LOGINForced by desperation, Isabella Morgan agrees to a contract marriage with Alexander Blackwood, a ruthless billionaire whose empire is under threat. What should have been a simple business arrangement slowly turns into an emotional battlefield neither of them expected. Living under the same roof, secrets unravel, hidden wounds surface, and forbidden feelings ignite. But behind Alexander’s wealth lies betrayal, enemies, and a dangerous past that could destroy them both. Each episode pulls Isabella deeper into Alexander’s dark world, where love is a weakness, trust is deadly, and walking away may cost her everything. In a world of power, lies, and obsession, can a fake marriage become the realest love of all?
View More"Kamu tidak akan bisa lari dariku, Cantik. Mari kita nikmati malam ini dengan kentalnya darah segar. Ini adalah akhir dari hidupmu yang payah!" Sayup-sayup suara seorang pria dengan aksen dingin tapi menyeramkan, mengitari pendengaranku.
"Tolong, ada monster gila yang mengejarku!" teriakku sambil terus berlari, tanpa melihat arah mata angin.Gelap. Hanya ada ketakutan di dalam arus nadi. Jantungku berpompa kencang, seakan ingin copot dari rongga dada. Aku tidak bisa mengingat dengan jelas, apa yang telah terjadi di beberapa menit sebelumnya. Pria itu menjadi sosok buas, penuh taring tajam bak serigala liar. Ya, hanya itu kilasan peristiwa terakhir, yang mampu kuingat sejauh ini.Aku berulangkali jatuh-bangun di tanah becek penuh lumpur. Tak pernah kutoleh lagi sisi belakang di kegelapan itu. Pekatnya malam semakin memperbesar ketakutan di dalam diri. Rembulan di atas sana terlihat berwarna merah pekat. Tidak ada lagi awan gelap yang menutupi benda langit itu.Aku membatin, "Apakah lelaki itu benar-benar Lucer? Kenapa dia berubah menjadi momok terseram di dalam hidupku? Oh Tuhan, aku benar-benar takut."Setelah sekian lama berlarian di Hutan Valarie, aku memilih untuk bersembunyi di semak-belukar, dekat Sungai Caste. Memantau monster itu dari kejauhan, nyatanya tak membuahkan hasil. Bulan memang bersinar terang, tetapi entah mengapa pandanganku malah semakin kabur.Sial! Lupophobiaku kambuh. Sesak yang ditimbulkan, serta bayangan-bayangan manusia serigala itu kembali lagi. Keringat dingin mulai membasahi baju tidurku yang bermotif putih, dengan desain stroberi lucu di sekitarnya. Aku menyesal. Andai saja aku tidak pernah akrab dengannya ...."Percuma. Sejauh apa pun kita terpisah, aku pasti bisa menemukan keberadaanmu, Nona." Hembusan panas di belakangku, sontak membuatku menoleh."Ka ... kamu?" Bibirku kelu untuk mengucapkan kalimat selanjutnya. Napasku tersenggal-senggal. "Tidak, jangan muncul di depanku lagi!"Seseorang atau mungkin bisa disebut monster berbulu abu-abu menyerupai manusia, berada dalam jarak yang cukup dekat denganku. Mata hitam pekat bak gulita malam, menatap tajam seakan menginterogasi diriku. Air liur yang menetes dari mulutnya yang menganga, semakin mempercepat pompaan darah ke jantungku.Aku salah memilih tempat persembunyian. Kukira seekor manusia serigala tidak akan mengejar sampai ke sungai. Nyatanya, perspektifku salah besar. Mitos yang selama ini tak pernah kudengarkan, ternyata benar-benar ada di dunia nyata. Makhluk buas, musuh bebuyutan bangsa vampir, tengah mengejarku sebagai mangsa.Di saat-saat terakhir, aku kembali teringat perkataan Chel–sahabatku. Beberapa hari belakangan, gadis bermata violet itu pernah berkata,"Kota Aluna dihebohkan oleh potret viral di sosial media, yang diambil oleh salah satu wisatawan. Kamu tahu, kan, turis itu mengambil potret apa? Ya, manusia serigala yang terlihat di gua, ujung Hutan Valarie."Bodohnya aku, yang saat itu malah mengacuhkan. Bahkan, menganggapnya membual dengan lisan cerewetnya itu. Aku yang keras kepala, benar-benar terlalu naif.Sepotong kayu sedang yang berukuran cukup panjang, kuambil untuk melindungi diri. Setidaknya, jika aku mati, maka semuanya tak akan membuat malu; perlawanan tentunya akan dihargai sebagai dokumentasi publik. "Me ... menjauhlah, Monster!"Berhadapan dengan ketakutan terbesar di dalam hidup, siapa yang menyangka hal yang tak terduga 'kan terjadi? Aku berusaha untuk mengantisipasi hal buruk, sambil bangkit perlahan dari dudukku. Kakiku membentuk kuda-kuda, bersiap untuk menendang dengan kekuatan penuh.Werewolf itu mendelik beringas. Matanya seakan ingin keluar dari kelopaknya. Pemandangan di depanku semakin buram. Bayangan manusia serigala itu berubah menjadi dua. Phobia ... ketakutan itu membuatku tak berdaya.Argh!Tubuhku terpelanting cukup keras ke arah batu besar, di pinggiran Sungai Caste. Cakaran yang diberikan oleh pemangsa daging itu mengenai lengan kananku. Darah berwarna merah pekat keluar begitu saja. Kutahan perih yang mulai timbul.Tenggelam. Air bening berwarna xabula itu membasahi seluruh pakaianku. Aku terbawa arus deras. Kakiku kram. Tubuhku tidak bisa bergerak. Latihan berenang yang diajarkan oleh ibu sewaktu kecil, ternyata tidak dapat diterapkan dalam situasi segenting itu."Tolong! Tolong! Tolong!" pekikku sekerasnya. Semoga saja, ada yang mendengar teriakan yang menyayat hati itu.Tidak jauh dari tempatku terbawa aliran deras sungai, werewolf itu terlihat meringkukkan diri. Aku menyipitkan kedua mata, mencoba melihat lebih detail. Ya, Lucer seakan menanggung semacam kesakitan di dalam dirinya. Apakah dia mencoba menahan diri, agar tidak membunuhku?Tanpa kusadari, aku hampir berada di dekat tumpahan air terjun. Aku panik. Kucoba menggapai bebatuan besar yang tertancap di tengah sungai. Sial! Bebatuan itu teramat licin. Aku kesulitan untuk mengendalikan posisi tubuh, saat terbawa arus air sungai yang terkenal, dengan air beku hijaunya itu.Phobia yang telah menjadi bagian dari hidupku telah mengambil alih. Trauma semasa kecil karena cerita kakekku, akhirnya terjadi di masa remajaku yang singkat. Lupophobia–ketakutan berlebihan pada manusia serigala, kukambuh. Lebih sialnya lagi, obat penetralisir phobia akut itu lupa kubawa."Di dunia kita, mungkin tidak ada yang namanya manusia serigala. Tapi percayalah, mitos sebenarnya diambil dari beberapa kisah nyata, yang dibumbui sedikit fiksi. Margaret sayang, Cucu kesayangan Kakek, ingatlah satu hal, jika kamu bertemu dengan ketakutan terbesarmu, maka hadapilah bagaimana pun caranya kelak."Aku pasrah pada kematian yang 'kan menjemput. Aku tidak bisa menetapi janjiku pada kakek. Tidak seorang pun harapannya dapat kupenuhi. Kelemahan di dalam diri, membuatku tidak bisa bergerak dari zona nyaman–lingkungan rumah yang memberi berbagai kemanjaan.Napasku berat. Aku tidak lagi merasakan sakitnya jantung, yang berdetak terlalu kencang. Air sungai yang dingin itu pun sudah tidak terasa lagi. Kupejamkan mataku perlahan. Menikmati hidup yang tinggal menghitung detik, mungkin akan jauh lebih baik.*"Margaret, maaf, aku selalu terlambat mencintaimu. Sejujurnya, aku benar-benar tidak mau kehilangan lagi. Aku mohon, tetaplah bernapas untukku," bisik seseorang di telinga kiriku. Suara itu merupakan nada khas yang telah menjadi candu. Aku menyukai si pemilik suara cool idaman satu sekolah itu. Apakah itu memang suara miliknya?Mataku membuka perlahan. Ketika semua tenagaku sudah terkumpul, aku pun bertanya, "Apakah aku sudah mati? Kenapa langit masih terlihat sama? Lucer, katakan, aku sekarang di mana?"Pria yang mengenakan hoddie hitam polos, serta celana jeans berpadukan warna yang sama itu tersenyum. "Seharusnya kamu bangun dari mimpi burukmu itu lebih cepat, Margaret Phire."Sontak aku pun terkejut. Kutolehkan kepala ke kanan-kiri. Kami berada di padang rumput ilalang yang menghampar luas. Bulan merah itu telah menghilang. Di langit, hanya ada gelapnya malam, serta banyaknya sebaran bintang terang. Apakah aku memang sedang bermimpi buruk, seperti yang dikatakan pria macho, di depanku itu?"Ayo, kita harus pulang! Malam sudah semakin larut. Tidak baik bagimu berada di tengah Hutan Valarie seorang diri." Lucer yang dikenal tidak banyak bicara, malah terlihat seperti seseorang yang posesif. Apa yang sebenarnya dia takutkan?Aku mencoba bangkit dengan satu tumpuan tangan. Alangkah terkejutnya diriku, ketika melihat cakaran panjang di lengan kananku. Baju tidur lengan panjangku telah sobek. Tidak, semua itu bukanlah kejadian yang ada di dalam bunga tidur. Aku tidak bermimpi, semua itu benar-benar nyata."Kenapa bengong? Kita harus pulang, Margaret. Jangan mimpi sambil berjalan lagi!" Lucer menarik tangan kiriku. Senyumnya yang langka menghilang sepenuhnya di balik tatapan datar itu."Nggak papa kok, Lucer. Hehehe. Iya, deh. Yuk, kita pulang." Di balik kekehan itu, aku sebenarnya mencoba untuk tidak terlihat tahu segalanya di depannya.The courtyard no longer felt like a battlefield.It felt like the aftermath of something that had finally reached its end.The tension that once pressed in from every direction had loosened. The men who had surrounded the space stood back now, uncertain, no longer driven by command or certainty. Victor remained where he was, silent, watching, but no longer in control.For the first time since all of this beganEverything was still.But the stillness didn’t feel empty.It felt earned.Alexander stood in front of Isabella, close enough that nothing else mattered. Not the damage around them. Not the eyes still watching. Not the past that had brought them here.Just this moment.Just her.Just the truth he had finally spoken.The air between them was different now.No tension.No force.No control.Only choice.Isabella studied him quietly.Not the man he had been when he first stepped into her life.Not the one who controlled every outcome, who made decisions for her, who kept truths hid
The shift was undeniable.Victor felt it in the first second after Alexander moved again.Not just faster.Not just stronger.Different.The hesitation that had been there moments ago had disappeared completely, replaced by something far more dangerous. There was no split focus anymore, no divided instinct pulling him between the fight and the woman behind him.He had become singular.Locked in.Certain.Victor blocked the first strike, but the impact traveled through his arm, forcing him to take half a step back. It was small, almost unnoticeable, but it was the first time he had been pushed since the fight began.His eyes sharpened.“Interesting,” he murmured.Alexander didn’t respond.He moved again.This time the attack came from a different angle, faster, tighter, designed not to overwhelm but to break structure. Victor countered, but the rhythm had changed. He wasn’t controlling the pace anymore.He was keeping up.Barely.Isabella stood where she had placed herself, her breathi
The courtyard felt smaller now.Not because the walls had moved.Because everything inside it had shifted.The balance.The control.The outcome that once seemed inevitable.Victor saw it.Of course he did.The moment Alexander stopped fighting like a man with nothing to lose and started moving like a man who refused to lose anything at all.That difference mattered.It changed everything.Isabella felt it too, even as Daniel pulled her back toward the edge of the courtyard. Her body protested with every step, pain radiating from where the hit had landed, but she didn’t slow him down.Didn’t tell him to stop.Because she knew.This part mattered.Distance didn’t mean separation.Not anymore.Her eyes never left Alexander.And he didn’t look away for long either.Even as he moved.Even as he fought.There was a connection now that didn’t break just because space existed between them.Daniel guided her behind a low concrete barrier, positioning himself slightly in front of her.“You sta
The world narrowed to the space between them.Everything else fell away.The noise.The movement.The fight that still raged around them.None of it mattered in that single, suspended moment where Isabella’s weight pressed into him and her breath came uneven against his chest.Alexander didn’t think.Didn’t calculate.Didn’t plan.He just reacted.His arms tightened around her, steadying her before she could fall further, his body instinctively shielding hers as another attacker moved too close.He didn’t even look.The response was immediate.Brutal.Efficient.The man hit the ground before the motion fully registered.But Alexander’s attention never left her.Not now.Not anymore.“Look at me.”His voice came low.Controlled.But there was something under it now.Something sharp.Something that refused to break.Isabella’s eyes lifted slowly.The pain was there.Clear.Undeniable.But so was something else.Something stronger.“I told you not to do that,” he said.The words came out
The room was silent. Too silent. The black folder lay open on the table between them like a loaded weapon. Isabella stared at the contract again, but the words still felt unreal. Marriage. Not love. Not partnership. A contract. One year of belonging to Alexander Blackwood who happens
The rain had not stopped.It clung to the glass walls of the penthouse like tears that refused to fall. The city lights below blurred into streaks of gold and red, glowing through the storm like distant fire.Isabella stood by the tall window, wrapped in a silk robe she did not remember putting on.
Isabella didn’t move.Her reflection in the dark hospital window stared back at her, pale, trembling, eyes wide with fear.But the shadow behind her reflection did not move like a reflection should.It moved independently.Slowly.Deliberately.Her heart pounded so loudly she thought it might shatt
The alarms wouldn’t stop.Red lights washed over the hospital room, staining everything in warning.Internal override activated.The words echoed like a verdict.Isabella couldn’t breathe.“I didn’t do anything,” she whispered, but her voice sounded distant, small even to her own ears.Gabriel had












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.