MasukAlya kembali dipertemukan dengan Rendra, pria yang pernah mengisi hidupnya namun juga meninggalkan luka yang sepenuhnya sembuh. Pertemuan tak terduga di sebuah cafe saat hujan turun membawa mereka pada kenangan lama yang masih terasa hangat dan perasaan yang ternyata belum usai
Lihat lebih banyakLangit sore di kota itu berwarna jingga keemasan, seperti biasa tenang, indah dan menipu. Alya berdiri di pinggir trotoar, memandang matahari yang perlahan tenggelam di balik gedung-gedung tua. Sudah lama ia tidak benar-benar memperhatikan senja seperti ini.
Dulu.. senja selalu berarti satu hal: Rendra Ia menghela nafas pelan, mencoba mengusir kenangan yang tiba-tiba menyeruak tanpa izin. tapi seperti hujan yang datang tanpa aba-aba, bayangan itu tetap hadir. yaitu tawa Rendra, cara dia menatap, bahkan cara dia selalu datang saat senja mulai turun. "Alya?" suara itu... Jantungnya seketika berdegub lebih cepat. Perlahan ia menoleh. dan ternyata disana berdiri hanya beberapa langkah darinya. "ya benar, itu Rendra". waktu seolah berhenti. Rendra masih tampak sama, hanya sedikit lebih dewasa. Tatapanya masih dalam, seolah mampu membaca hal-hal yang bahkan Alya sendiri berusaha sembunyikan. Untuk sesaat, tak ada yang bergerak. Tak ada yang bicara. "Kamu... disini?" tanya Rendra akhirnya, suaranya rendah namun jelas. Alya mencoba untuk tersenyum, meski terasa kaku. "Harusnya aku yang tanya itu". Rendra terkekeh pelan, tapi ada sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar pertemuan biasa. Ada beban yang tak terlihat, sesuatu yang menggantung di antara mereka sejak dulu dan belum pernah benar-benar selesai. "Aku kembali," kata Rendra singkat. Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Alya merasa seperti ditarik kembali ke masa lalu yang sudah susah payah ia tinggalkan. "Kembali... untuk apa?" tanya Alya, lebih tajam dari yang ia maksudkan. Rendra tidak langsung menjawab. Ia melangkah sedikit lebih dekat, membuat jarak diantara mereka terasa semakin sempit. Angin sore menghembus pelan, membawa aroma yang entah kenapa terasa familiar bagi Alya. Alya menahan nafas. "Kita sudah selesai, Ren. Sejak lama." "Belum," jawab Rendra cepat. "Setidaknya... bukan untukku." Senja semakin meredup. Cahaya keemasan berubah menjadi temaram, menyisahkan bayangan panjang di jalanan. Orang-orang mulai berlalu lalang, tetapi dunia Alya terasa menyempit hanya pada titik Rendra. "Kenapa sekarang?" Alya berbisik Rendra menatapnya dalam-dalam, seolah menimbang yang berat. Lalu, dengan suara hampir tak terdengar, ia berkata, "Karena aku baru tahu... kebenaran tentang malam itu." Tubuh Alya menegang. Malam itu.... Satu malam yang mengubah segalanya. Malam yang tidak pernah mereka bicarakan lagi. Malam yang menjadi alasan mereka saling menjauh tanpa penjelasan. "Apa maksudmu?" suara Alya gemetar, meski ia berusaha terdengar tenang. Rendra mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya sebuah amplop kecil, sedikit kusut, seperti sudah lama disimpan. Ia menggenggamnya erat, seakan benda itu memiliki arti yang jauh lebih besar dari sekadar kertas. "Aku seharusnya kasih ini dari dulu," katanya. Alya menatap amplop itu, perasaan tidak nyaman mulai merayap di dadanya. "itu apa?" Rendra tidak langsung menyerahkannya. Ia justru menatap Alya lebih dalam, kali ini dengan ekspresi yang sulit ditebak antara ragu, takut, dan.. harapan. "Kalau kamu tahu isi ini," katanya perlahan, "Mungkin kamu akan membenciku... atau justru sebaliknya." Alya menelan ludah. "Aku sudah cukup membencimu," jawabnya pelan, meski hatinya tidak sepenuhnya setuju. Rendra tersenyum tipis, tapi tidak ada kehangatan di sana. Hanya kelelahan yang tertahan terlalu lama. "Kalau begitu... kamu siap tahu semuanya?" tanya Rendra. Senja benar benar hilang. Malam mulai turun, menyelimuti kota dengan dingin yang perlahan merayap. Alya ragu. Tapi tangannya tetap terulur. Dan tepat saat ujung jarinya hampir menyentuh amplop itu. Sebuah suara memanggil dari belakang. "Alya, jangan!" Perlahan, ia menoleh. dan saat itu ia melihat siapa yang berdiri di sana, wajahnya langsung pucat. Amplop itu masih menggantung di antara tangannya dan Rendra. Rahasia itu.. belum sempat terbuka.Pagi datang tanpa benar-benar terasa seperti pagi.Langit masih kelabu ketika Alya berdiri di depan cermin kamarnya. Tangannnya memegang kartu hitam, jemarinya menyusuri simbol aneh yang terukir di permukaannya. Semakin lama ia menatap, semakin kuat perasaan bahwa benda ini bukan sekadar petunjuk, melainkan kunci. atau... jebakan.."Alya."Suara Rendra dari luar pindu membuatnya tersadar. "Kita harus berangkat sekarang."Alya mengangguk pelan, meski Rendra tidak bisa melihatnya. Ia memasukkan kartu itu ke dalam saku jaketnya, lalu melangkah keluar tanpa berkata apa-apa lagi.Perjalanan menuju stasiun lama terasa lebih sunyi dari biasanya.Dika duduk di kursi belakang mobil, sesekali mengusap wajahnya dengan gelisah. "Gue masih ngerasa ini ide buruk," gumamnya.Rendra tidak menoleh. "Kita ngga punya pilihan lain."Alya hanya diam, menatap keluar jendela. Jalanan tampak asing, meski ia yakin sudah sering melewatinya. Atau mungkin... ada lebih banyak hal yang tidak ia ingat dari yang ia
“Lebih dekat dari yang kamu kira.”Kalimat itu menggantung di udara, menolak hilang dari pikiran Alya. Dunia di sekitarnya terasa seperti runtuh perlahan, tapi anehnya—di balik kehancuran itu, ada satu hal yang mulai terbentuk.Arah.Selama ini, semuanya terasa seperti potongan acak yang tidak saling terhubung. Tapi sekarang, satu per satu mulai menyatu. Malam itu. Anya. Keputusan yang ia ambil. Dan sesuatu yang jauh lebih besar yang berusaha ditutup rapat.Alya berdiri perlahan. Kakinya masih terasa lemah, tapi tatapannya berubah.Tidak lagi hanya penuh ketakutan.Tapi juga tekad.“Kalau dia dekat,” katanya pelan, menatap pria misterius itu, “berarti dia masih hidup.”Pria itu tidak langsung menjawab. Tapi senyum tipisnya cukup untuk memberi jawaban.Rendra menghela napas lega, meski masih penuh ketegangan. “Setidaknya itu kabar baik.”“Belum tentu,” potong Dika cepat. “Kalau dia masih hidup… berarti mereka juga masih mengawasi.”Alya menggenggam gelang itu erat. Kali ini bukan denga
Nama itu terus terngiang di kepala Alya.Anya.Bukan sekadar kata. Bukan sekadar ukiran di gelang tipis yang kini ia genggam erat. Nama itu terasa hidup seolah pernah menjadi bagian penting dari dirinya… lalu direnggut begitu saja.Malam masih gelap, tapi suasana kini berubah. Bukan lagi sekadar ketegangan, melainkan rasa takut yang mulai menemukan bentuknya.“Siapa Anya?” suara Alya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.Pria misterius itu tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan Alya, seolah menunggu sesuatu muncul dari ingatan yang terkunci.Rendra tidak tahan. “Kalau kamu tahu, bilang sekarang. Jangan main teka-teki.”Pria itu tersenyum tipis. “Masalahnya… bukan aku yang harus menjawab.”Dika mengernyit. “Lalu siapa?”“Dia,” jawab pria itu singkat, mengangguk ke arah Alya.Alya menggenggam kepalanya. Rasa nyeri itu kembali datang—lebih kuat dari sebelumnya. Bayangan-bayangan mulai muncul lagi, kali ini lebih jelas, lebih nyata.Seorang anak kecil.Tertawa.Be
Gelap itu datang terlalu tiba-tiba.Dalam hitungan detik, jalan yang tadi masih diterangi lampu berubah menjadi lautan bayangan. Hanya sisa cahaya dari kejauhan yang samar-samar membentuk siluet tubuh mereka.Alya refleks meraih lengan Rendra.“Ren…” suaranya bergetar.Rendra langsung berdiri di depannya, seperti refleks melindungi. “Tenang. Aku di sini.”“Ini bukan kebetulan,” bisik Dika, suaranya tegang. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencoba menangkap sesuatu di tengah gelap. “Ini terlalu pas.”Langkah kaki itu semakin jelas.Tok… tok… tok…Bukan langkah tergesa. Justru pelan. Teratur. Seolah seseorang ingin mereka tahu—bahwa dia memang sedang mendekat.Alya menahan napas.“Siapa di sana?” teriak Rendra, suaranya menggema di antara bangunan.Tidak ada jawaban.Hanya langkah itu yang kini berhenti… tepat beberapa meter dari mereka.Keheningan terasa mencekik.Lalu—Sebuah cahaya kecil menyala.Bukan lampu jalan. Tapi cahaya dari korek api.Sesosok pria muncul dari balik bayangan. Waj






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.