LOGINwarning area 21+ Dua tahun menjadi "penawar sepi" bagi Sean sang taipan, Fara terjebak dalam kontrak fisik yang menghancurkan hatinya. Saat tunangan Sean kembali, Fara diusir secara dingin tanpa tahu ada nyawa yang mulai berdenyut di rahimnya. Di titik nadir itu, ia kehilangan ibunya—satu-satunya alasan untuk tetap bertahan. Sendirian dan hancur, Fara harus memilih: menyerah pada takdir atau bangkit demi rahasia yang tak diinginkan ayahnya. "Seandainya saya hamil, bagaimana, Pak?" tanya Fara getir. Sean menatapnya tanpa emosi. "Jangan bercanda. Hubungan kita hanyalah transaksi, dan tidak ada tempat untuk 'kesalahan' setelah Bella datang."
View More"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*."
Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah tersedot ke dalam lubang hitam. Pandangannya terpaku pada selembar kertas dan foto hitam-putih buram yang diulurkan sang dokter. "Di mana suami Anda, Nona? Seharusnya dia ada di sini untuk menerima kabar baik ini," tambah dokter Obgyn paruh baya itu, senyum ramah di balik kacamata beningnya terasa seperti sembilu yang menyayat dada Fara. Fara tidak menjawab. Jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan foto USG itu. Dingin. Selembar kertas itu adalah "Vonis", bukan sebuah anugerah yang bisa ia rayakan dengan sorak-sorai. "Nona?" panggil dokter itu lembut, menyadari pasiennya mematung terlalu lama. Fara menarik napas dalam, memaksakan oksigen masuk ke paru-parunya yang terasa menyempit. "Terima kasih, Dokter. Saya... saya akan sampaikan berita gembira ini padanya." Ia bangkit, memberikan hormat yang sangat sopan—sebuah kebiasaan formalitas yang sudah mendarah daging selama bekerja untuk pria itu—sebelum melangkah keluar. Begitu pintu tertutup, pertahanannya runtuh. Fara berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit Ibu dan Anak itu dengan langkah goyah. Air matanya menetes deras, membasahi pipi yang kini sepucat kertas. "Ya Tuhan, sekaranh apa yang harus aku lakukan? Aku tahu semua ini di awali oleh sebuah kesalahan! Namun, aku tidak bisa mempertahankan *Janin* ini, tapi aku juga tidak sanggup membuangnya." jerit seorang FARA ZALINDRA di dalam hatinya. Di tengah kekacauan batinnya, ponsel di dalam tas tangannya terus bergetar tanpa henti. Buzzing, Agresif. Tanpa melihat layarnya pun, Fara tahu siapa pelakunya. SEAN NARENDRA. Bos besar sekaligus pria yang selama dua tahun ini memiliki hak penuh atas tubuhnya. "Kembali sekarang, Fara! Aku mau meeting, di mana file-fileku?!" Suara bariton yang tajam itu menyalak begitu Fara mengangkat telepon. Tidak ada kata sapa, tidak ada ruang untuk negosiasi. "Dalam perjalanan kembali, Pak," jawab Fara lirih. Suaranya serak, namun Sean tampaknya terlalu sibuk untuk menyadarinya. Jarak antara rumah sakit dan gedung perkantoran pusat itu tak sampai dua puluh menit, namun bagi Fara, perjalanan itu terasa seperti menuju tiang gantungan. Perempuan itu menghapus sisa air mata di kedua pipinya bergantian, memulas ulang bedak tipis di wajahnua untuk menutupi rona merah di mata serta hidungya, dan melangkah masuk ke ruangan kerja Sean dengan tumpukan map di tangan. Sean berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan lanskap kota, Peia itu adalah definisi kesempurnaan yang mematikan. Tampan, kaya raya, dan memiliki citra publik sebagai filantropis berjiwa sosial tinggi. Namun bagi Fara, Sean adalah *Bos Psyco* yang tak kenal kompromi. "Kamu dari mana saja? Aku sudah bilang, makan siang di kantor!" tegur Sean tanpa berbalik badan. Suaranya terdengar dingin, penuh nada posesif yang menyesakkan dada bagi pendengarnya. "Saya... saya hanya ingin sesekali makan di luar, Tuan," jawab Fara pelan. Tatapannya terjatuh pada makanan yang masih tertata rapi di meja kopi. Fara teringat bagaimana semua ini bermula. Dua tahun lalu, saat ibunya kritis di rumah sakit dan ia terdesak biaya besar, Sean datang membawa kontrak hubungan fisik. Kontrak yang dibuat untuk membungkam gosip miring tentang Fara, sekaligus untuk mengusir kesepian Sean selama tunangannya menempuh studi S2 di luar negeri. Awalnya, itu murni transaksi. Namun, chemistry di atas ranjang tidak bisa berbohong. Dua tahun berbagi napas dan kulit yang sama telah menumbuhkan sesuatu yang terlarang di hati Fara, yaitu perasaan cinta. Sebuah pelanggaran berat, dari klausul kontrak yang mereka tanda tangani. Sean berbalik, menyipitkan mata menatap asisten pribadinya itu. "Fara, kamu terlihat sedikit pucat." Fara tersentak, mencoba mengatur raut wajahnya. "Hanya kurang tidur saja, Pak. Pekerjaan minggu ini sangat padat sekali." Pria itu mendekat, aroma parfum maskulinnya yang mahal seketika mengepung indra penciuman Fara, membuatnya merasa 𝘔𝘶𝘢𝘭 secara tiba-tiba. Tangan Sean terangkat, merapikan anak rambut Fara dengan gerakan yang nyaris lembut, namun terasa seperti rantaian besi. "Dengarkan aku, hari ini kamu jangan ambil lembur lagi. Selesaikan meeting ini sekarang juga, lalu langsung pulang ke apartemen," perintah Sean. Fara memaksakan sebuah senyum tipis. Untuk sesaat, ia merasa ingin menumpahkan segalanya. Ingin berlutut dan mengatakan bahwa ada detak jantung baru di dalam dirinya. Namun, kalimat Sean selanjutnya menghancurkan seluruh sisa harapan yang sempat melintas di kepala Fara. Pria itu menjauhkan tangannya dari sekretarisnya, kembali berjalan menuju ke balik meja kerja dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah-olah apa yang baru saja mereka lalui hanyalah rutinitas harian yang membosankan. Baru saja duduk pria itu berdiri lagi dari kursi kernjanya, berjalan mendekat ke arah Fara kembali. Berdiri tepat di depan sekretarisnya dengan wajah datarnya, dan kedua tangan yang di masukkan di saku celana. "Oh iya, minggu depan Bella pulang. Kamu bisa kemasi barang-barangmu dari apartemenku, dan Jangan meninggalkan jejak apapun disana." ucap Sean sambil berlalu meninggalkan Fara. Fara tersenyum getir, kenyataan dari semua kisah dan perjalanan ini dirinyalah yang "Kalah". Wanita itu mengusak pelan perut bagian bawahnya, satu titik air mata melaju melewati kedua pipi lembutnya. ◦•●◉✿-𝗧𝗕𝗖-✿◉●•◦Malam terakhir di Tokyo hadir membawa keheningan yang tenang. Suhu udara di luar kamar ryokan, penginapan tradisional Jepang terus menurun, membuat tirai kayu yang sedikit terbuka mengembun tipis. Setelah perjalanan singkat mereka setengah hari ini mengitari Tokyo, malam ini Sean dan Fara akhirnya bisa bernapas lega. Sefan, putra kecil mereka, sudah terlelap pulas di kamar sebelah bersama Suster Nani setelah kelelahan sepanjang hari. Tanpa suara tangisan bayi atau gangguan jadwal menyusui yang biasanya memenuhi hari-hari Fara, kamar berkonsep Onsen bernuansa Jepang otentik itu mendadak menjelma menjadi pelarian pribadi yang terisolasi dari dunia luar. Kamar itu mengusung interior kayu hinoki yang mengeluarkan aroma alami nan lembut. Di sudut ruangan, sebuah kolam Onsen pribadi berbatu alam mengepulkan uap air panas yang membumbung tipis, menciptakan atmosfer hangat yang kontras dengan dinginnya angin malam Kyoto. Cahaya dari lampion Kertas Shoji berpendar temaram, memantulkan bayang
Pagi hari ke lima, sebelum lusa benar-benar waktu mereka pulang kembali ke Indonesia. Matahari di Tokyo menyelinap malu-malu di balik tirai tipis kamar suite di salah satu hotel bintang lima terbaik di kawasan Shinjuku. Kemarin Sean memboyong istri, anak dan susternya Kembali menuju Tokyo. Karena rencananya sebelum benar-benar meninggalkan negara Sakura ini, Sean ingin mengajak jalan-jalan istrinya mengelilingi Tokyo lagi. Suasana kamar terasa hangat dan tenang. Di atas tempat tidur berukuran king, Fara sedang sibuk memeriksa kembali segala perlengkapan untuk putra kecilnya, Sefan, yang masih terlelap nyaman dalam bedongannya. Meskipun hari ini ia dan Sean berencana untuk pergi hunting foto lagi, dan keliling kota selama setengah hari, prioritas Fara sebagai seorang ibu tidak pernah berkurang sedikit pun. Di atas meja dapur kecil suite mereka, Fara sudah menata dengan rapi beberapa porsi ASI perah dalam kantong steril. "Suster Nani," panggil Fara lembut ketika pengasuh keperca
Langkah angin musim gugur bertiup lembut di Stasiun Tokyo, membawa aroma udara dingin yang khas dan deru halus kereta Shinkansen yang siap melaju. Di antara lalu lalang manusia, Sean menggenggam jemari istrinya dengan erat, memastikan kehangatan jemari itu tidak menguap tersapu angin. Penerbangan pulang mereka ke Indonesia tinggal tiga hari lagi. Koper-koper besar sudah separuh terisi di kamar hotel, dan daftar belanjaan oleh-oleh pun hampir tuntas. Namun, sebelum roda pesawat benar-benar terangkat meninggalkan bumi Jepang, Sean menyimpan satu rencana rahasia, sebuah janji pribadi yang belum sempat ia utarakan sejak awal perjalanan ini. "Kita tidak langsung balik ke hotel hari ini, kan?" tanya sang istri, menatap mata Sean dengan binar penasaran. Sean tersenyum kecil, mengusap puncak kepala istrinya perlahan. "Belum. Ada satu tempat yang wajib kamu lihat sebelum kita pulang. Tempat yang selalu jadi rumah kedua buat mas setiap kali melangkah ke negeri ini." Kereta peluru meluncu
Pagi di hari ketiga mereka di Tokyo disambut oleh hembusan angin musim gugur yang sejuk. Sean, Fara, baby Sefan yang duduk manis di kereta dorongnya, serta Suster Nani sudah bersiap meninggalkan hotel mewah di kawasan Ginza sejak pukul sembilan pagi. Hari ini agenda mereka cukup spesial. Selain menikmati pemandangan kota, Fara secara khusus meminta untuk hunting buah-buah mahal nan langka khas Jepang yang kerap berseliweran di media sosialnya. Tujuan pertama mereka adalah kawasan Ginza Sembikiya, toko buah legendaris yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu dan terkenal menjual buah-buahan berkualitas tinggi dengan harga fantastis. Begitu melangkah masuk, Fara langsung berdecak kagum. Etalase toko tersebut tidak terlihat seperti toko buah biasa, melainkan lebih menyerupai toko perhiasan mewah. Di sana, buah-buahan dipajang dengan sangat anggun di atas kain bludru dan lampu sorot yang hangat. Ada melon Yubari yang lekukan garisnya begitu sempurna, anggur Ruby Roman sebesar b
Setelah selesai mengurus semua administrasi Sean kembali ke kamar dengan selembar kertas pemulangan oasien atas nama istrinya, dan juga selembar surat kontrol milik istrinya untuk minggu depan. Suasana di kamar rumah sakit terasa jauh lebih cerah, aroma obat-obatan yang sempat membayangi hari-hari
Sean tengah menatap sang istri lamat-lamat dari kursi yang berada tepat di samping ranjang rumah sakit. Tatapan pria itu begitu lekat, seolah takut jika dalam hitungan detik saja wanita yang sedang duduk bersandar itu akan kembali menghilang dari pandangannya lagi. Fara yang duduk di atas ranjang
Setibanya di pekarangan rumahnya, Sean mentap sang istri yang masih sesenggukan di sampingnya. "Kenapa sih nangis begitu, bikin Mas khawatir tau nggak." ucap Sean.Fara melirik ke arah suaminya sekilas, lalu membuang pandangannya ke sembarang arah lagi. "Hey, kenapa malingin wajahnya dari Mas?" bin
Setelah drama lamaran Sean yang menguran air mata seluruh orang yang ikut hadir, sekarang ke duanya tengah sibuk mengurus persiapan pernikahan mereka yang akan diadakan dua minggu dari sekarang. Pagi itu, beban di pundak Fara terasa sedikit lebih ringan. Mama Sean baru saja menelepon, mengabarkan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore