LOGINAll her life, Misha had been trying to look for her mate. She had done all the means she could and it always failed. One day, a forbidden book had opened an opportunity for her. She then finds out that her mate was a human— it was a forbidden tie. What will she do? Will she fight for their love? Or will she hide forever away from the judging people of their kingdom?
View More"Kenapa cemberut begitu, sih, Dek? Suami pulang kerja itu disambut dengan senyum dan pelukan."
Mas Aldi menatap penuh tanya aku yang bersikap dingin. Semua bukan tanpa alasan. Aku takkan seperti ini jika dia tidak membuat ulah yang menyakiti hati.
"Memang biasanya juga begitu, 'kan?" balasku cuek.
"Terus, kenapa sekarang enggak, hm?" Mas Aldi menjawil dagu, tapi langsung kutepis hingga terlihat raut wajahnya sedikit kaget. "Kamu kenapa? Mas salah apa?"
"Masuklah dulu. Kita bicara nanti setelah Mas ganti baju," ujarku seraya mengambil tas kerja dari tangannya, kemudian berlalu menuju kamar mendahuluinya. Tak mempedulikan Mas Aldi yang memanggil di belakang sana.
"Ada masalah apa, Dek? Enggak biasa-biasanya kamu bersikap begini. Kalau ada apa-apa itu ngomong. Jangan diam," komentarnya yang menyusul ke kamar ini dan memelukku begitu saja dari belakang.
Rahangku mengatup keras demi menahan diri agar tidak emosi. Membuang napas pelan seraya melepaskan tangannya yang melingkari perut.
"Mandi sana, Mas," titahku datar.
"Kenapa cemberut terus? Pasti bawaan dedek bayi, ya?" Dia tersenyum seraya mengusap perutku yang sudah membesar.
"Ini baju gantinya. Aku tunggu Mas di bawah." Aku menyerahkan pakaian ganti, kemudian berlalu keluar kamar. Meninggalkan Mas Aldi yang berdiri mematung dengan raut wajah bingungnya.
Berkali-kali aku harus menghirup napas dalam-dalam seraya mengusap dada ketika merasakan sesak. Menengadahkan wajah dengan mata mengerjap cepat demi menghalau air mata. Ini sudah keempat kalinya Mas Aldi melanggar janji dan tak menghargaiku sebagai istrinya.
Sakit memang, tapi kali ini aku tidak akan menunjukkan diri ini lemah walau dalam keadaan hamil besar.
"Dek ...."
Aku menoleh sekilas pada Mas Aldi yang berjalan mendekat seraya menyugar rambut tebal hitamnya.
"Katanya mau bicara. Ayo! Mas enggak tahan dengan sikapmu itu. Aneh. Masa tiba-tiba ngambek dan dingin. Seperti bukan kamu saja."
"Duduk dulu, Mas. Makan dulu baru kita bicara." Aku menarikkan satu kursi untuknya, menggeser gelas kopi, lalu menyendokkan nasi dan lauk ke piring Mas Aldi.
Kami makan tanpa sepatah kata yang terucap. Hening. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Benar-benar jauh berbeda dengan kami yang biasanya makan sambil berbincang hangat dan tertawa pelan. Sedari tadi, aku memilih menunduk menatap piring. Meskipun begitu, aku tahu kalau tatapan Mas Aldi mengarah padaku.
"Dek."
"Habiskan dulu makannya. Bisa?" Aku menatap sekilas, lalu kembali fokus dengan makanan sendiri.
Mas Aldi tak lagi memaksaku bicara. Kami berdua sama-sama diam. Setelah makan, dia pergi lebih dulu ke ruang keluarga, sedangkan aku merapikan meja dan mencuci piringnya. Sempat aku tertegun sejenak di depan wastafel dengan keran air menyala. Meremas kuat spon di tangan ketika kepala dan hati terasa panas. Rasanya ingin sekali marah dengan emosi meledak-ledak, tapi kutahan sebisa mungkin.
Setelah dirasa lebih tenang, kubersihkan sabun dari tangan dan mematikan keran air, kemudian menyusul Mas Aldi yang sedang duduk santai di ruang televisi seraya memainkan ponsel. Melihat kedatanganku, Mas Aldi segera meletakkan ponsel itu di atas meja, lalu menggeser duduknya.
"Sini. Pindah ke sini duduknya," ujarnya seraya menepuk-nepuk sofa kosong di sampingnya.
"Aku di sini aja," tolakku dengan tetap duduk di sofa single.
"Sini ...." Mas Aldi beranjak bangun, lalu menarik tanganku agar duduk bersamanya di sofa panjang.
Aku duduk terdiam menatap layar televisi. Mencoba mengontrol denyutan nyeri dan perih di dalam dada.
"Ada apa, hm?" tanyanya lembut seraya merangkul bahu. "Ngomong, dong, Sayang."
Biasanya, aku akan langsung luluh dengan sikap lembut ini. Membalasnya dengan kecupan dan pelukan manja. Akan tetapi, untuk sekarang semua keinginan itu lenyap karena tindakan Mas Aldi yang kembali menyakiti secara diam-diam.
"Dek."
"Maumu apa, Mas?" tanyaku tenang.
"Mau mas? Mau mas gimana maksudnya?" Mas Aldi menatapku dengan dahi sedikit berkerut.
"Rumah tangga kita. Mau dibawa ke mana rumah tangga kita ini, Mas?"
"Rumah tangga? Maksud kamu apa, sih, Dek? Mas enggak ngerti. Kok, tiba-tiba ngomongin rumah tangga."
Kupejamkan mata sesaat, lalu menghela napas pelan dan menoleh padanya.
"Mas ingin mengakhiri semuanya? Kalau benar, maka aku siap. Mari kita selesaikan semua ini dengan cepat," ujarku yang langsung membuatnya terlihat kaget dengan kening berkerut dalam.
"Kamu ngomong apa, sih? Kok, jadi ngaco begitu? Kamu lagi nge-prank, ya?"
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" tanyaku datar.
"Yaa, tapi kenapa kamu tiba-tiba bicara hal yang enggak masuk akal begitu? Kenapa tiba-tiba ngomongin pisah? Siapa juga yang mau pisah? Kamu kesurupan?"
"Jangan berbohong terus, Mas! Jangan mengelak! Bukan hanya bisa menyakiti diri Mas sendiri, tapi juga menyakitiku. Jika perpisahan memang yang terbaik, aku ikhlas."
"Apa, sih, Dek? Kamu ini tambah ngaco aja omongannya." Mas Aldi mulai menunjukkan kekesalan. "Kamu kenapa, hm? Mas ada salah apa? Coba bilang biar mas paham." Dia berkata lembut lagi seraya menggenggam kedua tanganku.
Kutarik tanganku dari genggamannya, lalu merogoh ponsel dari saku daster dan mengotak-atiknya.
"Ini apa?" Kuarahkan layar ponsel tepat di depan wajahnya.
Mas Aldi membulatkan mata. Dia diam mematung, lalu tak lama jakunnya terlihat naik turun seraya menatap gelisah padaku.
Pagi tadi, aku kembali mendapati status galaunya di akun f******k. Bukan untukku, melainkan untuk sang mantan. Wanita yang dulu pernah dia impikan menjadi istrinya, tapi gagal karena orangtua pihak wanita tak mengizinkan.
Kata-katanya yang ditulis bak silet tajam yang menyayat-nyayat hati. Bukan sekali. Dalam seminggu ini, aku mendapatinya selalu mengunggah status galau. Bahkan dalam sehari bisa lebih dari satu kali. Semula kudiamkan karena berharap dia berhenti dan sadar, tapi ternyata tidak. Kata-kata galau yang dia unggah pagi tadi menyiratkan sampai detik ini, dirinya masih mengharapkan sang mantan.
–––––––––––––
Biarkan waktu berlalu, tapi itu takkan mampu mengubah rasa ini padamu. Terlalu merindukanmu membuatku sering merasa gila dan bodoh. Terlalu sayang dan terlalu mencintaimu membuat diri ini terlupa dengan hati seeorang yang harus dijaga.
Kecantikanmu, kelembutanmu dan semua yang ada padamu masih membuat diri ini terlena. Beritahu cara melupakan dirimu karena aku tak menemukannya. Aku pun tak ingin menyakiti wanita yang telah kupilih menjadi pendamping hidup, tapi apa daya?
Rasa padamu yang begitu dalam, membuatku bodoh sampai-sampai lupa dengan keberadaannya, lupa untuk menjaga hatinya. Aku tahu, kau sudah berbahagia dengannya di sana. Begitu juga denganku. Harusnya aku berbahagia dengan istriku, bukan?
Namun, aku tak bisa menampik ada ruang hampa di sudut hati. Istriku, dia sangat sempurna, tapi hanya karena hati ini masih belum seutuhnya berpaling, semua itu terasa berbeda.
Aku tahu kau terlalu sempurna untuk dimiliki. Akan tetapi, aku yakin jika memang masih berjodoh, suatu saat kita akan disatukan kembali bagaimanapun caranya.
–––––––––––––
Itulah status terbaru Mas Aldi yang membuat hatiku terkoyak hingga air mata berderaian. Bagaimana tidak sakit? Semua kata-katanya menyiratkan dia masih ingin kembali dengan wanita itu. Lalu, aku dianggap apa?
🍁🍁🍁
Misha's POVAfter the crazy encounter I had sa tagong eskinita na 'yon ay kaagad na umuwi ako.Nang makauwi ako ay nagtungo ako sa kwarto ko. I locked my door at inilabas ko ang librong binigay saakin ng matanda.I scanned the cover of the book and it looked... very magical.I tried to open the book pero nagulat ako no'ng ayaw nitong bumukas. I searched for the lock but I could not find any.Bakit ayaw mabuksan, e, wala naman palang lock? Inikot ikot ko na ang libro pero wala talaga akong nakita.I sighed at napaisip na naman. Mukhang wala na nga talagang pag-asa.I was about to set aside the book nang bigla itong umilaw. My eyes widened when letters appeared in front of me."This is an agreement note. If you agree to bind your soul to this book then you will have access to this."Ayan ang nakasabi sa mga letrang biglang lumitaw sa harapan ko. Hindi na ako nagdalawang isip at sumagot."Yes.""We got that. There is no turning back. May your decision bring you what you want."Those were
Misha's POV"You are eighteen now, Misha. Makikilala mo na ang mate mo na makakasama mo sa pamamahala rito," Sabi ng aking nakakatandang kapatid.I smiled excitedly habang nakatingin saaking sarili sa salamin. I looked extravagant tonight. Pinaghandaan ko talaga ang gabing ito kasi ngayon ko na makikilala ang mate ko. "You think he will be great just like you, Kuya?" I asked my brother, Tim."Of course. Hindi naman pwedeng sa asungot ka ibigay, 'di ba?" Natatawang sabi ni Kuya.I smiled when I heard what he said. Oo nga naman. Magiging reyna ako, e. Siyempre matino talaga ang ibibigay saakin na mate."It's almost 12 midnight. We must go now, Misha. Everyone is waiting for you outside," Sabi saakin ni Kuya.I glanced at the mirror once again before I stood up upang lumabas na.Nang makapunta kami ni Kuya Tim sa malaking garden ng aming kaharian ay doon ko naabutan ang napakaraming tao.Everyone was just as excited as me. Siyempre, malalaman din nila kung sino ang magiging hari nila.
"Is there any other way to know where my mate is?" Misha asked."I am very sorry, Misha. You know how much we tried to find your mate pero wala talaga, e. I think it's time... It is now time for you to give up," Her friend, Fiery, said."You're... you're telling me to give up? Ganoon na ba talaga kawalang pag-asa, Fiery?" Misha asked her with a broken voice. She was so close to crying."It's been 200 years already, Misha. Ganoon na katagal natin hinahanap kung sino ang posibleng mate mo, but we always fail. Give it a rest, Misha. Ako na 'yong nasasaktan para sa 'yo, e," Fiery told her. She was also close to crying but she did her best to act tough in front of her best friend, Misha.Of course, what would a real friend want? She just wanted to give Misha her peace. Kasi sa tuwing nakikita niya ang dismayadong mukha ni Misha araw-araw ay nasasaktan din siya.Hindi na niya kayang makita ang kaibigan sa ganoong sitwasyon. "Go away, Fiery. Give me space."Misha was then left alone inside






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.