LOGINDua tahun menjadi "penawar sepi" bagi Sean sang taipan, Fara terjebak dalam kontrak fisik yang menghancurkan hatinya. Saat tunangan Sean kembali, Fara diusir secara dingin tanpa tahu ada nyawa yang mulai berdenyut di rahimnya. Di titik nadir itu, ia kehilangan ibunya—satu-satunya alasan untuk tetap bertahan. Sendirian dan hancur, Fara harus memilih: menyerah pada takdir atau bangkit demi rahasia yang tak diinginkan ayahnya. "Seandainya saya hamil, bagaimana, Pak?" tanya Fara getir. Sean menatapnya tanpa emosi. "Jangan bercanda. Hubungan kita hanyalah transaksi, dan tidak ada tempat untuk 'kesalahan' setelah Bella datang."
View More"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*."
Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah tersedot ke dalam lubang hitam. Pandangannya terpaku pada selembar kertas dan foto hitam-putih buram yang diulurkan sang dokter. "Di mana suami Anda, Nona? Seharusnya dia ada di sini untuk menerima kabar baik ini," tambah dokter Obgyn paruh baya itu, senyum ramah di balik kacamata beningnya terasa seperti sembilu yang menyayat dada Fara. Fara tidak menjawab. Jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan foto USG itu. Dingin. Selembar kertas itu adalah "Vonis", bukan sebuah anugerah yang bisa ia rayakan dengan sorak-sorai. "Nona?" panggil dokter itu lembut, menyadari pasiennya mematung terlalu lama. Fara menarik napas dalam, memaksakan oksigen masuk ke paru-parunya yang terasa menyempit. "Terima kasih, Dokter. Saya... saya akan sampaikan berita gembira ini padanya." Ia bangkit, memberikan hormat yang sangat sopan—sebuah kebiasaan formalitas yang sudah mendarah daging selama bekerja untuk pria itu—sebelum melangkah keluar. Begitu pintu tertutup, pertahanannya runtuh. Fara berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit Ibu dan Anak itu dengan langkah goyah. Air matanya menetes deras, membasahi pipi yang kini sepucat kertas. "Ya Tuhan, sekaranh apa yang harus aku lakukan? Aku tahu semua ini di awali oleh sebuah kesalahan! Namun, aku tidak bisa mempertahankan *Janin* ini, tapi aku juga tidak sanggup membuangnya." jerit seorang FARA ZALINDRA di dalam hatinya. Di tengah kekacauan batinnya, ponsel di dalam tas tangannya terus bergetar tanpa henti. Buzzing, Agresif. Tanpa melihat layarnya pun, Fara tahu siapa pelakunya. SEAN NARENDRA. Bos besar sekaligus pria yang selama dua tahun ini memiliki hak penuh atas tubuhnya. "Kembali sekarang, Fara! Aku mau meeting, di mana file-fileku?!" Suara bariton yang tajam itu menyalak begitu Fara mengangkat telepon. Tidak ada kata sapa, tidak ada ruang untuk negosiasi. "Dalam perjalanan kembali, Pak," jawab Fara lirih. Suaranya serak, namun Sean tampaknya terlalu sibuk untuk menyadarinya. Jarak antara rumah sakit dan gedung perkantoran pusat itu tak sampai dua puluh menit, namun bagi Fara, perjalanan itu terasa seperti menuju tiang gantungan. Perempuan itu menghapus sisa air mata di kedua pipinya bergantian, memulas ulang bedak tipis di wajahnua untuk menutupi rona merah di mata serta hidungya, dan melangkah masuk ke ruangan kerja Sean dengan tumpukan map di tangan. Sean berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan lanskap kota, Peia itu adalah definisi kesempurnaan yang mematikan. Tampan, kaya raya, dan memiliki citra publik sebagai filantropis berjiwa sosial tinggi. Namun bagi Fara, Sean adalah *Bos Psyco* yang tak kenal kompromi. "Kamu dari mana saja? Aku sudah bilang, makan siang di kantor!" tegur Sean tanpa berbalik badan. Suaranya terdengar dingin, penuh nada posesif yang menyesakkan dada bagi pendengarnya. "Saya... saya hanya ingin sesekali makan di luar, Tuan," jawab Fara pelan. Tatapannya terjatuh pada makanan yang masih tertata rapi di meja kopi. Fara teringat bagaimana semua ini bermula. Dua tahun lalu, saat ibunya kritis di rumah sakit dan ia terdesak biaya besar, Sean datang membawa kontrak hubungan fisik. Kontrak yang dibuat untuk membungkam gosip miring tentang Fara, sekaligus untuk mengusir kesepian Sean selama tunangannya menempuh studi S2 di luar negeri. Awalnya, itu murni transaksi. Namun, chemistry di atas ranjang tidak bisa berbohong. Dua tahun berbagi napas dan kulit yang sama telah menumbuhkan sesuatu yang terlarang di hati Fara, yaitu perasaan cinta. Sebuah pelanggaran berat, dari klausul kontrak yang mereka tanda tangani. Sean berbalik, menyipitkan mata menatap asisten pribadinya itu. "Fara, kamu terlihat sedikit pucat." Fara tersentak, mencoba mengatur raut wajahnya. "Hanya kurang tidur saja, Pak. Pekerjaan minggu ini sangat padat sekali." Pria itu mendekat, aroma parfum maskulinnya yang mahal seketika mengepung indra penciuman Fara, membuatnya merasa 𝘔𝘶𝘢𝘭 secara tiba-tiba. Tangan Sean terangkat, merapikan anak rambut Fara dengan gerakan yang nyaris lembut, namun terasa seperti rantaian besi. "Dengarkan aku, hari ini kamu jangan ambil lembur lagi. Selesaikan meeting ini sekarang juga, lalu langsung pulang ke apartemen," perintah Sean. Fara memaksakan sebuah senyum tipis. Untuk sesaat, ia merasa ingin menumpahkan segalanya. Ingin berlutut dan mengatakan bahwa ada detak jantung baru di dalam dirinya. Namun, kalimat Sean selanjutnya menghancurkan seluruh sisa harapan yang sempat melintas di kepala Fara. Pria itu menjauhkan tangannya dari sekretarisnya, kembali berjalan menuju ke balik meja kerja dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah-olah apa yang baru saja mereka lalui hanyalah rutinitas harian yang membosankan. Baru saja duduk pria itu berdiri lagi dari kursi kernjanya, berjalan mendekat ke arah Fara kembali. Berdiri tepat di depan sekretarisnya dengan wajah datarnya, dan kedua tangan yang di masukkan di saku celana. "Oh iya, minggu depan Bella pulang. Kamu bisa kemasi barang-barangmu dari apartemenku, dan Jangan meninggalkan jejak apapun disana." ucap Sean sambil berlalu meninggalkan Fara. Fara tersenyum getir, kenyataan dari semua kisah dan perjalanan ini dirinyalah yang "Kalah". Wanita itu mengusak pelan perut bagian bawahnya, satu titik air mata melaju melewati kedua pipi lembutnya. ◦•●◉✿-𝗧𝗕𝗖-✿◉●•◦Hembusan angin sejuk sisa hujan dini hari masih menyisakan embun tipis pada kaca jendela ruang keluarga. Di atas karpet beludru abu-abu yang terhampar luas di depan televisi, pemandangan akhir pekan yang lazim kembali tersaji. Tiga sosok manusia berbalut piyama santai tengah merebahkan diri dalam posisi bertumpuk tanpa aturan, sibuk memperebutkan satu layar ponsel pintar milik sang kepala keluarga. "Papa geseran dikit, dong! Bahu Papa lebar banget, ngalangin pandangan!" protes Sefan yang berbaring telungkup di sisi kiri adiknya, berusaha memanjangkan leher demi mengintip tayangan animasi di layar. Sean mendengus geli, sengaja memiringkan badannya sedikit lebih lebar hingga bayangannya menutupi sebagian besar sudut pandang. "Enak saja. Kamu yang cari sudut sendiri, Bang. Papa yang pegang kendali ponselnya." "Ih, Papa curang!" sungut Sefan seraya menarik ujung bantal dengan kesal. "Mama, lihat Papa tuh! Layarnya cuma dihadapkan ke muka Feera sama muka Papa doang! Abang cuma kebagia
Waktu bergulir tanpa terasa, membawa keluarga kecil Narendra melintasi tahun demi tahun yang penuh warna. Feera, tumbuh sangat cantik dengan mata bulat jernih persis milik Fara dan senyum manis yang sanggup meluluhkan siapa pun.Sementara sang abang pelindung, Sefan, telah menjelma menjadi remaja tampan berusia lima belas tahun. Postur tubuhnya mulai tinggi tegap menuruni garis keturunan Sean, lengkap dengan rahang tegas dan tatapan mata tajam. Namun, setinggi apa pun tubuhnya dan sekeren apa pun penampilannya di sekolah, status utamanya di rumah tidak pernah berubah. Provokator nomor satu yang hobinya membuat sang adik meradang.Sore itu di ruang tengah, pemandangan klasik kembali tersaji. Feera sedang duduk bersila di karpet bulu, menekuni buku sketsa gambarnya dengan deretan pensil warna yang tertata rapi. Ia sedang asyik mewarnai lanskap pegunungan teh, pemandangan Mae Salong yang selalu ia dengar dari dongeng masa muda kedua orang tuanya.Tiba-tiba, sebuah tangan jangkung melay
Satu tahun berlalu secepat kepakan sayap burung camar. Waktu mengalir dengan sangat indah, menyapu bersih luka lama, yang perlahan berganti dengan senyum bahagia tiada akhir.Kini, Baby Feera telah resmi menginjak usia satu tahun tiga bulan. Bayi mungil yang dulu lahir dengan bobot 1,9 kilogram, yang dahulu membuat seluruh keluarga besar menahan napas cemas. Kini telah bermetamorfosis menjadi gadis cilik yang lincah, montok, dan berpipi bulat ranum layaknya buah persik matang.Minggu pagi itu, ruang tengah kediaman Sean dan Fara dibanjiri cahaya matahari yang hangat. Seluruh perabotan bersudut tajam sengaja dilapisi bantalan busa silikon tebal, tentu saja atas instruksi ketat Sean Narendra, sang Papa yang tingkat protektifnya tak pernah turun walau satu persen pun."Ayo, Adik! Kejar Abang!" seru Sefan yang kini sudah bertambah tinggi dan pandai berbicara. Anak lelaki berusia 7 tahun itu berjongkok sekitar tiga meter di atas karpet beludru, menggoyang-goyangkan boneka dinosaurus hijau
Genap tiga bulan sudah berlalu sejak peristiwa mendebarkan di Chiang Rai dan perjalanan panjang dua bulan di Boston. Kini, kediaman pribadi Sean dan Fara tidak lagi sesepi dulu. Suasana rumah modern dua lantai itu selalu dipenuhi celoteh riang, derap langkah kaki kecil, dan tentu saja... jerit tangis nyaring dari seorang putri mungil bernama Feera.Bayi yang dulunya lahir prematur di usia kehamilan 8 bulan dengan bobot 1,9 kilogram dan membuat seisi keluarga menahan napas cemas itu, kini telah menjelma menjadi bayi gembil montok dengan lipatan-lipatan menggemaskan di lengan dan pahanya. Berkat perawatan telaten di Amerika dan curahan kasih sayang tanpa henti, Feera tumbuh sangat sehat, lincah, dan memiliki suara tangisan yang luar biasa lantang. Tanda mutlak bahwa organ paru-parunya sudah bekerja seratus persen sempurna.Namun, di balik kebahagiaan itu, ada dinamika baru yang kerap memicu keributan manis di pagi hari. Sifat overprotective Sean yang tak pernah surut, beradu dengan in
"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m
Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di
"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa
Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore