LOGINDua tahun menjadi "penawar sepi" bagi Sean sang taipan, Fara terjebak dalam kontrak fisik yang menghancurkan hatinya. Saat tunangan Sean kembali, Fara diusir secara dingin tanpa tahu ada nyawa yang mulai berdenyut di rahimnya. Di titik nadir itu, ia kehilangan ibunya—satu-satunya alasan untuk tetap bertahan. Sendirian dan hancur, Fara harus memilih: menyerah pada takdir atau bangkit demi rahasia yang tak diinginkan ayahnya. "Seandainya saya hamil, bagaimana, Pak?" tanya Fara getir. Sean menatapnya tanpa emosi. "Jangan bercanda. Hubungan kita hanyalah transaksi, dan tidak ada tempat untuk 'kesalahan' setelah Bella datang."
View More"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya 𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙞𝙣𝙜𝙜𝙪."
Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah tersedot ke dalam lubang hitam. Pandangannya terpaku pada selembar kertas dan foto hitam-putih buram yang diulurkan sang dokter. "Di mana suami Anda, Nona? Seharusnya dia ada di sini untuk menerima kabar baik ini," tambah dokter Obgyn paruh baya itu, senyum ramah di balik kacamata beningnya terasa seperti sembilu yang menyayat dada Fara. Fara tidak menjawab. Jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan foto USG itu. Dingin. Selembar kertas itu adalah 𝙑𝙤𝙣𝙞𝙨, bukan sebuah anugerah yang bisa ia rayakan dengan sorak-sorai. "Nona?" panggil dokter itu lembut, menyadari pasiennya mematung terlalu lama. Fara menarik napas dalam, memaksakan oksigen masuk ke paru-parunya yang terasa menyempit. "Terima kasih, Dokter. Saya... saya akan sampaikan berita gembira ini padanya." Ia bangkit, memberikan hormat yang sangat sopan—sebuah kebiasaan formalitas yang sudah mendarah daging selama bekerja untuk pria itu—sebelum melangkah keluar. Begitu pintu tertutup, pertahanannya runtuh. Fara berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit Ibu dan Anak itu dengan langkah goyah. Air matanya menetes deras, membasahi pipi yang kini sepucat kertas. "𝘠𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯... 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯? 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪 𝘢𝘸𝘭𝘢𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯! 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘪𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘱 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢." jerit seorang 𝙁𝙖𝙧𝙖 𝙕𝙖𝙡𝙞𝙣𝙙𝙧𝙖 di dalam hatinya. Di tengah kekacauan batinnya, ponsel di dalam tas tangannya terus bergetar tanpa henti. 𝘉𝘶𝘻𝘻𝘪𝘯𝘨, Agresif. Tanpa melihat layarnya pun, Fara tahu siapa pelakunya. 𝙎𝙚𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙧𝙚𝙣𝙙𝙧𝙖. Bos besar sekaligus pria yang selama dua tahun ini memiliki hak penuh atas tubuhnya. "Kembali sekarang, Fara! Aku mau meeting, di mana file-fileku?!" Suara bariton yang tajam itu menyalak begitu Fara mengangkat telepon. Tidak ada kata sapa, tidak ada ruang untuk negosiasi. "Dalam perjalanan kembali, Pak," jawab Fara lirih. Suaranya serak, namun Sean tampaknya terlalu sibuk untuk menyadarinya. Jarak antara rumah sakit dan gedung perkantoran pusat itu tak sampai dua puluh menit, namun bagi Fara, perjalanan itu terasa seperti menuju tiang gantungan. Perempuan itu menghapus sisa air mata di kedua pipinya bergantian, memulas ulang bedak tipis di wajahnua untuk menutupi rona merah di mata serta hidungya, dan melangkah masuk ke ruangan kerja Sean dengan tumpukan map di tangan. Sean berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan lanskap kota, Peia itu adalah definisi kesempurnaan yang mematikan. Tampan, kaya raya, dan memiliki citra publik sebagai filantropis berjiwa sosial tinggi. Namun bagi Fara, Sean adalah 𝘉𝘰𝘴𝘴 𝘗𝘴𝘺𝘤𝘰 yang tak kenal kompromi. "Kamu dari mana saja? Aku sudah bilang, makan siang di kantor!" tegur Sean tanpa berbalik badan. Suaranya terdengar dingin, penuh nada posesif yang menyesakkan dada bagi pendengarnya. "Saya... saya hanya ingin sesekali makan di luar, Tuan," jawab Fara pelan. Tatapannya terjatuh pada makanan yang masih tertata rapi di meja kopi. Fara teringat bagaimana semua ini bermula. Dua tahun lalu, saat ibunya kritis di rumah sakit dan ia terdesak biaya besar, Sean datang membawa kontrak hubungan fisik. Kontrak yang dibuat untuk membungkam gosip miring tentang Fara, sekaligus untuk mengusir kesepian Sean selama tunangannya menempuh studi S2 di luar negeri. Awalnya, itu murni transaksi. Namun, chemistry di atas ranjang tidak bisa berbohong. Dua tahun berbagi napas dan kulit yang sama telah menumbuhkan sesuatu yang terlarang di hati Fara, yaitu perasaan cinta. Sebuah pelanggaran berat, dari klausul kontrak yang mereka tanda tangani. Sean berbalik, menyipitkan mata menatap asisten pribadinya itu. "Fara, kamu terlihat sedikit pucat." Fara tersentak, mencoba mengatur raut wajahnya. "Hanya kurang tidur saja, Pak. Pekerjaan minggu ini sangat padat sekali." Pria itu mendekat, aroma parfum maskulinnya yang mahal seketika mengepung indra penciuman Fara, membuatnya merasa 𝘔𝘶𝘢𝘭 secara tiba-tiba. Tangan Sean terangkat, merapikan anak rambut Fara dengan gerakan yang nyaris lembut, namun terasa seperti rantaian besi. "Dengarkan aku, hari ini kamu jangan ambil lembur lagi. Selesaikan meeting ini sekarang juga, lalu langsung pulang ke apartemen," perintah Sean. Fara memaksakan sebuah senyum tipis. Untuk sesaat, ia merasa ingin menumpahkan segalanya. Ingin berlutut dan mengatakan bahwa ada detak jantung baru di dalam dirinya. Namun, kalimat Sean selanjutnya menghancurkan seluruh sisa harapan yang sempat melintas di kepala Fara. Pria itu menjauhkan tangannya dari sekretarisnya, kembali berjalan menuju ke balik meja kerja dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah-olah apa yang baru saja mereka lalui hanyalah rutinitas harian yang membosankan. Baru saja duduk pria itu berdiri lagi dari kursi kernjanya, berjalan mendekat ke arah Fara kembali. Berdiri tepat di depan sekretarisnya dengan wajah datarnya, dan kedua tangan yang di masukkan di saku celana. "Oh iya, minggu depan Bella pulang. Kamu bisa kemasi barang-barangmu dari apartemenku, dan Jangan meninggalkan jejak apapun disana." ucap Sean sambil berlalu meninggalkan Fara. Fara tersenyum getir, kenyataan dari semua kisah dan perjalanan ini dirinyalah yang 𝙆𝙖𝙡𝙖𝙝. Wanita itu mengusak pelan perut bagian bawahnya, satu titik air mata melaju melewati kedua pipi lembutnya. ◦•●◉✿-𝗧𝗕𝗖-✿◉●•◦Sean duduk didalam Jet pribadi miliknya dengan tenang, netranya menatap gedung-gedung pencakar langit negeri gajah putih itu dengan seksama. Sean mengajak asprinya, Ardi, duduk berhadapan di dalam jet mewah ini. Pria itu tak mau pandang bulu lagi, siapa orang yang setia di saat terpuruknya, dia lah orang yang paling Sean percayai untuk tempat mencurahkan segala lukanya. Helaan nafas panjang keluar dari bibir Sean sebelum pria itu berkata, "Di, Nyonyamu pernah berkata kepada saya, '𝘗𝘢𝘬 𝘚𝘦𝘢𝘯, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘩. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘩𝘪𝘳𝘶𝘱 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘯𝘨𝘪𝘩 𝘱𝘶𝘤𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘶𝘯 𝘵𝘦𝘩, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘴𝘢𝘱 𝘬𝘯𝘢𝘭𝘱𝘰𝘵.' Saat itu saya hanya tertawa, karena saya pikir itu hanya bualan romantis seorang sekretaris yang butuh liburan, Di." "Saya akan mencoba menghubungi relasi kita di Bangkok, Pak. Mungkin mereka bisa memantau imigrasi lebi
Sudah dua minggu sejak laporan detektif itu masuk, dan Sean merasa seolah-olah ia sedang mengejar bayangan. Setiap sudut Jakarta yang pernah mereka lalui terasa hampa, Ardi tiba namun lelaki itu tak kunjung berucap kepada Sean. "Bagaimana hasilnya?" tanya Sean yang berhasil membuyarkan lamunan Ardi. "Hasilnya nihil, Pak," lapor Ardi. "Semua rekam jejak digitalnya dihapus. Ponselnya mati total sejak dia meninggalkan surat itu. Bahkan rekening banknya sudah ditutup." Sean menyugar rambutnya dengan kasar. Fara yang ia kenal adalah wanita lembut yang selalu penurut. Ia tidak menyangka sekretarisnya itu memiliki keberanian untuk melakukan 𝘾𝙡𝙚𝙖𝙣 𝘽𝙧𝙚𝙖𝙠 yang sempurnah—memutus semua akses seolah-olah ia tidak pernah ada di hidupnya. Setiap sudut kota Jakarta yang pernah mereka lalui terasa 𝘏𝘢𝘮𝘱𝘢 untuk Sean, Fara benar-benar menyusun rencana pelarian darinya dengan begitu sempurna. Wanita itu tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Jejak digital ia hapus bersih, tidak ada
Hujan badai sore hari di luar gedung pencakar langit itu seolah mencerminkan kekacauan di dalam dada Sean. Di atas meja kerjanya yang terbuat dari mahoni mahal, tergeletak selembar kertas yang baru saja ia dapatkan dari asprinya beberapa jam yang lalu— hasil tes milik mantan sekretaris sekaligus wanita yang pernah ia buang dari hidupnya yang amat sangat sean ingin cari tahu 𝘿𝙞𝙖𝙜𝙣𝙤𝙨𝙖-nya. Tangan Sean gemetar saat jemarinya menyentuh baris kalimat di dokumen laboratorium itu. Hasil Tes : 𝙋𝙊𝙎𝙄𝙏𝙄𝙁 𝙃𝘼𝙈𝙄𝙇. Gambaran 𝘜𝘭𝘵𝘳𝘢𝘴𝘰𝘯𝘰𝘨𝘳𝘢𝘧𝘪 yang menampilkan kecilnya kantung kehamilan yang berisi kehidupan kecil yang baru, dia adalah buah hatinya bersama dengan Fara. Tanggalnya tertera tepat seminggu sebelum ia mengusir Fara demi menyambut kepulangan Bella, yang ternyata terasa begitu hambar bagi kehidupannya. Selama ini, Fara sering terlihat pucat dan mual, namun setiap kali Sean bertanya, wanita itu hanya tersenyum tipis dan menjawab, "𝙃𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙨𝙖𝙡 𝙡𝙖?
Setelah memutuskan semua hubungannya dengan Bella, Sean tidak menyentuh pekerjaan kantornya sedikitpun. Ruang kerjanya yang biasanya rapi kini dipenuhi dengan berkas laporan detektif swasta dan tumpukan manifes perjalanan bisnisnya. Sean seolah tak tertarik dengan semua pekerjaannya, karena pria itu sangat kacau. Sampai terdengar suara 𝘽𝙀𝙇 ruang kerjaanya berbunyi, sepertinya ada yang datang. diantaranya Ardi sang aspri, atau karyawannya mengantarkan berkas baru. Pintu besar itu terbuka otomatis setelah Sean memencet tombol 𝘖𝘗𝘌𝘕 dari meja kerjanya, "Permisi, Pak." yang datang rupanya Ardi, "Masuklah." jawab Sean datar. Ruang kerja itu terasa lebih sempit dari biasanya, meski dinding kacanya menyajikan pemandangan cakrawala kota yang megah. Sean berdiri mematung di balik meja eksekutifnya, menatap nanar pada sebuah amplop putih yang baru saja diletakkan oleh asisten pribadinya, Ardi. "Ini yang Anda minta, Pak. Duplikat hasil laboratorium atas nama sekretaris Fara Zali












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews