sambara. "T-tapi ini." Tangan Agnira bergetar pelan."Jangan takut, dia tidak akan menyakitimu," ucap Sambara penuh keyakinan, seolah benda itu hidup.A
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira mengerat menggenggam sprei dengan kuat, tatkala kepala Sambara mulai mengendus pelan leher jenjangnya. Mengantarkan rasa geli yang membuat ia terpejam kembali."Ah ..." Satu desahan lolos begitu saja, saat Sambara secara perlahan mengecap belakang telinga Agnira. Pria itu tersenyum saat aksinya menuai keberhasilan."Buka matamu, Agnira," desis Sambara, sekali lagi.Agnira membuka mata perlahan. Napasnya terdengar tidak beraturan. Dia mencoba menahan dada Sambara saat pria itu kembali merunduk dan akan memulai aksinya lagi."Sebentar ... Bisakah aku yang memulai," pinta Agnira."Kau yakin?" tanya Sambara, memastikan. Ia bukan tipe yang sabar dengan hal seperti ini.Agnira mengangguk cepat. Dengan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan